
Beberapa jam berlalu ... kini Azzura tampak sedang menunggu taksi online. Tiga puluh menit sebelumnya ia lebih dulu menghubungi Genta jika ia akan ke toko kue dulu.
Sambil menunggu, ia tampak memikirkan sesuatu. Timbul keinginan untuk nyekar makam kedua orang tuanya di kota J. Sekaligus ingin melepas rindu dengan sahabatnya dan yang lainnya.
"Sudah tiga tahun berlalu, bagaimana dengan kabar Nanda, Yoga, kak Farhan dan kak Aida? Rasanya aku kangen banget sama mereka."
Tin ... tin ... tin ...
Suara klakson mobil seketika membuyarkan apa yang sedang ia pikirkan. Ia mengerutkan kening sambil menatap mobil yang berhenti persis di hadapannya.
"Siapa ya? Ini bukan mobil mas Genta," gumamnya.
Karena tak ingin ambil pusing, ia hanya terlihat acuh tak acuh kemudian menatap layar ponselnya lalu mengulas senyum menatap wajah sang putra yang ia jadikan wallpapernya.
Tak lama berselang seseorang yang baru saja keluar dari mobilnya langsung menyapanya.
"Zu ..."
Deg ...
"Dari mana dia tahu jika aku mengajar di sekolah ini?" batinnya masih sambil menatap layar ponselnya.
"Zu, apa kita bisa bicara? Sebentar saja?"
Lagi ... suara pria itu menyapa gendang telinganya dan kini sudah berdiri tepat di hadapannya.
Sejenak Azzura memejamkan mata, menghirup udara sebanyak mungkin demi memenuhi pasokan oksigen ke dalam paru-parunya.
"Apa kemarin ucapanku belum jelas? Apa sekarang kamu menjadi penguntit? Sudahlah ... jika kamu ke sini hanya ingin meminta maaf, tiga tahun yang lalu sejak ibuku meninggal, aku sudah memaafkanmu bahkan sampai detik ini."
Masih dengan posisi yang sama. Bahkan ia enggan menatap mantan suaminya itu.
"Apapun itu, aku rasa sudah nggak ada lagi yang perlu kita bicarakan. Aku sudah bahagia dengan kehidupanku sekarang. Tolong jangan membuka luka lama yang pernah kamu torehkan di hatiku yang kini hampir sembuh."
Bungkam ...
Entah Close harus menjawab apa setelah mendengar kalimat barusan. Lidahnya keluh tak bisa berkata-kata.
Sikap dingin beserta ucapan dengan nada dingin dari gadis berhijab itu sukses membuatnya terpaku di tempat.
Sedangkan Fatur yang sejak tadi hanya menjadi penonton dari balik kaca mobil merasa sedikit penasaran. Apalagi saat menatap gadis itu yang sejak tadi hanya menunduk.
__ADS_1
Close kembali memutar otak agar bagaimana caranya supaya ia bisa membawa gadis itu pergi. Dengan nekatnya ia langsung memegang pergelangan tangan gadis berhijab itu dan memaksanya ikut dengannya.
Tak pelak ulahnya itu jelas membuat Azzura terkejut bukan kepalang. Seketika rasa trauma akan kekerasan fisik yang sering dialaminya kembali menyelubungi dirinya.
Ia berontak dan terlihat mulai ketakutan. Seketika wajahnya langsung pucat, keringat di wajahnya mulai bercucuran dan tubuhnya gemetaran.
"Lepasiiin," pekiknya sambil berusaha melepaskan genggaman yang begitu kuat dari mantan suaminya. Bahkan kini memaksanya masuk ke dalam mobil.
"Lepasiiin!!"
Sebisa dan sekuat mungkin Azzura menahan tubuhnya agar tak masuk ke dalam mobil. Saking takutnya dadanya mulai sesak dan penglihatannya mulai menggelap.
"Lepaskan gadis itu!" suara berat seseorang seketika membuat Close mengarahkan pandangannya ke arah sumber suara.
"Mas Genta," lirih Zu. Ia langsung berbalik, menghampirinya lalu spontan memeluknya dengan tubuh gemetar kemudian menangis seolah meminta perlindungan dari pria itu.
Genta bisa merasakan betapa eratnya dekapan gadis itu dengan tubuh yang gemetaran ketakutan. Seketika membuatnya langsung memberikan tatapan menghunus tajam pada Close.
"Mas, antar aku pulang sekarang juga," desak Zu dengan suara bergetar.
Meskipun sedikit penasaran dengan sosok pria yang sedang berdiri berhadapan dengannya, ia lebih memilih menuruti permintaan Azzura.
Sedangkan Close yang masih berdiri di tempat, hanya bisa terhenyak saat menatap Azzura memeluk pria yang baginya seperti pahlawan kesiangan itu.
"Apa Anda tahu perbuatan Anda barusan termasuk dalam kategori penculikan? Anda bisa saja dikenakan hukuman pidana penjara."
Close tersenyum sinis mendengar ucapan Genta yang terdengar seolah mengancamnya.
"Memangnya siapa kamu yang berani-beraninya mengancam ku."
"Nggak perlu tahu siapa aku. Aku rasa itu nggak penting bagi pria pecundang seperti mu."
Setelah menyelesaikan kalimatnya, Genta membalikkan badan lalu kembali ke mobilnya tanpa memperdulikan tatapan mengintimidasi dari mantan suami Azzura itu.
Sesaat setelah duduk di kursi kemudi, ia kembali terkejut saat mendapati Azzura duduk dengan posisi meringkuk memeluk kakinya dan menyembunyikan wajahnya di lututnya.
"Zu." Genta memanggilnya sambil menyentuh bahunya.
Sentuhan itu jelas membuat gadis itu langsung terkejut sekaligus ketakutan.
"Zu, ini aku mas Genta," lirihnya. Untuk yang kedua kalinya ia melihat gadis itu terlihat kacau seperti orang depresi.
__ADS_1
"Mas Genta?" Perlahan ia melonggarkan kedua tangannya yang melingkar di kedua kakinya lalu memperbaiki posisi duduknya. "Apa ada air mineral?"
"Nggak ada, Zu, bersabarlah sebentar."
Genta menyalakan mesin mobil dan perlahan mulai melajukan kendaraannya meninggalkan halte bus.
Sedangkan Close yang masih bergeming di tempat, hanya bisa menatap nanar kendaran itu yang terlihat sudah menjauh.
"Siapa pria itu? Kenapa aku merasa seperti sedang berhadapan dengan ayahnya Yoga? Sepertinya dia cukup tahu tentang masalah hukum."
Close mulai penasaran sekaligus geram. Tangannya langsung mengepal. Sedetik kemudian ia tertunduk.
"Apa aku terlalu kasar padanya tadi? Lalu dengan cara apalagi agar aku bisa bicara baik-baik dengannya," gumamnya sedikit frustasi lalu mengusap wajahnya kasar.
Setelah itu, ia memutuskan membuka pintu mobil dan langsung mendaratkan bokongnya di samping kursi kemudi.
"Antar aku ke cafe kemaren," perintahnya.
"Baik Tuan."
"Oh ya, Fatur, cari tahu siapa pria tadi."
"Baik Tuan."
"Bagaimana aku menjelaskan pada tuan, jika pria tadi adalah pak Genta, seorang perwira, putra pertama pak Dirgantara sekaligus pemilik yayasan itu," gumam Fatur dalam hatinya.
Sementara itu, Genta yang sejak tadi mengendarai, menghentikan sejenak mobilnya di bahu jalan tepat di depan salah satu penjual air mineral.
Setelah membeli dua botol air mineral lalu membayanya, ia langsung memberikan sebotol air yang sudah dibukanya.
"Ini, minumlah."
"Terima kasih, Mas," ucapnya lalu meraih botol air mineral itu dengan tangan yang masih gemetaran.
"Sebaiknya aku bawa saja dulu dia bertemu dengan Psikolog. Jika terus-terusan seperti ini, aku takut dia akan semakin parah. Kasian Devan," gumam Genta dalam hatinya.
Setelah memastikan Azzura terlihat baik-baik saja, ia kembali melajukan mobilnya menuju rumah sakit tempat sang adik dan iparnya bekerja.
Sepanjang perjalanan tak ada percakapan yang tercipta melainkan keheningan. Sesekali Genta melirik gadis itu yang terlihat melamun sambil menyandarkan kepalanya di sandaran kursi mobil.
Bahkan pandangannya terus terarah ke jendela mobil.
__ADS_1
"Siapa pria tadi? Hingga membuat Azzura gemetar ketakutan? Jika di lihat dari penampilan dan mobil yang digunakan, sepertinya pria itu bukan orang sembarangan," tebaknya dalam hati.