
Mendengar jawaban menggantung dari Nanda, Yoga hanya menggelengkan kepalannya.
"Sudah ah, yuk kita makan dulu," tawar Zu lalu mengeluarkan box makanan dari dalam paper bag lalu memberikannya pada Yoga dan Nanda. Sedangkan ia sendiri ingin menyuapi ibunya.
Sambil makan, mereka selingi obrolan kecil dan sesekali tampak bercanda. Hingga akhirnya Yoga kembali mengutarakan keinginannya untuk berlibur bersama ke puncak akhir pekan ini.
"Zu," panggil Yoga.
"Ya, ada apa?"
"Mau nggak jika akhir pekan ini kita berlibur ke puncak?" tanya Yoga. "Tadi kami sudah membahasnya dengan ibu."
Azzura menatap ibu sejenak sambil tersenyum.
"Boleh deh, soalnya aku memang ada rencana mau ajak ibu ke sana, cuman kondisi ibu yang nggak memungkinkan jadi aku sempat menundanya," jelasnya sekaligus menyetujui.
"Kita pergi bersama kak Farhan dan Kak Aida juga. Itu demi memastikan kondisi kesehatan ibu tetap stabil jika terjadi sesuatu padanya," jelas Yoga.
"Ya kamu benar. Ya sudah akhir pekan kita liburan ke puncak." Azzura kembali menatap lekat ibunya. "Bagaimana? Ibu senang nggak?" tanya Zu lalu kembali menyuapi ibunya.
Ibu hanya mengangguk dengan raut wajah berbinar bahagia.
"Yoga, kita perlu bicara setelah ini," usul Zu.
Seakan mengerti dengan apa yang ingin disampaikan Azzura, Yoga mengangguk lalu tersenyum.
.
.
.
Meninggalkan Yoga, Azzura, Nanda dan ibu. Saat ini Close tampak masih dalam perjalanan menuju ke kediaman Azzura.
Pikirannya kembali melayang memikirkan istrinya itu. Yang ada di benaknya sekarang adalah berharap istrinya itu ada di rumahnya.
Beberapa menit berlalu, akhirnya ia tiba juga di rumah minimalis berlantai dua itu. Setelah memarkir mobilnya di halaman rumah, ia pun turun dari kendaraannya itu lalu berjalan menghampiri pintu rumah.
"Kok sepi?" desisnya lalu mengetuk pintu beberapa kali.
Alisnya kembali bertaut ketika pintu tak kunjung dibuka. Ia kembali mengetuk pintu namun tetap sama benda yang terbuat dari kayu itu tetap tak dibuka.
Tak lama berselang, seseorang menegurnya.
"Maaf Nak, Azzura nggak ada di rumah itu."
Close langsung berbalik menatap orang yang menegurnya.
"Apa saya boleh tahu dia ke mana?" tanya Close dengan rasa penasaran.
"Kurang tahu juga, Nak. Soalnya Azzura hanya seminggu sekali mendatangi rumah ini. Itupun hanya untuk bersih-bersih rumah," jelas ibu paruh baya itu.
__ADS_1
"Apa orang tuanya nggak tinggal di sini bersamanya?" tanya Close lagi.
Ibu paruh baya itu mengulas senyum.
"Mereka tinggal bersama, hanya saja ayahnya Azzura sudah lama meninggal dan ibunya saat ini masih di rawat di rumah sakit," jelas ibu paruh baya itu lagi.
Deg ....
Jadi dia sudah nggak punya papa? Ibunya sakit dan sedang dirawat?
Hatinya seketika mencelos mendengar penjelasan dari tetangga Azzura.
"Apa saya boleh tahu di mana ibunya di rawat?"
"Kurang tahu juga, Nak. Soalnya kami juga belum sempat bertanya pada Azzura," jelas ibu itu lagi.
Close hanya mengangguk dan tertunduk lesu.
Pantasan saja orang tuanya nggak terlihat di hari pernikahan kami. Jadi itu yang membuatnya terlihat gelisah selama acara resepsi berlangsung? Apa saat ia meminta izin waktu itu, dia ke rumah sakit menjenguk ibunya?
Close hanya bisa bertanya-tanya dan menebak dalam batinnya sambil mengusap wajahnya dengan kasar. Ia kembali ingin bertanya, ibunya Azzura sakit apa? Namun ibu paruh baya itu sudah masuk ke dalam rumahnya.
"Sakit apa ibunya?" gumam Close lalu menatap rumah itu. Sekelumit ingatannya kembali berputar enam bulan yang lalu saat mendatangi Azzura di rumah itu.
Memberi ancaman dan tak segan-segan menyakiti gadis berhijab itu meski belum berstatus istri. Bahkan setelah sah menjadi istrinya ia masih melakukan hal yang sama.
Dengan perasaan kecewa ia meninggalkan kediaman Azzura dan memutuskan ke apartemen Mizan teman sekaligus rekan bisnisnya.
.
.
.
"Zu, apa kamu ingin mengatakan sesuatu," tanya Yoga sambil menatapnya.
"Iya, Yoga, jika kita akan ke puncak akhir pekan ini, aku harus izin dulu pada Close dan mertuaku," kata Zu.
"Baiklah karena itu hakmu," balas Yoga dengan seulas senyum.
"Terima kasih ya, Yoga. Selama ini kamu selalu menyempatkan waktu untuk datang menjenguk ibu. Maaf karena sudah memangkas waktumu bersama teman-temanmu," sesal Zu.
"Nggak apa-apa," kata Yoga. Sedetik kemudian terbersit di pikirannya untuk bertanya tentang pernikahannya dan Close.
"Zu."
"Hmm." Pandangan Azzura mengarah ke depan tanpa menoleh.
"Apa boleh aku bertanya sesuatu? Maaf jika aku sedikit lancang dan ini sedikit privasi," tutur Yoga namun ia tampak ragu.
Azzura menautkan alisnya lalu menghela nafasnya sejenak dan tampak berpikir.
__ADS_1
"Apa yang ingin kamu tanyakan?" tanya Azzura tanpa mengalihkan pandangannya ke depan.
"Tentang pernikahanmu dan pak Close. Tapi aku nggak akan memaksa jika kamu tidak ingin menjawabnya," imbuh Yoga.
Azzura langsung tertunduk mendengar ucapan Yoga. Antara ingin menjawab dan tidak. Tapi selama enam bulan terakhir hanya Yoga dan Nanda lah tempat ia sering berkeluh kesah meski hanya mengeluh yang sewajarnya saja.
Dengan tangan yang bergetar, Azzura menggenggam tangan Yoga dengan erat. Sontak saja ulah Azzura itu membuatnya kaget dan gugup.
"Yoga, walaupun kita baru mengenal, aku sudah menganggapmu sebagai kakak ku, sama seperti kak Farhan dan dokter Aida," kata Zu tanpa langsung menjawab pertanyaan dari Yoga. "Aku merasa seperti benar-benar memiliki saudara yang lengkap," lanjut Zu dengan mata yang kini berkaca-kaca.
Azzura melepas genggaman tangannya dari Yoga, lalu memejamkan matanya sejenak kemudian menarik nafas dalam-dalam sebelum menjawab rasa penasaran asisten suaminya itu.
"Yoga, pernikahanku dan Close tidak seperti yang kalian pikirkan. Kami menikah karena sama-sama terpaksa. Sebagai asistennya kamu sudah tahu persis jika Close sudah memiliki kekasih," jelas Zu.
"Lalu?"
"Ya, kami menikah tanpa ada cinta. Close menerimaku karena paksaan momy sedangkan aku menerimanya karena membutuhkan uang. Kami memang tinggal serumah tapi kami seperti orang asing. Sebenarnya aku menikah karena sebuah syarat. Awalnya aku hanya ingin meminjam sejumlah uang pada momy, tapi justru momy menawari aku untuk menikahi Close dan momy berjanji akan membiayai semua biaya operasi dan pengobatan ibu saat itu dengan syarat jika aku mau menikah dengan Close. Karena aku nggak punya pilihan dan aku terdesak, akhirnya aku menyetujui syarat momy," lanjut Zu menjelaskan dengan kepala tertunduk.
"Zu," lirih Yoga yang kini sedang menatapnya. "Apa karena itu kamu tertekan?" lanjutnya bertanya.
"Nggak," bohong Zu. "Aku hanya mengkhawatirkan ibu."
"Jadi sejak kalian menikah sampai detik ini, pak Close belum pernah sekalipun bertemu dengan ibu?" tanya Yoga dan dijawab hanya dengan anggukan kepala Azzura.
Ternyata dugaanku benar.
"Apa dia pernah berbuat kasar padamu?" lanjutnya bertanya karena merasa curiga. Apalagi saat beberapa kali ia tak sengaja melihat Azzura meringis sambil memegang kepala dan lengannya. Bahkan sering terdapat memar di jidatnya.
Azzura bergeming. "Aku nggak mungkin menceritakan masalah KDRT itu pada Yoga. Cukup hanya aku, Nanda dan bunda Fahira saja yang tahu," gumamnya dalam hati.
Drttt ... drtttt ... drttt ...
Saat masih menanti jawaban dari Azzura, ponsel Yoga bergetar. Ia pun merogoh saku celananya lalu menatap layar ponselnya.
"Bunda," lirihnya. Ia melirik Azzura lalu sedikit menjauh. Setelah itu ia langsung menjawab panggilan dari sang bunda.
"Ya hallo, Bun?"
"Yoga, kamu lagi di mana, Nak?" tanya bunda.
"Aku di rumah sakit," jawabnya.
"Apa kamu bisa ke rumah sakit bunda sekarang? Ada hal penting yang ingin bunda bahas denganmu," pinta bunda.
"Iya, Bun, bisa. Aku akan ke sana sekarang."
"Bunda tunggu ya," pesan bunda lalu memutuskan panggilan.
Begitu panggilan berakhir, Yoga kembali menghampiri Azzura.
"Zu, apa nggak apa-apa aku tinggal? Aku ada urusan sebentar. This is urgent," kata Yoga lalu terkekeh.
__ADS_1
...πͺ΄ **************** πͺ΄...
Jangan lupa masukkan sebagai favorit ya π Bantu like dan vote setidaknya readers terkasih telah membantu ikut mempromosikan karya author. Terima kasih ... πβΊοΈπ