
Karena hari ini adalah hari Minggu, momy meminta Close dan Azzura menyambangi rumahnya hanya untuk berkumpul bersama.
Setelah bersiap-siap, Azzura menutup pintu kamarnya. Langkahnya terhenti ketika akan melewati ruang tamu.
"Lama banget sih!!!" sentak Close tiba-tiba yang sejak tadi sudah menunggunya.
Azzura meliriknya dengan senyum sinis. "Aku nggak memintamu menungguku. Ngapain juga kamu repot-repot menungguku, toh kamu bisa pergi duluan dan memberi alasan yang masuk di akal pada momy," ucap Azzura. "Lagian selama ini kita selalu jalan sendiri-sendiri," sambungnya lalu kembali melanjutkan langkahnya.
Jleb ....
Ucapan Azzura membuatnya lagi-lagi tak berkutik. Dengan perasaan geram ia langsung berdiri lalu menyusul Azzura dengan tergesa-gesa lalu menarik tangannya dengan kasar.
"Kamu apa-apaan sih?!" geram Zu lalu segera menepis tangan suaminya. "Kenapa?! Kamu ingin menamparku lagi? Menarik rambutku lalu membenturkan ke tembok?!! Ayo lakukan, lagian ini bukan yang pertama melainkan sudah yang kesekian kalinya, bahkan setiap hari kamu melakukannya," pungkas Zu karena Close sudah mengangkat tangannya.
Close bergeming menatap mata indah istrinya. Rahangnya mengetat dan perlahan ia menurunkan tangannya. Ia menghampiri mobil lalu membuka pintu sebelah kiri.
"Masuk," perintahnya pada Azzura. Namun Azzura hanya bergeming. "Aku bilang masuk!!!"
Karena Azzura enggan, akhirnya ia kembali menghampirinya dan menarik tangannya menuju mobil lalu memaksanya duduk di kursi mobil.
Setelah itu, ia kembali mengitari mobilnya dan duduk di kursi kemudi kemudian mulai melajukan kendaraannya itu ke kediaman orang tuanya.
Di sepanjang perjalanan, Azzura hanya diam dan terus melihat keluar jendela. Sesekali ia meremas jemarinya.
Sedangkan Close, sesekali ia melirik istrinya dan tak sengaja ekor matanya terarah ke cincin nikah yang masih melingkar di jari manis Azzura.
Benaknya kembali bertanya-tanya, Sebenarnya istrinya itu ke mana saja? Hampir setiap malam istrinya itu selalu pulang larut. Sedangkan ia selalu mengambil shift pagi. Alasannya ia lembur.
"Sepertinya aku harus cari tahu, ke mana sebenarnya dia? Sehingga setiap malam dia selalu pulang selarut itu," gumamnya dalam hati
Ting ...
Satu notifikasi pesan masuk ke aplikasi WA Azzura, ia pun segera meraih ponselnya dari dalam tasnya. Senyumnya langsung mengembang ketika membaca pesan dari Yoga.
βοΈ: Zu, sebentar siang aku dan Nanda akan menjenguk ibu. Apa kamu nggak ingin membawakan kami makanan buatan mu?
βοΈ: Sepertinya kalian kurang beruntung, besok-besok saja ya. Tapi jangan khawatir aku akan membeli sesuatu buat kalian nanti. π
Setelah membalas pesan WA, Azzura kembali memasukkan ponselnya ke dalam tas. Sedangkan Close terlihat kesal apalagi melihat Azzura terus tersenyum sambil membalas pesan itu.
Dua puluh menit berlalu, kini keduanya telah tiba di kediaman momy. Ketika keduanya sudah berada di luar mobil, Close ingin menggenggam jemari Azzura. Namun lagi-lagi dengan secepat kilat ia menepis tangan suaminya.
Sontak saja penolakan Azzura kembali membuatnya kesal bukan kepalang. Entah mengapa Azzura merasa jijik pada suaminya sendiri, apalagi ia sering memergoki suaminya itu berciuman panas di ruang tamu bahkan kadang keduanya hampir telanjang.
Bukan cuman memergoki namun terkadang ia mendengar suara-suara laknat keduanya sedang berhubungan intim ketika pulang dari rumah sakit.
__ADS_1
Buntut dari perbuatan keduanya, Azzura semakin merasa jijik pada suaminya sendiri bahkan ia tak rela jika Close menyentuhnya.
Entah Close sengaja ingin membuatnya cemburu atau membuatnya sakit hati, hanya suaminya itu yang tahu.
"Assalamu'alaikum," ucap Azzura lalu membuka pintu tanpa memperdulikan Close yang masih terpaku di dekat mobilnya.
"Waa'laikumsalam, Nak. Close mana?" tanya momy.
"Masih di luar Mom, bentar lagi dia menyusul," jawab Zu dengan seulas senyum.
"Zu, kamu sudah datang Nak?" sapa daddy.
"Iya baru saja, Dad," balasnya dengan seulas senyum
Sesaat setelah berada di ruang keluarga, Gisel yang terlihat sedang menonton langsung tersenyum menatapnya.
"Zu, ayo kemari," panggilnya.
Azzura hanya menurut dan ikut duduk di sampingnya. "Kamu pasti penggemar Drakor kan?" cecarnya lalu terkekeh.
"He.he ... benar," jawab Gisel. Keduanya kembali tertawa. Sedetik kemudian momy memanggilnya.
"Sayang, ayo kemari sebentar," pinta momy.
Azzura beranjak dan menghampiri sofa lalu duduk di samping sang mertua.
"Sayang, ini kan sudah enam bulan usia pernikahan kalian. Kapan kalian akan memberi momy dan Daddy cucu?" tanya momy.
"Gimana mau ngasih momy dan daddy cucu jika dianya mandul," sahut Close dengan spontan.
Bugh ....
Dada Azzura seperti dihantam batu. Tuduhan keji yang terlontar dari mulut suaminya membuatnya seperti wanita yang tak berharga.
Sontak saja ucapan Close membuat momy dan daddy langsung mengarahkan pandangannya pada putranya itu.
Sedangkan Azzura hanya tertunduk lalu menggenggam jemari sang mertua.
"Maaf," lirih Zu. Sebisa mungkin ia menahan air matanya dan tetap bersikap tegar.
"Mom, Dad ... maafkan aku. Close benar, aku memang mandul itulah mengapa sampai detik ini aku tak kunjung hamil," lirihnya. "Aku sudah siap berpisah dan ikhlas melepas putra kalian jika kalian menginginkannya, begitupun dengan Close," lanjut Zu dengan wajah sendu menatap ketiga-nya bergantian.
Deg ....
Ucapan Azzura cukup membuat Close terkejut. Jauh dalam sudut hatinya ia seolah tidak ingin melepasnya begitu saja.
__ADS_1
"Sayang ... kamu ngomong apa sih?" desis momy. "Kami nggak masalah Nak, lagian kalian kan, bisa mengadopsi anak."
"Tapi tetap saja beda Mom," lirih Zu lagi.
Momy mengelus pipinya lalu mengulas senyum.
"Nggak apa-apa, Nak. Momy percaya mukjizat itu ada. Segala kemungkinan bisa saja terjadi," pungkasnya.
"Terima kasih, Mom."
Obrolan keluarga kecil itu terus berlanjut sambil menikmati beberapa cemilan yang telah momy siapkan.
Menjelang siang, Azzura tampak membantu momy menyiapkan makan siang dan sesekali ia melempar candaan pada sang mertua.
"Mom."
"Ada apa, Nak."
Azzura menatap momy lalu memeluknya dengan erat. "Maafkan aku, Mom," ucapnya sambil menangis. "Maaf ... karena aku nggak bisa memberikan Momy cucu seperti wanita sempurna lainnya. Aku sudah siap bercerai jika Momy memintanya," ucapnya lagi sambil terisak.
Momy terenyuh mendengar ucapan Azzura bahkan ia pun tak kuasa menahan air matanya. Momy mengelus punggungnya dengan sayang.
"Sayang ... sudah ya. Momy percaya kamu itu nggak mandul, hanya saja Tuhan belum mempercayai kalian untuk memiliki momongan," tutur momy menyemangatinya.
"Mom, andai Momy tahu yang sebenarnya, momy pasti akan kecewa," batinnya.
Tanpa keduanya sadari, sejak tadi Close tak sengaja mendengar percakapan keduanya. Untuk yang pertama kalinya juga Close memergoki Azzura menangis dalam pelukan sang Momy. Bahkan hatinya kini mencelos mendengar ucapan istrinya itu.
Niatnya untuk mengambil air minum, terpaksa ia urungkan dan memilih naik ke kamarnya. Ada perasaan bersalah setelah secara spontan ia menuduh istrinya itu mandul.
Sedangkan ia sekalipun tidak pernah meniduri istrinya bahkan tidur terpisah di kamar yang berbeda.
*******
Setelah selesai menyantap makan siang bersama dan bersantai sejenak, akhirnya Close dan Azzura berpamitan.
"Sayang ... jangan sedih ya, Nak. Berusahalah, momy percaya kamu bakal hamil," kata momy.
"Terima kasih, Mom." Azzura menatap daddy dan Gisel lalu mengulas senyum. "Dad, Gisel, aku dan Close pamit ya."
Gisel dan daddy mengangguk dan balas tersenyum.
"Mom, Dad, Gisel, kami pulang dulu," pamit Close.
"Iya, Nak. Jika kalian ada waktu sering-seringlah main ke sini," pinta momy.
__ADS_1
...****************...
Jangan lupa masukkan sebagai favorit ya π. Like, vote dan komen. Bantu like dan vote setidaknya readers terkasih telah membantu ikut mempromosikan karya author. Terima kasih ... πβΊοΈπ