Retaknya Sebuah Kaca

Retaknya Sebuah Kaca
85. Secercah harapan ...


__ADS_3

Malam harinya ...


Mereka memutuskan menginap dan akan pulang besok pagi. Tadinya Genta ingin mengajak pulang namun Azzura menolak karena ia merasa masih betah berada di tempat itu.


Mau tak mau akhirnya mereka menuruti kemauan gadis itu. Setelah selesai shalat isya berjamaah, Azzura masih betah duduk di atas sejadahnya sambil berzikir.


"Bundaaa ..." Devan memeluknya dari belakang.


"Sayang ..." Ia menarik pelan lengan mungil putranya itu hingga berada di hadapannya. "Kemarilah," pintanya supaya Devan duduk di pangkuannya.


Dengan seulas senyum ia memangku putranya itu sambil menepuk bokongnya lalu mengelus rambutnya.


"Ada apa, hmm?" tanyanya dengan lembut. Namun Devan hanya menatapnya dengan mata sayu karena mengantuk. "Mau bunda nyanyiin lagu sholawat?"


Devan hanya mengangguk pelan lalu mengikuti nyanyian lagu sholawat yang dinyanyikan sang bunda untuknya.


"Allohumma sholli 'ala sayyidina Muhammadin, tibbil quluubi wa dawaa-iha, wa 'aafiyatil abdaani wa syifa-iha, wa nuuril abshoori wa dliyaa-iha, wa 'ala aalihi wa shahbihi wa sallim."


Hingga suaranya perlahan mulai menghilang. Mungkin karena kecapekan, sejak siang tadi ia terus bermain dengan kakak-kakaknya.


"Robbi habli minassholihin." Doa itu ia lafazkan sebanyak tiga kali lalu mengecup ubun-ubun sang putra dengan mata berkaca-kaca.


"Putraku, walaupun kamu nggak terlahir dari rahim bunda namun doa tulus bunda selalu mengiringi di setiap jejak langkah kakimu hingga kamu tumbuh dewasa kelak. Semoga kamu menjadi anak yang shaleh, bertanggungjawab serta memiliki hati yang luas dan lapang."


Ia terus menatap wajah tampan putranya itu sambil terus mengelus kepalanya dengan penuh kasih.


Tanpa ia sadari, Genta dan Galuh yang sejak tadi berada di belakangnya merasa terharu mendengar doa tulus gadis itu.


"Zu," tegur Genta. Sedangkan Galuh memilih meninggalkan mereka berdua di ruangan shalat itu.


"Mas." Ia menoleh pelan lalu mengulas senyum.


"Bawa Dev ke kamarku saja. Kalian tidur dikamar itu saja nanti bareng Ayya," sarannya dan di jawab dengan anggukan.


Sesaat setelah berada di kamar, Azzura langsung membaringkan putranya di atas ranjang.


"Pasti dia kecapekan main," desisnya. Tak lama berselang Ayya, Novia dan Ganenra ikut masuk ke kamar itu.


"Bundaaa," panggil ketiganya seraya menghampirinya. Tanpa permisi ketiganya langsung naik ke atas ranjang.


Tingkah ketiga bocah itu sontak membuatnya tertawa lucu.


"Bundaaa, kami juga mau tidur di sini bareng adek Devan," kata Ganenra sambil memanyunkan bibirnya.


"Boleh kok. Kita tidur di sini bareng-bareng ya," balas Zu sambil mengelus kepalanya.


"Bundaa, nanti kita tinggal di sini saja ya. Biar ayah nggak tinggal-tinggal kita lagi," sambung Ayya yang kini menjadikan paha sang bunda sebagai bantal.


"Insyaallah, Sayang, mungkin nggak akan lama lagi," balas Zu sambil mengelus kepala gadis cilik itu dengan lembut.

__ADS_1


"Kita juga mau Bunda," timpal Novia dan Ganenra tak ingin kalah.


Azzura hanya tersenyum sambil mengangguk. Selang beberapa menit kemudian, tak ada lagi suara ketiga bocah itu.


Setelah memperbaiki posisi mereka, Azzura duduk sebentar di sisi ranjang sambil menatap wajah mereka.


"Mungkin ceritanya akan berbeda jika saat itu Mas Genta yang menjadi suamiku. Mungkin saja anakku sudah empat seperti ini. Astaghfirullah ... Azzura apa yang sedang kamu pikirkan?" batinnya lalu tersenyum sambil menggelengkan kepalanya.


Saat hendak melangkah, ekor matanya tak sengaja terarah ke sebuah bingkai foto.


"Ini kan foto kami saat Dev aqiqah," bisiknya lalu tersenyum namun sekaligus merasa sedih saat menatap sosok mendiang Nina yang duduk di kursi roda.


"Nina." Ia berkata lirih sambil terus memandangi wajah mendiang ibu kandung Devan itu. Tiba-tiba saja air mata langsung menetes.


.


.


.


Di salah satu hotel milik tuan Kheil, ia dan istrinya tampak sedang beristirahat di kamar presidential suite.


Setelah tiba di kota itu, keduanya memutuskan menginap di hotel miliknya ketimbang menginap di apartemen milik sang putra.


"Andai Gisel ikut bareng kita, dia pasti senang," kata tuan Kheil.


Momy Lio hanya mengangguk lalu tersenyum.


"Daddy juga berpikir seperti itu. Daddy nggak menyangka jika dia malah menjadi guru TK di kota ini. Padahal dia itu lulusan tata boga," sahut tuan Kheil.


Keduanya kembali terdiam dengan pikirannya masing-masing. Hingga pintu terdengar di ketuk.


Dengan malas tuan Kheil berdiri lalu menghampiri pintu kemudian membukanya.


Ternyata salah satu karyawan hotel yang sedang mengantar makanan. Setelah troli makanan itu didorong masuk ke dalam kamar, karyawan itu kembali berpamitan.


"Mom, yuk kita makan dulu. Setelah itu kita istirahat. Besok pagi kita akan menemui Azzura saat jam istirahat anak-anak. Jika nggak sempat, kita langsung ke toko kue saja. Seperti yang Close katakan," kata tuan Kheil.


Momy Lio hanya mengangguk patuh. Jauh dalam sudut hatinya, ia merasa ingin segera bertemu dengan ex menantunya itu.


"Sayang, rasanya momy ingin memelukmu detik ini juga," batin momy Lio.


.


.


.


Setelah lama memandangi foto itu, Azzura memilih turun ke lantai satu lalu bergabung dengan Galuh, Nella dan Genta. Sedangkan pak Dirgantara dan bu Nadirah sudah berada di kamar dan memilih tidur lebih awal.

__ADS_1


"Loh Zu, perasaan anak-anak tadi naik ke kamar?" tanya Nella sesaat setelah gadis itu duduk di sampingnya.


Ia mengulas senyum sambil mengangguk.


"Iya, tapi mereka sudah tidur di kamar bareng-bareng, Kak," jawabnya.


Nella mengarahkan pandangannya pada Galuh.


"Sayang, sebaiknya pindahkan Novia dan Nendra ke kamar. Tempatnya nggak cukup jika mereka semua tidur di sana."


"Nggak apa-apa, Kak. Cukup kok, lagian ranjangnya luas," sahut Zu lalu terkekeh.


"Luas sih luas, Zu. Nendra tuh tidurnya usil, nggak bisa diem. Seperti gasing risih tahu nggak." Ia geleng-geleng kepala memikirkan putranya itu.


"Nella, biarin saja," timpal Genta.


Sedangkan Galuh hanya menjadi pendengar mereka bertiga.


"Bang, jadi rencananya kapan kalian akan menikah?" tanya Galuh sambil menyeruput kopinya.


"Insyaallah sebulan dari sekarang, soalnya ada beberapa hal yang perlu diurus, belum lagi Azzura yang harus mengikuti tes sebelum resmi menjadi PIA Ardhya Garini sebelum menikah," jelas Genta.


Galuh terkekeh lalu menatap keduanya bergantian.


"Haah, ribet amat sih, Bang," ledek Galuh. "Zu, habis ini, kamu bakal siap bolak balik kantor karena urusan nikah saja." Ia terkekeh.


"Beneran seperti itu, Mas?" tanya Zu lalu menatap calon suaminya itu.


"Iya, tapi nggak seribet yang Galuh katakan tadi," jelasnya.


Lagi-lagi Galuh terkekeh. Setelah itu, ia mengajak Nella masuk ke kamar.


"Bang, Zu, kami duluan. Soalnya aku sudah ngantuk."


Azzura dan Genta hanya mengangguk. Sepeninggal Galuh dan Nella, Genta menghela nafas.


"Zu, sebaiknya kamu juga tidur. Besok biar aku yang mengantarmu ke sekolahan."


"Apa nggak merepotkan, Mas?"


"Nggak. Masuklah ke kamar," perintahnya.


Azzura hanya mengangguk lalu meninggalkanya di ruang santai itu menuju kamar. Sedangkan Genta tetap di tempat.


Menyandarkan punggungnya lalu memejamkan matanya sejenak.


"Maaf, jika harus membuatmu sedikit repot karena urusan nikah. Mau bagaimana lagi, sebagai calon istri seorang TNI, mau tak mau kita harus mengikuti prosedurnya," gumamnya.


Namun ada secercah harapan dan sebuah kebahagiaan yang kini menyelimuti dirinya.

__ADS_1


"Ya Allah ... lancarkan lah segala urusanku untuk menjadi kekasih halalnya."


...----------------...


__ADS_2