Retaknya Sebuah Kaca

Retaknya Sebuah Kaca
127. Tangisan sia-sia ...


__ADS_3

Sepeninggal Genta dan Azzura, Johan masih tetap dengan posisi yang sama, berlutut tertunduk sembari terus meneteskan air mata penyesalan sekaligus bersalah.


Ucapan Genta dan Azzura barusan cukup membuatnya terpekur tak berkutik. Bahkan ingin berdiri saja saat ini, ia seolah tak punya tenaga.


"Nina," sebutnya dengan lirih membayangkan wajah mendiang istrinya itu. "Devan putraku!"


Ia menyebut dua nama itu sekaligus orang yang telah ia abaikan, sia-siakan bahkan seolah membuang keduanya begitu saja.


"Maafkan aku ... maafkan aku ..." ucap Johan sambil terisak.


"Tuan," tegur Romi seraya menepuk pundaknya. "Ayo ... sebaiknya kita tinggalkan tempat ini," cetus Romi lagi.


Dengan perasaan hampa, perlahan ia bangkit berdiri dari posisi sebelumnya. Melangkah gontai sambil menunduk.


Air matanya pun seolah tak bisa berhenti mengalir. Pertanyaan demi pertanyaan dari Azzura tadi masih terngiang-ngiang di telinga.


Di tambah lagi dengan ungkapan kata-kata terakhir dari Genta. Ia semakin merasakan ketakutan jika dibenci lalu dijauhi oleh putranya sendiri.


"Maafkan dady ..."


"Tuan, apa Anda baik-baik saja?" tanya Romi sesaat setelah keduanya berada di dalam mobil.


Johan menggelengkan kepalanya kemudian menyandarkan punggungnya di sandaran kursi mobil. Memejamkan mata sembari memijat kening turun ke pangkal hidungnya.


"Antar aku ke TPU," perintahnya.


Romi mengangguk mengerti lalu menuruti perintahnya. Ia pun mulai melajukan kendaraannya itu menuju TPU Kota M.


.


.


.


Sementara itu, Genta dan Azzura masih dalam perjalanan menuju ke suatu tempat. Tak ada pembicaraan di antara keduanya.


Yang terdengar hanya dereman suara mesin mobil. Sejak tadi pula pandangan Azzura terus mengarah ke jendela mobil.


"Sayang ..." tegur Genta seraya menyentuh jemarinya. Namun Azzura tetap bergeming.

__ADS_1


Bayangan akan wajah Nina saat ia masih berbadan dua kala itu memenuhi benaknya. Dalam keadaan hamil besar pun, wanita cantik itu tetap beraktifitas di toko kuenya demi menghidupi dirinya.


Saat ia merintih ditengah malam merasakan sakit karena penyakit ginjalnya, dialah yang selalu memberi semangat, mengurusnya tanpa mengharapkan apa-apa melainkan ia tetap sehat bersama dengan bayi yang dikandungnya kala itu.


"Nina," ucapnya lirih lalu terisak.


Ia kembali teringat saat Nina akan melahirkan, ia begitu takut saat menatap wajah pucatnya. Pun begitu setelah ia melahirkan, ia sempat koma selama dua hari dan pada akhirnya ia menyerah.


Sebulan pasca operasi kemudian menjalani cuci darah, wanita cantik itu akhirnya menghembuskan nafas terakhirnya.


Saat itu Azzura kembali merasakan kehilangan yang sangat mendalam. Memeluk Devan dengan erat seolah tak ingin melepasnya.


"Sayang," panggil Genta lalu menghentikan mobilnya sejenak di bahu jalan.


Melihat istrinya terus menangis, ia merasa tak tega. Takut kalau-kalau mentalnya kembali down.


"Mas ... pria macam apa dia itu? Apakah dia pantas disebut ayah?" ucap Zu tiba-tiba.


"Biarkanlah semuanya mengalir seperti air. Biarkan ia menyesali semua perbuatannya itu, biarkan ia merenung apakah dia pantas disebut ayah atau tidak. Mas benci jika harus mengingatnya lagi," balas Genta dengan hela nafas.


"Saat Devan tumbuh dewasa, biarkan dia yang memutuskan. Tapi tetap saja dia pasti akan meminta pendapat darimu. Sudah jangan menangis lagi. Mas ingin mengajakmu ke resort."


Azzura menggeleng pelan tanda enggan. "Kita pulang saja, Mas. Kita sudah terlalu lama meninggalkan baby Fattah Faatih. Sebaiknya kita ke resort sore saja sekalian," usul Zu.


Mau tak mau Genta kembali memutar arah. Mengarahkan roda empatnya itu ke arah tujuan.


.


.


.


TPU kota M ...


Dengan langkah gontai, Johan mengarahkan langkah kakinya menuju pusara Nina. Saat sudah berada di pusara itu, alisnya seketika bertaut.


Taburan bunga di atas pusara itu masih terlihat segar. Batinnya bertanya-tanya apakah Azzura dan Genta yang menyekar?


Tentu saja, sebelum benar-benar tiba di pengadilan, Azzura dan Genta terlebih dulu menyempatkan waktu untuk menyekar makam itu.

__ADS_1


Ia berjongkok lalu mengelus batu nisan itu. Menatap lekat pusara yang kini abadi bersemayam di tempatnya dengan damai.


"Nina," ucap Johan dengan lirih disertai air mata kini yang mulai mengalir deras. "Maafkan aku atas segala perbuatanku. Menyia-nyiakan dirimu dan putra kita. Harus dengan cara apa aku menebusnya?"


"Aku merasa kesepian, dijauhi Genta bahkan dia sangat membenciku. Aku harus bagaimana? Bagaimana jika Devan membenciku dan enggan mengakui ku sebagai ayahnya?"


Johan bertanya pada benda mati itu yang tak mungkin berbicara ataupun memberinya pendapat dan solusi. Tangisannya kini hanyalah sia-sia, toh Nina tak mungkin bangkit dari kubur lalu memberinya jawaban.


Andai saja Nina masih hidup, sudah tentu wanita itu akan menolaknya mentah-mentah masuk ke dalam kehidupannya lagi bersama Devan.


Lama Johan berada di pusara itu. Menatap nanar tempat peristirahatan mendiang istrinya untuk selamanya. Sebelum akhirnya ia beranjak lalu meninggalkan tempat itu.


Kembali ke Azzura dan Genta yang saat ini sudah berada di kediamannya. Keduanya kini sedang berada di kamar sang putra.


Senyum keduanya langsung mengembang saat mendapati bayi mungil itu sedang terbangun dan bergerak aktif di box bayinya.


"Bunda dan ayah lama ya, Sayang," kata Zu seraya menggendong Fattah sedangkan Faatih digendong oleh Genta. "Maaf, jika bunda dan ayah lama. Soalnya kita lagi berjuang untuk mempertahankan Abang Devan supaya tetap bersama kita," bisik Zu meski bayinya itu tak tahu apa-apa.


"Mimi, apa baby F, rewel saat kami tinggal tadi?" tanya Zu pada baby sitter putranya.


"Nggak, Bu. Keduanya anteng saja. Malahan saya bisa bersantai sejenak," aku Mimi.


"Makasih ya, kembalilah ke kamarmu lalu istirahatlah. Fattah Faatih biar sama aku dan mas Genta saja," cetus Zu dengan seulas senyum.


Mimi hanya mengangguk lalu menunduk takjim. Setelah itu ia meninggalkan kamar itu lalu memilih ke ruang santai untuk menonton sejenak.


Sedangkan Azzura dan Genta memilih membawa si kembar ke kamarnya sekaligus ingin bermain-main dengan bayi mungil menggemaskan itu.


Seketika suara Azzura memenuhi kamar itu karena asik berbicara pada kedua bayinya meski keduanya belum mengerti apa-apa.


Ia terus berceloteh, sesekali tertawa lucu merasa gemas pada putranya itu. Genta hanya memperhatikan gelagat absurb istrinya sambil geleng-geleng kepala.


"Ternyata benar, saat ia berinteraksi dengan anak-anak, moodnya kembali membaik. Rasanya saat melihatnya menangis seketika membuatku khawatir," gumam Genta dalam hatinya.


"Mas, nggak diajak ngobrol?" tanyanya sekaligus protes karena merasa diabaikan.


Azzura langsung menatapnya lalu terkekeh merasa gemas. "Mas, saja yang nggak mau bermain dengan baby F. Dari tadi malah bengong menatap kami bertiga."


Genta perlahan ikut berbaring di sisi bang F lalu memegang jemari mungilnya kemudian mengecup keduanya bergantian.

__ADS_1


"Alhamdulillah ... masalah hak asuh itu sudah kelar. Tinggal ke kota J beberapa hari lagi. Sekaligus mengajak anak-anak dan bi Titin berlibur ke pulau B."


...----------------...


__ADS_2