Retaknya Sebuah Kaca

Retaknya Sebuah Kaca
Bab 56 : Kembali memergoki ...


__ADS_3

Ketika Azzura sudah berada di kamar ibunya, ia langsung mengunci pintu lalu mengganti bajunya.


"Astaghfirullah ..." ucapnya sambil mengusap dadanya. "Kenapa aku sampai lupa mengunci pintu," lirihnya lalu meraih bergonya di atas ranjang lalu memakainya.


Setelah itu, ia kembali ke dapur lalu menyeduh kopi untuk suaminya. Begitu selesai, ia meletakkan kopi itu di meja sofa ruang tamu.


Tak lama berselang tampak close menuruni anak tangga lalu menghampirinya yang baru saja akan meninggalkan ruangan itu.


"Terima kasih," ucap Close.


Azzura hanya mengangguk lalu bertanya, "Apa kamu akan menginap lagi?"


"Nggak, setelah ini aku akan pulang ke rumah kita," jawabnya pelan.


"Bukan rumah kita tapi rumahmu dan gundikmu itu," sindir Zu lalu melanjutkan langkahnya.


Lagi-lagi Close hanya bisa terdiam mendengar sindiran istrinya. Dengan perasaan getir ia mendaratkan bokongnya di sofa lalu menyandarkan kepalanya lalu memijat pangkal hidungnya.


"God ... please help me," gumamnya lalu membuka matanya. Ia menatap cincin kawinnya yang melingkar di jarinya.


Seketika ia teringat saat dengan angkuhnya ia melepas simbol pernikahan itu lalu meletakkan begitu saja di laci nakasnya.


"Azzura, maafkan aku," lirihnya dengan mata berkaca-kaca.


Ketika menatap kopi yang ada di depannya, lagi-lagi ia teringat saat ia menyiram istrinya itu dengan kopi. Dengan percaya diri ia mengatakan tidak akan pernah mau mencicipi apapun hasil dari tangan istrinya.


Tapi sekarang malah sebaliknya, justru ia yang sering memaksa Azzura memasak untuk dirinya. Meski istrinya itu enggan melakukannya.


Beberapa menit berlalu ...


Setelah menghabiskan kopinya, ia menghampiri Azzura yang sedang berada di ruang santai sedang menyusun buku-buku religi.


Seolah tidak ingin melewatkan kesempatan ia ikut duduk di hadapannya lalu memperhatikan istrinya itu dengan seksama.


"Ada apa?" tanya Zu tanpa menatapnya.


Bukannya menjawab, Close langsung memegang kedua tangannya dan sedikit mendekatinya. Sontak saja ulahnya itu membuat Azzura menatapnya.


"Zu ... "

__ADS_1


"Jika kamu ingin pulang, pulang saja," sarkas Zu sekaligus menahan kalimat yang akan keluar dari bibir suaminya.


"Please kita harus bicara," kata Close dengan suara lirih tanpa melepas pegangan tangan dari Azzura.


"Bicaralah dan tanyakanlah apa yang ingin kamu bicarakan dan tanyakan, sebelum kita benar-benar berpisah," tegas Zu to the poin. "Supaya semua yang ada di benakmu bisa terjawab."


Sejenak Close bergeming dan membuat tubuhnya menjadi dingin dan membeku mendengar kata BERPISAH dari bibir istrinya.


"Zu, apa kamu masih mengingat pesan yang aku kirimkan padamu waktu kita masih kuliah?" tanya Close.


"Pesan?! Maksudmu?!" Azzura menggelengkan kepalanya dengan bingung.


"Ya pesan singkat. Aku pernah mengirimkan pesan singkat padamu dan ingin bertemu kamu di cafe waktu itu. Aku menunggumu selama berjam-jam tapi kamu nggak datang. Bahkan kamu nggak membalas pesanku," jelas Close.


"Asal kamu tahu, aku sama sekali nggak pernah menerima atau membaca pesanmu itu," jelas Zu lalu melepas tangannya dari Close. "Bahkan kamu tahu benar diriku. Jika aku mendapat pesan dan nggak bisa bertemu, aku langsung mengabarimu," sambung Zu lalu menyusun buku ke rak.


Sedetik kemudian ia tampak berpikir, saat itu ia memang sempat menitipkan tas dan ponselnya pada Laras. Namun ia tak ingin berprasangka buruk.


Sedangkan Close tampak bergeming mendengar ungkapan dari istrinya itu sekaligus kaget. Lagi-lagi satu kenyataan yang semakin membuat dirinya merasa bersalah pada istrinya itu.


"Sebaiknya kamu pulang. Sudahlah ... itu hanya masa lalu Close. Aku hanya berharap kamu bisa menjadi pribadi yang jauh lebih baik lagi," lirih Zu dengan harap.


Close hanya bergeming dan terus memperhatikannya hingga gadis itu selesai menyusun buku.


*******


Ba'da isya pukul 20.15 ...


Azzura tampak meninggalkan rumahnya menuju kediaman suaminya. Di sepanjang perjalanan sesekali ia tersenyum tipis.


Ia merasa ada secercah harapan untuknya. Kembali melanjutkan hidupnya tanpa ada beban setelah berpisah dengan suaminya nantinya.


Setelah kurang lebih empat puluh menit memacu motornya, akhirnya ia tiba juga di rumah mewah itu.


"Bismillah ... Assalamu'alaikum ..." ucapnya pelan lalu menekan password pintu kemudian membukanya.


Ia pun melangkah pelan memasuki ruangan itu setelah dua minggu lamanya ia tidak menginjakkan kakinya di rumah itu.


Baru beberapa langkah, ia menghentikan langkah kakinya ketika mendengar suara yang tidak asing baginya.

__ADS_1


Suara khas orang yang sedang berhubungan intim. Erangan, rintihan, desa*han yang saling bersahutan dari arah kamar sang suami.


Azzura mengarahkan pandangannya ke arah lantai dua tempat di mana kamar suaminya berada. Pintu yang terlihat tak tertutup otomatis membuat suara itu terdengar jelas menyapa gendang telinganya.


Azzura langsung membekap mulutnya merasa mual karena jijik. Seketika keringatnya mulai bercucuran di keningnya karena langsung terbayang kekerasan fisik yang dilakukan Close padanya ketika mendengarnya muntah.


Ia pun kembali memundurkan langkahnya dan tanpa sengaja menyenggol guci bunga lalu pecah. Sontak saja membuatnya semakin panik dan takut.


Karena tak ingin Close menyakitinya, ia pun segera berlari kecil meninggalkan ruangan itu lalu cepat-cepat memacu motornya dengan tubuh gemetaran.


Sedangkan Close dan Laura yang berada di kamar sedang bergulat panas, seketika kaget saat mendengar suara benda pecah di lantai satu.


Ia pun mempercepat permainannya hingga hasratnya tuntas. Seketika otaknya langsung memikirkan Azzura.


Dengan perasaan getir, Close langsung beranjak lalu meraih handuk kemudian melilitkan ke pinggangnya.


"Sayang, ada apa?" tanya Laura.


Close tak menjawab dan langsung keluar dari kamar. Ia langsung memikirkan Azzura. Benaknya berpikir, jika itu Azzura maka untuk yang kesekian kalinya gadis itu memergokinya dengan Laura.


Setelah ia berada di lantai satu, ia melihat guci bunga besar di ruangan itu pecah dan pintu utama tidak tertutup.


"Apa yang sudah aku lakukan? Pasti Azzura ketakutan dan berpikir jika aku akan menyakitinya lagi jika mendengarnya muntah," lirih Close.


Ia sama sekali tak menyangka jika Azzura akan mendatangi rumahnya malam ini, bahkan sampai memergokinya lagi sedang melakukan perbuatan terlarang di rumahnya.


"Azzura ... maafkan aku," lirihnya dengan perasaan menyesal.


Sedangkan Azzura yang kini sudah cukup jauh dari rumah itu, menepikan sejenak motornya di bahu jalan lalu memuntahkan semua isi perutnya.


Entah mengapa setiap kali mendengar suara keduanya sedang berhubungan intim, Azzura langsung merasakan mual.


Ia terus memuntahkan isi perutnya hingga membuat tubuhnya menjadi lemas. Setelah itu ia duduk sambil memeluk kakinya dengan tubuh bergetar.


Keringatnya terus bercucuran membasahi keningnya. Trauma akibat pukulan yang sering ia dapatkan dari Close kini memenuhi benaknya. Sambil memeluk kakinya dan membenamkan wajahnya di lutut, ia menangis sesenggukan merasakan ketakutan luar biasa.


"Azzura," sapa seseorang dengan suara lirih.


Azzura langsung histeris menyuruhnya menjauh tanpa melihat siapa yang menyapanya. Tubuhnya semakin bergetar ketakutan dan berteriak supaya pria itu menjauh darinya.

__ADS_1


...***************...


Jangan lupa masukkan sebagai favorit ya πŸ™ Bantu like dan vote setidaknya readers terkasih telah membantu ikut mempromosikan karya author. Terima kasih ... πŸ™β˜ΊοΈπŸ˜˜


__ADS_2