Retaknya Sebuah Kaca

Retaknya Sebuah Kaca
Bab 78: Mengetahui kenyataan yang sebenarnya ...


__ADS_3

Sesaat setelah keluar dari mobil, tak lama berselang, sang adik yang baru saja keluar dari pintu rumah langsung menghampiri keduanya.


"Bang, Azzura," sapanya lalu menatap Devan yang masih tertidur dalam gendongan Azzura.


"Apa Nella masih ada pasien?" tanya Genta.


Bukannya menjawab Galuh langsung merangkul sang kakak lalu berbisik, "Wah, ada apa ini, Bang? Tumben-tumbennya Abang kemari masih dengan pakaian dinas?"


"Ck ... bukan urusanmu. Lain yang ditanya, lain juga yang dijawabnya. Anak ini," kesal Genta lalu melepas rangkulan tangan adiknya.


"Pppfff ... hahahaha." Galuh langsung tertawa melihat wajah kesal genta.


Sedangkan Azzura sejak tadi sudah masuk ke ruang tunggu sambil menunggu antrian. Dalam diam ia terus menatap wajah Devan sambil sesekali mengelusnya.


Selang beberapa menit menunggu, akhirnya gilirannya tiba juga. Ia pun masuk ke ruang praktek Nella.


"Zu." Nella langsung berdiri lalu menghampirinya dan memintanya membaringkan Devan di bed pasien. "Panas banget badannya," kata Nella. "Sejak kapan ini, Zu?" tanyanya sambil memeriksa bocah itu.


"Tadi siang, Kak."


"Kenapa nggak langsung ke rumah sakit saja tadi siang?" cecar Nella sedikit khawatir.


"Ayaaah ..." lirih Devan.


"Sebentar ya, Sayang. Mama periksa dulu," kata Nella lalu mengelus pipinya. Selesai memeriksa Devan, ia langsung menggendongnya. "Zu, Dev demam tinggi itulah mengapa dia terlihat gelisah dan rewel. Tapi nggak usah khawatir, aku akan memberikan obat dan plester penurun demam. Nanti tempelkan di keningnya," jelas Nella.


"Iya, Kak."


Tak lama berselang Genta dan Galuh masuk ke ruangan praktek itu lalu menyapa keduanya.


Setelah itu, Nella mengisyaratkan supaya Genta menggendong putranya.


"Ayaaah," panggil Devan dengan suara lirih.


"Ya, ini ayah. Tenanglah," bisiknya lalu mengecupnya yang kini sudah berada dalam dekapannya.


"Sayang, sebaiknya kamu tutup saja. Lagian sudah nggak ada pasien," cetus Galuh.


Nella hanya mengangguk dan memberi isyarat pada asistennya untuk segera menutup ruangan khusus praktek.


Setelah itu, mereka memutuskan ke rumah Nella yang hanya bersebelahan dengan tempat prakteknya.


Sesaat setelah berada di ruang santai, Galuh menatap keduanya.


"Zu, kenapa kamu nggak menghubungi kami saja tadi siang? Padahal aku dan Nella seharian di rumah sakit," cecar Galuh sambil geleng-geleng kepala.


"Maaf Kak, aku nggak sampai kepikiran," aku Zu sambil menunduk.


Hening sejenak sebelum akhirnya dua suara anak-anak memanggil Devan dan berlari ke arah mereka.


"Dedek Devan!!" Novia dan Ganenra langsung duduk di samping Azzura dan Genta, sesaat setelah keduanya mendekati sofa.

__ADS_1


"Bunda, dedek Devan kenapa?" tanya Ganenra.


"Dedek Devan, demam Sayang," jawab Zu. "Kalian habis ngaji ya?" Azzura balik bertanya dan keduanya hanya mengangguk. "Anak shaleh dan shalehah," puji Zu seraya mengelus kepala keduanya.


Obrolan santai mereka terus berlanjut sebelum akhirnya Azzura dan Genta kembali berpamitan. Apalagi malam semakin larut.


.


.


.


.


Di salah satu bar kota M, tampak Close, Johan dan Fatur sedang duduk di salah satu meja bar yang ada di lantai dua.


Saat sedang asik merokok, ekor matanya tak sengaja menangkap sosok yang tak asing baginya.


"Laras?" desisnya. "Apa dia tahu Azzura juga ada di kota ini? Setahuku mereka berteman satu jurusan waktu itu?" desisnya lagi lalu menatap Johan.


"Ada apa?"


"Johan apa kamu mengenal gadis itu?" ia menunjuk Laras yang sedang mengobrol dengan seorang pria.


Johan mengikuti arah pandangan Close.


"Itu Laras, pemegang saham sekaligus owner LC club' malam ini," jelas Johan.


"Johan, Fatur aku ke bawah dulu ya?" izinnya.


Sesaat setelah berada di lantai satu ia langsung menghampiri gadis itu yang masih tampak asik mengobrol.


"May i join?"


Sontak saja kehadirannya membuat Laras terpaku ditempat lalu menatapnya lekat.


"Close? Apa kamu Close?" tanya Laras ingin memastikan lalu menatap pria yang sedang mengobrol dengannya.


"Laras, kalau begitu aku tinggal ya," pamit pria itu dan dijawab dengan anggukan.


Laras ikut duduk di kursi meja bartender lalu kembali menatap Close dengan seksama.


"Hai ... long time no see you Close. Tapi kamu beneran Close kan?" tanyanya sekali lagi.


"Ya. Ini aku Close teman kampusmu dan Azzura."


Mendengar nama Azzura, Laras langsung memutar bola matanya malas.


Ini bahkan sudah puluhan tahun tapi tetap saja dia masih mengingat gadis itu. Menyebalkan banget!!


"Apa kabar Close? Sepertinya aku baru melihatmu menjadi pengunjung di bar ini?"

__ADS_1


"Ya." Ia membakar rokoknya lalu menyesapnya. "Kebetulan ada sedikit masalah perusahaan di sini, jadi aku sekalian berlibur," sahutnya.


Laras hanya manggut-manggut sambil terus menatap pria blasteran itu. Ia tak bisa membohongi hatinya jika sampai detik ini ia masih mengharapkan Close membalas cintanya.


"Oh ya, Laras. Apa kamu dan Azzura biasa bertemu?"


Seketika alis Laras bertaut dan lagi-lagi merasa kesal mendengar Close menyebut nama Azzura.


"Maksudmu?" ketusnya. "Kenapa sih, kamu masih saja membahasnya! Sejak lulus kuliah hingga detik ini aku dan gadis itu sudah nggak pernah bertemu!" tegasnya.


Sontak saja jawaban dari Laras membuatnya terkejut.


"Apa kamu sama sekali nggak tahu jika dia juga tinggal di kota ini? Sekarang dia malah menjadi guru di salah satu TK elit Kota ini."


"Apa?!! Yang benar saja." Laras tersenyum sinis seolah tak suka.


Aku benci gadis itu. Dia selalu saja menjadi batu sandungan bagiku. Bahkan sejak dulu.


Keduanya kembali terdiam dan larut dengan pikirannya masing-masing. Sesekali Laras mencuri pandang menatap Close.


"Close, apa kamu masih mencintai Azzura?" Laras membuka suara.


"Bukan masih tapi tetap mencintainya bahkan aku masih berusaha membujuknya untuk rujuk kembali?"


"What?!!! Apa itu artinya kalian sudah pernah menikah? Kapan dan di mana? Kenapa aku nggak diundang?"


Close mengangguk lalu menceritakan yang sejujurnya pada Laras. Sontak saja Laras kembali terkejut dan tak menyangka.


Namun ia merasa seperti mendapat angin segar setelah tahu kisah yang sebenarnya.


"Sudahlah, sebaiknya lupakan saja Azzura. Toh, kamu sudah terlanjur menyakitinya. Masih banyak wanita lain," kata Laras lalu menggenggam tangannya.


"Sulit bagiku untuk melupakannya," aku Close.


"Apa sih, istimewanya Azzura!!!" kesal Laras karena Close masih saja berharap padanya. "Apa kamu tahu?! Aku sengaja menghapus pesan yang kamu kirimkan waktu itu supaya kalian nggak bertemu," aku Laras dengan perasaan dongkol.


Tak pelak, pengakuan Laras sontak membuat Close terkejut bukan kepalang.


"Aku sengaja melakukannya karena aku mencintaimu Close," aku Laras lagi dan semakin mengeratkan genggaman tangannya.


Seketika ingatannya kembali berputar tiga tahun yang lalu. Azzura mengatakan dia sama sekali tak pernah menerima pesan itu dan sempat menitip tas dan ponselnya pada Laras.


Seketika rahangnya mengetat, mengetahui kenyataan yang sebenarnya. Ia menghempas genggaman tangannya dari Laras.


"Apa kamu tahu? Perbuatanmu itu telah menciptakan kesalahpahaman di antara kami selama bertahun-tahun. Bahkan membuatku membencinya. Aku nggak menyangka teman yang selama ini Azzura anggap begitu baik ternyata tak ubahnya MUSUH DALAM SELIMUT, IBARAT SERIGALA BERBULU DOMBA!"pungkas Close sekaligus menekan kalimat perumpamaan.


Dengan perasaan geram, ia meninggalkan Laras.


"Close!!! Tunggu!!!" pekiknya lalu menyusulnya.


Namun Close tak menghiraukannya melainkan terus melanjutkan langkahnya menuju pintu keluar bar.

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2