Retaknya Sebuah Kaca

Retaknya Sebuah Kaca
Bab 69 : Tekad dan niat tulus Genta ....


__ADS_3

Kantor Tuan Kheil ....


Pintu yang dibuka secara tiba-tiba tanpa di ketuk seketika membuat sang empunya ruangan kaget dan langsung menatap kedepan.


"Momy?! What happened?" tanya tuan Kheil lalu beranjak dari kursi kerjanya.


Tak langsung menjawab melainkan momy Lio langsung memeluknya sambil menangis karena membayangkan wajah Azzura.


"Momy, ada apa?" tanya tuan Kheil lagi dengan perasaan bingung.


Momy Lio perlahan mendongak lalu melonggarkan pelukannya sembari menyeka air matanya.


"Apa selama ini Daddy tahu alasan sebenarnya Azzura memilih berpisah dari Close?" selidik momy Lio to the poin.


Mendapat pertanyaan mendadak dari sang istri seketika membuat alis tuan Kheil bertaut dan tampak ragu ingin menjelaskan padanya.


Namun karena sang istri terus mendesaknya, mau tak mau akhirnya ia pun menceritakan semuanya pada momy Lio tanpa ada yang ia tutup-tutupi.


Bak petir menyambar disiang bolong, momy Lio cukup terkejut setelah tahu kenyataan yang sebenarnya. Hatinya semakin hancur mengetahui jika putranya bisa sekeji itu pada Azzura.


.


.


.


Jauh dari kota Azzura, Genta, Nina dan Ayya sudah berada di lokasi tujuan.


Dari kejauhan, Genta dan Nina hanya memperhatikan keduanya sambil tersenyum.


Tampak sesekali Azzura mengejarnya lalu memercikkan air laut ke tubuh putri semata wayangnya itu.


"Genta, sepertinya Ayya sangat menyayangi Azzura. Lihatlah keduanya tampak sangat bahagia," celetuk Nina sambil tersenyum. Aku bisa melihat ketulusan Azzura pada putrimu," akunya.


"Hmm ... itu sudah terlihat saat kami berada di satu pesawat yang sama waktu itu," sahut Genta.


Hening sejenak sebelum akhirnya Nina kembali membuka suara.


"Apa kamu nggak ada rencana menikah lagi setelah lima tahun menduda?" tanya Nina.


Genta mengulas senyum tipis sambil memperhatikan Azzura dan putrinya dari kejauhan.


Tak ada jawaban dari Genta. Namun sorot matanya sudah cukup mengisyaratkan jika ia menyukai gadis berhijab itu.


Selang tiga puluh menit kemudian, Ayya dan Azzura akhirnya ikut bergabung di gazebo itu.

__ADS_1


"Sudah puas bermain pasirnya?" tanya Genta pada sang putri lalu memangkunya. Ayya mengangguk lalu menyedot air kelapa muda yang telah Genta pesan sebelumnya.


Sedangkan Azzura tampak memandangi laut dan perlahan memejamkan matanya, meresapi aroma khas air laut dan angin semilir yang menerpa wajahnya.


Begitu tenang dan damai yang ia rasakan sambil bersholawat dalam hatinya sekaligus membuat hati dan pikirannya menjadi tenang.


Semua itu tak luput dari perhatian Genta yang terus saja menatapnya dalam diam. Jauh dalam lubuk hatinya ia mengagumi gadis berhijab itu.


Azzura ... jika suatu saat aku melamarmu dan ingin mejadikanmu sebagai istri dan ibu sambung bagi Ayya, apakah kamu mau menerimaku? Apalagi jarak usia kita yang terbilang sangat jauh.


Ungkapan itu hanya bisa ia ungkapkan dalam hatinya saja.


"Ayah ..." panggil sang putri.


"Ya ... ada apa?" tanya Genta sambil mengelus kepala putrinya.


"Ayya ingin membeli es krim," pintanya.


"Baiklah," ucap Genta lalu melirik Nina dan Azzura. "Nin, Zura, aku temani Ayya sebentar ya," izinnya dan dijawab dengan anggukkan kepala oleh Nina dan Azzura.


Sepeninggal Genta dan Ayya, suasana di gazebo itu kembali hening. Yang terdengar hanyalah suara deburan ombak, angin semilir dan suara riuh wisatawan yang ada di sekitarnya.


"Zu ..." tegur Nina.


"Zu, apa kamu nggak punya rencana menikah lagi kedepannya?" tanya Nina tiba-tiba.


Untuk sejenak Azzura bergeming dan kembali mengarahkan pandangannya ke arah laut. Ia mengulas senyum lalu menggelengkan kepalanya.


"Nin, menikah adalah ibadah terpanjang dan terlama. Karena ketika kita memutuskan menikah, maka kita akan menyempurnakan setengah perjalanan agama dan kehidupan kita," lirih Zu.


Azzura menghela nafas dan tetap mengarahkan pandangannya ke arah laut.


"Nin ... apa kamu tahu? Saat seorang pria mengatakan 'saya terima' dalam sebuah akad pernikahan, maka itu berarti ia mengatakan 'bahwa saya menerima tanggung jawab untuk melayani, mencintai, dan melindungi wanitanya dan anak-anaknya kelak," jelas Zu lagi.


Air matanya tiba-tiba mengalir. Alih-alih diperlakukan dengan baik, setiap hari ia mendapatkan KDRT dari ex suaminya.


"Zu," Nina merangkul bahunya.


"Nin, kita senasib, hanya saja kisahku lebih parah darimu," ucapnya dengan suara tercekat.


Tak bisa menahan, Azzura pun menceritakan semua kisah awal mula ia menikah hingga keputusannya meninggalkan kota kelahirannya dan memilih menetap di kota M. Semuanya ia ungkapkan tanpa ada satupun yang ia sembunyikan pada Nina.


Sontak saja semua ungkapan Azzura yang ia dengar barusan membuat Nina shock.


"Zu ... sekuat itu kamu menghadapinya?" lirih Nina dan tak bisa menahan air matanya yang lolos begitu saja.

__ADS_1


Ia langsung memeluk Azzura sambil menangis. Ia tak menyangka jika gadis selembut Azzura bisa diperlakukan sekejam itu oleh suaminya sendiri.


Keduanya saling berpelukan dan sama-sama menangisi nasibnya. Ternyata kisah kegagalan pernikahan Azzura lebih tragis dari dirinya.


Tanpa keduanya sadari sejak tadi pembicaraan keduanya tak sengaja di dengar oleh Genta. Bahkan Genta pun tak menyangka jika Azzura mengalami hal yang sama dengan dirinya.


Senasib kerena gagal dalam mempertahankan mahligai rumah tangga masing-masing. Namun ada satu hal yang membuat pria itu sangat terusik sekaligus merasa marah. Karena KDRT.


Pria banci!! Ya ... hanya pria banci dan pencundang yang melakukan hal keji itu.


Genta menggerutu sekaligus marah dalam hatinya. Merasa tak kuat melihat keduanya menangis, Genta memilih meninggalkan keduanya.


Setelah menghabiskan waktu di pantai itu selama beberapa jam lamanya, siang harinya setelah menyantap makan siang bersama, akhirnya mereka memutuskan pulang.


Sebelumnya Genta mengantar Nina dan Azzura pulang terlebih dulu kemudian melanjutkan perjalanannya menuju kediaman orang tuanya.


Sesaat setelah memasuki rumah, Ayya langsung berlari kecil ke arah sang oma dan kakek.


"Oma ... kakek," panggilnya dengan senyum sembringah.


Bu Nadirah dan pak Dirgantara hanya tersenyum lalu menyambutnya.


"Apa Ayya sudah puas bermain masakan dengan bunda Azzura?" tanya sang oma.


"Nggak jadi main masakan, Mah. Ayya malah mengajak ke pantai," sahut Genta yang kini sudah duduk di samping ayahnya.


"Ehemm," sang ayah berdehem lalu merangkulnya. "Waah ... sepertinya kamu sangat beruntung hari ini, Nak," goda sang ayah lalu terkekeh.


"Haish ... Ayah apa-apaan sih?" elaknya.


"Genta ... saran ayah jika memang kamu menyukai Azzura, sebaiknya terus dekati dia dan ambil hatinya," saran pak Dirga. "Tapi jika ayah perhatikan Azzura bukanlah tipe gadis yang mudah luluh. Sepertinya kamu harus ekstra berusaha keras," pungkas pak Dirga sekaligus mendukungnya.


Genta bergeming sekaligus membenarkan ucapan sang ayah. Apalagi ia sudah mengetahui jika Azzura pernah gagal dengan pernikahannya.


Ia mengerti dan sangat tahu betul apa yang Azzura rasakan. Apalagi seringnya ia mengalami KDRT dari mantan suaminya dan masih menyisakan trauma mendalam. Sangat berat dan tentu saja membuat gadis berhijab bermata indah itu takut ingin membangun rumah tangga yang baru.


Insya Allah ... sebisa mungkin aku akan mengobati semua rasa sakit itu dan menggantinya dengan kasih sayang dan kebahagiaan yang nggak kamu dapatkan dari pria pecundang itu.


Ungkapan itu tentu saja hanya bisa ia ungkapkan dalam hatinya. Tekadnya sudah bulat ingin menjadikan Azzura sebagai istrinya dan mengganti semua penderitaan gadis itu dengan sebuah kebahagiaan.


Seperti itulah tekad dan niat tulus Genta untuk Azzura. Bahkan ia sangat berharap gadis itu mau menerima segala kekurangan dirinya kelak.


...----------------...


Jangan lupa masukkan sebagai favorit ya πŸ™ Bantu like dan vote setidaknya readers terkasih telah membantu ikut mempromosikan karya author. Terima kasih ... πŸ™β˜ΊοΈπŸ˜˜

__ADS_1


__ADS_2