Retaknya Sebuah Kaca

Retaknya Sebuah Kaca
Bab 18 : Air matamu adalah doa ...


__ADS_3

Subuh dini hari, setelah selesai shalat subuh, Azzura menyempatkan waktunya sejenak membaca Al Qur'an dan mengirim doa untuk almarhum ayahnya.


Tanpa sengaja, Close yang sejak semalam tertidur di sofa ruang tamu, merasa terusik karena samar-samar mendengar suara merdu Azzura yang sedang mengaji.


Karena penasaran, ia melangkah pelan menghampiri pintu kamar Azzura dan malah menghayati suara merdu istrinya. Lama ia berdiri di depan pintu kamar itu dan hanya diam. Ia merasa hatinya tiba tiba menghangat.


Namun setelah suara Azzura terhenti, ia langsung mengambil langkah seribu dan segera naik ke kamarnya. Memilih meraih rokok dan pemantik api menuju balkon kamar.


Ia termenung. "Bahkan ini masih gelap dan dia sudah terbangun," gumamnya sambil menyesap rokoknya dan sesekali melirik Laura yang masih tertidur pulas dengan tubuh yang masih polos.


"Laura tidak pernah terbangun sesubuh ini seperti yang Azzura lakukan," gumamnya lagi tanpa sadar membandingkan istri dan gundiknya itu.


Sedangkan Azzura, setelah selesai mengaji ia kembali ke dapur dan memilih membuat kopi dan sarapan untuk dirinya sendiri. Pikirnya untuk apa membuatkan suaminya sarapan, kejadian tadi pagi saja cukup membuatnya sakit hati karena menghambur semua makanan tanpa berbentuk, bahkan menyiraminya dengan kopi yang telah ia siapkan.


Setelah menyeduh kopi, Azzura memilih membuat nasi goreng untuk sarapannya. Seperti biasa dengan cekatan ia mengolah semua bahan campuran nasi gorengnya dan mulai memasaknya.


Lima belas menit kemudian, nasi goreng buatannya siap dan ia mulai menata ke piring. Sebelum menyantap, ia terlebih dulu membersihkan semua wadah yang ia gunakan dan meletakkan kembali ke tempat masing-masing.


Lagi-lagi bau harum masakan Azzura memenuhi ruangan dan seketika membuat perut Close menjadi lapar. Bagaimana tidak, saat ini ia sedang menuruni anak tangga dan ingin ke ruang fitness.


"Sial!! Perutku langsung lapar," dumalnya sambil menelan ludah.


*******


Tepat jam 6.30 pagi, Azzura sudah meninggalkan rumah tanpa membawa motornya dan memilih naik bis menuju rumahnya.


Sementara Close yang baru saja keluar dari ruang fitness langsung menuju dapur. Matanya kembali menyapu ruangan masak itu yang terlihat sudah kembali rapi bahkan tak menyisakan satupun wadah kotor. Yang ada hanya rice cooker yang berisi nasi. Ia membuka kulkas lalu meraih air dingin kemudian meneguknya.


Sesaat setelah berada di dalam kamar, ia langsung menuju ke kamar mandi dan hanya membiarkan Laura yang masih tertidur.


Tiga puluh menit kemudian Close kini sudah terlihat rapi dan akan berangkat ke kantornya. Lagi-lagi ia hanya menghela nafasnya ketika mendapati Laura masih saja tertidur. Karena malas membangunkannya, ia memilih meninggalkannya begitu saja.


Dengan langkah panjang, ia segera menuju mobilnya dan meninggalkan rumahnya


.


.


.


Azzura yang kini sudah berada di rumahnya terlihat sedang berada di kamarnya, mengistirahatkan tubuhnya di ranjang empuknya.


Tak terasa air matanya kembali mengalir membayangkan kejadian semalam. Dengan kejamnya Close menghajarnya bahkan perutnya diinjak dan masih merasakan sakit hingga menyisakan bekas lebam.


"Ya Allah, aku takut jika ini akan menyisakan trauma rahim. Aku takut nggak bisa hamil," lirihnya sambil mengelus perutnya yang masih terasa sakit hingga ke ulu hatinya tembus ke belakangnya. Sebaiknya aku konsultasi ke dokter kandungan saja nanti."


Azzura kembali memejamkan matanya, merasakan betapa nyamannya ia berada di kasur empuknya yang sangat jauh berbeda dengan kasur yang ada di rumah suaminya.


"Wahai hati ... bersabarlah, sedih, perih, gundah dan amarah, hilanglah. Sepahit apapun hari ini namun simpanlah semua dan kubisikkan kalimat doa untuk menguatkan hati. Jangan sampai ada dendam yang dapat merusak hati, tetaplah tegar dan sabar dalam menjalani hari-hari," bisik Zu sembari mengelus dadanya dengan mata terpejam bersamaan dengan lolosnya kristal bening yang jatuh di ujung matanya.


Hening seketika, yang terdengar hanya hembusan nafas Azzura yang menandakan jika gadis malang itu telah terlelap.


.


.

__ADS_1


.


Beberapa jam kemudian ....


Ketika Laura membuka matanya, ia mengamati kamar itu lalu menatap jam dinding kamar.


"Apa!!! Sudah jam 10.15 pagi!!" Pekiknya lalu menyibak selimut dan segera menuju ke kamar mandi membersihkan tubuhnya.


"Close gimana sih!! Kenapa dia nggak membangunkanku," omelnya merasa kesal.


Setelah selesai berpakaian, ia menghubungi Close namun sang empunya nomor tak menjawab. Beberapa kali ia menghubungi nomor itu namun tetap sama.


"Close ke mana sih?!!!" geramnya dan memilih memesan taksi online.


Sedangkan yang sedang di hubungi sedang berada di ruang meeting dengan karyawannya di masing-masing divisi.


Saat meeting masih berlangsung, Close tampak tidak fokus. Entah mengapa bayangan perlakuannya terhadap Azzura kembali memenuhi benaknya. Apalagi ketika ia akan berangkat ke kantor motor Azzura masih terparkir di tempat.


Apa dia baik-baik saja? Bagaimana jika terjadi sesuatu padanya? Akhh ... ngapain juga aku pikirkan. Biarkan saja, siapa suruh dia sudah mengganggu kesenanganku dan Laura.


Ia bergumam dalam hatinya. Tak lama kemudian suara Yoga menyadarkannya dari lamunannya.


"Pak," tegur Yoga seraya menepuk lengannya.


Ia menoleh lalu menatap ke depan. "Ya, ada apa?" tanyanya lalu memperbaiki posisi duduknya.


"Meetingnya sudah selesai," jelas Yoga.


"Hmm," ia hanya manggut-manggut lalu berdiri kemudian langsung meninggalkan ruang meeting itu.


"Laura," lirihnya saat menyalakan layar ponselnya. Ia hanya melihat sekilas dan kembali meletakkan benda pipih itu di atas meja kerja.


Tok ...tok ... tok ...


Close menoleh ke arah pintu. "Yoga," lirihnya.


"Pak, ini ada beberapa proposal dari beberapa kepala divisi," kata Yoga lalu meletakkan proposal itu di atas meja kerja Close.


"Hmm."


Setelah itu, Yoga pamit dan meninggalkannya.


Sepeninggal Yoga, Close mendaratkan bokongnya di kursi kerjanya dan tampak termenung.


"Jika benar dia hamil? Lalu anak siapa yang dikandungnya? Gadis barista itu benar-benar membuatku muak. Munafik!!! Jika itu benar, aku akan membuatnya semakin tersiksa hingga ia benar-benar menyerah," desis Close merasa geram.


*********"


Jam 16.00 sore ...


Azzura sedang berada di salah satu rumah sakit Kota J hanya untuk berkonsultasi dan ingin memastikan rahimnya tidak bermasalah.


Sambil menunggu giliran, ia tampak termenung. Memikirkan ibunya dan perlakuan kasar suaminya padanya.


"Kalian berdua memang manusia laknat menjijikkan. Berbuatlah semau dan sesuka kalian. Tapi setidaknya jangan di rumah itu," lirihnya dalam hati lalu menyeka air matanya.

__ADS_1


Tak lama berselang nomor antriannya di panggil. Dengan langkah pelan ia menghampiri ruang praktek dokter spesialis kandungan itu dengan papan nama yang terpampang Dr. Fahira Zahwa SpOG.


"Silakan duduk," kata dokter Fahira dengan ramah lalu tersenyum.


"Terima kasih, Dok," ucap Zu.


"Apa Anda ingin cek kandungan Nyonya atau hanya ingin konsultasi saja?"


"Saya ingin konsultasi saja, Dok," jawab Zu.


"Baiklah. Anda sendiri saja?" tanyanya.


Azzura hanya mengangguk. "Dok, perut saya semalam terkena benturan meja dan masih terasa sakitnya. Bahkan sampai ke ulu hati dan tembus ke belakang, saya hanya takut jika akibat dari benturan itu membuat saya nggak bisa hamil," jelas Zu dengan mata berkaca-kaca.


Dokter Fahira mengernyitkan keningnya menatap Azzura. "Kalau begitu, ayo kita ke bed pasien dulu. Saya ingin memastikan," cetus sang dokter.


Keduanya menghampiri bed pasien. Dengan perlahan Azzura naik ke bed lalu berbaring.


"Maaf, saya singkap bajunya dulu ya." Lagi-lagi Azzura hanya mengangguk.


Ketika bajunya tersingkap, dokter Fahira cukup terkejut lalu menatap lekat wajah Azzura dengan perasaan iba.


Sepertinya dia mengalami KDRT. Kasian anak ini, padahal masih muda. Tega banget suaminya.


Dalam diam dokter Fahira meraba perut Azzura lalu mengoleskan gel kemudian menempelkan alat USG demi memastikan rahimnya tidak bermasalah.


Setelah beberapa menit menganalisa, dokter Fahirah mengulas senyum lalu menurunkan kembali baju Azzura.


"Alhamdulillah, rahim Nyonya nggak ada masalah, hanya ada lebam akibat benturan itu. Insyaallah kamu masih bisa hamil," jelas dokter Fahira.


Azzura perlahan mendudukkan dirinya sambil dibantu sang dokter.


"Boleh saya bertanya? Anggap saja saya sedang bertanya pada anak perempuan saya," kata dokter Fahira.


"Iya, Dok, boleh," lirih Zu.


"Maaf ... apa kamu habis mangalami KDRT dari suamimu? Melihat beberapa lebam di perutmu sepertinya kamu baru saja mengalami KDRT," selidik dokter Fahira dengan nada lembut.


Azzura menunduk, lidahnya keluh dan tangannya sedikit bergetar mengingat kejadian semalam. Sedetik kemudian ia mendongak menatap wajah dokter Fahira dengan mata yang berkaca-kaca.


"Bisakah, aku memeluk Anda sebentar Bu," pinta Zu yang kini sudah tidak menggunakan kalimat formal.


Tanpa pikir panjang, dokter Fahira langsung mendekapnya seraya mengelus punggungnya dengan sayang. Dekapan tulus dari dokter Fahira seketika membuat tangisnya pecah.


Sebuah pelukan yang Azzura butuhkan saat ini. untuk menguatkan dirinya karena tidak mungkin ia menceritakan masalah rumah tangganya pada sang ibu. Itu sama saja akan membuat ibunya kembali down.


"Nak ... menangislah dan tumpahkan air matamu. Karena air matamu adalah doa di saat kamu nggak mampu berkata-kata. Terkadang kita butuh waktu untuk tertawa, maka tertawalah, kita juga butuh waktu untuk menangis maka menangislah, itu manusiawi. Setelah puas kembalilah fokus pada tujuan," bisik dokter Fahira dengan suara tercekat.


Sejatinya ia merasa sangat iba pada Azzura. Eratnya pelukan dan derasnya air mata gadis itu menandakan jika ia benar-benar butuh kekuatan.


Dokter Fahira hanya membiarkan Azzura menumpahkan semua air matanya hingga lama kelamaan suara tangisannya mulai mereda barulah ia mengurai pelukannya lalu menyeka sisa-sisa air matanya yang masih membasahi pipinya.


...🌿🌼----------------🌼🌿...


Jangan lupa masukkan sebagai favorit ya πŸ™. Bantu like, vote dan komen, setidaknya readers terkasih telah membantu ikut mempromosikan karya author. Terima kasih ... πŸ™β˜ΊοΈπŸ˜˜

__ADS_1


__ADS_2