Retaknya Sebuah Kaca

Retaknya Sebuah Kaca
Bab 15 : Pria yang tepat untukmu ...


__ADS_3

Satu jam kemudian ...


"Zu, Nanda ... aku kembali ke kantor lagi ya. Maaf ya, Zu kemarin motor kamu terpaksa bermalam di parkiran apartemen. Hehehe."


Azzura dan Nanda ikut tertawa. "Nggak apa-apa. Ya sudah cepat pergi gih," usir Zu dengan nada bercanda. "Nanti boss kamu marah, lihat saja tatapannya itu?" bisik Zu.


Seketika Yoga menoleh ke belakang. Dan benar saja, tatapan menghunus tajam dari Close membuat Yoga tersenyum sinis. Ia kembali menatap Azzura dan mengulas senyum.


"Ya sudah, aku pamit," kata Yoga lalu meninggalkan cafe itu.


Begitu ia keluar dari cafe, Radit sudah menunggunya.


"Dit, langsung antar aku ke kantor," perintahnya


setelah berada di dalam mobil.


"Siap ..." kata Radit dan ia pun kembali melajukan mobilnya meninggalkan cafe itu.


Sementara Laura dan Close masih berada di cafe itu.


"Sayang, malam ini menginaplah di rumahku," pinta Close.


Tentu saja permintaan dari Close membuatnya sembringah.


"Baiklah jika itu inginmu," bisik Laura sambil tersenyum menggoda.


Close terus menatap Azzura yang terlihat sibuk melayani pembeli, tampak sangat menikmati perannya sebagai barista di cafe itu, bahkan ia sama sekali tak meliriknya serta tak menghiraukan keberadaanya dan Laura.


"Nanda, aku tinggal sebentar ya. Aku ke mushalla dulu," izinnya lalu meraih paper bag-nya dan buru-buru meninggalkan meja barista.


"Ok Zu," kata Nanda.


Setelah itu, Azzura melangkah cepat menuju lantai dua tempat di mana mushalla berada. Setelah berwudhu ia segera mengenakan mukenahnya dan masuk ke ruang shalat.


Lima belas menit kemudian ketika ingin melepas mukenahnya, ia begitu kaget saat mendapati Close sedang berdiri di belakangnya sambil menatapnya.


Ia terpaksa mengurungkan niatnya untuk melepas mukenahnya. Ia bahkan tidak rela jika Close melihat auratnya.


"Mau ngapain kamu di situ?!" sinisnya, lalu merapikan sarung mukenah dan jilbabnya kemudian berlalu meninggalkan Close yang masih bergeming di tempat.


Azzura memilih masuk ke dalam toilet dan buru-buru melepas mukenahnya dan kembali memasang jilbabnya lalu merapikannya.


Setelah merasa cukup rapi, ia kembali ke meja barista dan melanjutkan kembali aktifitasnya.


******


Sore harinya setelah shalat ashar ...

__ADS_1


Mereka gantian shift. Azzura tidak langsung pulang ke rumah melainkan ia ke rumah sakit untuk menjenguk ibunya.


Setelah memarkir motornya. Ia merenggangkan otot-ototnya yang terasa lelah. "Masya Allah, hari ini lumayan melelahkan," lirihnya. "Ssssttt ..." ringisnya merasakan sakit di lengan bekas cengkeraman kuat dari suaminya. "Pasti bakal memar," desisnya menebak.


Azzura kembali melanjutkan langkahnya sambil membawa paper bag mukenah dan makanan untuk ibunya dan suster yang berjaga.


Ketika ia menaiki tangga dan hampir sampai di bangsal 3 tiba-tiba ....


Bruuukkk ...


"Aaaakhhh ..." pekiknya karena hampir terjungkal ke belakang namun dengan sigap seseorang memeluknya.


"Hati-hati, ini sudah yang kesekian kalinya kamu menabrakku," bisik pria itu. "Aku kan sudah bilang, jangan suka melamun."


Azzura bergeming lalu mendongak. "Pak dokter," lirihnya lalu melepas pelukannya. "Maaf," sesal Zu sambil mengatupkan kedua tangannya lalu membungkuk.


"Nggak apa-apa," balas pak dokter dengan seulas senyum sambil menggelengkan kepalanya lalu menatap punggung Azzura yang terlihat sudah menjauh darinya.


"Baru saja aku ingin berkenalan dengannya, tahu-tahunya sudah menjauh," gumamnya lalu lanjut menuruni anak tangga.


Sesaat setelah berada di kamar rawat Bu Isma.


"Sayang ... kamu sudah datang, Nak? Kemarilah," pinta ibu. Azzura hanya menurut lalu duduk di kursi.


"Bagaimana keadaan Ibu?"


Namun terpaksa ia rahasiakan supaya sang putri tidak merasa khawatir dan bersedih. Ia seolah tidak kuat melihat Azzura jika menangis seperti kemarin.


"Bu, aku ingin tidur sejenak sambil memeluk Ibu," lirihnya. Bu Isma hanya mengangguk dan bergeser untuk memberi tempat pada Azzura.


Azzura langsung naik ke bed pasien dan memeluk ibunya lalu memejamkan matanya. Mungkin karena lelah, tak butuh waktu yang lama ia sudah terlelap.


"Sayang ... maafkan ibu. Ibu terpaksa membohongimu," lirih bu Isma menatap lekat wajah cantik putrinya yang sedang memeluknya.


"Ibu sudah pasrah, ibu merasa sudah tidak kuat lagi menahan sakit ini. Sayang, ibu sudah bisa merasa tenang karena ada suamimu yang akan menjagamu sepeninggal ibu nantinya," bisik ibu dengan suara tercekat lalu mengecup lama kening Azzura.


Tak lama berselang, seseorang mengetuk pintu lalu membukanya. Seketika bu Isma mengarahkan pandangannya ke arah depan.


"Nak Yoga," lirih bu Isma lalu mengulas senyum. "Kamu juga baru pulang, Nak?" lanjut ibu bertanya pada Yoga yang tampak sedang membawa buah.


"Iya, bu. Kebetulan memang sudah jam pulang kantor, jadi aku sekalian mampir," jawab Yoga lalu meletakkan buah di atas lemari nakas.


Ia menatap Azzura yang sedang tertidur sambil memeluk bu Isma. Terlihat sekali jika gadis itu sangat lelah. Yoga menarik kursi lalu duduk di samping bed pasien seraya menatap bu Isma dan Azzura bergantian.


"Bagaimana keadaan Ibu sekarang? Apa Ibu sudah merasa jauh lebih membaik?" tanya Yoga.


"Nak Yoga, jujur saja keadaan ibu saat ini tidaklah baik-baik saja. Ibu merasa kondisi kesehatan ibu semakin menurun. Namun demi Azzura, ibu sebisa mungkin tampak kuat karena ibu tidak ingin Azzura terus mengkhawatirkan ibu dan melihatnya menangis," ungkap bu Isma.

__ADS_1


Yoga kembali melirik Azzura yang masih memejamkan matanya. Wajah teduh dan tenang gadis itu, membuat hatinya tiba-tiba menghangat. Sudut bibirnya langsung melengkung membentuk sebuah senyuman.


"Bu, Ibu harus sembuh. Aku yakin Ibu pasti bisa melewati masa-masa sulit ini. Ibu harus semangat jangan berputus asa. Ada aku dan Azzura yang akan selalu menyemangati Ibu," kata Yoga seraya menggenggam tangan bu Isma dengan erat.


"Terima kasih, Nak," ucap bu Isma.


"Oh ya Bu, aku tinggal sebentar ya. Jika Azzura bertanya atau mencariku, katakan saja aku ada di rooftop," pesan Yoga.


Bu Isma hanya mengangguk. Sepeninggal Yoga bu Isma kembali menatap Azzura lalu mengelus pipinya dengan sayang.


"Sayang, suamimu pria yang baik. Ibu dapat melihat ketulusannya. Bukan hanya padamu saja tapi pada ibu juga. Ibu sangat yakin dia benar-benar pria yang tepat untukmu," lirih bu Isma.


.


.


.


Kantor Close ....


Close masih tampak betah berada di kantornya. Duduk termenung sambil menggoyang-goyangkan kursi kerjanya.


Pikirannya kembali larut mengingat senyum tulus istrinya pada sang asisten. Bahkan senyum itu tak pernah terukir jika bersamanya.


Bayangan Azzura ketika melaksanakan shalat di mushalla cafe kembali mengusiknya. Ia sendiri tak habis pikir, di sela-sela kesibukannya, gadis itu masih bisa menyempatkan waktu untuk ibadah.


Satu hal yang membuatnya sangat penasaran adalah ingin melihat Azzura tanpa hijab.


"Aakhh ...sial!!! Kenapa aku malah memikirkannya," umpatnya lalu beranjak dari tempat duduknya. Meraih jas dan memilih meninggalkan ruangannya.


Tujuannya adalah ke apartemen Laura sekalian akan menjemputnya untuk membawa gadis itu menginap di rumahnya malam ini.


Apalagi yang ia rencanakan jika bukan ingin menyakiti hati dan perasaan istrinya.


Di sepanjang perjalanan menuju apartemen Laura, lagi-lagi benaknya bertanya-tanya, kok bisa secara kebetulan Yoga bertemu dengan Azzura di pusat perbelanjaan. Dan yang membuatnya jengkel bukan kepalang adalah saat membayangkan istrinya itu berboncengan dengan sang asisten.


Matanya langsung membulat sempurna ketika mengingat kejadian semalam.


"Apa semalam yang mengantarnya adalah Yoga? Secara motornya ada sama Yoga?" tanyanya pada dirinya sendiri.


Seketika ia mencengkram kuat setir mobilnya merasakan darahnya seolah mendidih.


"Awassss saja kamu nanti, Zu. Aku akan memberimu pelajaran lagi," geramnya dan terus melajukan kendaraannya hingga tiba di apartemen Laura.


...🌿................🌿...


Jangan lupa masukkan sebagai favorit ya πŸ™. Bantu like, vote dan komen, setidaknya readers terkasih telah membantu ikut mempromosikan karya author. Terima kasih ... πŸ™β˜ΊοΈπŸ˜˜

__ADS_1


__ADS_2