
Kantor Tuan Kheil ...
"Close ... perusahaan cabang di kota M ada sedikit masalah. Daddy ingin sore ini kamu berangkat ke kota M dan atasi masalah perusahaan di sana," tegas daddy Kheil.
Close menghela nafasnya lalu melirik Jimmy.
"Sebaiknya Jimmy saja yang ke sana, Dad," tolak Close.
"Nggak bisa," tegas daddy Kheil lagi. "Jimmy tetap di sini, soalnya sejam lagi Daddy dan Gisel akan berangkat ke Australia."
Close langsung menatap daddy-nya. Seketika perasaan bersalah sekaligus rindu pada momy Lio kembali menyelimuti dirinya secara bersamaan.
Sudah beberapa kali ia ingin bertemu dengan sang momy tapi momy Lio enggan bertemu dengannya. Kekecewaan yang begitu mendalam seolah membuat momy Lio tak menganggapnya ada.
"Baiklah," lirihnya lalu beranjak dari tempat duduknya kemudian meninggalkan ruangan itu tanpa pamit.
Pasca sembuh dari depresi dan penyakit kelamin, ia cenderung menjadi dingin dan pendiam.
Sesaat setelah berada di parkiran, Indra langsung membuka pintu mobil untuknya. Setelah duduk di kursi penumpang ia langsung bersandar lalu memijat pangkal hidungnya.
"Indra, apa sudah ada info tentang Azzura?" tanyanya.
"Seperti sebelum-sebelumnya, Pak. Hasilnya nihil," jawab Indra.
Close tertunduk kecewa. "Bahkan ini sudah tiga tahun tapi Azzura benar-benar tak meninggalkan jejak sama sekali," lirihnya. "Indra, tolong antar aku ke makam orang tua Azzura. Setelah itu antar aku ke bandara," perintahnya.
"Baik, Pak," kata Indra dan mulai melajukan kendaraannya itu ke TPU.
.
.
.
Setibanya di TPU, Close melangkah kecil menuju pusara ex mertuanya. Namun saat langkah kakinya mulai mendekat, ia terpaksa berhenti sejenak.
"Yoga," lirihnya menatap ex asisstennya itu dari jarak yang tak terlalu jauh dari tempatnya berdiri.
Ia kembali melanjutkan langkahnya lalu menyapa Yoga yang tampak sudah berdiri.
"Yoga?!"
Yoga langsung menoleh ke belakang karena sangat mengenal suara itu.
"Close ..." sapanya balik. "Mau nyekar juga?" tanyanya dan dijawab dengan anggukan kepalanya.
"Silakan ... soalnya aku juga sudah selesai," kata Yoga seraya menepuk bahunya. Saat Yoga ingin melanjutkan langkahnya, Close memanggilnya.
"Yoga."
Yoga langsung berbalik lalu kembali menatapnya.
"Ya, ada apa?" sahutnya dengan senyum tipis.
__ADS_1
"Terima kasih karena kamu turut andil dalam penyembuhan ku," lirihnya degan suara bergetar.
"Itu sudah menjadi tugasku, Close," balas Yoga.
Tiga tahun yang lalu saat Close benar-benar dalam keadaan terpuruk, Yoga turut mengambil peran untuk pemulihan ex boss-nya itu. Berkatnya juga akhirnya ia bisa kembali pulih.
Kembali ke Yoga dan Close. Hening sejenak ...
"Yoga, sudah tiga tahun berlalu apa kamu tahu di mana keberadaan Azzura?" tanyanya sambil tertunduk. "Setahuku kamu dan Nanda adalah orang yang paling dekat dengannya," sambungnya.
"Nggak Close," jawab Yoga. "Selama kepergiannya, Azzura sudah nggak ada kabar sampai sekarang," jelas Yoga.
Close mengangguk kecewa. Setelah itu, Yoga kembali berpamitan dan meninggalkan dirinya.
Sepeninggal Yoga, ia menatap nanar pusara ex mertuanya itu. Ia berjongkok lalu mengelus batu nisan itu dengan mata yang berkaca-kaca.
"Maafkan aku, bu, ayah," ucapnya dengan suara bergetar. "Sekarang aku benar-benar merasa kesepian, seolah-olah terbuang bahkan momyku pun menganggapku nggak ada."
Close mulai menangis sambil memeluk batu nisan itu.
"Andai waktu bisa diputar kembali, aku ingin menjadi suami yang baik bagi Azzura. Mencintai, menyayangi dan selalu melindunginya," desisnya dengan tersengal. "Maafkan aku, bu, ayah. Selama tiga tahun ini batinku menderita dan tersiksa kehilangan Azzura tanpa jejak. Semuanya salahku," desisnya lagi dengan isak tangis yang semakin menjadi.
Dua puluh menit berlalu ....
Close terus menatap pusara itu sambil sesekali mengelusnya. Setelah itu ia memutuskan meninggalkan pusara itu.
Dengan langkah gontai ia menghampiri mobilnya dan meminta Indra langsung mengantarnya ke bandara.
"Kasian juga ... pasca sembuh kini ia banyak berubah bahkan bicaranya sedikit dan terkesan dingin," gumam Yoga sambil menggelengkan kepalanya.
Selang tiga puluh menit kemudian akhirnya ia tiba juga di Prasetya Hospital 2. Ketika ia hendak melanjutkan langkahnya, ia tersenyum saat melihat Radit dan Nanda bersama putrinya.
"Radit, Nanda!" panggilnya lalu menghampiri keduanya. "Sudah mau pulang?" tanyanya lalu mencubit gemas pipi Dita. "Wah, Dita mau punya adek lagi ya?" godanya. "Selamat ya Dit, Nanda. Nggak terasa kalian bakal kedatangan anggota baru lagi," kata Yoga lalu terkekeh.
"Hmm ... kamu kapan?" celetuk Radit.
Lagi-lagi Yoga terkekeh. "Belum ada calon," sarkasnya.
"Calon banyak, kamunya saja yang cuek," ledek Nanda. "Bagaimana dengan Nona Gisel? Bukankah kalian cukup dekat?" cecar Nanda.
"Yoga, aku rasa Gisel gadis yang baik. Jika aku perhatikan dia memang memiliki perasaan padamu bahkan sebelum kamu mengenal Azzura," celetuk Radit.
Yoga hanya mengulas senyum namun tetap saja ia merasa belum siap.
"Ingat umur Yoga. Kamu sudah kepala tiga. Nggak ada salahnya kan menerima Gisel," nasehat Yoga lagi.
"Ck ... sebaiknya kalian masuk ke dalam mobil, kasian Dita kepanasan," sarannya sekaligus mengalihkan pembicaraan.
Mau tak mau akhirnya Radit dan Nanda hanya menurut. Setelah itu mereka berpamitan dan mulai meninggalkan area parkir.
********
Sesaat setelah berada di ruangan kerjanya, Yoga kembali memikirkan ucapan sahabatnya itu.
__ADS_1
"Radit ada benarnya juga. Aku bisa melihat ketulusan Gisel padaku. Bahkan sejak aku bekerja dengan Close saat itu," gumamnya.
Saat mengingat Azzura yang tak pernah ia gapai, ia kembali mempertimbangkan keputusan yang akan ia ambil.
Selama ikut andil dalam proses penyembuhan Close, gadis itu terlihat sangat perhatian padanya.
"Mungkin sudah waktunya aku harus benar-benar melupakan Azzura. Jika suatu saat kami akan dipertemukan, aku hanya ingin memeluknya walau hanya sejenak," lirihnya.
.
.
.
Sore harinya pukul 16:30, TPU Kota M ...
Tampak Azzura, Ayya dan Genta yang sedang menggendong Devan berada di pusara Nina. Membawa kembang dan air untuk menaburi pusara itu.
"Assalamu'alaikum, bunda Nina," ucap Zu dengan suara bergetar. "Lihatlah siapa yang datang untuk mengirim doa untukmu."
Ia mengelus kepala Devan yang ada dalam dekapan Genta.
"Nina, lihatlah putramu sekarang tumbuh dan berkembang dengan baik," lirih Genta. "Nggak salah kamu menitipya pada orang yang tepat," lirih Genta lagi.
"Bunda ... bunda ..." panggil Devan dengan ciri khas anak seusianya.
"Iya Sayang ... ini pusara bunda Nina," lirih Zu lalu mengecup kepalanya. "Yuk kirim doa untuk bunda Nina seperti yang sering bunda ajarkan sehabis sholat," kata Zu.
"Iya, Bunda," ucapnya dengan patuh seraya mengangguk.
Ia pun meraih Devan dari Genta lalu mendudukkannya di pangkuannya kemudian sama-sama mengangkat dan menengadahkan kedua tangannya untuk berdoa.
"Bismillahirrahmanirrahim, robbi firli waliwalidayya warhamhuma kama rabbayani shaghira."
Artinya: "Tuhanku, ampunilah dosaku dan (dosa) kedua orang tuaku. Sayangilah keduanya sebagaimana keduanya menyayangiku di waktu aku kecil."
Doa itu dilafazkan dengan lancar oleh putranya bersama Azzura. Sedangkan Genta terus menatap keduanya dengan perasaan kagum.
Benar-benar komplit. Aku nggak akan menunda-nunda lagi untuk melamarnya dan akan menjadikannya istriku. Ayah ... pokoknya ayah harus membantuku kali ini.
Genta membatin dan tekadnya kali ini tak main-main.
"Mas, Ayya, yuk kita sama-sama kirim doa untuk Nina," cetusnya seraya merangkul bahu Ayya.
Mereka sama-sama membacakan surah Al-Fatihah lalu di lanjut dengan bacaan Yasin. Setelah selesai mereka menabur bunga lalu menyirami pusara itu.
Begitu selesai, mereka pun meninggalkan TPU itu.
Mereka tak menyadari seseorang yang sejak tadi membuntuti mereka, terus memperhatikan mereka dari kejauhan.
...----------------...
Jangan lupa masukkan sebagai favorit ya π Bantu like dan vote setidaknya readers terkasih telah membantu ikut mempromosikan karya author. Terima kasih ... πβΊοΈπ
__ADS_1