Retaknya Sebuah Kaca

Retaknya Sebuah Kaca
Bab 2 : Penolakan Close ...


__ADS_3

Malam harinya di mansion Keluarga Kheil .....


"Apa!!! Apa Momy sudah nggak waras?!! Menikah dengan Azurra?! Karyawan Momy di cafe itu?!" Sentak Close dengan nada tinggi seolah tak terima.


"Pokoknya, Momy nggak mau tahu, kamu harus menikah dengannya!" tegas Nyonya Liodra tak ingin di bantah


"Mom ... aku memang akan menikah, tapi bukan dengan gadis barista itu!! Melainkan dengan Laura," kesalnya.


"Cukup!!! Momy nggak mau dengar alasan apapun. Momy nggak pernah suka dengan gadis itu!" geram Momy.


Sedangkan tuan Kheil yang sedang duduk di sofa, hanya menjadi pendengar perdebatan antara istrinya dan putra sulungnya itu.


"Close ..." Suara dingin daddynya membuatnya menoleh.


"Daddy," lirihnya.


"Azurra gadis yang baik, sopan dan good attitude. Daddy juga setuju jika kamu menikah dengannya ketimbang dengan Laura," kata tuan Khiel.


"Tapi aku nggak mencintainya Dad, aku mencintai Laura," tegasnya.


"Cinta bisa tumbuh kapan saja Close, tanpa kita menyadarinya. Tidak ada salahnya kamu menerima Azurra," saran tuan Kheil lagi dengan santainya.


Nyonya Liodra langsung tersenyum mendengar kalimat suaminya.


Close terdiam dan tak bisa lagi berkata apapun. Ia langsung mengepalkan kedua tangannya lalu meninggalkan kedua orang tuanya dengan perasaan penuh amarah.


Ketika berada di kamarnya, ia langsung meninju tembok yang tak bersalah meluapkan semua kekesalannya.


"Entah apa yang sudah gadis itu katakan pada momy, sampai-sampai momy mau menerimanya. Pasti dia mengincar harta. Dasar gadis matre, mata duitan!!!" geramnya lalu kembali meninju tembok kamarnya.


Sedetik kemudian, Close menyeringai.


"Akan ku buat pernikahan ini seperti berada di dalam neraka! Jangan berharap aku akan mencintaimu apalagi memperlakukanmu sebagai istriku!" geramnya sambil mengepalkan kedua tangannya."


Entah mengapa ia sangat membenci Azzura, padahal Azzura tidak pernah sedikitpun mengusiknya. Bahkan Close tak segan-segan menghina gadis itu. Yang semakin membuatnya kesal adalah, sedikitpun Azzura tidak pernah menggubrisnya bahkan terlihat acuh tak acuh.


Sementara di ruang tamu, Gisel yang baru saja pulang, sempat mendengar perdebatan antara momy dan kakaknya itu.


"Mom, Dad, ada apa? Tadi aku sempat mendengar kalian berdebat," tanyanya sedikit penasaran.


"Nggak apa-apa, Sayang. Momy dan Daddy hanya membahas tentang rencana pernikahan kakakmu," jelas Nyonya Liodra.


"Beneran? Apa kakak akan menikah dengan Laura?" tanya Gisel dengan raut wajah tak suka.


"Bukan dengan Laura tapi dengan Azzura," jelas Nyonya Liodra lagi.


"Azzura? Maksud Momy, Zu? Barista di cafe Momy itu ya?" tanya Gisel lalu mengulas senyum.


"Menurutmu?" Sang momy menatap heran padanya.


Gisel hanya cengengesan lalu duduk di samping daddynya.


"Dad ... ."


"Hmm ... ."


"Apa Daddy setuju jika kakak menikah dengan gadis itu?" selidik sang putri bungsu.

__ADS_1


"Jika itu pilihan Momy, maka daddy juga setuju," kata daddy lalu mengelus kepalanya.


"Mom, Dad, aku juga setuju jika kakak menikah dengan Azzura. Jujur saja aku nggak suka sama Laura. Perempuan itu angkuh bahkan suka semena-mena," aku Gisel.


Momy dan Daddy bergeming mendengar pengakuan putri bungsunya itu.


"Maksudmu?" tanya Nyonya Liodra.


"Sudah beberapa kali aku memergokinya memarahi karyawan Momy di cafe itu termasuk Zu. Dia selalu memposisikan dirinya seolah-olah sudah menjadi menantu keluarga ini," ungkap Gisel.


"Beneran, Sayang?" Momy dan daddynya cukup terkejut.


"Hmm ... bahkan di kantor kakak pun, aku pernah memergokinya sedang memaki beberapa OB," pungkas Gisel.


Lagi-lagi tuan Khiel dan nyonya Liodra merasa geram mendengar pengakuan dari putrinya itu.


"Sayang, kamu tenang saja. Hal itu nggak akan terjadi lagi," kata Nyonya Liodra.


"Bagus lah, kalau begitu," sahut Gisel. "Sudah lah, aku mau ke kamar dulu," pamitnya.


Sepeninggal Gisel, Nyonya Liodra menatap suaminya.


"Daddy, sebenarnya Momy nggak tega pada Zu," lirihnya.


"Kenapa." Tuan Kheil mengernyit.


"Sebenarnya Momy yang menawarinya supaya mau menikah dengan Close dengan satu syarat."


"Maksud Momy apa?" tanya Tuan Kheil.


"Lalu."


"Momy, katakan padanya, Momy nggak akan memberi pinjaman melainkan Momy akan membiayai dan menanggung semua biaya operasi dan perawatan ibunya dengan satu syarat, asalkan dia mau menikah dengan Close."


Sontak saja ungkapan pengakuan dari istrinya membuatnya tercengang.


"Momy!!" Tuan Kheil menatap tajam istrinya.


"Daddy, Momy lakukan semua ini demi kebaikan Close. Supaya dia bisa lepas dari Laura. Momy nggak suka sama gadis itu," jelasnya. "Daddy dengar sendiri kan, penjelasan Gisel tadi."


"Tapi itu terkesan memaksa Zu, Mom. Kasian anak itu," lirih tuan Kheil lalu terdiam sejenak


"Jadi ... kapan rencana Momy akan melangsungkan pernikahan mereka?" tanya Tuan Khiel.


"Lebih cepat lebih bagus. Dua minggu dari sekarang. Jadi besok kita akan mengunjungi ibunya Zu dulu sekalian mengutarakan niat baik kita padanya," jelas bu Liodra.


"Hmm ... baik lah," gumam Tuan Khiel sambil manggut-manggut.


Tak lama berselang Close tampak menuruni anak tangga dan terlihat sudah rapi.


"Close mau ke mana kamu," tanya bu Liodra.


"Bukan urusan Momy," ucapnya dingin.


Bu Liodra hanya bisa menghela nafasnya kasar dengan sikap penolakan putra sulungnya itu.


"Close." Suara tak kalah dingin daddynya membuat langkahnya terhenti.

__ADS_1


"Jaga sikapmu dan bicara lah yang sopan pada momymu," tegas Tuan Khiel. "Daddy dan Momy mendidikmu bukan untuk menjadikanmu anak pembangkang tapi sebaliknya."


Close menunduk. Sedetik kemudian ia berlalu meninggalkan kedua orang tuanya.


.


.


.


Tok ... tok ... tok ... Tok ... tok ...tok ...


Pintu rumah Azzura diketuk seseorang. Bahkan terdengar seperti tidak sabaran.


Azzura yang baru saja akan berangkat ke rumah sakit, kembali meletakan paper bag yang akan ia bawa ke atas meja sofa.


"Siapa sih?! Ketuk pintu seperti seorang buronan saja!" gerutu Zu lalu menghampiri pintu rumahnya.


Ia pun membuka pintu lalu menatap pria yang sedang berdiri di hadapannya. Tatapan menghunus tajam penuh amarah, seketika membuatnya meremang.


Azzura mengusap tengkuknya lalu memundurkan langkahnya.


"Clo-clo-Close," sebutnya terbata.


"Dasar gadis matre!! Mata duitan!! Apa yang kamu katakan pada momy hingga dia mau menerimamu menjadi menantunya, hah!!" bentak Close seraya mencengkeram pipi Zu.


"Ssssttt ... sa-sakit ... le-lepasin Close," ringisnya terbata, sembari memegang tangan Close yang masih mencengkeram pipinya.


"Dengarkan aku baik-baik, Zu. Sekalipun kita sudah menikah, aku nggak akan pernah mencintaimu bahkan nggak akan pernah menganggap mu sebagai istriku. Kamu tahu kan, aku sangat mencintai Laura. Jadi jangan pernah bermimpi untuk mendapatkan cintaku walaupun itu hanya secuil," bisiknya dengan geram lalu melepas cengkeraman tangannya dari pipi Zu.


Azzura hanya bergeming menatap dalam manik berwarna coklat Close lalu tersenyum sinis.


"Jika saja bukan karena terdesak ekonomi, aku juga nggak ingin menjadi istrimu. Aku terpaksa."


Namun ungkapan itu hanya mampu ia ucapkan dalam hatinya saja


Melihat Azzura tersenyum sinis seolah mengejek, Close kembali menarik rambut Azzura yang tertutup jilbab.


Dengan sigap Azzura menahan jilbab yang menutupi rambutnya agar tak terlepas.


"Ssssttt ..." Lagi-lagi Azzura meringis menahan sakit.


"Malam ini tersenyumlah sepuas yang kamu ingin. Tapi setelah kita menikah, akan aku pastikan mata indahmu ini akan terus mengalirkan air mata! Camkan itu baik-baik," ucapnya lalu melepas tarikan rambut di kepala Zu lalu mendorongnya.


Setelah itu, Close meninggalkannya dengan perasaan geram.


Sepeninggal Close, air mata Azzura langsung mengalir deras.


"Ya Allah ... kenapa dia sangat membenciku? Sejak dulu dia selalu memperlakukanku seenaknya bahkan nggak segan-segan menghinaku. Apa salahku padanya?" lirih Zu bertanya pada dirinya sendiri lalu menyeka air matanya.


"Azzura, kamu harus kuat. Sejak kecil kamu sudah terlatih memiliki mental baja seperti ayah. Sebagai anak seorang Jendral kamu harus tangguh. Jangan pernah menangis di hadapannya karena kamu akan terlihat lemah di matanya," lirih Azzura menyemangati dirinya sendiri.


...🌿................🌿...


Mohon dukungannya ya, readers terkasih dengan meninggalkan rate, vote, like, gift dan meramaikan kolom komentar.


Maaf author memaksa. Tanpa dukungan dari readers terkasih, siapalah author recehan seperti aku. Happy reading 🙏😊🥰😘

__ADS_1


__ADS_2