Retaknya Sebuah Kaca

Retaknya Sebuah Kaca
Bab 23 : Rencana ke puncak ...


__ADS_3

Meninggalkan Close yang tengah kalut dengan perasaannya, lain pula dengan Azzura yang kini sedang berada di salah satu restoran sedang memesan makanan.


Sambil menunggu, ia memesan taksi online.


"Ya Allah, tega banget Close menuduhku mandul. Sakit banget rasanya," lirihnya. "Ini bahkan lebih sakit daripada ia sering memukulku."


Air matanya kembali menggenang. "Momy, daddy maafkan aku. Maafkan aku jika sampai aku tidak bisa mempertahankan rumah tanggaku kelak. Jika jalan terakhir adalah berpisah, aku rasa itu jauh lebih baik daripada harus terus menerus membohongi kalian," gumamnya lalu menyeka air matanya yang tiba-tiba saja jatuh membasahi pipinya.


Di tengah larutnya Azzura dengan pikirannya sendiri. Seseorang tampak menegurnya.


"Zu!"


Azzura mengarahkan pandangannya ke depan.


"Kak Farhan," lirihnya lalu tersenyum tipis. "Mau makan di sini ya, Kak?" tanya Zu dan di jawab dengan anggukan oleh Farhan.


Tak lama berselang, makanan orderannya di antar oleh salah satu waiter yang ada di restoran itu.


"Makasih ya, Mbak," ucap Azzura lalu meraih paper bag makanan itu lalu melirik Farhan yang sedang berdiri di sampingnya.


"Kak, aku duluan ya," pamit Zu.


"Mau ke mana?"


"Aku mau ke rumah sakit jenguk ibu," kata Zu.


"Bareng aku saja," tawar Farhan.


"Makasih Kak, tapi aku sudah pesan taksi online. Lagian Kak Farhan sudah terlanjur order makanan," kata Zu lagi dengan seulas senyum.


"Nggak apa-apa aku minta di bungkuskan saja. Ongkos taksinya biar aku yang bayarin," celetuk farhan.


Azzura terkekeh. "Nggak usah, Kak. Lain kali saja," kata Zu. "Ya sudah, aku duluan." Azzura kemudian meninggalkan Farhan yang masih menunggu pesanan makanannya.


"Ah ... sayang sekali," gumamnya dengan senyum tipis.


Farhan, jangan gila kamu. Dia itu istrinya orang.


Farhan membatin sambil geleng-geleng kepalanya.


Sementara Azzura yang sudah berada di luar restoran, sedang menunggu taksi pesanannya.


Pikirannya kembali larut mengingat ucapan suaminya.


"Aku benar-benar nggak habis pikir dengan sikap dan kelakuan Close. Apa sedikitpun dia nggak punya perasaan bersalah padamu," gumam Zu. "Ah ... ngapain juga aku memikirkan pria laknat itu," lanjut Zu sambil tersenyum miris.


Tin ... tin ... tin ...


Suara klakson mobil menyadarkannya. Azzura pun mengarahkan pandangannya ke depan.

__ADS_1


"Dengan Mbak Azzura Zahra?" tanya bang supir.


"Iya, Bang," jawab Zu dengan seulas senyum lalu membuka pintu mobil depan. "Bang tolong antar ke Prasetya Hospital ya," pinta Zu.


"Baik, Mbak," balas bang supir dan kembali melajukan kendaraannya ke arah rumah sakit itu.


.


.


.


Prasetya Hospital ...


Yoga terlihat sedang mendorong kursi roda bu Isma ke arah taman tempat di mana pertama kali ia mendapati Azzura sedang duduk menangis di bawah pohon rindang itu.


Tak sendirian ia di temani oleh Nanda. Tampak raut binar bahagia dari wajah bu Isma setelah berada di taman itu.


"Nak Yoga, Nanda, terima kasih, Nak. Kalian berdua selalu menyempatkan waktu dan saling bergantian menjenguk ibu. Maaf, karena ibu, kamu dan Azzura sama sekali tidak punya waktu untuk berbulan madu."


Mendengar ungkapan bu Isma seketika membuat Yoga dan Nanda saling berpandangan. Nanda mengatupkan bibirnya menahan tawa karena melihat ekspresi bengong Yoga.


"Nggak apa-apa, Bu. Ibu lebih penting daripada aku dan Azzura pergi berbulan madu," jelas Yoga dengan santainya.


Maaf bu, aku terpaksa berbohong. Ya ampun, pacar saja nggak punya apalagi istri yang ingin di ajak pergi berbulan madu. Ngenes banget diriku, mana Azzura itu istrinya orang lagi.


Yoga membatin sambil menggenggam kedua tangan bu Isma. Sedetik kemudian idenya langsung tercetus.


"Ide apa, Nak?" tanya ibu.


"Bagaimana jika Minggu depan kita ke puncak rame-rame," cetus Yoga dengan seulas senyum.


Mendengar nama puncak, Nanda dan bu Isma langsung tersenyum senang.


"Kita menginap di salah satu villa di puncak selama dua hari. Senin pagi baru kita pulang," cetus Yoga lagi.


"Maksudmu rame-rame?" sahut Nanda.


"Kita berempat dan kak Farhan juga kak Aida," jelas Yoga. "Tapi kita tanya Azzura dulu dan minta izin sama nyo ... eh maksudku momy," ralat Yoga cepat supaya bu Isma tidak curiga.


"Azzura pasti setuju, Nak. Sebelumnya dia memang akan mengajak ibu ke sana tapi belum sempat. Soalnya ibu belum sehat," kata bu Isma.


Sedetik kemudian bu Isma mengulas senyum mengingat putri semata wayangnya itu.


"Nak Yoga, apa kamu tahu? Istrimu itu sangat menyukai tempat itu. Selain sejuk cocok untuk healing. Seperti itulah yang sering ia katakan pada ibu," jelas ibu.


Tak lama berselang, ponsel Nanda bergetar. Ia pun merogoh kantong celananya lalu mengeluarkan ponselnya.


"Zu," lirihnya lalu menggeser tombol hijau.

__ADS_1


"Zu ... apa kamu ..." ucapanya terjeda saat menatap ibu.


"Kalian di mana? Apa ibu di bawa ke ruangan ICU lagi? Aku takut," tanyanya dengan panik yang kini sudah berada di kamar rawat.


Nanda terkekeh saat mendengar nada panik sahabatnya itu.


"Nggak, ibu baik-baik saja, Zu. Kami lagi di taman, sekalian saja ke sini. Kami di bawah pohon rindang," jelas Nanda.


Azzura menghela nafas lega sambil mengusap dadanya.


"Alhamdulillah, syukurlah. Kalian membuatku panik saja," ucapnya dengan hela nafas lalu kembali melanjutkan langkahnya ke arah taman.


"Ya sudah, aku ke sana sekarang," lanjutnya lalu memutuskan panggilan telepon sambil melanjutkan langkahnya.


Ibu, aku takut banget jika ibu sampai kenapa-kenapa.


Sesaat setelah berada di bangsal satu, ia mengarahkan langkahnya ke arah taman. Dari kejauhan ia bisa melihat ibunya terus tersenyum saat berbicara dengan Yoga dan Nanda.


"Entah apa yang mereka bahas hingga ibu tampak tersenyum lebar seperti itu," gumamnya sambil geleng-geleng kepala.


Setelah langkahnya hampir sampai, ia langsung menyapa ketiganya.


"Waaah ... kelihatannya seru banget. Lagi bahas apa sih," tegur Zu sambil terkekeh.


Mendengar suara Azzura, ketiganya langsung menoleh ke arah gadis berhijab itu.


"Sayang."


"Zu."


"Apa kalian sudah makan?" tanya Zu dengan seulas senyum.


"Belum, kami menunggumu, Zu," kata Nanda.


"Ya sudah, kita makan bareng saja. Tadi sebelum ke sini aku mampir membeli makanan. Sesuai request Paksu," kelakar Zu seraya menatap Yoga merasa lucu.


"Pppppffff .... hahahaha ...." Seketika tawa Nanda langsung pecah.


"Ck ... apaan sih?! decaknya lalu mencubit lengan sahabatnya itu.


"Paksu? Jika kalian beneran jadi pasutri, aku orang pertama yang bersukacita, Zu," bisik Nanda dengan maksud menggoda. "Tinggalkan saja si pria bajingan itu," saran Nanda lalu terkekeh.


Azzura hanya menggelengkan kepalanya mendengar ucapan sahabatnya. Sedangkan ibu dan Yoga hanya menatap kedua-nya dengan heran.


"Kalian ngomongin apa sih?! Bisik-bisik pula," tegur Yoga.


"Rahasia," sahut Nanda.


.

__ADS_1


.


Jangan lupa masukkan sebagai favorit ya πŸ™ Bantu like dan vote setidaknya readers terkasih telah membantu ikut mempromosikan karya author. Terima kasih ... πŸ™β˜ΊοΈπŸ˜˜


__ADS_2