
Subuh dini hari ...
Di bawah cahaya temaram, Azzura perlahan membuka matanya. Betapa kagetnya ia ketika mendapati Genta sedang memeluknya.
Ia langsung refleks mendorong suaminya itu hingga membuat sang empunya tubuh terjatuh sekaligus kaget bukan kepalang.
Bugh ...
"Astagfirullahaladzim ..." ucapnya lalu mengelus pinggangnya. "Ssssttt ... Sayang?! Kamu kenapa sih? Ini mas, suamimu?! Tega banget sih kamu?! protes Genta.
Seketika Azzura langsung panik lalu cepat-cepat turun dari atas ranjang.
"M-m-mas ... ma-mafin a-aku," ucapnya terbata.
"Pppppffff ... hahahaha ..." Genta langsung tertawa merasa lucu dengan sikap istrinya.
Ia menghela nafas serta memaklumi tindakan reflek Azzura.
"Maaf, Mas," ucap Zu lalu ikut tertawa merasa lucu. "Aku kaget, Mas."
"Sayang, mulai sekarang kamu harus mulai terbiasa tidur bersamaku. Anak-anak sudah ada kamarnya masing-masing," jelas Genta seraya mengelus wajahnya dengan sayang.
"Iya, Mas," balasnya lalu mengecup telapak tangan sang suami.
Setelah itu ia menyalakan lampu lalu membangunkannya anak-anaknya untuk shalat subuh berjamaah.
"Mas, mandinya bareng Devan ya," cetus Zu.
Genta menyeringai lalu berbisik menggoda. "Mandi bareng kamu saja, Sayang."
Azzura langsung menghadiahkannya sebuah cubitan di perut liatnya hingga membuat sang suami meringis.
"Dasar mesum," bisik Zu balik.
"Mesum sama istri sendiri nggak apa-apa, Sayang. Asalkan jangan sama wanita lain," timpal Genta lalu terkekeh.
"Bundaaa," panggil Devan.
Keduanya langsung menoleh ke arah sang putra.
"Bunda, Ayya sudah selesai." Ayya menghampirinya lalu memeluknya.
Sedangkan Devan sudah digendong oleh sang ayah lalu membawanya masuk ke kamar mandi.
"Sudah ya, Sayang. Yuk, kenakan pakaiannya dulu, setelah itu kita shalat bareng ya," kata Zu lalu membantu sang putri mengenakan pakaiannya.
"Terima kasih, Bunda," ucap Ayya sesaat setelah Azzura memakaikannya mukenah.
"Sama-sama, Sayang. Tetaplah seperti ini putriku hingga kamu beranjak dewasa," bisik Zu lalu mengecup kening putrinya.
Tiga puluh menit kemudian ...
__ADS_1
Mereka pun melaksanakan shalat subuh berjamaah hingga selesai dilanjut dengan doa yang dipanjatkan oleh Genta.
Satu kebahagiaan luar biasa yang dirasakan oleh Genta. Merasakan kehangatan dengan kebersamaannya bersama anak dan istri tercinta.
*******
Sinar matahari pagi mulai menyinari seluruh alam semesta. Memberi kehangatan dikala dingin masih mendominasi.
Senyum hangat penuh kebahagiaan dari seorang Genta terus terukir di wajah tampannya memandangi sang istri bersama sang buah hati.
Perlakuan lembut serta tutur kata yang sopan selalu sukses membuatnya mengagumi sosok sang istri. Sifat yang tak ada pada istri pertamanya.
Perlahan ia menghampiri ketiganya yang sedang asik bersenda gurau di atas ranjang. Ia ikut bergabung lalu merangkul ketiganya dengan perasaan bahagia.
Beberapa menit kemudian pintu diketuk. Ternyata salah seorang karyawan yang membawa sarapan pagi untuk mereka.
Setelah selesai sarapan pagi bersama, mereka kembali bersiap-siap untuk meninggalkan kamar hotel itu.
.
.
.
Setelah tiba di kediamannya, Ayya dan Devan langsung berlari kecil menghampiri kakek dan omanya.
Melihat tingkah kedua anak-anaknya, Azzura dan Genta hanya bisa tersenyum. Tak lama berselang, Galuh menyapanya lalu membawa sang kakak sedikit menjauh.
"Bang, gimana unboxingnya? Abang kuat sampe berapa ronde?" selidik Galuh dengan antusias.
"Bang!! Aww ... aww ... sakit, Bang! Aduh!! Bang lepasin!" Galuh meronta sambil mengerang kesakitan.
"Rasain, pagi-pagi sudah nanya yang aneh-aneh, bikin kesal saja." Genta melepasnya lalu terkekeh. "Kurang kerjaan apa? Bukannya ke rumah sakit malah ke sini hanya ingin tahu, berapa ronde mainnya."
Sambil mengusap tengkuknya, Galuh ikut terkekeh merasa gemas dengan ucapan kakaknya.
"Bang, kalau bisa percepat bikinnya. Lagian umur Abang sudah nggak muda lagi. Nggak lama pensiun," kelakar Galuh.
"Ck, memangnya kue dibikin?" kesal Genta lalu meninju pelan lengan ayah dari Novia dan Nenra itu. " Keterlaluan banget sih kamu?! Sepertinya kamu meragukan kemampuan Abang, ya?"
Galuh langsung terbahak lalu segera meninggalkannya dengan wajah yang masih terlihat kesal.
Pak Dirgantara dan bu Nadirah hanya geleng-geleng kepala melihat kelakuan kedua putranya itu.
*******
Setelah menghabiskan waktu seharian di rumah sang mertua, malam harinya ba'da isya, mereka memutuskan pulang ke rumah.
"Assalamu'alaikum, Bi," ucap Zu dan Genta bergantian lalu membuka pintu.
"Waa'laikumsalam, Nak. Loh ... kenapa nggak bilang-bilang jika kalian mau pulang. Jadi bibi bisa memasak lebih cepat."
__ADS_1
"Ngga perlu, Bi, kami sudah makan di rumah mama barusan," jelas Zu sesaat setelah mendaratkan bokongnya di sofa ruang santai.
Sedangkan Genta memilih menemani Ayya di kamarnya sekaligus membaringkan Devan yang sejak tadi sudah tertidur pulas.
Mungkin karena kecapekan main bersama Ayya, Novia dan Nenra.
"Ayah, apa kita akan pindah ke rumah Ayah di daerah M?" tanya Ayya sembari mengelus rahang sang ayah.
"Iya, Sayang. Kenapa? Apa kamu nggak suka?"
"Suka, Yah. Jadi kita nggak tinggal berjauhan lagi," jawab Ayya lalu perlahan mulai memejamkan matanya.
Genta mengulas senyum lalu melepas jilbab yang masih terpasang di kepala putrinya. Memperbaiki posisi tidurnya lalu meletakkan bantal guling di sampingnya.
Setelah itu, ia kembali menggendong Devan lalu memindahkan putranya itu di kamarnya sendiri, yang hanya bersebelahan dengan kamar Ayya.
Tak lama berselang, Azzura ikut menyusul ke kamar.
"Bagaimana ini? Rasanya canggung banget jika hanya berdua saja dengan Mas Genta," batin Zu sambil memegang dadanya yang sedang berdebar kencang.
Saat membuka pintu, ia semakin gugup saat mendapati suaminya itu hanya mengenakan celana pendek dan bertelanjang dada.
Walaupun seringkali melihat Close bertelanjang dada, namun ia terlihat biasa saja. Tap entah mengapa saat melihat Genta yang seperti itu, ia merasa sangat gugup. 😅🤭✌️
Ia melangkah pelan lalu meraih handuk kemudian melanjutkan langkahnya masuk ke kamar mandi.
"Bagaimana jika mas Genta meminta hak-nya? Rasanya aku belum siap?" ucapnya lirih sambil memandangi pantulan dirinya di depan kaca kamar mandi.
Tak ingin larut dengan pikirannya, ia segera mengguyur sekujur tubuhnya di bawah shower sambil menetralkan perasaannya yang bercampur aduk.
Saat akan keluar dari kamar mandi, ia menepuk jidatnya karena baru sadar tak membawa pakaian ganti.
"Duuuh, gimana ini?" bisiknya dengan perasaan gelisah sambil mengeratkan lilitan handuk di dadanya.
Mau tak mau akhirnya ia terpaksa keluar dari kamar mandi, hanya dengan mengenakan handuk saja.
Sontak saja Genta yang melihatnya begitu tertegun memandangi kulit putih istrinya. Ditambah lagi rambutnya yang masih basah.
Sungguh suatu pemandangan yang indah menurutnya hingga membuat hasratnya seketika terpancing. Dengan susah payah ia menelan salivanya.
"Sayang, ada apa? Kenapa kamu masih berdiri di situ. Kemarilah," pinta Genta sambil memegang handuk kecil.
Azzura hanya menurut patuh lalu duduk di samping suaminya dengan wajah merona sekaligus gugup.
"Biar mas saja yang mengeringkan rambutmu," bisiknya dan di jawabnya dengan anggukan.
Tahu jika istri sedang gugup, Genta terus mengajaknya mengobrol sambil bercanda. Dan benar saja caranya itu cukup ampuh.
Ah ... mungkin Genta hanya modus. Apalagi tadi pagi ia diledek habis-habisan oleh Galuh.
Setelah selesai mengeringkan rambut sang istri, perlahan ia mengecup punggung polosnya lalu perlahan memeluknya kemudian membenamkan bibirnya di ceruk leher Azzura.
__ADS_1
"Maaas ..." ✌️🤭😜
...----------------...