
Hening sejenak ...
Azzura kemudian beranjak dari pangkuan suaminya lalu duduk di sampingnya. Ia tampak memikirkan sesuatu.
"Mas, sepertinya Devan sangat berbakat dalam menggambar."
"Oh ya?!"
"Hmm ... tadi dia menunjukkan hasil gambarannya. Rapi banget dan caranya mewarnai juga rapi nggak belepotan."
"Mas nggak heran, Sayang. Ayah kandung Devan memang ahli jika soal gambar menggambar. Dia seorang arsitek," jelas Genta.
Azzura hanya mengangguk kecil tanda mengerti. Sedetik kemudian ia kembali mengingat sesuatu.
Ya, ia baru menyadari jika pria di swalayan tadi memiliki wajah yang mirip dengan Devan. Azzura melirik suaminya yang sedang memandanginya.
"Mas, apa ayahnya Devan seorang pria blasteran? Jika dilihat-lihat wajah Devan memang seperti orang bule," tanya Zu.
Genta menghela nafas. Membayangkan wajah Johan saja, ia langsung merasa geram.
"Iya, ayah Devan memang pria blasteran," aku Genta. "Ck ... ngapain juga membahas pria bajingan itu. Rasanya tekanan darahku langsung naik," decak Genta sekaligus merasa kesal.
Azzura langsung terkekeh lalu menyandarkan kepalanya dipundak suaminya. Menautkan jemarinya bersama Genta.
"Mas, kita ke Kota M ya besok. Aku ingin nyekar makan Nina sekaligus mengunjungi toko kue," bisik Zu.
"Gimana jika sore ini kita berangkat?" cetus Genta.
"Beneran, Mas?" Azzura langsung sumringah.
Genta mengangguk sembari mengelus tangannya yang melingkar di perutnya. Sedetik kemudian Genta mengerutkan keningnya.
Tangannya terangkat lalu mengelus leher istrinya.
"Sayang, kalung kamu ..."
"Putus Mas, tadi pagi nggak sengaja nyakut di jari lalu ketarik," selanya cepat.
"Nanti bisa disambung, Sayang," usul Genta namun Azzura menggeleng tanda enggan. "Kenapa? Bukankah kalung itu pemberian dari almarhum ibu?"
Lagi-lagi Azzura menggelengkan kepalanya lalu semakin mengeratkan lingkaran tangannya di perut Genta.
"Bukan Mas, kalung itu hadiah dari Yoga saat aku masih di kota J," jelas Zu.
Mengetahui jika kalung yang selama ini melingkar di leher jenjang istrinya adalah hadiah pemberian dari Yoga, rasanya ia langsung ingin meleburkan saja benda itu. Kesal bukan kepalang yang ia rasakan. ✌️🤭
"Bodohnya diriku, sejak awal nggak pernah bertanya jika benda itu adalah pemberian dari Yoga. Kesal banget aku!!!" gerutu Genta dalam hatinya.
Cemburu ...
Seperti itulah perasaannya. Apalagi sejak tahu jika Yoga adalah pria yang begitu dekat dengan istrinya.
"Mas ..."
"Hmm ..."
"Kok bengong?"
__ADS_1
Genta seakan malas menjawab. Entah mengapa ia merasa sangat kesal.
"Apa kamu mencintainya?" tanya Genta tiba-tiba.
"Jika pun cinta itu pernah ada untuk Yoga, namun yang tetap menjadi pemenangnya adalah Mas. Jika aku benar-benar mencintai Yoga nggak mungkin aku akan menerima Mas menjadi imamku."
Genta bergeming lalu merubah posisinya saling berhadapan dengan sang istri.
Azzura menangkup wajah suaminya lalu mencubit hidung mancungnya. "Yaaaahhh ... Mas cemburu yaaaa ... hahahaha ..."
Tawa Azzura langsung pecah di kamar itu. Genta hanya bisa menghela nafas kasar mendengar suara tawa istrinya.
"Teruuussss ... teruuusss ... teruuss saja meledek mas!" gerutunya merasa kesal.
Setelah puas tertawa, Azzura membenamkan wajahnya di dada suaminya sambil mengelus lengannya.
"Ngapain juga Mas cemburu, toh sekarang kita sudah menikah dan saat ini buah cinta kita sedang berada di sini." Azzura menempelkan tangan suaminya di perutnya. "Dan InsyaAllah ... sebulan lagi kita akan menyambut kelahirannya. Mas bahagia nggak?"
"Sayang," bisik Genta lalu mengecup kening istrinya. "Maafkan mas."
"Aku memakluminya Mas," balas Zu.
.
.
.
"Tuan, apa bocah tadi ..."
Johan tampak termenung lalu kembali membayangkan wajah tampan sang putra. Rasa penyesalan kembali menyelubungi dirinya.
Menyesal karena meninggalkan Nina demi wanita lain. Setelah itu, sekalipun ia tak pernah mau tahu tentang keadaan istrinya.
Ia lebih memilih wanita selingkuhannya hingga pada akhirnya ia sadar karena selama ini ia hanya dimanfaatkan.
Saat ia ingin kembali, ia tak punya nyali akibat ancaman dari Genta yang terlanjur sakit hati karena sahabatnya disia-siakan dalam keadaan hamil.
Akibatnya, Genta sampai menghajarnya hingga babak belur demi membalas perbuatannya pada Nina.
"Jangan pernah menampakkan wajahmu lagi dihadapan Nina dan juga putranya. Jika sampai aku mendapatimu menyentuh putranya ... maka aku nggak akan segan-segan berbuat lebih dari ini!!"
Ancaman penuh amarah dari Genta kala itu, membuat nyalinya menciut. Bukan tanpa alasan, Genta bukanlah pria yang hanya bisa mengancam tapi dia akan benar-benar membuktikan perkataannya.
Johan tertunduk lesu lalu memegang dadanya yang terasa sesak. Selama ini, ia hanya bisa mengamati putranya itu dari kejauhan. Mencari tahu keberadaannya setelah Azzura dan Genta memilih tinggal di daerah M.
Pertemuannya tadi sungguh sangat amat berkesan baginya. Apalagi ia bisa memeluk lalu mengecup putranya dengan bebas.
Ya, beberapa jam yang lalu, sejak dari sekolahan, ia terus mengekori mobil Azzura hingga berada di swalayan.
Saking nekatnya, ia ikut masuk ke swalayan itu hanya untuk bertemu dengan sang putra. Hatinya semakin merasakan kebahagiaan melihat tingkah lucu putranya serta tak henti-hentinya berceloteh dengan Azzura.
Hingga saat melihat Azzura sedikit kesulitan, akhirnya ia pun menawarkan diri untuk membantu sekaligus ingin mendekat pada putranya. Sayangnya, ia lupa bertanya siapa namanya.
"Tuan."
Lamunan panjangnya langsung membuyar saat suara sang asisten menegurnya.
__ADS_1
"Ya, ada apa, Romi?"
"Maaf jika saya lancang. Jika bocah tadi adalah putra kandung Tuan, sebaiknya Tuan menuntut hak asuhnya saja," saran sang asisten. "Lagian Tuan lebih berhak karena Tuan ayah kandungnya."
Ucapan dari sang asisten seketika membuatnya tersenyum sekaligus membenarkan.
"Nggak ada salahnya jika aku menuntut hak asuhku sebagai ayah kandungnya," gumamnya.
Keinginan untuk merebut Devan dari Azzura dan Genta seketika membuatnya menjadi kalap sekaligus serakah.
Namun apakah bisa semudah itu ia merebut Devan dari Azzura dan Genta? Entahlah hanya mereka bertiga yang tahu. 🤭✌️
.
.
.
.
Sore harinya ba'da asar ...
Genta dan Azzura beserta mama dan kedua anaknya sudah bersiap akan berangkat ke kota M. Sedangkan bi Titin memilih tinggal untuk menjaga rumah.
Betapa antusiasnya Ayya dan Devan karena akan segera bertemu dengan sepupunya.
Di sepanjang perjalanan, suara riuh keduanya terus menggema di dalam mobil. Tentu saja tingkah kedua bocah itu membuat Azzura, Genta dan Bu Nadirah tersenyum senang.
Meski keduanya tak memiliki hubungan darah, namun Ayya sangat menyayangi Devan.
Dua jam kemudian, akhirnya mereka tiba juga di kediamannya.
"Yeahh ... Alhamdulillah Dek, kita sudah sampai," kata Ayya lalu memegang lengan Devan kemudian mengajaknya turun dari mobil.
"Maaaas ... perutku kram," keluh Zu sambil mengelus perutnya.
Genta langsung terkekeh lalu ikut mengelus gemas perut istrinya kemudian berkelakar, "Sepertinya twins juga ikut capek karena perjalanan jauh."
Sesaat setelah berada di dalam rumah, Azzura langsung berbaring di lantai ruang santai karena masih merasakan kram di perut.
"Ssssttt ... Mas!" Ia meringis sembari terus mengelus perutnya.
"Sayang, kamu kenapa, nak?" tanya bu Nadirah seraya menghampirinya lalu duduk di sampingnya.
"Twins lagi mengerjai bundanya, Mah," seloroh Genta lalu ke dapur.
"Mas!!" kesal Zu.
Bu Nadirah hanya geleng-geleng kepala dengan tingkah putra sulungnya itu. Setelah itu ia mengurut pelan perut buncit Azzura hingga menantunya itu merasa enakkan.
"Makasih ya, Mah," ucap Zu dan dijawab dengan anggukan kepala oleh mertuanya.
"Mama pulang dulu, sepertinya ayah sudah pulang di jam segini," kata bu Nadirah. Ia pun perlahan berdiri lalu meninggalkanya.
"Anak-anak mana sih?! Jangan-jangan sudah duluan ke rumah mama?" gumam Zu.
...----------------...
__ADS_1