
Azzura tak menjawab melainkan langsung memeluk erat tubuh suaminya lalu menangis.
Lagi ... pemandangan itu semakin membuat hati, Yoga, Close, pak Prasetya seolah teriris.
Sakit tak berdarah. Mungkin kata itu sudah cukup mewakili mereka bertiga. 😆✌️🤭
Dari salah satu kursi tamu undangan akad, sepasang mata sejak tadi seolah tak berkedip menatap keduanya.
Ya, dia adalah Intan Rameswari, mantan istri Genta sekaligus ibu kandung dari Ayya. Ada perasaan iri saat menatap keduanya yang terlihat bahagia.
Pluk ...
Pundaknya ditepuk oleh seseorang. Ia pun langsung menoleh. "Laras?!" ucapnya lirih.
"Ada apa? Kenapa wajahmu terlihat sedih?" cecar gadis itu dengan senyum sinis lalu memandangi pasangan pengantin itu.
"Nggak apa-apa." Intan menyeka air matanya.
"Jujur saja, aku nggak menyangka jika mantan suami mu itu menikah dengan gadis itu."
"Maksudmu? Apa kamu mengenal istrinya mas Genta?" tanya Intan.
"Ya, dia teman kuliahku," akunya.
Intan bergeming sambil mengarahkan pandangannya ke arah pasangan pengantin itu.
Kembali ke Genta dan Azzura ...
"Maafkan aku jika sudah membuat Mas menunggu selama tiga tahun untuk menghalalkan aku menjadi istrimu, Mas. Aku tahu itu pasti berat bagi Mas Genta," ucap lirih Zu.
Genta hanya mengulas senyum sembari mengelus punggungnya dengan sayang.
"Penantian ku nggak sia-sia karena kamu tetap memilihku sebagai imammu. Tetaplah menjadi istri dan ibu bagi anak-anak Mas hingga maut yang memisahkan kita," balas Genta lalu mengurai dekapannya kemudian menyeka air mata istrinya.
Beberapa menit kemudian mereka pun berdoa bersama dipimpin oleh pak penghulu kemudian dilanjut dengan sesi foto bersama.
Setelah itu, keduanya diarahkan ke pelaminan. Satu demi satu tamu undangan mulai menghampiri keduanya termasuk Intan dan Laras untuk memberikan ucapan selamat.
Bagi seorang Yoga, terasa berat ingin melangkah maju memberikan ucapan selamat untuk keduanya, pun begitu dengan Close.
Sedangkan pak Prasetya tetap di duduk di samping istrinya sambil menggenggam erat jemarinya.
"Close." Momy Lio dan daddy Kheil mengelus pundaknya pelan sekaligus menguatkan putra sulungnya itu.
"Kamu harus ikhlas. Walau bagaimana pun, Azzura layak bahagia. Andai saja kamu nggak memperlakukan Azzura dengan keji, mungkin saat ini kalian sudah memiliki anak. Tapi ya sudahlah, semua yang telah terjadi. Semoga menjadi pelajaran bagimu, Nak. Jangan mengulangi kesalahan yang sama."
Momy Lio menasehatinya sekaligus merasa sedih. Sedih karena harus rela kehilangan menantu sebaik Azzura. Semuanya karena ulah sang putra sendiri.
"Yuk, kita berikan ucapan selamat padanya," cetus daddy Kheil.
Dengan langkah gontai ia tetap menurut mengikuti langkah kedua orang tua dan adiknya menghampiri Azzura dan Genta.
__ADS_1
Sesaat setelah berada di pelaminan ia menjabat tangan suami Azzura lalu memeluknya seraya berbisik, "Maafkan aku karena sudah menyakiti Azzura. Jangan lakukan kesalahan seperti yang pernah aku lakukan padanya."
Genta hanya mengangguk sembari menepuk punggungnya. Setelah melepas pelukannya, Close memandangi wajah cantik ex istrinya itu. Seketika air matanya langsung menetes.
Ia memegang erat tangan Azzura seraya berucap, "Zu, sekali lagi aku minta maaf. Aku mohon jangan membenciku tapi aku mohon jadilah sahabatku."
Azzura mengangguk pelan sambil mengelus lengan ex suaminya itu. Setelah selesai bersalaman pada keduanya, Close memilih meninggalkan ballroom itu menuju ke resort-nya untuk berdamai dengan dirinya sendiri.
Ucapan selamat terus mengalir dari para tamu undangan, dari teman-teman kerja Genta dan anak didiknya.
Sedangkan Yoga yang masih betah duduk di kursi tampak sesekali menarik nafasnya. Sekuat mungkin ia menahan gemuruh di hatinya. Menahan air matanya agak tak setetes pun jatuh di hadapan Azzura dan Genta.
Ia menghirup udara sebanyak mungkin demi memenuhi pasokan oksigen ke dalam paru-paru. Perlahan ia beranjak lalu melangkah dengan gontai menghampiri pasangan pengantin itu.
"Selamat ya, Bang, Zu," ucapnya lirih seraya merangkul keduanya dengan senyum yang ia paksakan.
"Terima kasih, Yoga, aku harap setelah ini, kamu akan menyusul," balas Genta. Ia hanya mengangguk pelan sambil mengulas senyum.
Setelah memberi selamat pada keduanya, ia menghampiri Devan yang sedang berada di pangkuan pak Dirgantara.
"Hai, jagoan paman," sapanya lalu hi five. "Yuk, sama paman," cetusnya. Tanpa aba-aba, bocah itu langsung meminta digendong olehnya.
"Paman, yuk kita main lagi," ajak Devan sambil mengelus rahang tegas pria itu.
Yoga terkekeh merasa gemas. "Sekarang nggak bisa, jagoan. Soalnya kita lagi sibuk. Kapan-kapan ya."
"Beneran, paman? Nggak bohong kan? Kata bunda, bohong itu dosa," jawabnya dengan polos.
Yoga kembali terkekeh sekaligus merasa gemas. Sejenak hatinya bisa melupakan rasa sakit yang bersarang di hatinya hanya dengan mengajak Devan berbicara.
.
.
.
.
Sore harinya menjelang magrib ...
Akhirnya acara akad sekaligus resepsi itu rampung juga. Mereka hanya menggelar acara itu hingga sore hari saja.
Keduanya kini sudah berada di kamar presidential suite yang telah disiapkan. Sejak berada di kamar itu, Azzura tampak gelisah.
Melihat gerak gerik istrinya yang terlihat gelisah, seketika Genta menghampirinya lalu duduk di sampingnya.
"Sayang, ada apa? Kok kamu terlihat gelisah?"
Azzura langsung menatapnya seraya berkata, "Devan dan Ayya kok nggak dibawa ke sini sih, Mas."
Genta langsung terkekeh. Ia mengerti perasaan istrinya itu. Sehari saja tanpa kedua anaknya itu ia pasti merasa gelisah.
__ADS_1
"Sayang, sebaiknya kamu mandi dulu. Tenanglah, sebentar lagi anak-anak akan kemari."
"Mas saja yang duluan mandi," balasnya merasa gugup.
Tahu jika istrinya itu sedang gugup, Genta tersenyum penuh arti lalu berbisik sekaligus menggodanya. "Atau ... mau mandi bareng? Biar hemat waktu."
Sontak saja ucapan bernada menggoda itu, membuat sepasang mata Azzura membola sekaligus membuat pipinya merona. Bahkan jantungnya berdebar kencang.
"Mas?!" kesalnya lalu mencubit perut liat sang suami hingga membuat si sang empunya perut langsung meringis.
"Kenapa? Ada apa dengan pipimu? Kok langsung merona?" Genta semakin menggodanya lalu memegang tangannya.
Azzura semakin salah tingkah lalu menunduk malu tak berani menatap wajah suaminya.
Sedetik kemudian Genta tertawa lalu merangkulnya kemudian membenamkan kepalanya di dadanya.
"Mas hanya bercanda," bisiknya lalu mengecup puncak kepala sang istri.
Hening sejenak ...
Sebelum akhirnya pintu diketuk. Azzura pun beranjak lalu menghampiri pintu lalu membukanya.
"Sayang," sebutnya lalu berjongkok kemudian langsung memeluk kedua anaknya.
"Nak Zu, bibi sekalian pamit ya." Bi Titin lalu memeluknya lalu mengucapkan selamat. Setelah itu, ia pun berlalu meninggalkan keluarga kecil itu.
"Bundaaaa, ngantuuk," kata Devan sambil mengucek-ngucek matanya yang mulai sayu.
"Nggak nungguin bunda dan ayah dulu? Kita shalat bareng ya," bujuknya. Sedangkan Ayya sudah lebih dulu naik ke ranjang lalu rebahan.
"Sayang, biarin saja. Nggak apa-apa," kata Genta.
Setelah membaringkan Devan di samping Ayya, ia pun mengelus kepala keduanya.
"Bunda," sebut Ayya sambil memandangi wajahnya.
"Iya, Sayang."
"Setelah ini, kita akan tinggal bersama kan, Bun? Ayah nggak akan jauh-jauh lagi dari kita kan?" cecarnya dengan mata yang kini hampir tertutup.
"Iya, Sayang," bisik Zu merasa terharu.
Beberapa menit kemudian, keduanya pun tertidur dengan begitu nyenyaknya. Mungkin karena kelelahan.
Tiga puluh menit kemudian, setelah keduanya membersihkan diri, keduanya lanjut dengan shalat bersama.
Setelah selesai shalat, Azzura merasa sangat terharu saat ia mengecup punggung tangan suaminya.
Air matanya kembali menetes saat Genta membenamkan bibirnya cukup lama dan dalam di keningnya lalu membenamkan kepalanya di dadanya.
Merasa terharu sekaligus bahagia.
__ADS_1
"Sayang, apa kamu tahu? Sudah lama aku merindukan momen seperti ini. Beribadah bersamamu dan anak-anak kita," bisik Genta. "Aku mencintaimu istriku, Azzura Zahra."
...----------------...