
Azzura bergeming, menatap manik ex suaminya yang saat ini sedang berlutut memeluk kedua kakinya.
Air matanya sudah cukup mengisyaratkan betapa sakitnya hatinya mengenang peristiwa tiga tahun yang lalu.
Ia menyeka air matanya lalu meminta Close melepas kedua tangannya yang masih memeluk kakinya. Tanpa banyak kata, ia berdiri lalu meraih sebuah kaca yang terdapat di ruangan itu lalu menjatuhkan benda itu ke lantai.
Sontak saja ulahnya itu membuat Close, momy Lio dan daddy Kheil terkejut. Setelah itu, Azzura meminta Close untuk menyatukan kembali kepingan kaca itu.
"Lihatlah kaca yang sudah pecah ini. Tadinya ia terlihat utuh dan baik-baik saja tanpa goresan. Ia memang masih bisa disatukan dan kembali seperti semula tapi apakah akan sama seperti sebelumnya?"
Close bergeming, menatap kepingan kaca itu. Lidahnya keluh tak mampu membalas ucapan Azzura.
"Nggak kan? Nggak akan sama seperti sebelumnya. Apakah kamu bisa mengembalikan diriku seperti sebelumnya? Nggak kan? Layaknya kaca ini seberapa keras pun kamu ingin memperbaikinya, menutup goresan retaknya namun tetap saja goresan retaknya tetap terlihat."
Azzura memejamkan matanya sejenak sambil menarik nafasnya dalam-dalam lalu kembali melanjutkan kalimatnya.
"Layaknya luka bekas sayatan, selamanya ia akan tetap membekas dan nggak akan pernah hilang."
Hening sejenak ...
"Close, sejatinya kamu adalah pria yang baik, penyayang, perhatian bahkan sangat melindungi diriku saat kita masih berhubungan baik. Namun hanya karena kesalahpahaman tanpa mencari tahu kebenarannya terlebih dahulu kamu langsung membenciku tanpa alasan."
"Aku ..." Close berucap lirih. Ia pun menceritakan kejadian yang sebenarnya.
"Aku sudah tahu," sahut Zu.
Close langsung mendongak menatapnya.
"Dua minggu sebelumnya, Laras mendatangiku langsung ke sekolah. Tadinya aku begitu senang bisa bertemu kembali dengannya tapi ternyata, dia melampiaskan semua uneg-unegnya padaku lalu menceritakan jika dialah dalang dari retaknya hubungan kita. Bahkan dia sangat membenciku," pungkas Zu.
Ruangan itu kembali hening ...
Sebelum akhirnya suara sang putra memanggil lalu memberi salam padanya.
"Bundaaaa .... Assalamu'alaikum ..."
Sontak saja suara putranya itu langsung mengalihkan perhatian mereka lalu mengarahkan pandangannya ke arah bocah tampan itu.
Azzura segera menyeka air matanya lalu menghampirinya karena takut jika Devan terkena pecahan kaca.
"Waa'laikumsalam , Sayang," balasnya lalu berjongkok kemudian menggendongnya.
__ADS_1
Tak lama berselang, Genta menyusul namun terpaksa menahan langkahnya saat mendapati ruangan kerja gadis itu berserakan dengan pecahan kaca.
Benaknya bertanya-tanya saat menatap Daddy Kheil, momy Lio dan Close di ruangan itu?
"Azzura ... apa kamu ..." Close tak melanjutkan ucapannya melainkan menatapnya yang sedang menggendong Devan lalu ke arah Genta.
Azzura tak menjawab melainkan menghampiri Genta yang masih berdiri di bingkai pintu.
"Momy, Daddy, Close perkenalkan ini Mas Genta, CALON SUAMIKU," ucapnya dengan lantang penuh penegasan menekan kata calon suami.
Duaarrrrrrr ...
Close merasa dirinya seperti disambar petir mendengar kata CALON SUAMI dari mantan istrinya itu.
"A-apa?! Nggak ... nggak ... ka-kamu bohong kan?" Close terbata sambil menggelengkan kepalanya seolah tak percaya.
Tubuhnya langsung lemas lalu tertunduk menjadikan kedua tangannya sebagai penopang dengan posisi yang masih berlutut.
Sedangkan Genta merasa terharu sekaligus tersanjung dengan ucapan yang baru saja lolos dari bibir calon istrinya itu.
Momy Lio dan daddy Kheil langsung beranjak dari tempat duduknya lalu menghampiri Azzura dan Genta.
Genta mengulas senyum lalu menjabat tangan keduanya bergantian. Setelah itu daddy Kheil memeluknya.
"Nak ... Azzura sudah kami anggap seperti putri kami sendiri. Tolong bahagiakan dia dan perlakukanlah dia seperti ratu. Cintai dan sayangi dia setulus hatimu. Dia gadis yang baik. Tolong jangan sia-siakan dia seperti putra kami yang telah menyia-nyiakan dirinya," bisik daddy Kheil dengan suara tercekat.
Genta hanya mengangguk lalu mengurai dekapan pria paruh baya itu kemudian mengelus lengannya.
Sedangkan Devan yang saat ini berada dalam gendongan Azzura hanya bisa menatap bingung karena bocah seusianya belum mengerti apa-apa.
Genta meraih Devan dari gendongannya. Setelah itu, Azzura menghampiri ex suaminya itu lalu memegang kedua lengannya memintanya berdiri.
Namun Close tetap bergeming dengan posisi berlutut.
"Katakan padaku jika itu bohong," ucapnya pelan.
"Nggak, itu bukanlah kebohongan melainkan suatu kenyataan. Tadinya hatiku sempat ragu karena masih ada satu nama dihatiku. Namun lewat petunjuk shalat istikharah dan doaku, ternyata doaku terjawab dengan satu nama yaitu Mas Genta. Insya Allah ... sebulan lagi kami akan menikah," tegas Zu.
"Zu ... aku mohon ..." Close memegang kedua kakinya sambil menangis.
"Close, aku nggak bisa kembali lagi padamu lagi. Terimalah kenyataan ini dengan lapang dada. Aku yakin di luaran sana masih banyak gadis yang jauh lebih baik dariku. Bukalah hatimu untuk mereka," nasehat Zu.
__ADS_1
Momy Lio dan daddy Kheil hanya bisa menatap iba putranya. Keduanya tak bisa berbuat banyak serta tak menyalahkan Azzura karena Close memang pantas mendapatkan balasan yang setimpal.
"Sedikitpun aku nggak pernah menyimpan dendam. Aku hanya kecewa padamu. Tapi percayalah, seiring berjalannya waktu kamu pasti bisa melupakan aku. Kita masih bisa berteman baik," sambung Zu.
Tak ada jawaban melainkan hanya suara lirih tangisannya yang terdengar.
Kecewa ...
Kehilangan ...
Hampa ...
Itulah yang dirasakan Close. Penyesalan yang begitu mendalam membuatnya seolah tak bisa menerima kenyataan.
Tanpa sepatah kata pun perlahan ia berdiri lalu meninggalkan ruangan itu dengan perasaan hampa.
Sepeninggal Close, momy Lio dan daddy Kheil ikut berpamitan karena khawatir akan keadaan sang putra.
Begitu keduanya meninggalkan ruangan itu, Genta terus menatap Azzura sambil menggendong Devan yang kini memeluknya erat.
Perlahan ia melangkah mendekati Azzura lalu merangkulnya dengan mata berkaca-kaca.
"Mas," sebutnya lalu memandanginya.
"Bundaaa ..." Devan menyeka air matanya yang lolos begitu saja dengan jemari mungilnya.
Tak bisa menahan gemuruh yang kini begejolak di hatinya, ia memeluk keduanya sambil terisak.
"Azzura ..." bisik Genta sambil mengelus punggungnya lalu membenamkan dagunya di puncak kepala gadis itu. "Terima kasih karena mengakuiku sebagai calon suamimu juga jawaban dari doamu."
Tak ada jawaban melainkan hanya suara lirih tangisannya.
"Karena kamu benar-benar pria yang tulus, Mas. Sejak awal hingga detik ini kamulah satu-satunya pria yang selalu hadir di setiap aku membutuhkan sandaran untuk menguatkan hatiku."
Di tengah larutnya Azzura dalam kesedihannya, Genta merasa sedikit terusik sekaligus penasaran dengan satu nama yang tak disebutkan Azzura tadi.
"Siapa pria itu? Apakah sebelumnya dia memiliki kekasih atau teman dekat? Setahuku Azzura bukanlah tipe gadis yang mudah didekati. Sepertinya pria itu cukup dekat dengannya. Tapi siapa dia?" gumam Genta bertanya-tanya dalam hatinya.
Perasaannya sedikit gusar, getir sekaligus merasa sedikit cemburu pada sosok pria misterius itu.
...----------------...
__ADS_1