Retaknya Sebuah Kaca

Retaknya Sebuah Kaca
Bonchap 17


__ADS_3

Bandara kota A ...


Tiga puluh menit sebelum pesawat yang ditumpangi Azzura dan Genta landing, Close sudah berada di ruang tunggu bandara.


Setelah sejak tadi menunggu akhirnya orang yang ditunggunya sudah tampak melambaikan tangannya ke arahnya.


Senyumnya langsung mengembang sempurna memandangi pasangan suami istri itu yang sedang menghampirinya.


Close," sapa Genta dan Azzura sesaat setelah keduanya mendekat. "Bagaimana kabarmu?" tanya Genta.


"Baik, Genta, Zu," jawab Close lalu mengelus punggung Faatih yang sedang digendong Azzura. "Devan dan Ayya kok nggak di bawa?"


"Mereka nggak mau, katanya nggak ada temannya bi Titin. Lagian saat ini mereka ada di rumah mamaku," jawab Genta.


"Gitu ya ... yuk," ajaknya.


Setelah itu Close membantu mendorong koper kearah mobilnya diparkir.


Sesaat setelah mereka duduk di dalam mobil, Close kembali bertanya, " Kalian ingin langsung ke hotel atau ke apartemen Yoga dulu?"


"Sebaiknya kita ke apartemen Yoga dulu. Paman bunda pasti sedang menunggu," sahut Zu.


"Baiklah," balas Close lalu mulai melajukan kendaraannya menuju apartemen Yoga.


Disepanjang perjalanan, ketiganya saling mengobrol santai, sesekali Close tertawa karena digoda oleh Zu. Ada kebahagiaan tersendiri yang ia rasakan saat bisa langsung berinteraksi dengan sepasang suami-istri itu.


Sesekali ia mencuri pandang pada ex istrinya itu lewat kaca spion tengah.


"Kenapa di saat kita sudah berpisah, hubungan ini malah terasa semakin dekat. Bisakah aku lepas dari bayang-bayang wajah teduhmu itu, Zu?"


Setelah menempuh perjalanan kurang lebih satu jam lamanya, akhirnya mereka tiba juga di gedung apartemen Yoga.


.


.


.


Sesaat setelah berada di depan pintu unit, Azzura memencet bel pintu lalu memberi salam. Tak lama berselang pintu dibuka.


"Sayang, Genta, Close, ayo masuk, Nak," kata bunda lalu meraih Faatih yang masih tertidur dalam gendongan Azzura.


"Loh, Devan dan Ayya tumben nggak ikut," tanya pak Prasetya yang baru saja keluar dari kamar.


"Mereka nggak mau, Paman," jawab Zu lalu menghampirinya.


Saking rindunya ia langsung menghambur masuk ke dalam pelukan pria paruh baya itu. Melihat kelakuan istrinya, Genta hanya geleng-geleng kepala lalu terkekeh.


"Paman Pras, sudah lama aku nggak memelukmu," bisiknya sambil mendongak menatap wajah pak Prasetya.


"Jangan lama-lama peluknya, nanti ada yang cemburu," balas pak Prasetya lalu terkekeh.


Keduanya langsung tertawa merasa lucu. Setelah melepas pelukannya, pak Prasetya menghampiri Genta dan Close yang sedang duduk di sofa.

__ADS_1


Sementara Azzura memilih masuk ke kamar tamu di mana Fattah Faatih berada bersama bunda Fahira.


"Bun," sapa Zu.


Bunda Fahira langsung menoleh ke arahnya lalu mengulas senyum. "Kemarilah, Nak," pintanya.


Dengan patuh Azzura langsung duduk disampingnya lalu merangkul ibu dari Yoga itu.


"Bunda punya kabar baik yang pastinya akan membuatmu ikut bahagia."


"Benarkah?" tanya Zu.


"Ya ... Insyaallah dalam waktu dekat Yoga akan menikah. Beberapa hari lagi kami akan datang melamar gadis itu," jelas bunda.


"Beneran, Bun?!" pekik Zu kegirangan dan dijawab dengan anggukan kepala oleh bunda Fahira. "Alhamdulillah ... akhirnya suami bohonganku bertemu juga dengan jodohnya," kelakar Zu lalu tertawa.


Mendengar ucapan Azzura, bunda Fahira ikut tertawa. Sedetik kemudian ia langsung memeluknya sembari mengelus punggungnya dengan sayang.


"Istirahatlah bersama Fattah Faatih di sini, kamu pasti lelah," seru bunda lalu melepas dekapannya.


"Iya, Bun, kepalaku juga memang lagi pusing," aku Zu lalu membaringkan tubuhnya di samping putranya.


Sementara di ruang tamu, Genta, Close dan pak Prasetya sedang mengobrol santai. Sesekali suara ketiga pria berbeda usia itu memenuhi ruangan.


Selang beberapa menit kemudian, bunda Fahira menghampiri ketiganya sambil membawa nampan.


"Kelihatannya seru banget obrolannya," kata bunda sembari menyuguhkan kopi hangat di atas meja sofa.


"Jika sudah berhubungan dengan rahasia lelaki, bunda juga sudah bisa menebak," sindir bunda lalu mencubit pahanya.


Genta kembali tergelak mendengar sindiran itu. Ia pun meraih cawan lalu meneguk kopinya.


"Bun, Azzura ..."


"Mungkin sudah tidur, katanya kepalanya pusing," sela bunda dengan cepat.


"Setiap hari keluhannya pasti pusing," kata Genta. "Sama seperti waktu hamil pertama, di kehamilannya yang ini pun, keluhannya sama. Hanya saja aku nggak dikerjain seperti sebelumnya."


"Alhamdulillah," ucap bunda dan pak Prasetya bergantian.


Mendengar Azzura hamil lagi, seketika membuat hati Close mencelos. Lagi-lagi penyesalannya kembali menyelimuti dirinya.


Teringat kembali ucapan serta tuduhannya pada Azzura kala itu saat ia menginjak perutnya tanpa belas kasih.


.


.


.


Beberapa jam berlalu ...


Kini Genta dan Azzura sudah berada di salah satu kamar hotel. Keduanya tampak menemani putranya bermain.

__ADS_1


Sedangkan Close memilih ke salah satu resort setelah mengantar Genta dan Azzura di kamar hotel.


"Mas," panggil Zu sembari melepas mukenahnya.


Genta langsung beranjak dari sejadahnya lalu menghampiri sang istri yang kini sedang duduk di sisi ranjang.


"Ada apa?"


"Sejak dari apartemen Yoga, aku lihat Close banyak melamun. Apa dia baik-baik saja? Jujur saja aku sedikit khawatir padanya, Mas," aku Zu.


Genta langsung merangkul bahu sang istri lalu mengelus rambutnya. Keduanya sama-sama memandang Fattah Faatih yang sedang bermain sambil tertawa.


"Sayang ... ada bagusnya jika kamu mengajaknya berbicara padanya sekaligus menyemangatinya. Mas merasa dia memang membutuhkan dirimu."


Azzura bergeming dan tampak berpikir. Ia sempat bertanya-tanya pada dirinya saat Close berada di ruang praktek Yoga.


Apalagi sebelumnya Close pernah mengalami depresi dan sempat dirawat di rumah sakit jiwa di Kota J.


"Apa ini ada hubungannya dengan kejiwaannya ya?" batin Zu.


.


.


.


Sementara di tempat yang berbeda, Yoga sedang menunggu Rissa di Azkiya Resto untuk makan siang.


Sambil menunggu, ia terlihat saling berbalas pesan dengan sang kakak. Senyumnya pun sejak tadi terus terukir di wajahnya.


Plak ...!


Ia langsung terlonjak kaget saat merasakan pundaknya ditepuk dengan keras. Saat berbalik ia langsung terkekeh.


"Rissa, jantungku serasa ingin copot!" ucapnya seraya mengusap dadanya lalu meletakkan ponselnya ke atas meja.


"Gitu saja kaget," ledek Rissa lalu mendaratkan bokongnya di salah satu kursi yang kosong.


Yoga kembali terkekeh sambil menatapnya lekat.


"Gimana jika aku mati mendadak karena kaget? Haah aku belum mau mati soalnya belum nikah," kelakarnya lalu disambut dengan tawa oleh Rissa.


"By the way, maaf aku sedikit terlambat soalnya ada urusan mendadak di kampus tadi," kata Rissa.


"Nggak apa-apa aku mengerti, kok. Ya sudah sebaiknya kita pesan makanan dulu soalnya perutku sudah lapar."


Rissa hanya mengangguk lalu memanggil salah satu pelayan restoran.


Begitu selesai memesan makanan keduanya kembali melanjutkan obrolan. Membahas tentang rencana hari H keduanya.


Membahas hal itu, Yoga lah yang tampak sangat antusias dan bersemangat hingga membuat Rissa sesekali salah tingkah dan tersipu malu.


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2