
Selang beberapa jam kemudian tepatnya pukul 15.00, setelah sadar dari pingsannya, Azzura kini tampak berada di ruang ICU.
Sejak tadi, ia terus duduk di samping bed pasien sambil menatap wajah pucat sang ibu yang masih memejamkan matanya.
"Ibu ..." lirihnya dengan suara yang nyaris tak terdengar. "Buka mata ibu, lihatlah aku walau sejenak. Jangan tinggalkan aku bu." Air matanya kembali menetes.
"Jika ibu menyusul ayah, lalu aku dengan siapa nantinya?" Ia berbisik dan kini mulai terisak.
Seolah mendengar ungkapan sang putri, di ujung mata bu Isma meneteskan air mata. Namun tak lama berselang suara detak jantung yang terdengar di monitor elektrokardiogram semakin melemah.
Dengan perasaan yang bercampur aduk, Azzura langsung menekan tombol khusus, ditambah lagi bu Isma yang terlihat mulai bernafas dengan terputus-putus.
"Bu! Ibu!! Jangan membuatku takut!" pekiknya disertai rasa panik sambil terisak. "Ibu!!!" pekik Zu saat mendengar suara elektrokardiogram berbunyi panjang.
Tiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiittt ....
"Ibu!!! Ibu!!! Ibu jangan tinggalkan aku bu!! Buka matanya bu!! Lihat aku sekali saja untuk yang terakhir kalinya bu!!" pekik Azzura memohon sambil menangis.
Tak lama berselang, dokter Aida, Farhan, Yoga, pak Prasetya memasuki ruangan itu dengan wajah yang sulit di artikan.
"Aida segera lepas semua alat yang menempel di tubuh bu Isma," pinta pak Prasetya. "Farhan siapkan defibrillators," perintahnya lagi.
"Paman, tolong selamatkan ibu. Aku mohon paman," mohon Zu sambil terisak.
"Zu," lirih Yoga seraya merangkulnya untuk menenangkan gadis berhijab itu.
"Farhan, nyalakan AED defibrillatornya sekarang," perintah pak Prasetya dan mulai menggesek-gesekkan alat itu lalu menempelkan ke dada bu Isma. "Tambah tegangannya," perintahnya lagi lalu kembali menempelkan alat itu dada bu Isma namun bu Isma tidak menunjukkan tanda-tanda kehidupan. Pak Prasetya mencoba untuk yang ketiga kalinya namun tetap sama.
Ia meletakkan alat defibrillator itu lalu tertunduk lesu menangis, menatap wajah dan sekujur tubuh teman SMA-nya itu sekaligus istri dari sahabatnya.
"Is ... Isma!" lirihnya sambil menangis.
Melihat paman Pras yang tertunduk sambil menangis, Azzura menghampiri ibunya yang sudah tak bernyawa lalu memeluknya dengan erat.
"Ibuuu!!! Bangun bu!! Kenapa ibu tinggalkan aku. Kita bahkan belum sempat ke puncak," isak Zu sambil memeluk tubuh ibunya.
Baik, pak Prasetya, Yoga, Aida dan Farhan ikut menangis dan terenyuh mendengar ucapan lirih Azzura.
"Zu." Aida mengelus punggungnya. "Ikhlaskanlah kepergian ibu," kata Aida dengan suara tercekat. "Walaupun kita belum sempat membawa ibu ke puncak, setidaknya kita sering meluangkan waktu bersama selama ibu dirawat di rumah sakit ini," sambung Aida.
Masih sambil memeluk ibunya, Azzura mengangguk pelan. Setelah itu, perlahan ia melepas dekapannya lalu mengecup lama kening ibunya.
Setelah itu, dengan suara bergetar ia membisikkan doa tepat di telinga sang ibu.
"Bismillahirrahmanirrahim, Allahummagfirlaha warhamha wa 'asfihaa wa fu'anhaa wakrim nudzulahaa wa wassi' mudholaha wagsilhaa bilmaai watsalji wal barodi waaqqoha min khotooyaa kamaa naqoittats tsaubal Abyadi minad Sanadi wabdilhaa Dasril khoiron min daarihaa eaahlan khoiron min ahlihaa wajaudzan Khoiron min jaudzihaa waadhilnaj jannata wa a'idzahaa min adzaabil qobrii au min adzanin naar."
__ADS_1
Artinya: Ya Allah, ya Tuhanku ampunilah dia, dan berikanlah rahmat untuknya, selamatkanlah dirinya, maafkanlah dirinya seta tempatkanlah dia di tempat yang mulia (surga), perluaslah kuburannya, mandikan dirinya dengan air dari salju serta dari es. Bersihkan dirinya dari seluruh kesalahan seperti Engkau membersihkan baju-baju yang putih dari kotoran, lalu berilah rumah yang jauh lebih baik dari rumahnya di dunia, berilah dirinya keluarga yang lebih baik daripada yang ia miliki di dunia, pasangkanlah dia dengan yang lebih baik dariapada pasangan yang ia miliki di dunia, serta masukanlah dia ke surga dan jagalah dia dari siksa kubur dan siksa api neraka.
Setelah itu, Azzura merapikan pakaian ibunya lalu meminta sehelai kain untuk menutupi tubuh ibunya.
"Zu ... sebaiknya jenazah ibu, dibawa ke rumah mertuamu," usul Farhan.
"Nggak," sahutnya dengan suara datar. "Aku nggak ingin merepotkan mereka. Apalagi saat ini momy Lio sedang sakit. Jenazah ibu, biar di bawa ke rumah kami saja," pintanya. "Kak, tolong hubungi daddy Kheil dan sampaikan berita duka ini," pungkas Zu sambil menyeka air matanya.
"Baiklah," balas Farhan.
"Azzura, biar paman yang mengurus tempat pemakaman ibumu," cetus pak Prasetya.
"Paman, aku ingin ibu dimakamkan di makam ayah. Maksudku, aku ingin ibu di makamkan di satu liang lahat dengan ayah," lirihnya. "Sebaiknya ibu di mandikan di rumah sakit ini saja. Setelah itu baru di bawa ke rumahku. Aku ingin ikut memandikan jenazah ibu, Paman."
"Paman, Yoga, tasku ada di kamar rawat ibu, di situ ada kunci rumah. Tolong kalian ke rumah dan meminta bantuan pada tetangga untuk menyiapkan segala keperluan tahlilan nantinya," pinta Zu dengan suara tercekat karena tangisannya.
"Baiklah," lirih paman dan Yoga. "Aida, Farhan temani Azzura di sini," pinta pak Prasetya.
Setelah itu, keduanya segera meninggalkan ruangan ICU. Sementara Farhan, Aida dan Azzura menunggu beberapa perawat untuk membawa bu Isma untuk di mandikan di tempat khusus.
*
*
*
Setelah mendapat panggilan telepon dari Farhan, baik tuan Kheil maupun momy Lio sangat terkejut mendengar berita duka itu tak terkecuali Gisel.
"Momy ... baru beberapa jam yang lalu aku dari sana kita sudah mendengar berita duka ini," lirih tuan Kheil.
"Dad, Azzura ..." ucapan tercekat lalu menangis. "Ayo kita ke rumah sakit sekarang," pinta momy.
"Tapi kamu masih lemas, Mom," kata daddy.
"Momy nggak peduli, yang penting momy ingin menemani Azzura. Dia butuh kita, Dad," desak momy.
"Dad, Mom, aku ikut," celetuk Gisel.
"Ya sudah, kita ke sana sekarang," cetus daddy.
Setelah mengganti pakaian, dengan tubuh yang masih lemah, momy Lio tetap memaksa untuk ke rumah sakit.
Sesaat setelah berada di dalam mobil, momy bertanya, "Dad, apa Close sudah tahu jika mertuanya meninggal?"
Daddy hanya bergeming lalu mulai melajukan kendaraannya menuju rumah sakit. Setelah pulang dari rumah sakit, ia belum menceritakan semua yang terjadi di rumah sakit tadi.
__ADS_1
Ia tidak ingin istrinya shock apalagi, momy Lio memiliki riwayat penyakit jantung. Ia akan menceritakan semuanya setelah keadaan mulai tenang.
Gisel yang melihat raut wajah tak biasa sang daddy seolah mengerti apa yang tersirat di benak daddynya itu.
"Dad ... kamu belum menjawab," kata momy.
"Sebaiknya Momy saja yang menghubungi Close," balas daddy tanpa menoleh dan hanya fokus menyetir.
"Baiklah," kata momy. Ia pun menghubungi putra sulungnya itu.
Close yang sejak tadi sudah berada di kediamannya, tampak sedang menyesap rokoknya.
Ia terus menatap surat perjanjian perceraian dan cek kosong yang pernah ia perlihatkan pada istrinya enam bulan yang lalu. Setelah itu, ia kembali menatap cincin kawinnya.
Drtttt ... drtttt ... drttt ...
Ponselnya bergetar, dengan spontan ia kembali memasukkan lembaran bermaterai dan cek kosong itu ke dalam laci nakas.
Dengan cepat ia meraih benda pipih itu yang tergeletak di atas kasurnya.
"Momy," lirihnya lalu menjawab panggilan dari sang momy.
"Mom ..."
"Close, apa kamu di kantor, Nak?" tanya momy.
"Aku lagi di rumah," jawabnya.
"Close, segera ke rumah sakit, ibunya Azzura baru saja meninggal. Momy, Daddy dan Gisel sementara dalam perjalanan ke sana," jelas momy dengan suara lirih.
Duaaaaarrrrrrrr .....
Belum habis rasa terkejutnya beberapa jam yang lalu kini ia harus kembali terkejut dengan berita meninggalnya sang mertua.
Tanpa pikir panjang ia segera beranjak dari ranjangnya meninggalkan kamar itu lalu berlari kecil menuruni anak tangga menuju mobilnya.
"Ibu ... Azzura," lirihnya. Seketika air matanya mulai menggenang di pelupuk matanya. Dengan perasaan getir, bimbang ia mulai melajukan kendaraannya menuju rumah sakit.
.
.
Saat pintu maaf telah tertutup rapat, kesalahan yang lalu tertinggal jauh dalam ingatan, semua yang terjadi tidak pernah bisa kembali, hanya satu kata yang bisa terucap atas segala kesalahan yaitu sebuah kata maaf.
...****************...
__ADS_1
Jangan lupa masukkan sebagai favorit ya π Bantu like dan vote setidaknya readers terkasih telah membantu ikut mempromosikan karya author. Terima kasih ... πβΊοΈπ