
Ruangan yang tadinya hening, seketika pecah dengan suara rengekan Devan. Mungkin karena marasa asing, bocah itu merengek sambil memeluknya.
"Sayang, jangan takut." Azzura mengelus kepalanya sambil menenangkan sang putra.
Ia kembali melayangkan pertanyaan yang sama sembari memandangi, bunda, Farhan, Aida, Nanda dan Radit bergantian.
Bunda Fahira mengulas senyum. "Ayah dan Yoga saat ini ada di kota A. Ayah ada seminar sekaligus menjadi pembicara di sana."
"Kapan mereka pulang, Bun?" tanya Zu.
"Hari Sabtu. Tapi hanya ayah soalnya Yoga memutuskan bekerja di sana," jelas bunda. "Tapi bunda akan mengabari jika kamu saat ini ada di kota J. Jadi Yoga bisa ambil cuti beberapa hari supaya bisa ke sini."
Azzura hanya mengangguk. Jauh dalam sudut hatinya, ia sangat merindukan kedua pria berbeda usia itu.
"Zu, kenapa kamu nggak pernah menghubungi kami jika kamu menetap di Kota M?" tanya Farhan.
Dengan hela nafas Azzura menjawab, "bukannya nggak ingin menghubungi atau mengabari, Kak, ponselku hilang saat berada di bandara. Mungkin jatuh soalnya saat itu aku buru-buru karena takut disusul Close."
"Jadi itu sebabnya?" timpal Nanda dan di jawab dengan anggukan kepalanya.
Bunda Fahira menatap Devan lalu mengulas senyum merasa gemas. "Sayang, sini yuk sama oma," bujuknya.
Devan hanya bergeming sambil menggelengkan kepalanya.
"Kenapa nggak mau sama oma?" tanya bunda lalu memasang wajah sedih.
Bocah itu mendongak memandangi wajah sang bunda.
"Kasian oma Fahira, Sayang. Apa Dev nggak mau memeluk oma Fahira?"
"Boleh Bunda?" Ia balik bertanya lalu Azzura mengangguk. Perlahan bocah tampan itu mendekati bunda Fahira lalu memeluknya.
Tak kuasa menahan haru, mata bunda Fahira langsung berkaca-kaca. "Sayang ... seandainya saja kamu nggak pergi meninggalkan kota ini, mungkin bunda juga sudah memiliki cucu darimu dan Yoga," batin bunda sembari mengecup kepala Devan.
Menjelang magrib, barulah Azzura berpamitan. Ia sekalian ingin berbelanja untuk beberapa hari kedepan karena ia akan kembali ke Kota M pada hari minggu.
Tadinya Farhan Aida dan sahabatnya Nanda menawari untuk mengantarnya namun ia menolak.
Setelah selesai berbelanja di salah satu swalayan, ia pun melanjutkan perjalanannya pulang ke rumah.
Setibanya di rumah, ia lebih dulu mengurus sang putra lalu dirinya sendiri. Sambil menunggu azan magrib ia pun tampak sedang berkutat di dapur.
Sesekali ia melirik ke arah sang putra yang tampak sedang menonton kartun kesukaannya sambil mengedot susu. Sesekali pula ia tersenyum saat mendengar putranya itu cekikikan.
__ADS_1
*******
Beberapa jam berlalu, Kota A.
Yoga dan sang ayah tampak sedang duduk di ruang tamu apartementnya. Keduanya tampak mengobrol santai sesaat setelah selesai sholat isya.
Namun terhenti seketika karena ponsel sang ayah bergetar.
"Sebentar, itu pasti bunda."
Yoga terkekeh sembari meledek sang ayah. "Bukan main ... belum juga dua hari di tinggal, bunda lagi-lagi menghubungi ayah. Haaah ... kasian banget putramu ini."
Pak Prasetya hanya geleng-geleng kepala mendengar celetukkan putra bungsunya itu.
Ia pun menjawab panggilan dari istrinya. Sedangkan Yoga memilih ke ruang kerjanya. Baru saja ia mendaratkan bokongnya, satu notif pesan masuk ke aplikasi WA-nya.
Dengan hela nafas, ia meraih ponselnya itu lalu membuka pesan gambar yang dikirim oleh Nanda untuknya.
Ia langsung menegakkan badannya seolah tak percaya saat menatap layar benda pipihnya.
"Apa aku sedang bermimpi? Apa mataku masih normal? Apa ini beneran?" Ia bertanya-tanya dengan suara lirih menatap foto-foto itu.
Tanpa pikir panjang ia langsung menghubungi sahabat dari Azzura itu dengan dada yang berdebar kencang.
Ingin rasanya ia langsung berlari ke tempat Nanda dan Radit berada sekarang. Namun apalah daya, ada jarak yang memisahkan mereka.
"Nanda, katakan jika saat ini aku nggak lagi bermimpi kan?" tanyanya sambil memegang dadanya.
Nanda langsung mengalihkan panggilan itu menjadi panggilan video. Ia kembali terpaku menatap layar ponselnya. Matanya mulai berkaca-kaca.
"Nggak lah, ini nyata, Ga. Azzura sekarang beneran ada di Kota J." Nanda mengarahkan kamera ponselnya ke arah Azzura yang sedang bermain dengan Dita dan Devan.
"Azzura." Ia berucap lirih menatap wanita berhijab itu. Betapa ia sangat merindukannya setelah tiga tahun lamanya terpisah.
Bahkan tak pernah berkomunikasi selama gadis itu meninggalkan kota J.
Dari seberang telepon, Nanda memanggil Azzura yang sedang asik bermain dengan Dita dan Devan.
"Zu!"
Azzura langsung menoleh sembari melambaikan tangannya dengan senyum manis.
"Azzura ..." ucapnya lagi dengan suara lirih menyebut nama gadis itu. Ia terus memandangi Azzura yang sedang asik bermain dengan Dita dan putranya.
__ADS_1
"Siapa bocah tampan berparas bule itu? Apakah putranya?" batinnya bertanya-tanya. "Apa dia sudah menikah?"
"Yoga!" panggil sang ayah.
Yoga mengarahkan pandangannya ke arah pintu lalu kembali menatap layar ponselnya.
"Nanda, sudah dulu ya. Oh ya, jangan lupa kirimkan nomor ponsel Azzura. Aku akan menghubunginya nanti."
"Baiklah," sahut Nanda lalu memutuskan panggilan telefon.
Setelah panggilan terputus, ia kembali mengarahkan pandangannya ke arah sang ayah yang masih berdiri di bingkai pintu.
"Yah, ada apa?" tanyanya sembari meletakkan ponselnya di atas meja kerjanya.
Untuk beberapa detik, pak Prasetya tetap bergeming di tempat dengan alis yang saling bertaut karena pendengarannya menangkap sekilas, saat Yoga menyebut nama Azzura.
"Yoga, bunda barusan mengatakan pada ayah jika Azzura saat ini ada di Kota J." Pak Prasetya membuka suara sesaat setelah ia mendaratkan bokongnya di kursi.
"Aku sudah tahu, Yah," timpalnya dengan wajah berbinar bahagia. "Aku akan izin pada Kak Daffa nantinya. Selesai seminar, aku akan ikut ayah ke Kota J sekaligus ingin bertemu Azzura."
Pak Prasetya hanya mengangguk. "Azzura," sebut pak Prasetya dalam hatinya membayangkan wajah teduh gadis itu.
Jauh dari tempat keduanya berada saat ini, Genta yang masih berada di kota M tampak sedang melamun.
Pikirannya masih saja terusik dengan sosok pria yang sudah mencuri hati calon istrinya itu.
"Azzura Zahra ... siapa sosok pria yang sempat mencuri hatimu itu? Jujur saja aku cemburu padanya," ucapnya dengan suara lirih.
Sejenak ia memejamkan matanya teringat akan gadis itu saat ia menyandarkan kepalanya di pundaknya.
"Ingin rasanya aku mendekap erat tubuhmu saat itu juga tapi aku nggak berani melakukannya."
Plak ...
Satu tepukan di pundaknya seketika membuyarkan semua lamunannya.
"Genta?!" tegur sang ayah seraya merangkul bahunya. "Sedang mikiran apa?"
Ia mendesahkan nafasnya. "Nggak ada, Yah. Hanya memikirkan masa depan kami. Maksudku keluarga kecilku nantinya," bohongnya.
Sang ayah hanya mengangguk. "Hanya tinggal beberapa Minggu saja lagi kalian akan menjadi pasangan halal. Semoga kamu bahagia, Nak," ucap pak Dirgantara dengan doa tulus.
"Terima kasih, Ayah."
__ADS_1
...----------------...
Jangan lupa tinggalkan jejak dengan like, komen dan vote ya. Mumpung hari Senin. 🤭🙏 maaf author memaksa ✌️🤭