
Apartemen Yoga ...
"Nak, mulai detik ini dan seterusnya, ibu titip Azzura padamu. Sayangilah dia, cintailah dia dan ajarilah dia jika dia berbuat salah padamu. Jangan sekali-kali berlaku kasar apalagi main tangan padanya. Sebaiknya kamu kembalikan dia pada ibu daripada kamu melakukan KDRT."
"Nak, sejak kecil Azzura kami didik dengan baik, bahkan sedikitpun ibu dan almarhum ayah tidak pernah menyakitinya apalagi membentaknya. Jadi ibu mohon perlakukanlah Azzura dengan penuh kasih sayangmu."
Ucapan beselubung pesan nasehat dan penuh makna dari bu Isma siang tadi, masih terus terngiang-ngiang di telinga Yoga.
Wajah pucat bu Isma dan wajah sendu Azzura masih terbayang di matanya. Apalagi saat memergoki Azzura menangis sambil terisak dari kejauhan. Ia merasa ada yang ganjal di hatinya.
"Azzura, apa sebenarnya yang kamu sembunyikan," desis Yoga sambil memijat pangkal hidungnya. "Sorot mata indahmu mengisyaratkan begitu banyak kesedihan di dalamnya."
"Entah mengapa aku sangat mengkhawatirkan dirimu. Aku merasa aku seperti di beri tanggung jawab dari ibumu. Pesannya begitu dalam bagiku," desisnya lagi.
Asik dengan pikirannya sendiri ia tersentak kaget saat seseorang menepuk pundaknya dengan keras.
"Yoga ... apa yang sedang kamu pikirkan."
Yoga berbalik menatap sang pemilik suara.
"Kak Farhan," lirihnya dan kembali mengarahkan pandangannya ke depan.
Sedangkan Farhan berdiri di sampingnya dengan kedua tangan ia masukkan ke dalam saku celananya.
"Nggak langsung pulang Kak?" tanya Yoga seakan mengalihkan pembicaraan.
"Nggak, kebetulan aku lewat sini, jadi sekalian mampir," jawab sang kakak dengan seulas senyum. "Kamu belum menjawabku," cecar Farhan pada sang adik.
Yoga terkekeh. "Mau tahu atau mau tahu banget," ledeknya lalu meninju kecil lengan kakaknya. "Hayooo ... penasaran yaaa..." godanya lagi.
"Apaan sih, Ga," ucapnya lalu menoyor kepala adiknya.
"Aku lagi mikirin jodoh buat Kak Farhan," godanya lalu menyenggol bahunya.
"Mikirin jodoh buatku? Apa aku nggak salah dengar? Sebaiknya kamu saja yang pikirkan jodohmu sendiri," kata Farhan lalu terkekeh dan kembali menoyor kepala adiknya.
"Zaman sekarang, cari cewek yang setia itu susah Kak, apalagi yang good attitude," imbuhnya.
"Hmm ... kamu benar," sahutnya dengan hela nafas alu memejamkan matanya sejenak
"Oh ya, Kak. Bagaimana hubungan Kak Farhan dan Kak Aida? Apa baik-baik saja? Kapan kakak akan melamarnya," tanya Yoga memberondongnya dengan pertanyaan.
"Entahlah ... aku belum siap saja, lagian aku belum yakin," jawab Farhan. "Ah sudahlah, aku malas membahasnya, lagian aku masih ingin bebas dan nggak mau terikat dengan suatu hubungan serius," aku-nya.
Yoga hanya menghela nafasnya. Untuk yang kesekian kali jawaban sang kakak tetap sama jika menyangkut hubungan serius.
'Masih ingin bebas dan nggak mau terikat dengan suatu hubungan serius.'
.
.
Subuh dini hari pukul 05.30 ....
__ADS_1
Setelah melaksanakan shalat subuh, Azzura tampak sedang membuat sarapan dan membuat kopi untuk suaminya.
Walaupun Close mengatakan tidak akan menyentuh makanan yang ia masak, namun tidak ada salahnya ia mencoba. Ia tetap memasak untuk pria itu. Pikirnya, siapa tahu saja dia bakal mencicipinya walau hanya sedikit.
Setelah selesai membuat kopi dan sarapan, Azzura menyajikan makanan itu ke meja makan beserta kopi yang telah dibuatnya.
Begitu tugasnya selesai, ia memilih masuk ke kamarnya dan bersiap untuk segera mandi.
Tiga puluh menit kemudian, ia sudah tampak rapi dan terlihat sedang duduk di kursi meja makan lalu memesan ojol.
Tak lama berselang, dari lantai dua, Close memperhatikannya yang sedang menatap layar ponselnya.
Close tersenyum sinis, lalu menuruni anak tangga dan terlihat acuh tak acuh meninggalkannya. Ketika berada di ambang pintu, langkahnya terhenti karena Azzura memanggilnya.
"Close, sarapanlah dulu, atau paling tidak cicipilah kopi ini," tawar Zu.
Close tersenyum sini mendengar ucapan Azzura lalu berbalik dan menghampirinya. Sedangkan Azzura berpikir jika Close mau mencicipi masakannya.
Close mendekatinya lalu meraih cangkir kopi itu. Dan apa yang terjadi??
Nyessssss ....
Close menyiram kopi itu ke atas kepala Azzura lalu membanting cangkir itu hingga pecah dan menghambur semua makanan yang telah tersaji di atas meja.
Pranggg ...
Prangggg ...
Clontang ...
Azzura hanya bergeming menatap semua makanan dan pecahan piring yang berserakan menjadi satu di lantai ubin.
Baru selangkah Close melangkah, ia kembali bersuara.
"Apa kamu tahu? Masih banyak orang-orang di luar sana yang kurang beruntung ingin menikmati makanan seperti ini. Tapi kamu dengan angkuhnya menghambur semua makanan ini. Akan ada masanya, kamu ingin mencicipi masakan hasil dari olahan tanganku sendiri. Tapi saat menginginkan mungkin aku nggak akan pernah memasak lagi, kecuali untuk diriku sendiri," peringat Azzura lalu kembali ke kamarnya.
Close bergeming di tempat mendengar kalimat Azzura yang begitu menohok. Namun sedetik kemudian ia tersenyum mengejek dan kembali melanjutkan langkahnya menuju mobilnya.
"Mencicipi masakan darimu? Hanya dalam mimpimu saja," ucap Close dengan yakin lalu melajukan kendaraannya meninggalkan rumah menuju kantornya.
Sedangkan Azzura, ia terpaksa mandi ulang dan berganti pakaian.
Beberapa menit berlalu ...
Tin ...tin ... tin ...
Suara klakson motor terdengar dari luar, dengan terburu-buru ia melangkah.
"Aakhh ...awww ... sssttt, kaki ku," ringisnya lalu berdiri menahan sakit akibat pecahan kaca yang menancap di telapak kakinya.
"Dasar pria laknat," makinya lalu mencabut pecahan kaca di telapak kakinya.
Sambil menahan sakit, ia berjalan menghampiri lalu membukanya kemudian menghampiri bang ojol. "Bang, maaf ya. Aku bayar ongkosnya saja, soalnya aku nggak jadi memakai jasa Abang," kata Zu.
__ADS_1
"Nggak apa-apa, Mbak," balas bang ojol.
"Bang, ini ambil saja ongkosnya," kata Zu lagi lalu memberikan uang pada bang ojol. "Sekali lagi maaf ya, Bang," ucap Zu.
"Iya, nggak apa-apa Mbak," sahut bang ojol dengan seulas senyum.
Awalnya bang ojol enggan menerima uang dari Azzura, namun karena Azzura memaksa akhirnya bang ojol mau menerima uang itu.
"Ya ampun baik banget cewek ini," batinnya lalu perlahan kembali memacu motornya.
Setelah bang ojol berlalu, Azzura kembali masuk ke dalam rumah lalu membersihkan pecahan piring dan gelas hingga bersih.
"Dasar pria laknat. Jika bukan karena ibuku butuh biaya pengobatan, mana mau aku menikah dengan mu," gerutu Zu.
Setelah selesai membersihkan. Ia kembali ke dapur lalu mencuci tangannya. Ia pun kembali ke kamar lalu mengirim pesan pada Nanda supaya menjemputnya.
Sambil menunggu Nanda, Azzura memilih duduk di sofa ruang tamu dan menatap seluruh ruangan di rumahnya itu.
Ia hanya bisa menghela nafasnya dengan kasar, lalu menyandarkan kepalanya di sandaran sofa lalu menangis. Membayangkan kelakuan suaminya tadi.
Menyiramnya kopi lalu menghambur semua makanan di atas meja hingga tak berbentuk.
"Jika kamu tidak ingin mencicipinya, setidaknya jangan menghambur makanan itu tapi biarkan saja," lirih Zu dengan suara tercekat. "Setidaknya aku bisa membungkusnya lalu membagikan makanan itu kepada pemulung."
"Kenapa kamu begitu membenciku? sejak kuliah kamu selalu saja menghukumku tanpa alasan yang jelas. Bahkan sering menghinaku di depan teman-teman mu."
Azzura bergumam lalu menyeka air matanya. Tak lama kemudian suara klakson motor kembali menyapa gendang telinganya.
Ia segera beranjak lalu membuka pintu. "Akhirnya dia sampai juga di sini," lirih Zu dan kembali menutup pintu.
"Zu maaf, aku telat," sesal Nanda.
"Nggak apa-apa," balasnya lalu mengenakan helm dan segera naik ke atas motor. "Yuk ... gaspoool," seru-nya seraya menepuk bahu sang sahabat.
Nanda langsung tancap gas menuju cafe tempat keduanya bekerja.
Di sepanjang perjalanan, keduanya terus saja saling mengobrol dan sesekali cekikikan. Ketika berada di lampu merah Nanda menggerutu kesal.
"Haish ... lampu merah lagi. Menyebalkan."
"Nggak usah ngomel Nek, nanti cantiknya hilang," hibur Zu lalu terkekeh.
Sedangkan di samping mereka, dari balik kaca jendela mobil, seseorang terus saja memperhatikannya dengan seulas senyum.
Begitu lampu berganti warna, Nanda kembali melajukan motornya hingga tiba di cafe.
.
.
.
...πΏπΌπΌ------------πΌπΌπΏ...
__ADS_1
Jangan lupa masukkan sebagai favorit ya π. Bantu like, vote dan komen, setidaknya readers terkasih telah membantu ikut mempromosikan karya author. Terima kasih ... πβΊοΈπ