
Dua minggu pasca hak asuh jatuh pada Azzura dan Genta, keduanya kemudian berangkat ke Kota J bersama anak-anak, bi Titin dan sus Mimi baby sitter baby F.
Selain karena anak-anak mereka sudah libur sekolah, tujuan Genta memboyong keluarganya ke kota J adalah untuk lanjut berlibur ke pulau B.
Selain itu, ia sekaligus akan menghadiri upacara pelantikan kenaikan pangkat di kota itu dengan beberapa rekan di kesatuan-nya dari kota lain.
*******
Pagi harinya sebelum bersiap-siap ke upacara itu, Azzura lebih dulu mengurus anak-anaknya. Menyiapkan seragamnya dan Genta lalu memberi ASI pada baby F.
Setelah semuanya sudah beres, barulah ia membersihkan diri lalu bersiap-siap sekaligus membantu sang suami mengenakan pakaiannya.
Setelah selesai mengenakan seragam khusus PIA Ardhya Garini, Azzura merias wajahnya dengan make up natural. Terlihat simlpe namun ia tetap terlihat cantik.
Ia tak menyadari jika sedari tadi Genta terus memperhatikannya sambil senyam senyum. Perlahan ia menghampirinya dengan tatapan penuh cinta.
"Perfect ..." bisik Genta. Ia lalu memeluknya dari belakang, menatap pantulan dirinya dan Azzura dari cermin besar di ruangan ganti itu.
Azzura mengulas senyum seraya mengeratkan kedua tangan suaminya yang kini melingkar di perutnya.
"Tugasku semakin bertambah," bisik Zu.
"Ya, harus bagaimana lagi, Sayang. Di setiap kegiatan yang akan mas lakukan, kamu harus ikut mendampingi. Itu sudah menjadi kegiatan wajibmu sebagai seorang istri perwira," balas Genta lalu mengecup pipinya.
Sedetik kemudian, Azzura melepaskan kedua tangan yang masih melingkar diperutnya.
"Kemarilah, biar aku bantu, Mas," tawar Zu seraya meraih seragam Genta yang telah ia siapkan.
Genta hanya menurut lalu mengenakan celananya. Kemudian Azzura memakaikan bajunya.
"Mas." Sambil memasangkan kancing seragam Genta.
"Hmm." Genta menatapnya sambil tersenyum.
"Setiap hari saat melihatmu mengenakan seragam ini, sepertinya cintaku semakin bertambah. Rasanya setiap hari aku semakin jatuh cinta pada, Mas," aku Zu.
"Benarkah?!" tanya Genta dengan hati yang berbunga-bunga lalu mengecup keningnya.
"Sebenarnya, sejak dulu. Saat aku masih mengajar di yayasan milik Mas. Entah mengapa saat Mas mengenakan seragam ini lengkap dengan topi baretnya, aura Mas terlihat berbeda. Terlihat sangat gagah dan berwibawa," sambung Zu sembari mengelus dada hingga ke perut sixpack suaminya.
"Mas nggak menyangka jika kamu ternyata diam-diam mengagumi Mas?" ia terkekeh sekaligus merasa gemas.
"Entahlah, Mas. Mungkin karena aku sangat mengagumi sosok almarhum ayah dan paman Pras," kata Zu lalu memeluknya sambil mendongak.
Cup ...
Genta kembali mendaratkan satu kecupan di kening lalu mengulas senyum bahagia.
"Apa hanya ketika mas berseragam saja?" tanya Genta dan dijawab dengan gelengan kepala oleh Azzura.
"Tanpa seragam juga. Apalagi saat bertelanjang dada. Hot daddy," bisik Zu sekaligus menggodanya. Sedetik kemudian ia langsung terkekeh.
"Ck! Jangan menggoda mas jika kamu nggak mau bertanggung jawab," decak Genta.
Lagi-lagi Azzura terkekeh lalu semakin mendekap erat sang suami. Untuk sejenak ia begitu menikmati dekapan dari suaminya sekaligus merasakan hangatnya pelukan itu.
Tiga puluh menit kemudian ...
Kini mereka sudah duduk bersama di meja makan sambil menyantap sarapan yang telah dihidangkan oleh bi Titin.
Baik Azzura dan Genta, keduanya tetap memperlakukan sus Mimi seperti keluarga sendiri seperti bi Titin. Keduanya tak membeda-bedakan mereka berdua.
Diam-diam sus Mimi sangat mengagumi sifat rendah hati keduanya. Pun begitu dengan Ayya dan Devan.
__ADS_1
Ia merasa kagum dengan didikan sang majikan pada Ayya dan Devan yang memiliki sikap sopan santun dan saling menyayangi meski keduanya bukanlah saudara kandung.
Meski baru dua minggu bekerja di keluarga itu, ia merasa sangat senang karena begitu dihargai. Meski ia hanya sebagai baby sitter.
"Sayang, kalian di rumah saja bareng bibi dan sus Mimi ya. Bunda dan ayah ada urusan sebentar di luar," izin Zu sembari mengelus kepala keduanya bergantian.
"Iya, Bunda," sahut Ayya. Sedangkan Devan, ia terus menatap sang ayah dengan penuh rasa kagum.
Genta berjongkok lalu menarik pelan tubuh mungilnya kemudian membawanya masuk kedalam pelukannya.
"Ada apa, Nak? Kok sampai segitunya menatap ayah," bisik Genta.
"Devan juga pengen seperti Ayah," balasnya lalu menyentuh satu persatu lambang yang melekat di seragam Genta.
"Benarkah?"
"Hmm," jawabnya dengan anggukan.
"Ayah Aamiin-kan dan ayah sholawatin ya. Semoga tercapai cita-cita-nya," bisik Genta lagi lalu mengecup ubun-ubun putranya kemudian mengelusnya dengan sayang.
"Bi, sus Mimi, kami pamit ya," pamit Zu lalu menggandeng lengan suaminya menuju garasi mobil.
.
.
.
.
Setibanya di Mabes TNI AU, tampak rekan-rekan di kesatuannya itu masing-masing bersama dengan pasangannya, bahkan ada yang membawa anak mereka.
Genta menautkan jemarinya dengan Azzura lalu menghampiri rekannya sekaligus menyapa.
Sebelum acara puncak dimulai, petinggi dari kesatuan itu (Marsekal) memberi sedikit pidato kepada perwira dan prajurit. Di mana sebentar lagi mereka akan dilantik untuk kenaikan pangkat, berkat kerja keras serta dedikasi mereka di kesatuan itu.
Setelah selesai berpidato, acara kembali dilanjutkan hingga tibalah saat upacara pelantikan itu dimulai.
Marsekal menghampiri barisan para anggotanya yang kini sedang berdiri tegak dalam satu barisan.
Menyematkan atribut khusus di pundak mereka sekaligus resmi berganti status dengan kenaikan pangkat satu tingkat lebih tinggi.
Hingga tiba giliran Genta. Petinggi di kesatuannya itu langsung menepuk pundaknya dengan kuat seraya berkata, "Genta Pramudya Dirgantara."
"Siap, benar Pak!!" sahut Genta dengan suara tegas dan lantang.
"Saya bangga padamu, di usiamu yang masih terbilang muda, kamu sudah bisa sampai di tingkat ini. Saya sudah sering mendengar tentangmu dari pak Surya. Kamu layak menerima ini," kata petingginya itu seraya menyematkan dua bintang di pundak Genta. Setelah itu ia kembali menepuk pundaknya. "Selamat ya."
"Siap, terima kasih, Pak," sahut Genta lagi seraya memberi hormat.
Kini Genta resmi berpangkat sebagai Marsekal Muda (MARSDA TNI) dengan dua bintang dipundak. Satu tingkat lebih tinggi dari yang sebelumnya berpangkat Marsekal Pertama (MARSMA TNI) dengan satu bintang di pundak.
Setelah acara pelantikan kenaikan pangkat itu selesai, mereka saling memberi ucapan selamat dan saling berjabat tangan.
Di saat mereka larut dengan rasa syukur sekaligus bahagia dengan gelar baru mereka, dari kejauhan tampak pak Prasetya dan Farhan menghampiri Genta dan Azzura sambil membawa sebuah bingkisan dan sebuket bunga.
"Genta, Azzura," sapa pak Prasetya.
"Bang, Zu," sapa Farhan.
Keduanya langsung memeluk Genta bergantian lalu memberinya bingkisan itu beserta bunga yang dibawanya.
"Selamat ya, Genta, paman bangga padamu. Ayah dan mamamu pasti bangga padamu. Termasuk Azzura," ucapnya seraya menepuk pundak Genta.
__ADS_1
"Selamat ya, Bang, waah boleh dong traktir kita," kelakar Farhan lalu meninju kecil dada bidangnya.
"Terima kasih ya, Paman, Farhan. Boleh dong. Katakan saja kamu ingin ditraktir di mana. Mumpung kami belum berangkat besok ke pulau B," kata Genta lalu memutar-mutar buket bunga yang dipegangnya. "Ngomong-ngomong, kenapa sih, memberiku bunga," protesnya lalu terkekeh.
Azzura ikut terkekeh lalu meraih bunga itu dari tangan suaminya. "Sini bunganya, Mas, buat aku saja."
"Paman." Azzura mendekati pria yang sudah ia anggap seperti ayahnya itu.
Pak Prasetya mengulas senyum lalu merangkul bahunya. "Bagaimana kabar si kembar? Bunda pasti akan sangat senang jika kamu membawanya ke rumah."
"Alhamdulillah ... baik dan sehat, Paman." Azzura melirik Genta. "Mas, bagaimana jika ba'da magrib kita ke rumah paman Pras?"
"Boleh," sahut Genta lalu mengulas senyum disertai anggukan kepala.
"Waaah ... bakalan rame dong di rumah ayah ntar malam," timpal Farhan dengan antusias.
Pak Prasetya langsung terkekeh mendengar ucapan putra keduanya itu.
*******
Setelah beberapa jam lamanya berada di mabes TNI AU itu, Azzura dan Genta memilih singgah ke TPU untuk menyekar makam ibu ayahnya.
"Assalamu'alaikum, bu, ayah," ucap Zu dengan lirih lalu mengelus batu nisan pusara itu.
Menabur bunga lalu menyiraminya. "Ibu, ayah, sayangnya saat aku sudah menikah dengan mas Genta hingga memiliki anak, kalian sudah nggak ada," ucapnya lagi dengan lirih. "Aku ingin memberitahu ibu dan ayah jika cucu kalian kembar kembar."
Sebelum meninggalkan makam, Azzura dan Genta tak lupa mengirim doa lalu dilanjut dengan membaca Yasin.
Setelah itu, mereka pun meninggalkan pusara itu lalu melanjutkan perjalanan pulang ke rumah.
Di sepanjang perjalanan, Azzura kembali mengenang ibu dan ayahnya. Seketika matanya kembali berkaca-kaca.
Andai saja ibu dan ayah masih hidup, mereka pasti bahagia menggendong Fattah Faatih. Sayangnya saat aku kini merasakan kebahagiaan, ibu ayah sudah nggak ada.
Azzura melirik suaminya yang sedang fokus menyetir.
Terima kasih, mas. Sungguh Allah itu adil. Berawal dari Ayya ... aku sama sekali nggak pernah menyangka jika kita pada akhirnya akan terikat dalam pernikahan ini. Aku mencintaimu.
Merasa Azzura terus memandanginya, ia meliriknya lalu mengulas senyum. Menggenggam jemarinya dengan perasaan bahagia.
"Ada apa? Kenapa menatap mas seperti itu," tanya Genta.
"Nggak apa-apa, Mas," sahut Zu dengan seulas senyum.
*******
Sementara di kota M ...
Johan tampak menyambangi rumah mendiang istrinya. Rumah yang sudah lama tak pernah ia datangi.
Di garasi, mobil almarhum Nina tetap terparkir namun ditutupi dengan covernya. Meski sudah setahun lebih Azzura dan bi Titin tak menempati rumah itu, setiap seminggu sekali ia meminta Lulu untuk membersihkan rumah itu.
Johan hanya bisa memandangi rumah minimalis berlantai dua itu dari luar pagar rumah. Ingin sekali ia masuk ke dalam rumah itu, namun urung karena pagarnya terkunci.
"Rumahnya tetap terawat, apa Genta dan Azzura sering kemari ya? Tapi nggak mungkin soalnya mereka tinggal di daerah M," gumamnya.
"Apa sebaiknya aku ke sana saja ya? Sekaligus bertemu dengan putraku," gumamnya lagi dan tampak menimbang-nimbang. "Bagaimana jika Genta kembali menghajarku?"
Sekelumit ingatannya kembali terekam jelas saat ia beberapa kali dihajar tanpa ampun oleh suami Azzura itu.
Membayangkannya saja ia langsung bergidik. "Demi putraku nggak masalah jika dia kembali menghajarku. Aku sudah pasrah karena aku memang pantas mendapatkannya," ucapnya lirih sambil tertunduk.
Dengan niat dan tekad yang bulat, akhirnya ia memutuskan ke daerah M. Padahal ia tak tahu jika saat ini Genta dan keluarganya sedang berada di kota J.
__ADS_1
...----------------...