Retaknya Sebuah Kaca

Retaknya Sebuah Kaca
Bonchap 6


__ADS_3

Sesaat setelah masuk ke dalam unit apartemen Yoga, Azzura terkekeh sambil membawa barang belanjaannya ke pantry.


Ia menggelengkan kepalanya sembari memintai tempat memasak itu yang terlihat rapi dan bersih.


"Pasti dia nggak pernah masak," gumam Zu lalu meraih salah satu cerek air kemudian merebus air.


Sambil menunggu mendidih ia mengeluarkan barang belanjaannya di atas meja. Beberapa menit kemudian ia pun menyeduh dua gelas kopi lalu membawanya ke ruang tamu.


"Mas ... Yoga ... ini kopinya," kata Zu dengan seulas senyum lalu menyuguhkan kopi itu di atas meja sofa.


Setelah itu, Azzura meraih tas perlengkapan Fattah Faatih lalu mengeluarkan dua botol susu.


"Sayang, ini susunya. Yang anteng ya sama paman dan ayah," ucap Zu lalu memberi Fattah Faatih botol susunya.


"Ah ... melihat Fattah Faatih anteng begini, pengen juga yang seperti mereka ini," celetuk Yoga merasa gemas menatap Faatih yang kini sedang berbaring di pahanya sambil mengedot susu-nya. Sedangkan Fattah di pangkuan sang ayah


Mendengar celetukkan Yoga, Genta dan Azzura langsung terkekeh.


"Makanya nikah, jika sudah ada yang srek dihati. Jangan tunda-tunda lagi jika kata hatimu sudah yakin jika gadis itu yang tepat untukmu," saran Genta.


"Mas Genta benar, Yoga. Jika aku boleh sarankan shalat istikharah juga, supaya mendapat petunjuk jika gadis pilihanmu memang benar-benar tepat untukmu," timpal Zu.


Yoga bergeming sambil mengelus rambut Faatih yang terlihat perlahan memejamkan matanya. Ia kemudian mengarahkan pandangannya ke arah Genta dan Azzura.


"Senang banget melihat Azzura dan bang Genta. Keduanya terlihat selalu harmonis dan bahagia. Aku juga pengen seperti mereka berdua. Hidup bahagia dengan pendamping hidupku serta dikaruniai anak-anak seperti si kembar ini," gumam Yoga dalam hatinya.


"Ga?" tegur Genta.


"Iya Bang."


"Kok bengong?" tegur Genta lagi lalu terkekeh.


Yoga mengusap tengkuknya lalu memangku Faatih kemudian mengecup bocah tampan itu.


"Nggak apa-apa, Bang. Jujur saja aku kagum melihat keharmonisan Abang dan Azzura," aku Yoga dengan seulas senyum.


"Oh ya, Mas, Yoga, aku tinggal ya. Aku ke pantry dulu. Ga ... nggak apa-apa kan, aku obrak abrik pantrymu hari ini? Mumpung kami masih di sini," kata Zu.


"Terserah deh, mau diapain juga aku pasrah," sahut Yoga sambil tertawa.


Azzura mengangkat kedua jempolnya lalu kembali ke pantry. Sedangkan Yoga mengajak Genta ke kamar tamu untuk membaringkan Fattah Faatih yang sudah terlelap.


Setelah itu, Yoga dan Genta kembali ke ruang tamu sambil melanjutkan obrolan mereka. Sesekali keduanya melirik ke arah Azzura yang terlihat begitu cekatan memasak di pantry.


"Haaah ... beruntung banget bang Genta memiliki istri seperti Azzura. Wanita yang bisa dikatakan completed. Istri idaman para pria," batin Yoga.


.


.

__ADS_1


.


.


Sementara Syakila yang kini sedang berada di ruang prakteknya tampak termenung. Benaknya kini masih saja dipenuhi bayangan Yoga dan Rissa.


"Haish ... ngapain juga aku memikirkannya. Kenapa juga aku harus cemburu. Lagian aku dan Yoga nggak ada hubungan spesial. Hanya teman biasa. Namun tetap saja ... kenapa hati ini nggak bisa berbohong jika aku sedikit cemburu melihatnya dengan gadis itu tadi," gumam Sya.


Tok ... tok ... tok ...


Suara ketukan pintu seketika membuyarkan lamunannya. Ia pun mengarahkan pandangannya ke arah pintu.


Saat tahu siapa yang mengetuk pintu barusan, ia langsung tersenyum.


"El?! sapanya.


"Syakila ... ada apa? Kok wajahmu kusut begitu?" tanya El.


"Nggak apa-apa, El," elaknya.


"Nggak apa-apa bagaimana? Pasti ada sesuatu," tebak El.


"Hmm, hanya masalah perasaan. Tapi lupakan saja, aku malas membahasnya. By the way, triplets nggak kamu bawa ke kota A?" tanya Sya sekaligus mengalihkan pembicaraan.


"Nggak, mereka lagi di Jerman dengan omanya," jawab El dengan hela nafas.


"Oh," Sya hanya ber-oh ria.


Sebelum akhirnya El berpamitan karena harus mampir ke perusahaan suaminya.


"Syakila, aku pamit ya, Kai udah nelfon nih. Ntar ngambek lagi si bule tuh jika aku telat," pamitnya disertai gelak tawa mengingat wajah suaminya.


"Baiklah, sampaikan salam ku pada Kai. Jika kalian kembali ke kota X, jangan lupa sampaikan juga salamku pada Lois dan suaminya.


"Ok ..." El mengangkat kedua jempolnya. Setelah itu ia pun meninggalkan ruangan Syakila.


.


.


.


Kembali ke apartemen Yoga ...


Tampak Azzura sedang menata makanan yang sudah mateng di atas meja makan.


Mencium aroma masakan Azzura yang sejak tadi memasuki indra penciuman Yoga, seketika ia terkenang ketika ia dan Nanda sedang berada di kediaman Azzura kala itu.


"Enak banget bau masakannya. Waah Bang, pantasan saja badan Abang semakin berisi sekarang. Pasti karena masakan Azzura yang bikin nagih," celetuk Yoga lalu meninju pelan dada bidang Genta.

__ADS_1


Keduanya kembali tertawa di ruangan itu.


"Bukan cuma itu saja, waktu hamil Fattah Faatih, dia tuh aneh, minta dibeliin makanan ini itu tapi nggak dimakan. Cuman dicium doang. Habis itu dia maksa aku yang makan makanan yang dimintanya. Sejak hari itu aku malah kelewatan dan keterusan," aku Genta.


"Beneran, Bang?! pekik Yoga lalu terbahak. Ia tak bisa membayangkan bagaimana cara Genta menghabiskan makanan itu.


"Ayo ... tertawalah, ntar jika kamu sudah menikah, kamu pasti akan mengalami hal-hal tak biasa jika istri sedang mengidam," kesal Genta lalu geleng-geleng kepala menatap Yoga yang masih tertawa di sampingnya.


Tak lama berselang, Azzura menghampiri keduanya lalu duduk sebelah kanan Genta. Alisnya seketika bertaut saat melirik Yoga yang sedang terbahak sambil memegang perutnya.


"Ada apa sih?!" tanya Zu dengan wajah bingung.


"Nggak apa-apa, lucu saja dengar cerita Bang Genta tentang kamu?" sahut Yoga.


"Tentangku?" tanya Zu sambil menunjuk dirinya sendiri.


"Hmm ... tentangmu. Mas bilang kamu aneh saat hamil Fattah Faatih," jelas Genta.


"Itu kan biasa terjadi, Mas," sahut Zu lalu tertawa saat mengingat masa-masa ngidamnya. "Kalian makanlah dulu. Aku sudah siapkan makanannya di meja."


"Sebenarnya aku sudah makan tadi di rumah sakit, tapi karena kamu yang masak, jadi langsung laper deh," aku Yoga.


"Sayang, kamu nggak makan bareng kita?" tanya Genta.


"Aku belum lapar, Mas. Nanti saja aku pengen tidur sebentar," jawab Zu.


"Zu, Fattah Faatih di kamar tamu, kamu masuk saja ke kamar itu," seru Yoga dan dibalas dengan anggukan kepala oleh Zu.


Yoga dan Genta sama-sama beranjak dari sofa lalu ke meja makan. Sedangkan Azzura memilih ke kamar tamu, bergabung dengan kedua putranya yang kini sedang tertidur pulas.


"Nggak nyangka bisa menginjakkan kaki ke apartemen Yoga," gumam Zu sambil menatap langit-langit kamar. "Yoga ... semoga kamu segera bertemu dengan jodohmu."


Perlahan Azzura mulai memejamkan matanya. Selang beberapa menit kemudian ia pun ikut terlelap.


Sementara di meja makan, Genta dan Yoga tampak sangat menikmati hasil masakan Azzura.


"Oh ya, Bang, apa Abang ada acara penting di kota ini?" tanya Yoga.


"Iya, aku Azzura akan mengunjungi salah satu daerah di kota ini. Semacam pertemuan rutin. Hanya dua hari kami di kota ini, lusa kami akan kembali lagi ke kota M," jelas Genta. "Lagian Azzura nggak bisa berlama-lama pisah dari Ayya dan Devan."


"Sebenarnya dia nggak mau ikut tapi aku yang maksa, apalagi pake modus."


"Modus?" tanya Yoga sedikit penasaran.


"Modus ... jika istri nggak nurut dosa sama suami. Azzura paling nggak bisa menolak jika aku sudah bilang begitu," terang Genta sambil tertawa.


"Waaah ... ternyata Abang licik juga ya," timpal Yoga lalu menyendok makanannya.


"Terpaksa, jika nggak begitu dia nggak bakal nurut," aku Genta lalu kembali tertawa.

__ADS_1


Keduanya sama-sama tertawa di meja makan itu sambil lanjut menyantap makanan mereka masing-masing hingga tuntas.


...----------------...


__ADS_2