
Satu minggu berlalu ...
Azzura sudah diperbolehkan pulang setelah kondisinya sudah membaik. Pun begitu dengan baby twins.
Kini mereka sudah berada di rumah, sejak tadi Ayya dan Devan enggan beranjak dari kamar sang adik.
Keduanya terus mengajak baby Fattah dan Faatih berbicara meski adiknya itu belum mengerti apa-apa
Azzura dan Genta hanya bisa tersenyum memandangi putra dan putrinya itu yang tampak antusias.
Tak lama berselang bu Nadirah dan pak Dirgantara masuk ke kamar itu.
"Genta, Zu," sapa sang mama lalu duduk di samping Azzura kemudian mengelus punggungnya dengan sayang.
Sedangkan pak Dirgantara ikut bergabung dengan Ayya dan Devan lalu menggendong baby Fattah yang tampak masih membuka matanya.
"Ada apa, Mah?" tanya Zu dengan seulas senyum.
"Kapan kalian berencana menggelar aqiqah baby Fattah dan Faatih?" tanya bu Nadirah.
"Sebaiknya kita gelar di hotel saja, Mah. Biar nggak ribet," usul Genta. "Kita sekalian undang anak yatim juga."
Genta menggenggam jemari istrinya. Ia tahu benar jika ada acara seperti itu, ia selalu mengundang anak-anak dari panti asuhan. Bahkan menempatkan mereka dibarisan paling depan.
Sungguh istrinya itu sangat memuliakan anak-anak yatim. Bahkan sifatnya itu ia turunkan pada kedua anaknya.
Maka tak heran jika kedua anaknya itu memiliki akhlak yang baik dan punya jiwa sosial yang tinggi terhadap sesama.
"Zu, apa kamu setuju dengan usulan suamimu, Nak?" tanya bu Nadirah lagi.
"Apapun yang Mas Genta putuskan, aku rasa itulah yang terbaik, Mah," jawab Zu.
"Ayah juga setuju jika acara aqiqah-nya digelar dihotel saja," timpal pak Dirgantara seraya menghampiri ketiganya.
"Ya sudah, nanti mama saja yang menghubungi manager hotelnya. Hotel Clarion tempat acara akad kalian tahun lalu, gimana?" usul bu Nadirah.
Genta dan Azzura hanya mengangguk tanda setuju.
Tak lama berselang, pak Dirgantara terkekeh karena sang cucu sudah mulai gelisah dalam gendongannya. Ia terus menciuminya dengan gemas.
Sedetik kemudian ia memberikan baby Fattah pada Azzura. "Zu, sepertinya dia haus, Nak," kata pak Dirga.
Sesaat setelah menggendong baby Fattah, sang mertua juga pamit keluar. Azzura mengulas senyum lalu mengecup pipi putranya itu
"Haus ya, Sayang, bisiknya kemudian melepas kancing piyamanya lalu memberinya ASI.
"Mas juga pengen," bisik Genta menggoda istrinya.
"Maaaas ... dasar mesum," bisiknya balik lalu melirik ke arah Ayya dan Devan.
Genta langsung terkekeh menatap wajah kesal istrinya lalu memegang jemari mungil sang putra.
"Mas, anak-anak sudah lima hari izin sekolah. Setelah selesai acara aqiqah baby Fattah dan Faatih, sebaiknya kita kembali ke daerah M ya, Mas," kata Zu. "Maaf sudah merepotkan, Mas. Setiap hari harus harus bolak-balik."
"Nggak masalah, Sayang, demi kalian apalagi demi si twins. Rasanya mas selalu merindukan mereka berdua saat berjauhan. Termasuk bundanya juga," goda Genta.
Azzura hanya geleng-geleng kepala mendengar godaan suaminya itu. Setelah memberi ASI pada baby Fattah, Azzura beranjak lalu membaringkannya di box bayi.
"Bunda, dedek Faatih kok nggak ne*nen," tanya Devan dengan polosnya.
__ADS_1
Azzura mengelus kepalanya lalu tersenyum gemas. "Karena dedek Faatih belum haus, Sayang. Dev lihat nggak? Dedek Faatih masih bobok," jelas Zu.
"Bunda, kapan kita pulang ke rumah? Sudah lama kita di sini," protes Ayya.
"Insyaallah, setelah dedek Fattah dan Faatih di aqiqah, Sayang," jelas Zu lalu mengelus pipinya.
Setelah mengobrol sejenak dengan kedua anaknya, Azzura pun memilih ke kamar utama.
Sesaat setelah berada di kamar itu, ia merebahkan tubuhnya sejenak di atas ranjang.
Selang beberapa menit kemudian, Genta menyusulnya.
"Sayang," panggilnya lalu duduk di sisinya.
"Mas, ada apa?" bisiknya sembari mengelus punggungnya dari belakang.
Genta membuka laci nakas lalu mengeluarkan sesuatu dari dalam laci itu kemudian meminta Azzura merubah posisinya menjadi duduk.
"Mas punya sesuatu untukmu. Semoga kamu menyukainya," harap Genta lalu memperlihatkan sebuah kotak perhiasan.
"Apa ini semacam hadiah untukku?" tanyanya lalu melingkarkan kedua tangannya di perut suaminya.
Genta mengangguk pelan lalu mengecup keningnya. "Bukalah," pinta Genta.
Dengan patuh Azzura hanya menurut. Meraih kotak itu lalu membukanya. "Kalung? MasyaAllah, bagus banget, Mas."
Sebuah kalung bermata berlian tunggal. Terlihat sederhana tapi elegan. Namun harganya fantastis.
"Terima kasih, Mas. Aku suka modelnya Mas. Waah ... diam-diam ternyata suamiku pintar juga memilih perhiasan sesuai selera istri," puji Zu.
Sedetik kemudian Azzura terkekeh lalu meledeknya. "Pasti Mas Googling dulu yaaaa? Hayooo ngaku."
Genta langsung mengangguk lalu meraih kalung itu lalu memakaikannya ke leher jenjang istrinya.
"Banget, Mas," sahutnya.
"Jangan pernah melepasnya ya, Sayang."
"Nggak akan Mas. Kecuali ia putus seperti kalung sebelumnya. Terima kasih ya, Mas," ucap Zu lalu memeluknya merasa terharu.
"Sama-sama, Sayang," bisik Genta. "Oh ya, setelah kamu pulih total, boleh ya kita tambah momongan. Mas ingin bayi cewek lagi dari kamu."
"Insyaallah, Mas."
.
.
.
Kota A ...
Sejak tadi senyum yoga terus terukir manis di wajahnya menatap foto baby Fattah dan Faatih.
"Gemes banget sih?!" gumamnya merasa gemas.
Foto yang dikirim oleh Nella kemaren saat ia menyambangi rumah iparnya. Ia terus menatap foto-foto itu dengan gemas.
"Jika menyambanginya di kota M. Hadiah apa ya yang cocok buat kedua bayi tampan ini," gumamnya lagi.
__ADS_1
Saat sedang asyik-asyiknya memandangi foto baby Fattah Faatih, pintu ruangannya diketuk. Ia pun langsung mengarahkan pandangannya ke arah pintu.
"Kak Daffa?!" Sebutnya.
"Lagi ngapain? Kelihatannya kamu bahagia banget," selidik Daffa lalu duduk di kursi.
Yoga terkekeh lalu meletakkan ponselnya ke atas meja kerjanya. "Bahagia sekaligus terharu, Kak," akunya.
"Maksudmu?" Daffa mengerutkan keningnya.
"Azzura sudah melahirkan. Bayinya cowok, kembar pula." Yoga menghela nafas lalu tersenyum.
"Lalu?"
"Aku ingin ambil cuti beberapa hari, Kak. Izinkan aku ke kota M. Boleh ya," izin Yoga.
"Baiklah, nggak masalah," balas Daffa sekaligus menyetujui keinginan sepupunya itu.
Setelah itu, keduanya terlibat obrolan kecil. Membahas masalah perkembangan pasien yang saat ini sedang Yoga tangani.
Kurang lebih tiga puluh menit Yoga dan Daffa membahas masalah itu. Sebelum akhirnya Yoga keluar dari ruangannya menuju kamar tempat Clarissa dirawat.
Sesaat setelah mengetuk pintu, Yoga pun membukanya. Sejenak ia mematung di tempat saat memandangi gadis itu. Sudah seminggu terakhir ia menempati kamar khusus itu atas permintaan orang tuanya.
"Rissa?" sapanya seraya menghampiri gadis itu yang tampak sedang berdiri menghadap jendela.
Namun gadis itu tetap diam membisu dengan tatapan kosong ke depan. Yoga merasa sedikit kesulitan mendekatinya. Bahkan mengajaknya bicara pun ia begitu kesulitan
Karen ia biasa tiba-tiba saja mengamuk. Tak jarang Yoga menjadi bulan-bulanannya hingga beberapa kali wajah pria tampan itu dicakar.
Meski begitu, Yoga hanya memaklumi. Karena seseorang dengan kondisi kejiwaan yang terganggu terkadang merasa dirinya terancam dan secara spontan langsung menyerang demi melindungi dirinya.
"Rissa?" sapa Yoga lagi lalu memegang pundaknya. Tak ada reaksi melainkan gadis itu tetap bergeming dengan pandangan kosong.
"Ya Allah ... sebenarnya aku kasian sekaligus sedih melihat gadis ini," gumam Yoga dalam hatinya.
Ia pun berdiri di sampingnya lalu mengarahkan pandangannya ke arah yang sama.
"Rissa ... Kehidupan manusia nggak pernah lepas dari suatu permasalahan, peristiwa, rintangan, tantangan, kesempatan, dan pengalaman. Semua itu dijadikan pelajaran hidup bagi setiap insan."
"Pengalaman adalah guru terbaik yang mengajarkan banyak hal, sehingga seseorang tidak akan jatuh ke lubang yang sama untuk kedua kalinya"
"Beberapa orang mungkin sedang menjalani fase atau merasakan kehidupan yang berat dan menyakitkan. Hidup seperti drama yang nggak ada selesainya. Apalagi bagi mereka yang kurang bersyukur, pasti akan menganggap bahwa kehidupan ini sebagai sebuah kutukan berat."
Dengan panjang lebar Yoga mengucapkan kalimat itu. Tanpa terasa air mata Clarissa langsung meleleh.
"Jangan pernah berharap bahwa jalan hidupmu akan seperti jalan hidup orang lain. Perjalanan hidup yang kamu miliki merupakan sesuatu yang unik, seperti dirimu."
"Kita tidak bisa meramalkan masa depan sekalipun dalam satu detik ke depan. Kita bisa saja merencanakan untuk menghabiskan waktu dengan siapa dan seperti apa. Namun, kita tidak bisa menjamin secara pasti, apakah bisa melakukan hal tersebut dan dalam jangka waktu berapa lama kita akan hidup di dunia ini."
"Oleh sebab itu, nikmati kehidupan yang kita miliki, dan syukuri serta berbahagia dengan segala hal yang kita punya akan membawa kita pada hakikatnya kehidupan yang sesungguhnya."
Lagi ... air mata Clarissa semakin mengalir deras mendengar kalimat dari Yoga.
"Kamu hanya bisa membayangkan seolah-olah masa lalu itu kembali lagi. Namun, itu semua hanyalah khayalan semata. Rissa ... aku nggak akan memaksamu menceritakan apa sebenarnya yang terjadi pada dirimu. Tapi jika kamu benar-benar sudah siap, maka aku akan siap mendengarkan."
"Sebisa mungkin aku akan membantumu. Percayalah ... sesuatu yang terus menghantui kita, itu rasanya nggak enak. Namun jika kamu berusaha melupakannya lalu bangkit, aku percaya kamu bisa lepas dari bayang-bayang kelam itu," pungkas Yoga sembari mengelus punggung gadis berambut panjang itu.
Setelah itu Yoga meninggalkannya dan memilih keluar dari kamar rawat itu untuk memberi waktu pada Clarissa supaya merenungkan ucapannya barusan.
__ADS_1
Sepeninggal Yoga, Clarissa memegang dadanya lalu menyeka air matanya yang sejak tadi terus mengalir deras.
...----------------...