
Seperti janji Genta, keesokan harinya ia memboyong keluarganya menuju pulau B. Rencananya mereka akan berlibur selama tiga hari di pulau itu.
Meski ingin berlibur lebih dari tiga hari di pulau itu, namun apalah daya Genta tak bisa karena panggilan tugas yang menuntutnya.
Selain karena membawa anak-anak mereka berlibur, ia dan Azzura sekalian refreshing. Kini keluarga kec itu sedang berada di dalam pesawat menuju pulau B.
"Bi, untuk kali ini, nggak apa-apa ya kita berlibur di dalam negeri saja. Insyaallah ... kapan-kapan kita berlibur ke luar negeri," kata Zu.
"Nggak apa-apa, Nak Zu. Ke mana pun kamu akan membawa bibi, bibi akan ikut. Terima kasih karena sudah memperlakukan bibi dengan baik bahkan menganggap bibi seperti ibu sendiri."
"Sama-sama, Bi. Sampai kapan pun bibi tetap ibu bagiku," ucap Zu lalu mengulas senyum.
Genta yang duduk tak jauh dari keduanya hanya bisa menjadi pendengar bagi keduanya. Ia kemudian melirik Devan, yang sedang duduk anteng di sebelah lalu ke Ayya.
Senyumnya langsung mengembang kala mengenang putrinya itu saat menegur Azzura tanpa rasa malu empat tahun yang lalu dalam satu pesawat.
"Ternyata jodoh itu tak akan lari ke mana. Alhamdulillah ... berawal dari pertemuan itu akhirnya berlanjut ke hingga ke ikatan pernikahan hingga akhirnya dikaruniai putra darinya."
"Sungguh ... maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?" gumam Genta menyebut salah satu ayat yang terkandung di dalam Al Qur'an.
.
.
.
Setelah menempuh perjalanan kurang lebih hampir dua jam, akhirnya mereka tiba juga di bandara pulau B, tepat di jam sebelas lewat tiga puluh menit pagi.
Pulau yang terkenal akan keindahannya dengan hamparan pasir putih yang membentang di sepanjang pantai.
Surga bagi para wisatawan. Baik wisatawan dalam negeri maupun wisatawan dari mancanegara.
Senyum Azzura langsung terukir manis diwajahnya sambil menggenggam jemari kedua anaknya. Sedangkan bi Titin mendorong stroller baby F sementara Genta terlihat sedang mendorong troli koper menuju salah satu mobil yang terdapat di bandara.
Karena ingin lebih leluasa saat mengeksplor pulau itu bersama keluarganya, ia memilih merental mobil selama mereka berlibur di pulau itu.
Setelah memastikan anak istrinya juga bi Titin berada di mobil beserta barang-barang mereka, akhirnya Genta mulai melajukan kendaraan itu menuju salah satu hotel yang telah dipesannya secara online tiga hari yang lalu.
.
.
.
Setibanya di hotel, mereka langsung beristirahat di kamar masing-masing.
Bi Titin sekamar dengan Ayya dan Devan. Kamar keduanya hanya bersebelahan dengan kamar Genta dan Azzura.
"Mas, ternyata kamu pinter juga milih hotel yang bagus ya. Pasti buka google dulu ya?" tebak Zu lalu terkekeh.
"Harus dong. Soalnya kita lihat ulasan pengunjung dan salah satunya hotel ini," kata genta.
"Mas sengaja memilih hotel ini sebagai tempat kita menginap karena aman dan nyaman. Lagian lokasinya nggak terlalu jauh jika kita ingin ke air terjun tegenungan, anak-anak pasti menyukainya," jelas Genta.
Azzura hanya membulatkan mulutnya. "Oh." Sedetik kemudian ia mengulas senyum. Ia sudah membuat list tempat-tempat yang akan mereka kunjungi selama mereka berlibur di tempat itu.
Karena masih lelah karena perjalanan yang memakan waktu lumayan lama di udara, kemudian dilanjut lagi dengan perjalanan darat menuju hotel, akhirnya Azzura memilih berbaring di samping baby F.
"Mas, titip Fattah Faatih sebentar ya. Aku pengen tidur sebentar saja. Pinggangku pegel, Mas," pesan Zu.
Tak banyak bicara, Genta menghampirinya lalu duduk di belakangnya kemudian mengelus pinggangnya.
"Tidurlah," bisik Genta sembari menatapnya dan baby F yang tampak sedang membuka mata sambil bergerak-gerak.
"Kasian banget istriku. Selama habis caesar dia sering mengeluh pinggangnya sakit," batin Genta sambil terus mengelus pinggang sang istri.
.
__ADS_1
.
.
Beberapa jam berlalu setelah selesai shalat asar, Genta kembali mengajak keluarga kecilnya mencari makan di salah satu restoran yang terdapat di dekat hotel tempat menginap.
Meski hotel tempat mereka menginap terdapat hotel, namun Genta memilih cari makan di luar sekaligus ingin jalan-jalan santai menikmati keindahan tempat wisata itu.
Setelah menemukan restoran yang cocok, mereka pun masuk ke restoran lalu mulai memesan makanan sesuai selera mereka.
"Setelah selesai makan kita lanjut ke pantai ya," cetus Genta.
Mendengar Genta menyebut pantai, Ayya dan Devan langsung sembringah. "Beneran Yah? Mau dong," kata Ayya dengan senang hati.
"Beneran dong, masa ayah bohong. Tapi kita nggak boleh terlalu lama di sana, soalnya kasian dedek Fattah Faatih kena angin," jelas Genta.
"Siap, Ayah!!" kata Ayya dan Devan serentak.
Azzura dan bi Titin hanya tersenyum menatap kedua bocahnya itu.
Tak lama kemudian pesanan makanan mereka pun diantar lalu disajikan oleh waiters. Setelah selesai menata makanan dengan rapi di meja, sang waiters pun mempersilahkan mereka menyantap makanan itu.
Tanpa pikir panjang, keluarga kecil itu mulai menyantap makanan mereka dengan lahap hingga selesai.
Sebelum meninggalkan restoran, mereka tampak bersantai sejenak sebelum akhirnya Genta mengajak mereka meninggalkan restoran lalu melanjutkan perjalanan ke pantai.
*********
Setibanya di lokasi tujuan senyum Azzura semakin mengembang.
"Bunda, Ayah!! Ayo," ajak Ayya dan Devan sambil menarik tangannya seolah sudah tak sabar ingin bermain pasir.
Keduanya tertawa gemas. "Kalian pergi saja bareng ayah, bunda dan bi Titin akan mengawasi kalian dari jauh," kata Zu.
"Nak Zu, temani saja anak-anak. Bibi biar di sini saja menjaga Fattah Faatih, kasian jika mereka ikut kalian. Di sana angin berhembus kencang," seru bi Titin.
Keduanya mulai melangkah mengarahkan langkah kakinya menyusul ayya dan Devan. Ada senyum tipis terukir di bibir tipis Genta.
Sesekali ia melirik sang istri. "Sayang, mas merasa seperti orang yang sedang pacaran saja."
"Kita memang pacaran, Mas. Dalam arti pacaran dalam ikatan yang halal," timpal Zu.
"Maaf, mas hanya bisa menemani kalian liburan selama tiga hari saja. Mas inginkan lebih dari tiga hari. Tapi kamu tahu sendiri tugas mas seperti apa," sesal Genta.
"Nggak apa-apa, Mas. Jangankan tiga hari satu hari saja sudah cukup bagiku dan anak-anak menghabiskan waktu kita bersama," aku Zu. "Oh ya, Mas, besok pagi kita ajak anak-anak ke monkey forest ya," usul Zu.
"Boleh, sekalian mengenalkan mereka dengan alam dan bisa berinteraksi langsung dengan hewan itu. Kira-kira bagaimana ya reaksi mereka?" kata Genta lalu terkekeh.
"Jangan bilang, Mas ingin menjahili mereka," selidik Zu.
Genta tak menjawab melainkan hanya tersenyum menatap kedua anaknya itu yang sedang duduk di pasir sambil bermain.
Tak ingin ketinggalan, Azzura perlahan melepas tautan jemarinya dari Genta lalu ikut bergabung dengan kedua anaknya.
"Bunda juga, ingin bermain dengan kalian," kata Zu lalu ikut duduk di pasir.
Dari kejauhan bi Titin hanya memandangi ke-empatnya dengan perasaan bahagia sekaligus terharu.
"Kalian layak bahagia, Nak," ucap bi Titin dengan suara lirih. "Semoga kebahagian kalian berdua terus seperti itu hingga kalian menua bersama."
Waktu terus berjalan hingga tanpa terasa, perlahan matahari mulai menenggelamkan dirinya.
Suasana keindahan pantai itu, terlihat semakin indah dengan pancaran cahaya jingga matahari yang akan terbenam sebentar lagi.
"Indah ya, Mas," bisik Zu sambil memeluk lengan kekar sang suami.
Pandangannya terus terarah ke arah ufuk barat saat cahaya matahari mulai meredup sinarnya..
__ADS_1
"Yuk, kita kembali ke hotel, kasian Fattah Faatih," bisik Genta. Azzura mengangguk pelan lalu mengajak Ayya dan Devan ikut bersama.
Sesaat setelah membuka pintu mobil, Azzura langsung meminta maaf pada bi Titin.
"Bi, maaf, aku kelamaan. Apa si kembar rewel, Bi," tanya Zu.
"Nggak, sepertinya dia mengerti jika ayah bundanya juga butuh waktu untuk berdua-duaan," sahut bi Titin.
"Bibi bisa saja, sih!" kata Zu lalu tersenyum.
Sementara Genta, ia hanya menjadi pendengar. Ia pun mulai melajukan kendaraannya kembali ke hotel.
.
.
.
Beberapa jam berlalu, sepulang dari pantai hari semakin gelap sekaligus menandakan malam telah tiba.
Setelah mengurus anak-anaknya dengan baik, Azzura tampak sedang menyiapkan perlengkapan alat shalat untuk shalat magrib berjamaah.
Sedangkan Genta, ia terlebih dulu memesan makanan dan meminta untuk diantarkan ke kamarnya dan kamar bi Titin.
Ayya, Devan, Azzura dan bi Titin yang sejak tadi masih menunggu, akhirnya maju membuat barisan setelah Genta meminta mereka menjadi makmum.
Mereka pun shalat berjamaah dengan khusyuk hingga selesai.
Tiga puluh menit kemudian ...
Setelah selesai shalat lalu dilanjut dengan makan malam, kini mereka masih betah berada di satu kamar yang sama.
Saling melempar candaan, tertawa bersama karena ulah nakal Devan yang terus mengganggu sang adik.
Seakan mengerti jika mereka kini merasakan kebahagiaan, kedua bayi tampan nan menggemaskan itu belum juga memejamkan matanya.
"Bunda, Dev pengen tidur di sini saja dengan dedek," celetuknya yang kini sudah berbaring di samping baby F.
"Boleh dong, Sayang," sahut Zu lalu ikut berbaring di sampingnya.
"Nak Genta, Nak Zu, bibi kembali saja ke kamar sebelah," izin bi Titin.
"Ayya temani ya, Bi. Kasian Bibi sendirian di kamar," tawar Ayya dengan girang.
"Ayo," kata bi Titin seraya mengulurkan tangan untuk menggenggam jemari mungil Ayya.
Sepeninggal bi Titin dan putrinya, Azzura menghampiri ranjang dan malah mendapati Devan sudah tertidur pulas.
"Dia pasti kecapekan," gumam Zu lalu ikut membaringkan tubuhnya di samping baby F.
Tak lama berselang Genta ikut menyusul.
"Sayang ..."
"Iya, Mas? Ada apa?" tanya Zu.
"Setelah pulang berlibur, apa kamu punya rencana?" tanya Genta.
"Sepertinya belum ada Mas, meski aku ingin," jawab Zu.
"Katakan apa itu?" Genta sedikit penasaran.
"Sejak lulus kuliah aku pengen buka Cafe, Mas. Namun belum kesampaian sampai sekarang. Semua karena duitnya kepakai untuk biaya pengobatan ibu," jelas Zu.
"Tapi sekarang aku sudah nggak terlalu tertarik, Mas. Soalnya aku lebih nyaman mengurus anak-anak kita. Apalagi ada kegiatan lain di PIA," jelas Zu lagi.
Genta hanya mengangguk pelan mendengar penuturan istrinya.
__ADS_1