
"Apa kamu akan terus menangis seperti ini? Nggak malu apa sama Dev? Dasar cengeng, pasti hidungnya sudah meler," kelakar Genta demi mencairkan suasana.
Mendengar ucapan Genta, Azzura langsung melepas kedua tangannya yang sejak tadi memeluknya dan Devan.
Memegang hidungnya lalu menatapnya dengan mata menyipit karena merasa dikerjai.
"Iiiiihhh ... Mas!" kesalnya lalu mencubit perut liatnya hingga membuat Genta meringis sekaligus terkekeh.
"Bundaa, kenapa menangis." Pertanyaan polos itu lolos begitu saja dari bibir mungil sang putra.
Azzura tersenyum tipis seraya mengelus pipinya.
"Nggak apa-apa, Sayang. Bunda sedih sekaligus bahagia. Sayang, nggak selamanya orang yang menangis itu sedang bersedih begitupun sebaliknya."
Devan hanya memandanginya karena mau dijelaskan bagaimana pun tetap saja bocah itu belum mengerti apa-apa.
Sambil menyandarkan kepalanya di ceruk leher sang ayah, Devan menyentuh pipi sang bunda.
"Mas, sebaiknya kalian duduk di luar dulu, aku ingin membersihkan ruangan ini."
"Biar aku bantu, Devan biar di luar saja sama Lulu."
Tahu jika Azzura ingin protes, Genta segera membawa Devan keluar lalu meminta Lulu mengajaknya bermain sebentar.
Setelah itu Genta kembali ke ruang kerja Azzura lalu membantunya membersihkan sisa-sisa pecahan kaca yang berserakan di lantai.
"Zu, hati-hati," peringat Genta merasa khawatir.
"Iya, Mas," sahutnya.
Setelah itu keduanya kembali fokus membersihkan pecahan kaca itu.
Sebenarnya banyak yang ingin Genta tanyakan pada gadis itu namun ia tetap menahan diri dan menunggu waktu yang tepat.
Beberapa menit berlalu setelah ruangan itu bersih keduanya duduk beristirahat di kursi tamu.
"Terima kasih ya, Mas. Maaf ... aku selalu merepotkanmu."
"Nggak apa-apa," jawab Genta dengan senyum tipis.
"Setiap kali melihat air matamu menetes, rasanya aku ikut merasakan sakit. Percayalah setelah ini air mata itu nggak akan menetes lagi kecuali menetes karena kebahagiaan," kata Genta dalam hatinya sambil memandangi wajah sendu calon istrinya itu.
.
.
.
Beberapa jam berlalu ....
__ADS_1
Di salah satu kamar resort miliknya, Close tampak sedang berdiri di teras balkon sambil memandang ke arah laut.
"Lihatlah kaca yang sudah pecah ini. Tadinya ia terlihat utuh dan baik-baik saja tanpa goresan. Ia memang masih bisa disatukan dan kembali seperti semula tapi apakah akan sama seperti sebelumnya?"
"Nggak kan? Nggak akan sama seperti sebelumnya. Apakah kamu bisa mengembalikan diriku seperti sebelumnya? Nggak kan? Layaknya kaca ini seberapa keras pun kamu ingin memperbaikinya, menutup goresan retaknya namun tetap saja goresan retaknya tetap terlihat."
"Layaknya luka bekas sayatan, selamanya ia akan tetap membekas dan nggak akan pernah hilang."
Ucapan itu masih terus terngiang-ngiang dengan jelas di telinganya. Ia mencengkram pagar besi pembatas dengan wajah tertunduk.
Air mata yang sedari tadi ditahannya tak bisa terbendung lagi, ia terisak. Ucapan Azzura tadi sudah cukup menggambarkan jika gadis itu layaknya kaca dan luka sayatan yang sudah pecah dan terluka.
Kini ia menyadari betapa rapuhnya gadis itu akibat dari semua perbuatan, kelakuan dan ucapannya.
Walaupun Azzura telah memaafkan dirinya tak menyimpan dendam, namun tetap saja ia masih belum bisa menerima kenyataan.
"Aaaarrrggghhhhhh!!!!
Ia berteriak sekuat mungkin melepaskan semua uneg-unegnya hingga ia merasa puas.
"Laras ... Laura ... kedua wanita nggak tahu diri itu benar-benar membuatku berada di jalan yang salah."
Ia kembali menerawang jauh saat masih bersama selingkuhannya itu. Bahkan karena hasutannya itu, Azzura menjadi sasaran empuk tempatnya melampiaskan amarahnya.
Namun sekarang gadis itu sudah mendapat ganjaran yang setimpal. Saat ini ia masih berjuang melawan kanker serviks yang dideritanya.
"Laras, bisa-bisanya gadis itu berbuat nekat. Andai saja bukan karenanya aku dan Azzura mungkin sudah bahagia dan memiliki anak saat ini," gumamnya.
"Siapa pria yang dimaksud? Apakah Yoga atau ayahnya?" tebaknya. "Kenapa aku sampai lupa menanyakan hal itu padanya tadi? Lalu ... bocah tadi siapa? Apa putra dari calon suaminya? Tapi wajahnya nggak mirip?"
Close terus menerka-nerka sekaligus penasaran. Ia memejamkan matanya lalu menarik nafasnya dalam-dalam.
"Azzura ... rasanya aku masih belum bisa menerima kenyataan ini. Ini bagaikan mimpi buruk."
.
.
.
Kediaman Azzura ...
"Bi ... aku ingin beristirahat sebentar, kepalaku rasanya berat banget. Aku titip Dev dan Ayya sebentar ya?" pesannya dengan suara lirih menahan nyeri di kepalanya.
"Baiklah. Istirahatlah, Nak, nggak usah khawatir," sahut bi Titin menatap iba padanya.
"Terima kasih ya, Bi," ucapnya lalu berbaring di ranjang.
Bi Titin hanya mengangguk, setelah itu ia pun meninggalkan kamar lalu menuruni anak tangga.
__ADS_1
Ia kembali melanjutkan langkahnya ke ruangan santai sambil mengawasi Ayya yang sedang belajar. Sedangkan Devan sedang berbaring sambil menonton kartun kesukaannya.
Bi Titin terus memandangi kedua bocah itu lalu tersenyum.
"Beruntung sekali bocah-bocah ini memiliki Azzura. Walaupun keduanya nggak memiliki hubungan darah namun gadis itu sangat menyayangi keduanya. Bahkan selalu mengajari hal-hal baik," gumam bi Titin.
Ia pun mendekati kedua bocah itu lalu mengelus kepalanya. Tiba-tiba saja mata bi Titin berkaca-kaca saat menatap Devan.
"Nak Nina, bibi sangat bersyukur karena putramu berada di tangan yang tepat. Bibi sudah bisa membayangkan jika Devan tumbuh dewasa, dia pasti menjadi pria yang baik berkat didikan dari nak Azzura dan nak Genta."
Ba'da Asar ...
Genta mengajak mereka ke resort tempat di mana saat pertama kali ia mengajak Azzura ke tempat itu.
Sesaat setelah tiba di resort itu, seketika Azzura langsung terkenang Nina.
"Bunda, Ayah, Bibi, ayo!" desak Ayya yang sudah tak sabaran ingin bermain pasir.
Ia memegang tangan sang adik sambil mengayunkan langkah bersama ditemani bi Titin.
Tawa keduanya langsung terdengar nyaring saking senangnya. Tanpa memperdulikan ayah dan bundanya Ayya dan Devan langsung duduk di pasir sambil bermain.
Tak pelak tingkah kedua-nya itu seketika membuat Azzura dan Genta tersenyum. Sedangkan bi Titin mau tak mau ikut duduk di pasir sambil menemani keduanya bermain.
"Zu tunggu di sini sebentar ya, aku pesan sesuatu dulu," pinta Genta dan dijawab dengan anggukan kepalanya.
Ia pun mengarahkan langkah kakinya ke salah satu gazebo yang tak jauh jaraknya dari anak-anaknya bermain.
Memejamkan matanya sambil menghirup udara dalam-dalam, merasakan angin semilir yang menerpanya sekaligus mendengarkan suara deru ombak di pantai itu.
Sejenak membuat hatinya tenang, damai dan tentram. "Nina ... andai saja saat ini kamu masih ada, tentu kamu akan ikut merasa bahagia." Ia berkata lirih dalam hatinya.
"Zu ..."
Perlahan ia membuka matanya lalu menoleh ke arah sumber suara.
"Mas ..."
Entah mungkin karena terbawa suasana yang tenang sambil memandangi air laut, ditambah lagi saat merasakan angin sepoi-sepoi, perlahan ia menyandarkan kepalanya di pundak Genta.
Kembali ia memejamkan matanya karena merasakan ketenangan. Ulahnya itu tentu saja membuat dada Genta semakin berdebar kencang.
"Terima kasih, Mas karena mencintaiku dengan tulus walaupun aku bukanlah wanita yang sempurna. Aku nggak pernah menyangka jika akhirnya hati dan cinta ini akan berlabuh di hatimu."
"Zu ..." bisik Genta sekaligus merasa terharu mendengar ucapan tulus gadis itu.
Tanpa mereka sadari dari kejauhan Close hanya bisa menatap nanar pasangan sejoli itu. Tangannya seketika terkepal kuat. 😝🤭✌️
...----------------...
__ADS_1
Jangan lupa kasih jempol ya, jika berkenan beri komentar n vote ya biar popnya cepat naik guys.
Maaf ngarep banget 🤭😅✌️