
Seolah tak menghiraukan isakkan dan teriakkan histeris Azzura yang memintanya menjauhinya, pria itu langsung berjongkok lalu memaksanya menatapnya.
"Azzura!! Ini aku, Yoga," sentaknya sambil memegang kepala gadis itu lalu memeluknya dengan perasaan iba.
"Yoga??" sahut Zu dengan suara bergetar.
Azzura balas mendekapnya erat dengan tubuh yang masih bergetar. Saking merasakan ketakutan, ia seolah tak ingin melepas dekapannya dari sang psikolog.
Tak lama berselang, penglihatannya mulai memburam dan perlahan tangan yang begitu erat memeluk Yoga perlahan terjatuh.
"Zu!! Azzura!!" panggil Yoga dengan perasaan khawatir serta panik. Tanpa banyak bicara, Yoga langsung menggendongnya lalu membawanya ke mobil.
Setelah membaringkan Azzura di kursi mobil, ia langsung menghubungi Radit dan Nanda supaya menemuinya di jalan xxx.
Sambil menunggu, Yoga kembali menatap Azzura di dalam mobilnya dan tampak berpikir. Sebenarnya apa yang terjadi dengan gadis berhijab itu? Dua minggu terakhir ia terlihat sudah jauh lebih baik. Tapi saat mendapatinya tadi seperti orang ketakutan, Yoga kembali menerka-nerka.
"Apa Close menyakitinya lagi? Pria brengsek itu ..." geramnya lalu membuka pintu mobil kemudian memeriksa kening dan lengan Azzura.
Namun tanda-tanda kekerasan tak tampak di kulit putihnya. Bukan tanpa alasan karena kulit Azzura cukup sensitif. Sedikit saja terkena benturan maka akan langsung meninggalkan bekas.
Yoga menghela nafas. "Pasti ada sesuatu yang membuatnya langsung merasakan trauma dan otomatis memori ingatannya tentang kekerasan kembali menghantuinya," desis Yoga lalu kembali menutup pintu mobil.
Setelah menunggu kurang lebih dua puluh lima menit, akhirnya Radit tiba juga kemudian tak lama berselang Nanda menyusul.
Ketika melihat motor sahabatnya itu, Nanda langsung diselimuti rasa khawatir. Ia menerka jika Azzura mengalami kecelakaan.
"Yoga?!" sapanya lalu menghampiri Yoga yang sedang bersandar di bumper mobilnya. "Apa Azzura kecelakaan? Lalu di mana dia? Apa dia baik-baik saja?" cecarnya dengan raut wajah cemas dengan mata berkaca-kaca.
"Nggak, nanti saja aku jelaskan. Sebaiknya kita ke apartemenku saja dulu," kata Yoga seolah tahu apa yang sedang dipikirkan oleh sahabat Azzura itu.
Sedangkan Radit hanya bisa menyimak karena merasa bingung dengan keduanya. Di tambah lagi ketika mendapati motor Azzura yang seperti tak asing baginya.
Sepertinya ini motor istri ex boss-nya Yoga? Tapi kenapa bisa? Lalu orangnya di mana?
Radit membatin dan ekor matanya tak sengaja terarah ke dalam mobil, di mana Azzura tampak tertidur.
"Dit, kamu dan Nanda ikut aku ke apartemen," perintahnya. "Mobilmu dan motor Nanda biar tukang derek yang antar ke apartemen. Kamu pakai motor Azzura saja berboncengan dengan Nanda," tegasnya seolah tidak ingin di bantah.
Tadinya ia ingin protes, namun melihat raut wajah serius Yoga, ia tak berani memprotes. Mau tak mau ia terpaksa mengikuti perintah atasannya itu.
Sepeninggal Yoga, ia dan Nanda sama-sama terlihat canggung.
"Mas, pakai helem aku saja. Aku pakai helm Azzura," tawar Nanda dengan sedikit canggung.
"Baiklah," sahut Radit. Setelah petugas derek datang, Radit memberikan alamat supaya mengantar kendaraannya dan Nanda di alamat yang ia berikan. Setelah itu ia mengajak Nanda ikut bersamanya.
*
*
__ADS_1
*
Kediaman Close ...
Close terus menatap pecahan guci bunga yang berserakan di lantai lalu mengarahkan pandangannya ke arah pintu utama.
Ia sudah bisa menebak jika Azzura lah yang datang tadi. Ia kembali larut dalam lamunannya namun tersadar ketika Laura memeluknya dari belakang.
"Sayang, ada apa?" bisik Laura. Sedetik kemudian matanya membulat ketika mendapati pecahan guci bunga besar di ruangan itu berserakan di lantai. Ia semakin terkejut ketika melihat pintu utama terbuka.
Keningnya langsung mengerut lalu tersenyum sinis. "Pasti si gadis barista yang datang tadi. Baguslah jika dia memergokiku dan Close lagi bercinta. Biar dia semakin tahu diri jika Close lebih memilih diriku," batin Laura penuh percaya diri.
"Sayang, tidur yuk. Biarkan saja pecahan itu. Besok kita bisa meminta tukang bersih-bersih membereskan pecahan guci itu," kata Laura.
"Hmm ..." jawab Close lalu mengajaknya kembali ke kamar.
Sesaat setelah berada di kamarnya, ia meminta Laura tidur lebih dulu karena ia ingin menyesap rokoknya. Dengan patuh Laura menurut lalu berbaring.
Sedangkan Close, ia langsung ke balkon kamar menyesap rokoknya dan sesekali memijat kening dan pangkal hidungnya.
Tiga puluh menit berlalu ...
Close kembali ke kamarnya lalu menatap Laura yang sudah tertidur nyenyak. Ia pun ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya dari sisa-sisa percintaannya dengan gadis itu.
Selang beberapa menit kemudian, ia pun tampak sudah rapi dengan pakaian kasual. Tanpa menghiraukan Laura yang kini sudah terbawa ke alam mimpi, ia bergegas meninggalkan kamar itu menuju halaman parkir rumahnya.
Tujuannya sudah pasti ke rumah sang istri. Ketika dalam perjalanan, benaknya terus dipenuhi dengan wajah istrinya. Seketika perasaan takut dengan penolakan istrinya membuat tubuhnya membeku.
*
*
*
Apartemen Yoga ...
Setelah membaringkan Azzura di ranjangnya, Yoga menatap lekat wajah pucat Azzura sembari mengelus jemarinya.
Tak lama berselang, Nanda dan Radit menghampirinya.
"Yoga ... sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa Azzura bisa sampai seperti ini?" cecar Nanda tak kuasa menahan laju air matanya menatap sang sahabat.
"Entahlah, yang jelas saat aku melihatnya di bahu jalan tadi, Azzura terlihat seperti menghindari seseorang. Ia bahkan sempat histeris dan melarangku mendekatinya. Dia seperti ketakutan," jelas Yoga. "Sebaiknya kamu temani dia sebentar, aku ke bawah dulu," pinta Yoga lalu mengajak Radit meninggalkan kamar itu.
Sesaat setelah berada di lantai satu, Yoga langsung ke teras balkon untuk mencari angin segar. Ia langsung memejamkan matanya lalu menarik nafasnya dalam-dalam demi meredam emosinya karena mengingat Close.
Tangannya mengepal kuat dengan rahang mengetat. Sedangkan Radit yang meliriknya langsung memegang kepalan tangannya. Ia tahu jika saat ini Yoga dalam keadaan marah.
"Yoga ... tenangkan dirimu serta kontrol emosimu," pesan Radit lalu merangkul bahu sahabatnya itu.
__ADS_1
"Aku nggak bisa menahan emosiku bahkan nggak bisa tenang jika Close masih menyakiti Azzura," sahutnya dengan perasaan geram. "Entah apa sebenarnya yang terjadi pada Azzura tadi," sambungnya.
Radit hanya bisa mengelus punggungnya sekaligus menenangkannya. Keduanya sama-sama bergeming dan mengarahkan pandangannya ke arah yang sama.
Sedangkan di kamar Yoga, Nanda terus menatap Azzura dan sesekali memanggil namanya. Tak lama kemudian perlahan Azzura membuka matanya.
"Zu," panggil Nanda sambil memegang tangan sahabatnya.
Azzura menatapnya dan tampak kebingungan, sedetik kemudian ia memijat keningnya karena merasakan pusing.
"Zu, apa kamu baik-baik saja?" tanya Nanda dengan raut wajah cemas.
Azzura menggeleng lalu mendudukkan dirinya. "Kita di mana ini?" ia balik bertanya, sedetik kemudian ia tampak termenung.
"Kita di apartemen Yoga," jawab Nanda.
"Apa?" ia langsung menatap sahabatnya itu dengan heran.
Hening sejenak ....
Azzura tampak berpikir lalu sesekali melirik Nanda yang terus menatapnya.
"Besok aku harus bertemu daddy. Aku butuh bantuannya untuk mempercepat proses perceraianku dengan Close. Setelah itu, aku akan segera meninggalkan kota ini. Biarkan pengacara daddy yang mewakiliku ketika sidang. Rasanya aku sudah nggak kuat." Azzura membatin pilu lalu menyeka air matanya.
"Nanda ... " lirihnya seraya memeluk sahabatnya dengan erat. "Kita harus berpisah dalam waktu yang cukup lama," lirihnya lagi sambil menangis. "Kamu satu-satunya sahabat terbaikku dan selamanya akan tetap sama. Insya Allah suatu saat kita pasti akan bertemu lagi," pungkasnya lalu mengurai dekapannya.
"Zu," lirih Nanda tak kuasa menahan air matanya mendengar ucapan sahabatnya. "Pergilah Zu, menjauhlah dan tinggalkan saja pria brengsek itu. Aku nggak masalah jika kita akan berpisah demi ketenangan dan kebahagiaan dirimu," kata Nanda . "Berjanjilah, komunikasi kita jangan sampai terputus. Sering-seringlah menghubungiku," pinta Nanda dengan suara bergetar merasakan kesedihan yang mendalam.
Azzura hanya mengangguk. Tak lama berselang Yoga dan Radit menyapa Keduanya.
"Zu, Nanda."
"Yoga ..." sahut Zu.
Yoga berdiri di hadapannya dan Nanda lalu bertanya padanya, sebenarnya apa yang terjadi pada dirinya.
Ia pun menjelaskan pokok perkara sebenarnya tanpa ada yang ia sembunyikan sambil tertunduk.
Setelah mendengar penjelasan Azzura, bukan hanya Nanda yang merasa geram tapi juga Yoga dan Radit.
"Pria brengsek, menjijikkan," maki Yoga dengan emosi yang memuncak. "Malam ini kamu menginap di sini saja di temani Nanda," tegasnya. "Aku akan menginap di rumah bunda," sambungnya.
"Tapi ..."
"Nggak ada tapi-tapi, Zu!" tegasnya lagi. "Besok saja kamu pulang, lagian ini sudah larut."
Setelah menyelesaikan kalimatnya, Yoga langsung mengajak Radit meninggalkan kamar itu dan mengajaknya pulang.
...****************...
__ADS_1
Jangan lupa masukkan sebagai favorit ya π Bantu like dan vote setidaknya readers terkasih telah membantu ikut mempromosikan karya author. Terima kasih ... πβΊοΈπ