Retaknya Sebuah Kaca

Retaknya Sebuah Kaca
99. Kenapa takdirku semiris ini ...?


__ADS_3

Saat Azzura dan Genta merasakan kebahagiaan lain halnya bagi Yoga dan Close. Jika Close masih berada di resort-nya sebaliknya dengan Yoga.


Ia memutuskan menenangkan dirinya di Kota L. Setelah meninggalkan ballroom hotel, ia langsung menuju bandara.


Sehari sebelum acara itu digelar, ia sudah memesan tiket. Kini ia berada di salah satu pantai yang terkenal di kota L.


Sudah berjam-jam lamanya ia berada di pantai itu. Dadanya masih saja terasa sesak mengingat moment bahagia Genta dan Azzura.


Ia mendongak memandangi langit yang kini sudah bertabur ribuan bintang, bersamaan dengan lolosnya kristal bening dari kelopak matanya.


"Ya Allah, nggak mudah bagiku melupakannya. Bahkan sejak kepergiannya tiga tahun terakhir. Aku benar-benar terpukul saat tahu dia akan menikah. Kenapa takdirku semiris ini?"


Setelah puas berperang dengan pikirannya sendiri, akhirnya ia meninggalkan tempat itu lalu kembali ke tempat penginapan.


Satu jam berlalu ...


Saat ia akan meninggalkan kamarnya untuk mencari makan, ekor matanya tak sengaja terarah ke kopernya yang masih terbuka.


Ia pun menghampiri lalu akan menutupnya namun ia urungkan saat mendapati kado yang diberikan Azzura padanya masih terbungkus rapi dan belum pernah ia buka.


Karena penasaran, ia pun duduk di sisi ranjang lalu mengambil benda itu. "Apa isinya?"


Ia mulai membuka benda itu dan ternyata isinya adalah sebuah jam tangan dan terselip secarik kertas. Yoga menatap lekat benda itu dengan mata berkaca-kaca.


"Ternyata sebuah jam tangan," ucapnya lirih. "Terima kasih, Zu." Ia mengambil kertas itu lalu membacanya.


Yoga ... anggaplah hadiah kecil dariku ini sebagai ungkapan rasa cintaku sebagai adik terhadap kakaknya. Aku menyayangimu dan rasa sayangku sebagai seorang adik nggak akan pernah pudar.


Terima kasih untuk kalung yang pernah kamu berikan padaku sebelum aku meninggalkan kota J. Kalung itu masih aku pakai hingga saat ini.


Terima kasih karena sudah hadir dan menjadi malaikat pelindung bagiku selama kebersamaan kita. Ingatlah ... kamu tetap kakak sekaligus sahabatku.


"Azzura," sebutnya sambil menatap nanar surat dan jam tangan itu. "Terima kasih karena kamu masih memakai kalung pemberian dariku."


.


.


.


LC Bar ...


Close tampak sedang duduk di salah satu kursi bartender sambil memutar-mutar cairan berwarna coklat di dalam gelas lalu meneguknya.


Di sela jarinya terselip sebatang rokok lalu di sesapnya dalam-dalam. Menghembus kasar lalu tertunduk lesu.

__ADS_1


Ia masih saja membayangkan wajah cantik ex istrinya itu. Sekelumit ingatannya kembali berputar di benaknya saat menikahi gadis itu tiga tahun yang lalu.


"Selamat datang di pernikahan laknat ini. Pernikahan yang bakal seperti berada di dalam neraka."


Alih-alih memegang kepalanya sambil berdoa seperti yang dilakukan Genta. Sebaliknya, sepenggal kalimat keji itu adalah kata-kata pembuka yang ia bisikkan di telinga Azzura.


Memori itu kembali tersambung dengan serentetan perlakuan keji yang ia lakukan baik secara fisik dan verbal. Bahkan sampai membuat ex istrinya itu mengalami gangguan mental karena ulah kejamnya itu.


Nasi sudah menjadi bubur, kaca yang retak tak mungkin bisa utuh seperti semula bahkan masih terlihat goresan retaknya.


Kini yang ada hanyalah penyesalan mendalam. Ibarat waktu yang terus berputar tak mungkin bisa kembali lagi. Ucapan yang sudah terlontar tak mungkin bisa ditarik lagi.


Close terisak sambil mengepalkan kedua tangannya. Ia marah pada dirinya sendiri karena sikap dan perbuatannya yang telah melukai Azzura.


"Azzura Zahra ... dengan cara apa aku harus menebus semua kesalahanku padamu? Walaupun kamu sudah memaafkanku, namun tetap saja penyesalan dan rasa bersalahku padamu masih terus menghantuiku."


.


.


.


.


Di kamar presidential suite, Azzura yang sejak tadi terus memandangi kedua anaknya tersentak kaget saat Genta duduk di sampingnya.


"A-ada apa, Mas." Azzura terbata.


Genta hanya mengulas senyum memandanginya lalu menggeleng-gelengkan kepalanya. Tangannya terangkat menyentuh bergo yang sejak tadi tak ia lepas.


"Sayang, bisa lepas nggak jilbabnya?" pintanya. "Lagian kita kan sudah halal. Nggak apa-apa kan jika aku melihatmu tanpa jilbab? Lagian di kamar ini hanya ada kita ber-empat."


"Tapi, Mas nggak akan macam-macam kan padaku?"


Mendengar ucapan dari istrinya itu, Genta langsung tertawa kemudian memeluknya dengan gemas.


"Macam-macam ke atas dirimu pun, nggak masalah dong, Sayang. Kamu kan istriku," bisiknya.


Azzura menghela nafas sambil menetralkan perasaan serta detak jantungnya. Sedetik kemudian ia pun melepas bergonya lalu menyugar rambutnya.


Bagi Genta, ini adalah pertama kalinya ia melihat sang istri tanpa hijabnya. Perlahan tangannya terangkat lalu membelai rambutnya.


"Sayang, kenapa nggak dipanjangin saja rambutnya?"


"Aku nggak suka berambut panjang, Mas, ribet," aku Zu lalu menyandarkan kepalanya di pundak suaminya.

__ADS_1


Hening sejenak sejenak ...


Genta terus mengelus rambut sang istri dengan sayang hingga membuatnya merasakan kantuk.


"Mas."


"Hmm."


"Aku sudah ngantuk," bisik Zu.


"Ya sudah, kalau begitu berbaringlah."


Azzura hanya mengangguk lalu berbaring di samping sang putra. Walaupun merasa gugup serta canggung, Azzura terpaksa bersikap setenang mungkin.


Tak lama berselang, ia pun tertidur. Sedangkan Genta yang belum bisa memejamkan matanya, terus memandangi wajah istrinya dan kedua anaknya.


"Kebahagiaanku adalah kalian bertiga," ucapnya lirih seraya mengelus jemari istrinya. Menatap cincin nikah yang kini telah melingkar di jari manisnya.


perlahan ia membelai wajah mulus sang istri hingga matanya terarah ke kalung yang melingkar di lehernya.


Pikirnya, itu mungkin kalung kenang-kenangan dari mendiang ibunya. Jika ia tahu kalung itu adalah pemberian dari Yoga, tentu saja ia akan langsung melepasnya dan menyiapkan alasan yang masuk diakal. 🤭✌️


Setelah puas memandangi wajah Azzura ia pun mematikan lampu dan hanya menyisakan lampu tidur.


Ia ikut berbaring lalu membawa masuk istrinya itu ke dalam pelukannya. Hasrat yang sejak tadi menggebu terpaksa ia tahan.


"Sayang, kamu itu sengaja atau bagaimana sih? Harusnya anak-anak tadi biar sama mama saja," bisiknya sekaligus protes pada istrinya yang tak mungkin mendengarnya ucapannya.


"Aku nggak akan menunda-nunda untuk memiliki momongan darimu."


Selang beberapa menit kemudian, ia pun memejamkan matanya. Ikut menyelami mimpi indah di alam bawah sadarnya.


*****


Malam semakin larut, saat orang-orang di rumah sudah tertidur lelap, itu tidak berlaku bagi pak Prasetya.


Ia masih betah duduk di kursi santai pinggir kolam renang di rumah sang putri. Menengadahkan wajahnya menatap langit.


Angin yang berhembus dingin seolah tak ia pedulikan.


"Pras, apa yang kamu harapkan dari gadis itu? Sepertinya kamu sudah nggak waras," ucapnya lirih sekaligus menertawai dirinya sendiri.


Ia termenung sejenak dan tampak berpikir. Mungkin sudah waktunya ia mengubur dalam-dalam rasa cintanya pada Azzura. Bahkan sudah puluhan tahun perasaan itu bersarang di hatinya.


"Fadil, Isma, maafkan aku karena mencintai putri kalian. Bunda, maafkan ayah karena hati ini sudah bermain api. Tanpa sadar sudah mengkhianati kesetiaan dan kepercayaanmu. Biarlah rahasia ini hanya aku yang tahu dan tetap tertutup rapat selamanya."

__ADS_1


Terkadang, hal terbaik yang bisa kamu lakukan untuk seseorang yang kamu cintai adalah melepaskannya. Bebaskan ia serta doakan kebahagiaan untuknya. (Unknown)


...----------------...


__ADS_2