Retaknya Sebuah Kaca

Retaknya Sebuah Kaca
109. Tertantang ingin mendekat ...


__ADS_3

Kasih sayang bisa diungkapkan kapan saja. Tak perlu kata-kata rumit untuk mengungkapkannya. Cukup hanya dengan kata-kata kasih sayang sederhana tapi bermakna.


Maka perasaan itu sudah terwakilkan untuk orang tercinta di sekelilingmu. Kesempurnaan kebahagiaan yang hakiki itu adalah memiliki keluarga yang bahagia.


Cinta itu layaknya angin yang tak bisa dilihat melainkan hanya bisa dirasakan. Seperti itulah cinta Azzura pada Genta dan orang-orang terdekatnya.


Waktu terus berlalu setiap detik setiap menit hingga berganti hari menjadi minggu kemudian berganti bulan.


Tanpa terasa delapan bulan sudah berlalu, bertepatan dengan sudah setahun lebih Azzura dan Genta menjalani biduk rumah tangga.


Selama trisemester, hampir setiap hari Azzura mengalami morning sickness sekaligus membuat sang mertua dan Genta uring-uringan dan mencemaskan keadaannya.


Belum lagi jika ia tepaksa harus menuruti semua keinginan aneh istrinya itu. Seperti sebelum sebelumya, permintaan aneh Azzura yang sering menginginkan makanan namun tak di makan, membuat Genta terpaksa menjadi korban keusilan bayi kembarnya.


Akibatnya, berat badannya naik drastis karena selalu dipaksa menghabiskan makanan pesanan sang istri. Namun dengan sabar ia tetap menurut.


Setelah sang istri melewati trisemester, barulah Genta bisa sedikit bernafas lega. Karena Azzura sudah tidak meminta hal yang aneh-aneh lagi.


Bayi kembar yang dikandung Azzura diketahui berjenis kelamin laki-laki setelah memeriksakan kandungannya dua bulan yang lalu.


*******


"Sayang, baju dinas mas semuanya sudah pada nggak muat. Terpaksa harus pesan lagi beberapa pasang di kantor," keluh Genta sambil terkekeh lalu mengelus perut buncit Azzura.


Azzura ikut terkekeh lalu mengusap dada liat suaminya kemudian membingkai wajah tampannya sekaligus mengaguminya.


Di usianya yang sudah kepala empat, Genta masih saja terlihat awet bahkan tampak seumuran dengannya.


"Ada apa, hmm," bisik Genta lalu menyatukan keningnya dengan Azzura.


"Nggak apa-apa, Mas. Aku mencintaimu dan aku bahagia menjadi istrimu," balas Zu sambil mengusap rahang tegasnya. "Nggak terasa usia pernikahan kita sudah satu tahun lebih ya, Mas. Devan sudah TK, Ayya sudah kelas empat SD dan Insyaallah sebulan lagi aku akan melahirkan putra kembar kita."


"Terima kasih ya, Mas ... selama ini sudah sabar menghadapi sikapku dan anak-anak," pungkas Zu lalu memeluknya.


Genta hanya tersenyum sekaligus bahagia mendengar ungkapan kata istrinya. Baru kali ini Azzura mengungkapkan jika wanitanya itu mencintainya.


Sudut bibirnya langsung membentuk sebuah lengkungan sempurna sembari mengelus punggungnya dengan sayang. Sikap manja, lembut dan penyayang dari istrinya itu selalu membuat hatinya menghangat.


Satu hal yang lebih membuatnya merasa tenang adalah, mental istrinya itu mulai pulih dan sedikit demi sedikit mulai melupakan semua kekerasan fisik yang pernah dialaminya.


"Bunda, Ayah." Suara Devan dan Ayya membuat keduanya perlahan menoleh.


"Sayang ... kalian sudah siap?" tanya Zu lalu keduanya mengangguk. "Ya sudah, ayo kita tunggu ayah di bawah saja."

__ADS_1


"Sayang, hati-hati ya saat turun di tangga," pesan Genta.


"Ada kami yang menjaga Bunda, Yah," sahut Ayya.


Azzura tersenyum mendengar ucapan sang putri. Ia pun menggenggam jemari kedua anaknya itu lalu mengajak mereka meninggalkan kamar.


Sesaat setelah berada dilantai satu, bu Nadirah langsung menghampirinya. "Sayang, sebaiknya pertengahan bulan ini, kalian tinggal di Kota M saja hingga kamu lahiran," usul bu Nadirah.


"Insyaallah, Mah. Masalahnya anak-anak sekolahnya di sini. Kecuali Mas Genta minta dimutasi ke Kota M, nggak jadi masalah," jelas Zu.


"Benar juga," gumam bu Nadirah.


Sesaat setelah menyiapkan makanan untuk anak-anaknya, Azzura ikut duduk di samping Devan sembari mengelus kepalanya.


"Makanannya dihabisin ya, Sayang," pinta Zu.


"Iya, Bunda."


Selang beberapa menit kemudian, Genta ikut bergabung di meja makan.


"Bunda," panggil Devan.


"Ada apa, Nak?" tanya Zu lalu mengelus kepala putranya.


Genta langsung tersenyum mendengar ucapan putranya. "Jika ingin seperti ayah, kamu harus punya fisik dan mental yang kuat. Profesi sebagai pilot pesawat tempur nggak semudah yang dibayangkan, Sayang," jelas Genta lalu mengelus puncak kepala putranya.


"Kalau Ayya pengen jadi pramugari, Yah, Bunda," kata Ayya.


"MasyaAllah ... Aamiin, mudah-mudahan cita-cita kalian terkabul, Nak," ucap Zu mengamini ucapan kedua anaknya.


"Kalian berdua harus siap-siap sering ditinggal jika cita-cita Ayya dan Dev benar-benar terkabul," peringat bu Nadirah. "Jika mama boleh jujur, sebaiknya jangan lah. Jika bisa profesi yang lain saja, Sayang," protes sang Oma sambil menatap kedua cucunya bergantian.


"Lalu, Galuh juga seorang dokter tapi Mama tetap ditinggal," ledek Genta lalu terkekeh.


Mendengar celetukkan Genta bu Nadirah langsung beranjak dari kursinya lalu menghampiri Genta kemudian menjewer telinganya.


"Dasar kamu ini ya," kesal bu Nadirah.


"Aww ... Mah, sakit tahu," protes Genta sambil mengusap telinganya.


"Biarin! Sayang, kalian berdua jangan seperti ayah ya," gerutu bu Nadirah lalu memeluk Genta dengan gemas. "Genta, apa sebaiknya kamu minta dimutasi saja ke Kota M, Nak? Mama ingin Azzura melahirkan di sana sekaligus kita tinggalnya nggak terlalu jauh."


"Insyaallah, nanti aku pikirkan lagi, Mah," jawab Genta.

__ADS_1


Bu Nadirah hanya mengangguk. Setelah itu, mereka kembali melanjutkan sarapan hingga tuntas. Sebelum akhirnya Genta mengajak anak-anaknya untuk berangkat ke sekolah.


"Bunda, Oma, Bibi, Ayya dan dek Devan berangkat ya," pamit Ayya kemudian diikuti Devan sembari menyalaminya satu persatu.


"Sayang, mas berangkat dulu ya," pamit Genta lalu mengecup kening Azzura kemudian ke perut buncitnya. "Mah, Bi, aku titip Azzura."


Genta pun meninggalkan mereka lalu masuk ke dalam mobil kemudian perlahan mulai melajukan kendaraannya.


Sepeninggal suami dan anak-anaknya Azzura dan Bu Nadirah memilih ke ruang santai, sedangkan bi Titin kembali ke meja makan untuk membereskan wadah bekas makanan.


Jauh dari daerah M tempat Azzura menetap. Di Kota A tepatnya di apartemen Yoga, pria itu tampak mengulas senyum menatap foto Azzura dan Genta bersama anak-anak mereka.


"Gemas banget melihatnya dengan perut buncit. Close ... kamu pasti sangat menyesal sudah pernah menuduh Azzura mandul," gumam Yoga.


Sedetik kemudian ia melirik jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya. "Sudah jam delapan lewat," gumamnya lagi lalu segera bersiap menuju rumah sakit.


Sesaat setelah berada di area parkir apartemen, ingatannya kembali berputar saat memergoki Syakila dan ex tunangannya itu bertengkar.


"Sial! Bahkan hampir setiap hari aku berpapasan dengan pria itu," umpatnya.


Karena unit apartemen keduanya hanya berbeda lantai.


Setelah kejadian itu, Yoga dan Syakila mulai menjalin pertemanan. Namun gadis itu terlihat dingin bahkan cenderung menjaga jarak dengan pria.


Entah itu karena ia merasa was-was atau lebih berhati-hati dalam memilih pasangan.


"Haish! Kenapa aku jadi kepikiran Syakila ya?" bisik Yoga sesaat setelah duduk di kursi kemudi.


Karena tak ingin larut memikirkan gadis itu, ia pun mulai menyalakan mesin mobilnya lalu perlahan meninggalkan area parkir menuju rumah sakit tempatnya bekerja.


Di perjalanan, entah mengapa Yoga masih kepikiran tentang gadis itu. Walaupun keduanya biasa menghabiskan waktu bersama namun tetap saja gadis itu bersikap dingin.


Hal itulah yang sedikit memancing adrenalin Yoga ingin mendekatinya sekaligus merasa penasaran dengan gadis itu.


"Duuuh ... ini otak kenapa masih memikirkan dia sih?!" gerutu Yoga sembari menepuk jidatnya.


Mungkin ia sedikit konyol karena sampai memikirkan gadis itu setelah Azzura.


Setelah hampir setahun berada di kota A, apalagi pasca Azzura dan Genta menikah hingga mendapat kabar jika Azzura sudah berbadan dua, perlahan ia mulai mengikis bayangan wanita berhijab itu dari ingatannya.


Di tambah lagi setelah bertemu dengan Syakila. Gadis dingin dan cuek. karena sikapnya itu lah yang membuat Yoga tertantang ingin mendekat.


😅🤭✌️ ...

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2