Retaknya Sebuah Kaca

Retaknya Sebuah Kaca
Bab 5 : Kekesalan Close ...


__ADS_3

Setibanya di rumah sakit Kota J, Azzura berterima kasih pada Yoga lalu menyuruhnya langsung pulang.


Setelah memastikan Yoga benar-benar menghilang dari pandangan matanya. Ia pun melangkahkan kakinya menuju kamar VIP yang berada di bangsal 3.


Sebelum masuk ke kamar rawat ibunya, Azzura terlebih dulu mencuci tangan lalu mengenakan baju khusus yang telah di sterilkan.


Saat berada di ambang pintu, ia membuka benda itu dengan perlahan.


Tahu jika ada seseorang yang sedang menghampirinya, Nanda langsung menoleh.


"Zu," lirihnya.


"Maaf, aku terlambat. Saat kamu menelfon, aku masih di ballroom hotel," aku-nya. "Nan, pulang lah, sejak tadi kamu sudah menjaga ibu. Kamu pasti lelah. Aku akan bicara pada momy supaya kamu bisa libur," ucap Zu dengan suara pelan.


"Tapi Zu ..."


"Nggak apa-apa, Nanda. Kita gantian jagain ibu," potongnya cepat.


"Baik lah." Nanda mengalah. "Oh ya, Zu, ini ada sedikit uang sumbangan dari teman-teman kerja kita di cafe. Walaupun nggak banyak, semoga bermanfaat buat kamu dan ibu," kata Nanda seraya menyerahkan amplop yang ia keluarkan dari dalam tasnya.


"Terima kasih, Nanda," ucapnya dengan suara bergetar lalu memeluk sahabatnya itu.


"Sama-sama Zu. Aku sekalian pamit."


Azzura hanya mengangguk. Setelah itu ia menghampiri ibunya yang masih belum sadarkan diri.


Ia menarik kursi yang ada di dekat bed pasien lalu mendudukinya. Azzura menatap wajah pucat ibunya dan seketika itu juga ia terisak sambil membekap mulutnya dengan kedua tangannya.


"Ibu ... maafkan aku. Jika ibu tahu aku menikah karena sebuah syarat, ibu pasti akan sangat kecewa padaku. Maaf ... semuanya aku lakukan demi kesembuhan ibu." Azzura membatin disertai isak tangisnya yang terdengar pilu.


Setelah merasa puas menumpahkan air matanya, ia menggenggam tangan ibunya, menatap wajah itu dengan seksama hingga akhirnya ia merasakan kantuk lalu tertidur.


Tak terasa hari mulai gelap, Azzura merasa kepalanya seperti di usap dengan lembut. Perlahan ia mengerjap membuka matanya.


"Ibu," lirihnya. "Maaf aku ketiduran," lanjutnya dengan suara serak khas orang bangun tidur.


"Nggak apa-apa, Nak," sahut ibu dengan seulas senyum lalu kembali mengelus kepalanya dengan sayang.


"Sayang, pulang dan istirahatlah Nak. Ibu tahu kamu pasti kelelahan," cetus Bu Isma.


"Nggak, nanti saja Bu. Aku masih ingin di sini menemani ibu," kata Zu lalu meraih nampan berisi makanan di atas lemari nakas.


"Ayo, makan dulu Bu. Aku suapin ya," bujuknya lalu mulai menyuapi ibunya dan sesekali menjahilinya. Ulahnya tentu saja membuat ibunya tertawa.


"Sayang ... kamu ini, masih saja suka usilin ibu. Suamimu pasti nggak akan kesepian jika bersama mu," kata ibu.

__ADS_1


"Itu mustahil terjadi padaku dan suamiku, Bu. Bahkan dia sangat membenciku." Azzura membatin


Setelah selesai menyuapi ibunya, Azzura dengan telaten mengusap wajah ibunya dengan handuk basah lalu mengganti bajunya.


Begitu selesai mengurus ibunya, ia kembali membaringkannya lalu ke kamar mandi.


Beberapa jam kemudian ...


Setelah selesai shalat isya, tak lama berselang dua orang perawat dan seorang dokter spesialis tampak membuka pintu kamar rawat Bu Isma.


"Selamat malam, Nona Azzura, Bu Isma," sapa sang dokter.


"Malam juga Dok, Sus," sahut Zu dengan ramah.


"Maaf, saya periksa sebentar ya, Bu," kata Bu dokter yang akan menangani bu Isma.


"Iya Dok, silakan," kata Zu.


Sang dokter mulai memeriksa Bu Isma di bantu dengan dua perawat. Setelah memastikan Bu Isma dalam kondisi baik-baik saja, ia melirik Azzura.


"Nona Azzura, perkenalkan saya dokter Aida. Saya yang akan menangani ibu Anda selama ia di rawat di sini."


"Terima kasih, Dok," ucap Zu. "Oh ya, jangan panggil aku Nona Azzura tapi Zu atau Zura saja," pungkasnya.


Dokter Aida hanya mengangguk. Setelah itu, ia dan perawat meninggalkan kamar rawat itu.


"Ada apa Bu?"


"Nggak apa-apa, Sayang. Ibu hanya merasa lega karena kamu sudah menikah. Semoga pernikahanmu langgeng dan bahagia. Setidaknya, jika terjadi sesuatu pada ibu, ibu sudah tidak merasa khawatir lagi Nak. Karena ada suamimu yang akan menjagamu," jelas ibu seraya mengelus pipi Azzura dengan sayang.


Alih-alih merasa bahagia mendengar untaian kata bermakna dan doa dari sang ibu, Azzura justru merasa miris dan sedih. Namun wajahnya yang selalu terlihat tenang dan senyum yang sering terlukis di wajahnya dapat menutupi gurat kesedihan di wajahnya.


"Aamiin ... terima kasih ya, Bu. Tidurlah," pinta Zu sambil menggenggam jemari ibunya lalu tersenyum tipis.


Tak terasa waktu telah menunjukkan pukul 10.30 malam. Azzura memutuskan menginap di kamar rawat ibunya. Pikirnya untuk apa kembali ke hotel, lagian Close juga tidak bakalan mencarinya terlebih ia sudah meminta izin dari pria arogan itu.


"Ck ... pria menyebalkan," decaknya lalu membaringkan tubuhnya di atas sofa lalu memejamkan matanya.


********


Sementara di kamar hotel, Close yang sejak tadi menunggu Azzura kembali merasa jengkel pada gadis itu.


"Ke mana sih, si gadis barista itu pergi?!! Jam segini malah belum pulang!!" gerutunya.


Ia tampak berpikir dan terdiam sejenak.

__ADS_1


"Cih ... ngapain juga aku memikirkannya. Nggak penting," desisnya lalu menyambar ponselnya yang berada di atas tempat tidur lalu meninggalkan kamar hotel.


Sesaat setelah berada di loby hotel, ia segera menuju parkiran tempat di mana mobilnya di parkir.


Karena ingin memastikan apakah Azzura benar-benar pulang ke rumahnya, akhirnya ia memutuskan untuk menyambangi rumah Azzura.


Tak butuh waktu yang lama untuk sampai di rumah minimalis berlantai dua itu, kurang dari lima belas menit Close sudah berada di depan rumah itu.


Namun alisnya langsung bertautan saat mendapati rumah itu gelap dan terkunci. Bahkan motor Azzura tidak terparkir di depan rumahnya. Emosinya seketika langsung naik ubun-ubunnya dengan tangan yang terkepal.


"Sial!!! Ke mana dia?!! Berani-beraninya dia membohongiku. Awas saja kamu nanti," geramnya lalu menyeringai penuh arti.


Dengan perasaan mendongkol, ia kembali melajukan kendaraannya ke arah apartemen sang kekasih.


Setibanya ia di unit Laura, dengan cepat ia menekan password lalu membuka pintu.


Kehadirannya tentu saja membuat Laura senang bukan kepalang. Gadis itu langsung memeluknya lalu mencium bibirnya dengan rakus.


Seperti biasa, keduanya akan melakukan hubungan terlarang, bergulat panas di ranjang empuk sang kekasih tanpa memikirkan status Close yang kini sudah menjadi suami Azzura.


Dengan ghairah dan hasrat yang begitu menggebu-gebu, Close langsung menggendong Laura masuk ke dalam kamar.


Entah sejak kapan keduanya kini sudah polos. Bukannya making love on first night dengan Azzura, Close melampiaskan hasratnya pada sang kekasih.


Dan untuk yang kesekian kalinya mereka bercinta di kamar itu. Tapi malam ini, Laura merasakan Close melakukannya dengan kasar dan cenderung terburu-buru seperti ia melampiaskan semua kekesalannya padanya.


Laura juga semakin di buat heran dengan sikap sang kekasih, biasanya jika ia habis bercinta dengan Close, pria itu akan memberinya kecupan lalu memeluknya. Tapi malam ini, itu tidak ia lakukan melainkan langsung membaringkan tubuhnya dengan posisi tengkurap dan memilih langsung memejamkan matanya.


"Sayang ..."


"Hmm ..."


"Ada apa?"


"Nggak apa-apa, aku hanya lelah. Tidurlah," pintanya dengan suara pelan namun pikirannya tetap saja melayang jauh memikirkan istrinya.


Laura hanya menurut. "Peluk aku, Sayang," pinta Laura namun Close tidak merespon.


Lagi-lagi Laura mengerutkan keningnya lalu berbaring dengan perasaan kecewa.


"Sial!! Apa ini ada hubungannya dengan gadis barista itu?! Awas saja kamu! Akan aku pastikan hidupmu nggak akan tenang karena sudah merebut Close dariku."


Ungkapan itu tentu saja bisa ia ucapkan dalam hatinya dengan perasaan geram dan benci pada Azzura.


...🌿----------------🌿...

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan jejak ya, readers terkasih.


Dukungan kalian salah satu cara ikut mempromosikan karya ini. Terima kasih 😊😘🙏


__ADS_2