Retaknya Sebuah Kaca

Retaknya Sebuah Kaca
Bab 61 : Frustasi ...?


__ADS_3

Dua minggu kemudian ...


Setelah mendapat rumah kontrakan yang cocok untuk dirinya, Azzura kemudian check out dari hotel dan mulai menempati rumah yang telah ia kontrak untuk satu tahun ke depan.


Ia juga memasukkan surat lamaran kerjanya di beberapa hotel dan cafe yang sesuai dengan jurusan kuliahnya.


Setelah berada di kota itu selama dua minggu lamanya, Azzura sedikit merasa tenang. Namun tetap saja trauma yang masih membekas di ingatannya akibat kekerasan fisik yang sering di lakukan Close padanya, masih saja menghantuinya saat malam tiba.


Tak jarang ia sering berjongkok sambil menangis di sudut ruangan kamarnya sambil memeluk kakinya lalu membenamkan wajahnya di lututnya dengan tubuh bergetar ketakutan.


Namun saat mengingat sosok Yoga dan bunda Fahira, perlahan rasa takut itu sedikit demi sedikit menghilang.


**********


Bertepatan dengan hari ini tepatnya hari Minggu, siang harinya Azzura tampak berada di salah satu cafe sedang menikmati makan siangnya sendiri.


Sesekali ia tampak mengutak atik laptopnya. Senyum tipis tampak menghiasi sudut bibirnya setelah daddy Kheil mengirim email untuknya.


Tanpa terasa air matanya kembali menetes setelah melihat surat resmi perceraiannya di layar laptopnya.


"Terima kasih, daddy," lirih Zu lalu menyeka air matanya. Ia pun membalas email daddy Kheil untuk berterima kasih.


Kini ia benar-benar telah menyandang status janda tanpa pernah tersentuh oleh suaminya. Setelah membalas email dari daddy Kheil, ia kembali memeriksa email yang lain.


Tak lama berselang jemarinya tiba-tiba saja di sentuh seseorang. Sontak saja membuatnya kaget lalu menoleh.


Saat tahu siapa pelakunya, ia pun menoleh ke kiri dan ke kanan bahkan ke belakang lalu kembali menatap bocah yang membuat hatinya sedikit terhibur itu.


"Sayang, kamu sama siapa di sini?" tanya Zu. "Kamu sama tante saja di sini sampai pengasuhmu datang," kata Zu lagi dengan perasaan cemas lalu menutup laptopnya.


Ayya hanya tersenyum sambil menggoyang-goyangkan kedua kakinya dan tak melepas genggaman tangannya dari Azzura.


Melihat sikap bocah cantik itu, ia merasa gemas lalu kembali mengajaknya mengobrol dan bercanda.


Tak lama berselang seseorang menegur keduanya dan ikut bergabung.


"Kelihatannya senang banget," tegur wanita paruh baya itu lalu duduk di kursi yang kosong.


"Omaaa," sahut Ayya.


Sedangkan Azzura mengulas senyum menatap wanita itu dengan ramah.


"Maaf, jika cucu saya mengganggu makan siangmu," kata wanita paruh baya itu.


"Nggak kok, Bu. Aku malah terhibur," sahut Zu seraya mengelus kepala Ayya.

__ADS_1


"Kenalkan, saya bu Nadirah," kata bu Nadirah memperkenalkan dirinya.


"Aku Azzura, Bu. Panggil Zu atau Zura saja," balas Zu dengan seulas senyum.


"Apa kamu seorang mahasiswi?" tanya bu Nadirah.


Azzura mengulas senyum sambil menggelengkan kepalanya.


"Nggak, Bu. Justru saya merantau ke kota ini untuk mencari pekerjaan. Sudah seminggu aku menetap di kota ini dan sudah memasukkan surat lamaran ke beberapa hotel dan cafe. Hanya menunggu panggilan saja," jelas Zu.


Bu Nadirah mengangguk kecil lalu menatapnya.


"Di TK tempat cucu saya sekolah, lagi membutuhkan tenaga pengajar. Jika kamu mau, kamu boleh ke sekolah itu besok. Nanti saya berikan alamatnya," tawar bu Nadirah.


"Boleh deh, Bu. Hanya saja ijazah ku jauh dari jurusan itu," aku Zu. "Tapi nggak ada salahnya mencoba, lagian aku sangat menyukai anak-anak."


"Nggak apa-apa," kata bu Nadirah kemudian memberikan alamat sekolah Ayya. "Besok saya sekalian menunggu di sekolahan Ayya ya," sambung bu Nadirah dengan seulas senyum.


"Iya, Bu," sahut Zu lalu menatap Ayya yang sedari tadi terus menatapnya. "Sayang ada apa? Kenapa menatap tante seperti itu?" tanya Zu sembari mengelus rambut bocah cilik itu dengan sayang.


"Ayya senang jika Tante mengajar di sekolah Ayya nantinya," jawabnya.


Azzura hanya mengangguk lalu mengulas senyum, sedangkan bu Nadirah hanya memperhatikan keduanya.


Jauh dalam sudut hatinya merasa kagum akan sosok Azzura yang terlihat begitu penyayang bahkan terkesan sopan ketika berbicara.


.


.


.


.


Mansion Keluarga Kheil ...


Setelah kepergian Azzura, Close terus menerus mengurung dirinya di kamar. Bahkan terlihat frustrasi.


Ia masih belum bisa menerima kenyataan jika ia dan Azzura kini benar-benar sudah resmi bercerai. Akibat ulah dan perbuatannya sendiri, akhirnya keinginannya itu terbayar kontan dengan perceraian.


Tiada hari tanpa tangis penyesalan meratapi kepergian Azzura. Bahkan nomor gadis itu sudah tidak pernah aktif lagi sejak terakhir kali ia menghubunginya.


Ia semakin bertambah frustasi ketika daddy Kheil menunjukkan surat resmi perceraiannya dari pengadilan agama tiga hari yang lalu.


Melihat Close yang terus-terusan mengurung diri dan enggan bertemu dengan siapapun, membuat momy Lio merasa sangat khawatir dengan keadaannya.

__ADS_1


Tok ... tok ... tok ...


"Close, buka pintunya," pinta momy sambil mengetuk pintu kamarnya.


Tok ... tok ... tok ...


Momy Lio kembali mengetuk pintu sambil memutar-mutar handle pintu. Memanggilnya karena merasa cemas.


Namun pintu itu tak kunjung dibuka. Sedangkan yang di panggil hanya duduk termenung sambil terus menatap foto pengantinnya dengan Azzura.


Tampak dirinya yang begitu semberautan tak terurus. Bayangan akan kekerasan fisik dan kata-kata makian yang sering ia lontarkan dan ia lakukan pada Azzura terus memenuhi benaknya.


Perasaan bersalah itu kini terus membayangi dan menghantui dirinya hingga membuatnya merasakan gelisah yang luar biasa bahkan tak bisa tidur tenang.


Suara momy Lio yang sejak tadi memanggilnya seakan tak ia dengarkan.


"Mom," sapa Gisel. "Ini kunci serep." Gisel memasukkan kunci itu lalu memutarnya hingga pintu itu terbuka.


"Close!!" pekik momy seraya menghampirinya.


Namun Close tetap bergeming sambil menatap foto itu.


"Kak?!" tegur Gisel namun tetap sama, Close tetap bergeming dan tetap menatap foto pengantinnya dengan Azzura.


Karena tak tega, momy Lio memeluknya sambil menangis. Entah ia harus bagaimana sekarang.


"Close ... dengarkan momy. Lupakanlah semua yang terjadi, biarkanlah Azzura menjalani kehidupannya saat ini. Dia layak bahagia," lirih momy.


Close tetap bergeming dengan tatapan mata yang kosong. Gisel yang sejak tadi memperhatikan sang kakak tampak mengerutkan keningnya.


"Mom ... sepertinya kita harus membawa Kakak ke psikolog. Jika Kakak seperti ini terus dia bisa depresi karena dihantui perasaan bersalah," jelas Gisel sekaligus menatap iba pada sang kakak.


"Jika dibiarkan seperti ini terus, bisa-bisa kakak harus dirawat di rumah sakit jiwa," pungkas Gisel.


"Apa?!" Momy Lio terkejut mendengar penjelasan Gisel.


Sedetik kemudian suara tangisan Close kembali terdengar sambil terus menyebut nama Azzura memintanya kembali.


"Momy, tolong bawa Azzura kembali. Aku mohon Mom. Aku berjanji akan berubah dan akan memperbaiki semua kesalahanku padanya. Aku mohon kembalikan Azzura padaku," pintanya sambil menangis histeris.


Frustasi ....


Mungkin kata itulah yang kini menggambarkan keadaan Close. Tidak menutup kemungkinan jika ia akan dirawat sementara di rumah sakit jiwa.


...****************...

__ADS_1


Jangan lupa masukkan sebagai favorit ya πŸ™ Bantu like dan vote setidaknya readers terkasih telah membantu ikut mempromosikan karya author. Terima kasih ... πŸ™β˜ΊοΈπŸ˜˜


__ADS_2