Retaknya Sebuah Kaca

Retaknya Sebuah Kaca
93. Siapa gadis beruntung itu ...?


__ADS_3

Sambil menunggu Azzura, Yoga menghampiri Devan yang sedang asik bermain dengan Dita, Novia dan Nenra.


"Apa boleh paman ikut bermain?" izinnya dengan seulas senyum seraya mengelus kepala bocah tampan itu.


Devan hanya mengangguk lalu memberikan mainannya pada Yoga bahkan membalas senyumnya. Sedetik kemudian bocah itu malah mengelus wajah tampan sang psikolog.


"Boleh paman tahu siapa namanya?" tanya Yoga dengan nada lembut sekaligus merasa gemas dengan bocah itu.


"Devan, Paman," sebutnya dengan malu-malu.


Tak bisa menahan, Yoga langsung membawanya masuk ke dalam pelukannya karena merasa gemas. Sontak saja tingkah keduanya membuat Farhan dan Nanda keheranan.


"Wah, Ga ... ternyata kamu punya daya tarik tersendiri," kata Farhan.


"Emang kenapa kak?"


"Saat pertama kali bertemu, Devan malah nggak mau dekat-dekat dengan kami," jelasnya.


Yoga terkekeh lalu kembali memandangi wajah bocah itu. "Mau nggak jika paman ajak jalan-jalan? Bareng dedek Dita, kakak Novia dan kakak Nendra?" bujuk Yoga.


"Bunda nggak di ajak?" tanyanya.


Yoga mengulas senyum seraya mencubit gemas pipi tembam Devan. "Ajak dong," balas Yoga dengan senyum sembringah.


Jadi dia memanggil Zu dengan sebutan BUNDA?


Yoga melirik sekilas ke arah Azzura dan sang kakak lalu kembali menatap wajah Devan.


Melihat interaksi Yoga dan Devan, Nella merasa nyesak. Tak biasanya Devan bisa langsung akrab dengan seseorang.


"Kak." Azzura menepuk punggungnya. "Kopi dan tehnya sudah jadi nih. Yuk ke ruang santai."


"Duluan saja, aku ingin ke toilet dulu," suruhnya. Begitu Azzura meninggalkannya ia langsung ke toilet yang berdekatan dengan dapur.


Melihat Azzura membawa nampan, pak Prasetya terus memandanginya pun begitu dengan Yoga. Sedangkan Nanda hanya bisa tersenyum karena melihat sahabat dari suaminya itu begitu semangat.


"Naaahh ... ini kopi spesial buatan Azzura buat kalian," celetuknya lalu terkekeh. "Yuk, dicicipi selagi masih anget. Jika tahu kamu dan paman akan kemari, aku dan Nanda pasti akan membuat kue spesial untuk kalian berdua."


"Tadinya kami ingin langsung pulang tapi Yoga pengen ke sini dulu." Farhan melirik sang adik lalu terkekeh.


Azzura langsung mengarahkan pandangannya ke arah Yoga lalu mengulas senyum. Setelah itu, ia menghampiri Devan, Dita, Nenra dan Novia.


"Zu," tegur Yoga.


"Ada apa?" balasnya dengan nada lembut.


"Bagaimana jika sebentar malam, kita ke wisata malam seperti waktu itu?" usulnya.


Seketika Azzura kembali teringat moment itu. Ia langsung tertawa lalu menepuk bahunya. Sontak saja ulahnya itu membuat pak Prasetya, Farhan dan Nanda mengerutkan alis.

__ADS_1


"Tapi ... kali ini kita perginya rame-rame. Bareng Nanda, kak Farhan dan kak Nella bersama anak-anak."


Azzura hanya mengangguk setuju. Tak lama berselang Nella ikut bergabung. Obrolan mereka kembali berlanjut. Cukup lama mereka mengobrol santai bahkan sesekali saling melempar candaan.


Dua jam berlalu ...


Mereka memutuskan pulang setelah menyantap makan siang di rumah itu. Setelah sekian lama, akhirnya Yoga, Farhan dan pak Prasetya kembali bisa merasakan masakan gadis berhijab itu.


"Zu, kami pulang dulu ya. Jangan lupa hubungi aku jika kamu jadi ke wisata malam, malam ini," pesan Yoga.


"Baiklah."


Yoga membungkukkan badannya lalu mengelus kepala Devan dengan sayang. "Paman, pulang dulu ya," bisiknya dan di jawab dengan anggukan.


Setelah itu pak Prasetya menghampirinya lalu menggendongnya. "Mau iku kakek nggak?" tanya pak Prasetya lalu mengecup pipinya.


Devan menggeleng sembari memainkan kancing kemeja pria paruh baya itu. Pak Prasetya mengulas senyum lalu menatap Azzura.


"Paman," ucapnya lirih dengan mata berkaca-kaca lalu melingkarkan tangannya memeluknya dan Devan.


Kerinduannya akan sosok ayah selalu bisa ia rasakan dari pria itu sejak dulu hingga sekarang.


"Zu ... jangan menangis," bisik pak Prasetya sembari mengelus punggungnya dengan sayang.


Melihat kedekatan Azzura dan sang ayah, Nella semakin merasa bersalah. Ia baru tahu jika selama ini Azzura berhubungan baik dengan orang tua dan adik-adiknya.


Lima belas menit berlalu ....


Sepeninggal mereka, Azzura kembali ke ke ruang santai lalu duduk di samping sahabatnya. Rasa rindunya akan kedua sosok pria berbeda usia itu seketika terobati.


"Nanda."


"Hmm, ada apa? Kenapa wajahmu sedih begitu?" selidik Nanda.


"Entah bagaimana caranya aku menjelaskan pada Yoga ...." Azzura tak melanjutkan kalimatnya.


Seketika Nanda langsung menegakkan badan dengan alis yang saling bertaut lalu menatap lekat sahabatnya itu. "Maksudmu?"


Azzura langsung menggenggam tangan ibu dari Dita itu. Matanya kini mulai berkaca-kaca.


"Sebenarnya tujuanku ke kota ini, selain menyekar makam ibu ayah, aku sekalian ingin mengantar undangan pernikahanku untuk kalian semua. Pernikahanku akan digelar seminggu lagi di kota M."


"Apa?!!!" pekik Nanda saking terkejutnya. "Lalu bagaimana dengan Yoga, Zu?!!"


Azzura bergeming menundukkan pandangannya. Sedetik kemudian Nanda memeluknya dengan perasaan sedih.


"Zu ... Aku sebenarnya nggak mempermasalahkan siapapun pria pilihanmu, asalkan kamu nggak terpaksa."


Azzura menggeleng pelan. "Nggak Nanda, justru pria pilihanku ini benar-benar pria yang tulus. Tadinya aku sempat ragu karena aku masih memikirkan Yoga. Namun setelah shalat Istikharah, ternyata dialah pria yang tepat untukku."

__ADS_1


Azzura pun menceritakan semua tentang Genta tanpa ada yang ia tutupi pada sahabatnya itu. Setelah mendengar penuturan dari Azzura, Nanda mengangguk mengerti.


Namun tetap saja di sisi lain ia merasa iba pada Yoga.


"Aku ingin kalian semua hadir di acara pernikahanku nantinya. Karena kalian lah keluargaku saat ini," ucap Zu dengan suara lirih.


"Aku akan memberitahu kabar baik pada paman, bunda, Yoga, kak Farhan besok."


Nanda hanya mengangguk lalu menggenggam jemari sahabatnya itu sembari menatap cincin yang melingkar di jari manisnya.


"Zu, sebagai sahabat, aku turut berbahagia untukmu. Semoga kamu bahagia dengan pernikahan keduamu ini," ucap Nanda dengan tulus lalu memeluknya sekaligus merasa terharu.


.


.


.


Sore harinya ...


Sebelum ke rumah Azzura, Genta terlebih dulu mampir ke kediaman pak Prasetya bersama putrinya.


"Assalamu'alaikum," ucapnya dan Ayya bergantian.


"Waa'laikumsalam," balas bunda Fahira, pak Prasetya dan Nella. "Genta, Ayya." Bunda Fahira memanggilnya lalu mengulas senyum.


"Wah, Bang, nggak seperti biasanya wajah Bang Genta berbinar bahagia. Ada apa? Apa ada kabar bahagia?" goda Yoga kemudian terkekeh.


Sedangkan Nella yang sedang duduk di salah satu sudut sofa, hanya bisa memandangi kedua pria itu. Ia memilih bungkam sambil memainkan ponselnya.


"Kebetulan kamu bertanya," sahut Genta dengan senyum sembringah. "Aku ke kota ini sekalian ingin memberi kabar bahagia sekaligus ingin mengundang kalian ke acara pernikahanku nantinya."


"Alhamdulillah," sahut pak Prasetya dan bunda Fahira.


"Aku jadi penasaran ... siapa gadis beruntung itu, Bang? Pria dingin seperti Abang akhirnya bisa luluh juga pada gadis itu," tanya Yoga.


Lagi-lagi sudut bibirnya membentuk sebuah lengkungan. "Nella juga mengenalnya."


"Beneran Kak?!" cecar Yoga lalu mengarahkan pandangannya ke arah sang kakak.


Nella langsung gelagapan menatap keduanya bergantian lalu mengangguk pelan.


"Pasti dia gadis spesial. Sebutkan saja siapa nama gadis beruntung itu, Bang." Yoga semakin penasaran.


"Gadis berhijab bermata indah, namanya AZZURA ZAHRA ..."


Deg ...


Yoga langsung mematung ditempat. Lidahnya seketika keluh tak bisa berkata-kata. Dadanya langsung terasa sesak.

__ADS_1


Sedangkan Nella hanya bisa tertunduk lesu sekaligus merasa bersalah.


...----------------...


__ADS_2