Retaknya Sebuah Kaca

Retaknya Sebuah Kaca
111. Ucapan selamat ...


__ADS_3

Setelah membaca surat pernyataan itu dengan seksama, Genta langsung mematung, lidahnya keluh disertai air mata yang langsung berjatuhan.


Melihat sikap Genta yang begitu terkejut, Pak Surya langsung beranjak dari tempat duduknya lalu menghampirinya.


Ia langsung menepuk bahu Genta dengan bangga lalu memberinya selamat.


"Selamat ya Pak Genta, kamu layak naik pangkat satu tingkat lebih tinggi berkat kerja keras serta dedikasimu di kesatuan ini."


Genta ikut berdiri setelah mendapat ucapan selamat dari atasannya itu. Ia menunduk takjim kemudian membalas ucapan pak Surya.


"Terima kasih, Pak. Tadinya saya sudah berpikir jika saya akan tergabung menjadi pasukan perdamaian yang akan di kirim ke Lebanon."


"Terus terang saja, yang ada di benak pikiran saya adalah istri saya yang saat ini sedang hamil besar. Saya nggak bisa membayangkan jika dia melahirkan tanpa saya dampingi. Apalagi ini adalah kelahiran pertama baginya," aku Genta dengan suara bergetar.


Lagi-lagi pak Surya menepuk bahunya lalu tersenyum. Ia mengerti akan perasaan Genta saat ini.


"Oh ya, sekali lagi selamat ya. Upacara pelantikan kenaikan pangkat itu akan dilaksanakan di Kota J. Istri dan kedua orang tuamu pasti bangga padamu," ucap pak Surya.


"Terima kasih, Pak. Kalau begitu saya pamit karena para taruna sudah menanti kehadiran saya," pamitnya lalu meninggalkan ruangan pak Surya.


"Alhamdulillah ... aku sama sekali dan nggak pernah memikirkan jika aku bakal naik pangkat. MasyaAllah ... rezeki datang bertubi-tubi," ucap Genta dengan lirih sembari mengusap dadanya.


Lega ...


Bersyukur ...


Bahagia ...


Semua menjadi satu dan tampak jelas di wajahnya.


.


.


.


.


Menjelang siang saat waktunya anak-anak pulang sekolah, Azzura terlihat sudah bersiap-siap akan menjemput anak-anaknya.


"Sayang, sebaiknya biar mama saja yang menjemput Devan," tawar bu Nadirah.


"Biar aku saja, Mah. Aku bawa mobil saja," cetus Zu.


"Mama takut jika kamu sampai kenapa-napa, Nak," cemas mama.


Azzura terkekeh lalu mengelus lengan mertuanya. "Udah nggak apa-apa, Mah. Lagian aku suntuk juga di rumah. Tapi kalau Mama mau ikut boleh juga."


"Mama di rumah saja dengan bi Titin. Kalau ayah ada di sini dia pasti sudah mengomel," balas Bu Nadirah.


"Ayah nggak bakal tahu jika Mama nggak bilang padanya," timpal Zu lalu kembali terkekeh. "Ya sudah, aku berangkat dulu."


Bu Nadirah hanya mengangguk lalu mengantarnya hingga di depan pintu utama.


.


.


.


.


Setibanya di sekolahan Devan, Azzura langsung bergabung dengan beberapa wali murid yang sedang menunggu anak-anak mereka.

__ADS_1


Dengan senyum ramah ia menyapa lalu duduk di salah satu tempat yang kosong.


"Anak-anak belum keluar ya, Bu?" tanyanya.


"Mungkin sebentar lagi, Bu," jawab salah satunya.


Mereka lanjut mengobrol kecil disertai candaan hingga sesekali kelompok itu tertawa kecil merasa lucu.


Beberapa menit kemudian akhirnya bel pun berbunyi. Dengan sabar Azzura tetap menunggu sang putra keluar dari kelasnya.


Tak lama berselang tampak Devan berlari kecil menghampirinya sambil membawa selembar kertas hasil gambarannya.


"Bundaaa!!" panggilnya dengan senyum lebar. "Bunda, lihat gambaran Dev, bagus nggak?" tanyanya lalu menyerahkan hasil karyanya pada sang bunda.


Azzura langsung meraih kertas itu lalu tersenyum menatap hasil lukisan tangan putranya sendiri.


"MasyaAllah ... bagus banget, Sayang," pujinya seraya mengelus kepalanya. Sebuah lukisan tangan pesawat tempur dan sebuah robot.


padahal umurnya baru empat tahun tapi lukisan tangannya bagus banget.


Azzura mengelus pipi putranya lalu memeluknya sejenak. Betapa ia sangat menyayangi putranya itu meski bukan terlahir dari rahimnya.


Seketika matanya kembali berkaca-kaca mengingat Nina sosok mendiang ibu kandung dari Devan itu.


"Sayang," sebut Zu dengan lirih.


"Iya, Bunda," sahut Devan sambil mengelus-elus perut buncit sang bunda. Sesekali ia tertawa mengikuti ke mana arah gerakan calon adiknya bergerak. "Bunda, dedeknya nendang," katanya sambil cekikikan


Azzura hanya tersenyum gemas lalu mengajaknya masuk ke mobil. Dengan patuh Devan menurut.


"Kita jalan-jalan dulu sebentar sebelum menjemput kak Ayya ya, Sayang. Kita ke swalayan dulu belanja," cetus Zu dan dijawab dengan anggukan kepala oleh Devan.


Azzura mulai melajukan kendaraannya menuju ke salah satu swalayan terdekat. Di sepanjang perjalanan putranya terus mengajaknya mengobrol.


Sesaat setelah tiba di swalayan itu, Azzura mengajak sang putra untuk berbelanja. Ia terus menggenggam tangan mungil Devan lalu mulai berkeliling.


Tak henti-hentinya Azzura tersenyum dengan tingkah sang putra yang terlihat sangat antusias membantunya. Di rasa sudah cukup, ia pun kembali menenteng keranjang belanjaannya.


Saat akan melangkah, seseorang menegurnya lalu menawari bantuan karena tak tega melihat Azzura membawa keranjang belanjaannya.


"Maaf, biar aku bantu membawa keranjang belanjaannya," tawar pria itu.


"Ah nggak apa-apa, ini nggak berat kok," tolak Zu dengan sopan.


"Nggak apa-apa, biar aku membantu membawa hingga ke meja kasir. Kasian ibunya," tawarnya lagi sambil memandangi Devan lalu mengelus kepalanya.


"Bunda ... biar omnya bantu, kasian dedeknya," kata Devan seraya mengelus perutnya.


Akhirnya Azzura setuju. Sesaat setelah mengantri di meja kasir, pria itu berjongkok lalu menatap lekat wajah Devan. Mengelus wajah dan rambutnya.


"Apa om bisa berteman denganmu?" tanya pria itu.


Tak langsung menjawab melainkan Devan mendongak menatap sang bunda seolah meminta persetujuan. Saat Azzura mengangguk, ia pun kembali menatap pria itu lalu menganggukkan kepalanya.


Pria itu langsung memeluknya erat merasa terharu. Pria itu yang tak lain adalah Johan ayah kandung Devan.


Untuk pertama kalinya ia bisa memeluk putra kandungnya. Azzura menatap keduanya lalu tersenyum.


Belum puas ia memeluk Devan, seseorang menghampirinya lalu menegur. "Tuan?! Apa Anda sudah selesai?" tanya asistennya.


Johan tak menjawab. Ia merasa belum puas memeluk putranya. Sebelum berdiri ia mengecup puncak kepala bocah itu lalu kembali membelai wajahnya.


"Om, pamit ya, jika ada waktu kita bertemu lagi," ucapnya penuh harap. Ia pun berdiri sekaligus berpamitan pada Azzura.

__ADS_1


Satu jam berlalu ...


Setelah dari swalayan Azzura kembali melanjutkan perjalanan menuju sekolah Ayya. Saat tiba di pintu gerbang sekolah, Ayya tampak sudah menunggu.


Sesaat setelah masuk ke mobil gadis cilik itu langsung memprotesnya karena terlambat menjemputnya.


Sadar jika ia salah Azzura langsung meminta maaf pada putrinya itu. Setelah itu ia pun kembali melanjutkan perjalanan pulang ke rumah.


******


Sesaat setelah kendaraan memasuki halaman parkir rumah, mobil dinas suaminya sudah terparkir di tempat.


"Tumben mas Genta pulangnya cepat?" gumam Zu setelah memarkir mobilnya di samping mobil dinas suaminya. "Sudah sampai, Sayang. Turun yuk," ajaknya lalu membuka pintu mobil.


Ketiganya pun menghampiri pintu lalu memberi salam.


"Assalamu'alaikum."


"Waa'laikumsalam," jawab Genta, mama dan bi Titin bergantian.


Genta langsung menghampirinya setelah mendapati Azzura membawa barang belanjaannya.


"Kemarikan barang belanjaannya." Genta langsung meraih belanjaan itu lalu membawanya ke dapur disusul oleh Azzura.


"Mas, tumben pulangnya cepat?" tanya Zu lalu duduk di kursi meja makan.


"Nggak apa-apa, emang nggak boleh?!" Ia merasa gemas.


Azzura terkekeh lalu beranjak dari kursi. "Boleh kok. Aku ke kamar anak-anak dulu," pamitnya.


"Ya sudah, bareng saja. Mas juga mau ke kamar," kata Genta sambil mengelus perutnya.


"Mas sudah makan belum?"


"Sudah, di kantor tadi."


Saat keduanya sampai di lantai dua, Ayya dan Devan sudah mengganti baju. Keduanya tampak akan turun ke lantai satu.


"Sayang, kalian makan dulu ya," pesan Zu.


"Iya, Bunda!" jawab keduanya sambil berlomba turun ke bawah.


Azzura hanya geleng-geleng kepala melihat kelakuan kedua anaknya itu.


Sesaat setelah berada di dalam kamar Genta langsung duduk di sisi ranjang lalu menarik pelan lengan istrinya supaya duduk di pangkuannya.


"Ada apa sih, Mas?" bisik Zu seraya mengalungkan kedua tangannya ke punggung leher suaminya.


"Mas punya kabar baik," balas Genta sambil mengelus perut Azzura. "Alhamdulillah ... mas naik pangkat."


"Alhamdulillah ... selamat ya, Mas. Semoga Mas tetap menjadi abdi negara yang baik, rendah hati serta menjadi panutan bagi anggota yang lainnya," ucap Zu mendoakan suaminya dengan tulus.


"Aamiin, terima kasih, Sayang," bisik Genta.


Ia pun menceritakan kejadian saat dikantor ketika ia mendapat surat pernyataan itu.


Setelah selesai bercerita, Azzura langsung mendekapnya erat.


"Aku nggak bisa membayangkan jika Mas tergabung di pasukan perdamaian itu, Mas. Tapi jika pun itu terjadi, sebagai seorang istri abdi negara, aku sudah harus siap jika sewaktu-waktu akan ditinggal oleh Mas demi tugas negara," bisik Zu.


"Dulu waktu aku masih duduk di bangku SMA, almarhum ayah juga pernah tergabung di pasukan itu. Ayah dan pasukannya di kirim ke Afrika saat itu. Kurang lebih setahun baru mereka kembali ke Indonesia," pungkas Zu.


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2