
Pagi harinya, pukul 06:00 pagi ...
Azzura tampak sedang berada di kamar Ayya dan sedang membantu gadis cilik itu mengenakan pakaian. Sedangkan Devan terus memperhatikan keduanya sambil berbaring.
"Bundaaaa ... Epan mau ikut ke sekolahan juga," ucapnya dengan memelas sambil menarik-narik baju Azzura.
Azzura mengulas senyum lalu menoleh ke arahnya.
"Mau ikut juga ya? Tapi janji sama bunda supaya nggak nakal ya?" balas Zu sambil menaikkan jari kelingkingnya.
Devan langsung tersenyum dan mengangguk lalu menautkan jari kelingkingnya dengan sang bunda.
"Sebentar ya, Sayang. Bunda bantu kak Ayya dulu," kata Zu lalu memakaikan Ayya jilbab kemudian merapikannya. "Sudah," bisik Zu lalu mengelus pipi Ayya.
"Makasih, Bunda," ucap Ayya lalu memeluknya.
"Sama-sama, Sayang. Turunlah ... sebentar lagi bunda menyusul. Bunda ganti pakaian dulu bareng dedek Devan," pesan Zu.
Genta yang sejak tadi berada di ambang pintu dan terus tersenyum memperhatikan interaksi ketiganya.
Namun senyum itu langsung sirna setelah ia kaget mendapat satu tepukan di pundaknya.
"Makanya jangan tunda-tunda lagi untuk melamarnya. Jika bisa segerakan," ledek sang ayah lalu terkekeh.
Genta langsung memutar badannya menghadap sang ayah.
"Ayah!" kesalnya. Namun sedetik kemudian ia mengulas senyum lalu menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Soon ... Ayah," lanjutnya.
Ia pun buru-buru ke kamarnya untuk bersiap-siap.
Sedangkan pak Dirga menggelengkan kepalanya menatap punggung tegap putra sulungnya itu.
"Semoga kebahagiaan segera menghampirimu putraku. Ayah yakin ... Azzura memang gadis yang tepat untukmu," desis pak Dirga.
Tiga puluh menit kemudian ...
"Bi, hari ini Dev ikut aku ke sekolahan. Nggak apa-apa Bibi di sini saja dengan mama," pesan Zu.
"Baiklah, Nak Zu," balas bi Titin.
Setelah itu ia pun ikut bergabung ke meja makan untuk sarapan bersama. Setelah selesai sarapan bersama, ia pun kembali berpamitan pada bu Nadirah dan pak Dirga.
Sesaat setelah berada di dalam mobil, Azzura melirik Genta sekilas yang tampak mulai menghidupkan mesin mobil.
"Mas ... apa Mas akan langsung berangkat tugas?" tanyanya.
"Iya ..." jawab Genta dengan seulas senyum.
Azzura mengangguk. Entah mengapa ia sedikit gugup saat menatap Genta berpakaian dinas lengkap dengan topi baretnya.
Seragam khas TNI AU yang terbalut di tubuhnya, tentu saja memperlihatkan dengan jelas tubuh sempurna-nya. Terlihat sangat gagah dan berwibawa.
Astaghfirullah ... kenapa aku jadi gugup begini?
Azzura membatin lalu menatap keluar jendela mobil.
Suara canda tawa Ayya dan Devan di kursi penumpang membuat suasana di dalam mobil itu terasa rame. Sesekali ia menoleh ke belakang lalu tersenyum.
Tepat jam tujuh tiga puluh, akhirnya mereka tiba juga di TK Dirgantara, setelah sebelumnya Genta terlebih dulu mengantar Ayya ke sekolahnya.
Sambil menggendong Devan, Genta dan Azzura tampak berjalan saling bersisian. Ia mengantar keduanya hingga di depan kelasnya mengajar.
"Sudah sampai," desis Genta lalu mengecup Devan kemudian menurunkannya.
Ia pun berjongkok sambil memegang kedua tangan mungil sang putra.
"Sayang ... jangan nakal-nakal ya. Kita akan bertemu lagi Minggu depan," kata Genta.
"Iya, Ayah," balas Devan. Setelah itu ia kembali berdiri lalu menatap Azzura. Terasa berat ingin meninggalkan gadis itu.
__ADS_1
"Mas ... hati-hati ya," ucap Zu dan di jawab dengan anggukan kepala oleh Genta.
"Jaga dirimu dan anak-anak. Jika ada sesuatu hubungi aku dan minta bantuan dari ayah," pesan Genta.
"Iya, Mas," sahutnya. "Sudah ... berangkat gih," suruhnya lalu terkekeh karena Genta terus menatapnya.
"Ah ... iya," jawab Genta dan sedikit salah tingkah sambil membenarkan topi baretnya.
Setelah mengecup Devan dan berpamitan, dengan berat hati ia pun meninggalkan Azzura. Sesaat setelah berada di dalam mobil, ia menghubungi seseorang untuk membersihkan rumah yang akan ditempati Azzura dan bi Titin.
.
.
.
.
Menjelang siang di salah satu perusahaan cabang milik daddy Kheil, tampak Close sedang menyambangi perusahaan itu.
Ia langsung ke ruangan meeting. Tampak kepala di bagian divisi masing-masing sedang menunggunya.
Dengan wajah datar tanpa senyum sedikitpun dan terkesan dingin, mereka tampak gugup seolah tak berani mengeluarkan suara.
Close langsung menuju ke kursi yang telah disediakan. Tanpa mengeluarkan suara ia meraih beberapa berkas penting dari Fatur sang asisten kepercayaan tuan Kheil di perusahaan itu.
Wajahnya tampak serius mengamati laporan keuangan yang ternyata banyak penyelewengan setelah mencocokan dengan hasil laporan yang ia dapatkan dari Fatur.
"Siapa kepala bendahara yang menangani masalah keuangan di perusahaan ini?"
Satu pertanyaan itu memenuhi seisi ruangan meeting. Nada Close yang terkesan dingin ditambah lagi dengan wajah tak bersahabat, seketika membuat ruangan itu seolah mencekam.
"Jawab!!! Siapa!!!" bentaknya disertai dengan gebrakan meja yang cukup keras.
Sontak saja ulahnya itu membuat karyawannya kaget dan semakin gugup.
"Pak Mail, Tuan," jawab salah satu kepala divisi pemasaran sambil mengarahkan telunjuknya pada pria itu.
"Apa kamu tahu? Ulahmu itu sudah membuat perusahaan ini menderita kerugian besar!!" bentaknya.
"Maafkan saya, Tuan," ucapnya dengan kepala tertunduk.
"Maaf?! Kamu bilang maaf!! It's that easy for you to say sorry?!" geram Close. "Nggak ada ampunan bagi orang seperti kamu. Sekali korupsi seterusnya akan seperti itu. Silakan kemasi barang-barang kamu dan segera angkat kaki dari perusahaan ini. Aku sudah nggak membutuhkan orang seperti kamu?!" tegas Close tanpa ampun.
"Tuan, berikan saya kesempatan. Saya tidak akan melakukannya lagi, tolong Tuan, kasian anak istri saya," mohon pak Mail sambil memegang kaki Close.
Close hanya menatap pak Mail dan sama sekali tak menggubrisnya melainkan meninggalkan pria itu dan kembali duduk di kursinya semula.
Ia pun memberi isyarat pada Fatur supaya menghubungi pihak keamanan kantor untuk menyeret pak Mail yang masih berada di ruangan itu sambil memohon.
Ia kembali memeriksa semua berkas laporan dari masing-masing divisi kantor. Ia sama sekali tak memperdulikan permohonan pak Mail, yang kini telah dibawa keluar secara paksa oleh pihak keamanan.
Kurang lebih satu jam setengah ia berada di ruangan meeting dan kembali merombak semua peraturan perusahaan.
Lagi-lagi ketegasan dari penerus B.L Corp itu membuat masing-masing kepala divisi kantor tak berkutik, melainkan hanya bisa pasrah menerima semua keputusan yang telah Close putuskan.
Setelah menyelesaikan masalah perusahaan, ia pun meninggalkan ruangan meeting itu dan memilih ke ruangan kerjanya.
Sesaat setelah berada di ruangannya, ia langsung menghempaskan bokongnya di kursi kerja sambil memijat keningnya yang tiba-tiba saja terasa pening.
Ia pun merogoh kantong jasnya lalu mengeluarkan rokok dan obatnya yang sampai saat ini masih di konsumsinya.
Setelah meminum obat, ia kemudian membakar rokoknya lalu menyesapnya dalam-dalam. Sedetik kemudian ia beranjak dan menghampiri kaca besar ruangannya sambil memperhatikan kota M dari tempatnya berdiri.
"Bisa-bisanya dia korupsi? Untuk apa uang sebanyak itu?" pikirnya. Ia kembali menyesap rokoknya dan kembali larut dengan pikirannya.
.
.
__ADS_1
.
.
Sementara di sekolahan, Azzura tampak sedang menemani beberapa siswa siswinya menunggu jemputan di temani dengan sang putra yang terus bermain dengan beberapa siswanya.
Bocah menggemaskan itu sangat disenangi oleh siswa dan juga teman seprofesinya. Bagaimana tidak wajah blasteran Devan sangat mendominasi bocah itu.
Saat sedang asik menemani anak didiknya, bu Nadirah menghampirinya sekaligus menegurnya.
"Zu ..."
Azzura langsung menoleh lalu mengulas senyum menatap bu Nadirah.
"Mama, apa Ayya sudah pulangan? Tapi ini baru jam sebelas?" sahutnya.
"Belum, mama ingin menjemput Devan sekalian menunggu Ayya di sekolahan," kata bu Nadirah.
"Apa nggak merepotkan Mama?" tanya Zu.
Bu Nadirah menggelengkan kepalanya lalu tersenyum.
"Omaaaa ..." panggil Devan sambil berlari kecil menghampiri bu Nadirah.
Bu Nadirah langsung tersenyum lalu menggendongnya sesaat setelah ia mendekat.
"Sayang, mau nggak ikut Oma ke sekolahan Kak Ayya," tanya bu Nadirah sekaligus mengajaknya. Devan mengangguk lalu melirik sang bunda seolah meminta persetujuan darinya.
"Bundaaaa ... boleh ya?" pintanya.
"Boleh Sayang. Bunda izinkan," kata Zu.
Devan langsung tersenyum. Setelah itu bu Nadirah pun kembali berpamitan pada Azzura lalu membawa Devan ke mobil
Satu jam berlalu ...
Setelah memesan taksi online dan meminta bang supir mengantarnya ke Garini Cafe milik bu Nadirah ia pun tampak sedang memasuki cafe lalu menyapa para karyawan dengan ramah.
"Mbak, dedek Devan nggak dibawa?" tanya Noni salah satu pelayan cafe.
"Nggak ... dedek Devan ada sama mama," jawab Zu dengan seulas senyum.
"Kebetulan Mbak saat ini lagi di sini, aku boleh minta tolong nggak?" tanya Noni sambil cengengesan.
"Boleh kok, nggak masalah," jawab Zu dengan tulus.
"Tolong bawain pesanan ini ke ruangan VIP, Mbak. Aku nggak PD, Mbak. Soalnya mereka terlihat seperti bukan orang sembarangan," jelas Noni.
"Harusnya kamu PD dong, siapa tahu salah satu dari mereka tertarik padamu," goda Zu lalu terkekeh.
Noni tersipu malu lalu memberikan nampan itu pada Azzura. Ia pun meminta Azzura mengantar pesanan itu di lantai dua ruangan VIP nomor tiga.
Azzura mengangguk lalu membawa nampan itu menuju tempat si pemesan. Sesaat setelah tiba di tempat yang di maksud, Azzura mengetuk pintu lalu membukanya.
Begitu pintu terbuka mereka yang ada di dalam ruangan itu langsung menoleh ke arahnya.
"Azzura ..."
"Gadis itu ..."
"Cl-Cl-Close ..." sebut Zu terbata sekaligus kaget.
Pertemuan tak terduga itu seketika membuat Azzura terkejut bukan kepalang. Bukan hanya dirinya, tapi Close dan juga pria satunya yang tak lain adalah Johan, ayah biologis Devan.
Setelah meletakkan nampan berisi makanan itu di atas meja, Azzura langsung buru-buru meninggalkan tempat itu.
...----------------...
Jangan lupa masukkan sebagai favorit ya π Bantu like dan vote setidaknya readers terkasih telah membantu ikut mempromosikan karya author. Terima kasih ... πβΊοΈπ
__ADS_1
Readers terkasih ... untuk beberapa hari ke depan aku g up dulu ya, soalnya mau menyelesaikan novel yang satunya. Setelah itu baru fokus ke novel ini. Terima kasih ... salam hangat penuh cinta buat kalian semua ππππ