Retaknya Sebuah Kaca

Retaknya Sebuah Kaca
Bab 14 : Tak berkutik ...


__ADS_3

Setelah tiba di cafe, Azzura dan Nanda kembali beraktifitas seperti biasanya, melayani pembeli dengan ramah dan sesekali langsung mengantar makanan dan minuman pesanan pelanggan.


Menjelang siang, sang mertua menghampirinya.


"Zu, bisa ke ruang kerja momy sebentar?" pinta momy.


"Bisa, Mom. Sebentar ya," kata Zu sambil mengangkat kedua jempol jarinya lalu terkekeh.


Momy hanya tersenyum menatapnya sambil geleng-geleng kepalanya.


"Nanda, aku tinggal sebentar ya," izinnya lalu melepas celemeknya.


"Siap," ucap Nanda.


Azzura melangkahkan kakinya ke ruang kerja sang mertua. Setelah mengetuk pintu ia pun menghampiri Momy Liodra lalu tersenyum.


"Mom," sapanya lalu duduk di sofa bersisian dengan wanita paruh baya itu. "Ada apa, Mom?" tanya Zu.


"Sayang, seharusnya kalian berdua itu pergi honeymoon bukannya kembali bekerja. Setidaknya seminggu saja kalian meluangkan waktu bersama," saran momy.


Azzura terkekeh. "Waaah Mom, sepertinya kalian sudah nggak sabar ya, pengen gendong cucu," kelakar Zu dengan maksud menggoda sang mertua.


"Naah ... itu kamu bisa menebaknya," jawab momy seraya menggenggam tangan Azzura.


"Aku dan Close belum sempat memikirkannya, Mom. Apalagi kami sama-sama sibuk. Lagian ibu masih dalam tahap pemulihan," jelas Zu memberi alasan dengan senyum tipis.


"Momy mengerti ... tapi jika kalian sudah siap ingin honeymoon, momy akan menyiapkan tiketnya."


"Iya, Mom."


"Oh ya, Zu. Momy ingin kamu menjadi manager di cafe ini," tawar momy.


Azzura tampak berpikir dan menimbang. Sedetik kemudian ia menggenggam jemari momy.


"Mom, terima kasih atas tawarannya. Tapi aku lebih senang jadi barista di cafe ini. Alasannya karena aku bisa berinteraksi langsung dengan pembeli," kata Zu menolak halus tawaran dari mertuanya.


Walaupun tampak kecewa, namun momy Liodra tetap menghormati keputusan menantunya itu.


"Ya sudah momy tidak akan memaksa tapi jika kamu berubah pikiran, jangan sungkan-sungkan ngomong sama momy ya," ujar momy dengan seulas senyum.


Azzura hanya mengangguk seraya mengelus lengan mertuanya. Setelah itu ia kembali pamit untuk melanjutkan pekerjaannya.


.


.


.


Kantor Close ....


Tampak ia baru saja keluar dari ruang meeting dengan beberapa karyawannya termasuk Yoga.


"Pak, saya permisi ke ruangan saya," izin Yoga.


"Hmm," jawabnya singkat dan melanjutkan langkahnya ke ruang kerjanya.


Sesaat setelah masuk ke ruangannya, ia langsung melonggarkan dasinya dan melepas jas-nya lalu mendaratkan bokongnya di sofa.


"Azzura!! Wanita seperti apa dia?! Bahkan setetes pun air matanya nggak mengalir saat mendapat perlakuan kasar dan menyakitkan dariku!" gumamnya dengan geram.


Larut dalam kekesalannya, pintunya dibuka tanpa diketuk. Dan terlihatlah sosok gadis blasteran seperti dirinya dari balik pintu.


"Laura," lirihnya menatap sang kekasih yang sedang menghampirinya dengan tatapan menggoda.

__ADS_1


"Sayang, aku membawakanmu makan siang," kata Laura dan langsung duduk di pangkuan Close lalu mendaratkan kecupan di bibirnya.


Close hanya bergeming menatap Laura yang terlihat begitu seksi memamerkan lekuk tubuhnya.


Satu hal lagi yang Close sadari. Selama ini ia sudah terbiasa melihat Laura berpakaian minim bahan, namun beda halnya dengan Azzura yang selalu tampak tertutup. Bahkan belum pernah sekalipun ia melihat Azzura melepas hijabnya.


"Sejak zaman kuliah sampai sekarang, dia masih tetap sama dengan pakaian yang serba tertutup. Bahkan semalam saat ia tidur hijabnya nggak lepas dari kepalanya. Apa dia nggak merasa kepanasan?"


"Sayang," tegur Laura lalu melingkarkan tangannya ke punggung leher Close.


"Hmm ..." Close menatapnya.


Tok ... tok ... tok ...


Pintu diketuk, tak lama kemudian Yoga terlihat membawa berkas.


"Ah, maaf Pak," ucap Yoga lalu menundukkan pandangannya.


Sedangkan Close meminta Laura turun dari pangkuannya. Setelah itu ia beranjak dan menuju ke kursi kerjanya lalu meminta Yoga supaya menghampirinya.


"Ada apa Yoga?" tanya Close.


"Saya ingin mengantar berkas penting ini, Pak," kata Yoga lalu menyodorkan berkas penting itu kepada sang CEO.


Lagi-lagi tanpa sengaja ia melihat boss-nya itu tidak mengenakan cincin nikahnya.


"Oh ya, Pak. Saya sekalian minta izin untuk mengantar motor Zu," izin Yoga.


Mendengar sang asisten menyebut nama istrinya, seketika tatapan matanya menghunus tajam pada yoga.


"Ah! Maksud saya Nyonya Azzura," sambung Yoga dan tak segan membalas tatapan tajam sang boss.


"Kenapa bisa motor Azzura ada padamu," selidiknya sambil mengetatkan rahangnya.


Close bergeming namun merasa sangat geram mendengar penjelasan dari asistennya itu. Entah mengapa darahnya seolah mendidih membayangkan Yoga dan Azzura bersama.


"Pak," tegur Yoga sembari menanti jawaban.


"Hmm ... pergilah," ketus Close.


"Terima kasih, Pak. Saya pamit," ucapnya lalu beranjak dari tempat duduknya.


Ketika melangkah, ekor mata Yoga sempat melirik tajam ke arah Laura dan merasa jijik pada gadis itu.


Sedangkan Laura hanya terlihat santai dan menatap tak suka pada Yoga.


Sepeninggal Yoga, Laura menyusul Close yang masih duduk di kursi kerjanya dan kembali duduk di pangkuannya lalu menyandarkan kepalanya di bahu Close.


"Sayang, aku nggak suka sama asistenmu itu," imbuhnya. "Sebaiknya kamu pecat saja dia dan mencari assisten yang baru," usul Laura.


"Jangan ngaco kamu," sahut Close. "Jika aku memecatnya, aku nggak mungkin mendapatkan pengganti secerdas dan cekatan seperti Yoga," jelasnya dan menolak mentah-mentah usulan dari Laura.


Laura menghela nafasnya dengan kasar. "Makan yuk," ajaknya.


Namun Close tampak bergeming dan pikirannya kembali melayang memikirkan Azzura dan Yoga. Masih jelas dalam ingatannya ketika memergoki istrinya tertawa lepas bersama asistennya itu.


Tampak keduanya seperti sudah mengenal lama.


Tentu saja hal itu membuatnya seolah kebakaran jenggot.


"Akkhh ... sial!!! Kenapa aku memikirkan mereka berdua?!" umpatnya dalam hati merasa dongkol.


"Sayang, kita makan siang di cafe saja," ajaknya dan meminta Laura beranjak dari pangkuannya.

__ADS_1


"Tapi kenapa? Aku sudah mebawa makanan untukmu," protes Laura.


"Aku ingin ke cafe saja," tegasnya dan tak ingin di bantah, bahkan tak menghiraukan wajah kesal kekasihnya.


Laura kesal bukan kepalang, ia menghentakkan kakinya dan ikut menyusul Close karena tak punya pilihan lain.


"Kenapa sih, kamu tiba-tiba berubah ingin makan di cafe?" cecar Laura ketika keduanya berada di dalam lift.


Close tetap bergeming dan tak menghiraukan ocehan Laura.


Tingggg ....


Pintu lift terbuka, Close segera keluar dari kotak besi itu dan menuju parkiran.


Sesaat setelah berada di dalam mobil ia segera memasang seat belt dan menunggu Laura. Setelah itu ia menginjak gas dan mulai membelah jalan kota.


Ia kembali di buat kesal ketika harus melewati drama macet. Sedangkan Laura hanya diam dan sesekali meliriknya.


"Sayang, kamu kenapa sih?"


"Nggak apa-apa," jawabnya dengan cuek.


Tiga puluh menit kemudian keduanya kini tiba di cafe milik sang momy. Ketika mendapati motor Azzura sudah terparkir, Close tersenyum sinis. Ia pun mengajak Laura masuk ke cafe itu


Sesaat setelah berada di dalam cafe ia langsung ke meja barista hanya ingin memastikan Azzura ada di tempat itu.


Ia menghela nafas ketika mendapati Azzura masih terlihat di tempatnya sambil melayani pembeli.


"Permisi," sapa Close pada Nanda dan Azzura.


Ketika menoleh, Azzura langsung memutar bola matanya dengan malas lalu melirik sahabatnya memberi kode supaya ia melayani orderan sang suami, sedangkan Azzura memilih mengantar minuman dan makanan pesanan Yoga.


Ekor mata Close tak lepas mengikuti ke mana arah langkah sang istri akan berhenti. Saat tahu langkahnya berhenti di meja Yoga, darahnya seolah kembali mendidih.


Sedangkan Azzura yang kini berada di meja Yoga sedang meletakkan nampan dan menyajikan makanan dan minuman pesanan Yoga.


"Terima kasih ya, Zu," ucap Yoga dengan seulas senyum.


"Sama-sama, ya sudah silakan di nikmati hidangannya," tawar Zu lalu tersenyum dan meninggalkan Yoga.


Azzura kembali melangkah menuju meja barista dan berpapasan dengan Close dan Laura. Dengan cepat, Close mencengkeram lengan Azzura lalu berbisik, "Ikut aku ke ruangan momy."


Kemudian ia melirik Laura supaya menunggunya di salah satu meja yang kosong. Tentu saja Laura begitu geram dan terpaksa mengalah.


Close tak melepas cengkeraman tangannya dari lengan Azzura hingga membuat gadis itu meringis. Dari meja yang tak begitu jauh gelagat keduanya menjadi perhatian Yoga.


"Close ... lepasin!! Kamu apa-apaan sih!" kesalnya lalu melepas paksa tangan besar suaminya.


"Apa kamu nggak mendengarku tadi?! Harusnya kamu melayani aku dulu daripada pria itu," geramnya.


Azzura tersenyum sinis lalu menatap mata suaminya.


"Ya, aku mendengar, tapi aku lebih memprioritaskan pelanggan yang lebih dulu mengorder sebelum kamu. Lagian belum tentu kamu akan mencicipi makanan yang sudah tersentuh oleh tanganku," sindir Zu lalu meninggalkan Close.


Lagi-lagi ia tak berkutik mendengar sindiran istrinya. Akhirnya ia kembali ke meja di mana Laura sedang menunggunya.


Selera makannya langsung hilang dan menatap punggung sang asisten yang tampak begitu menikmati makan siangnya.


...----------------...


🌿🌼🌼------------🌼🌼🌿


Jangan lupa masukkan sebagai favorit ya πŸ™. Bantu like, vote dan komen, setidaknya readers terkasih telah membantu ikut mempromosikan karya author. Terima kasih ... πŸ™β˜ΊοΈπŸ˜˜

__ADS_1


__ADS_2