Retaknya Sebuah Kaca

Retaknya Sebuah Kaca
Bab 62 : Harus bagaimana ...


__ADS_3

Merasa tak tega melihat putranya semakin terpuruk. Momy Lio meminta Gisel memanggil daddy Kheil.


Sambil menunggu, momy Lio hanya bisa menangis dan menatap iba putranya. Sejak tadi Close terus saja menangis dan memanggil nama Azzura serta terus memohon maaf sambil menatap foto ex istrinya itu.


Tak lama berselang, Daddy Kheil dan Gisel masuk ke kamar Close. Melihat keadaan Close yang benar-benar kacau dan tak terurus, daddy Kheil merasa kasihan namun sekaligus kesal dan marah bahkan ingin memberinya pelajaran.


"Teruslah memohon dan menangis semau yang kamu ingin. Bukankah itu yang kamu inginkan?Lalu ... apa yang perlu kamu sesalkan sekarang?" geram daddy Kheil.


Seketika ucapan frontal bernada dingin yang terlontar dari mulut daddy Kheil membuat momy Lio dan Gisel sangat terkejut.


Sedangkan Close, ia langsung mendongak menatap daddy Kheil lalu merangkak menghampirinya kemudian memeluk kakinya.


"Daddy, katakan di mana Azzura? Daddy pasti tahu dia di mana?" tanyanya dengan derai air mata memelas.


"Walaupun daddy tahu, daddy nggak akan memberitahu. Kamu pantas mendapatkan hukuman ini. Biarkan kamu belajar dari kesalahanmu sendiri, agar kamu tahu arti menghargai seseorang," sarkas daddy Kheil.


"Daddy ... please ... don't punish me like this?" mohonnya masih sambil memeluk kaki daddynya.


Namun permohonan dari putranya itu tak ia hiraukan. Sebenarnya tuan Kheil merasa tak tega. Namun demi memberi putranya itu pelajaran ia terpaksa melakukannya.


"Mom, Gisel, biarkan dia seperti itu. Biarkan dia merenung, belajar dan menyadari akan kesalahan yang diperbuatnya," kata daddy Kheil lalu mengajak istri dan putrinya meninggalkan Close di kamarnya.


Saat daddy Kheil mulai melangkah, Close kembali histeris memohon padanya supaya memberitahu keberadaan Azzura. Namum daddy Kheil hanya menulikan telinganya seolah tak peduli.


Karena permintaan dan permohonannya tak dihiraukan, seketika ia menjadi tantrum, menghambur semua barang-barang miliknya yang ada di kamar.


Sesaat setelah daddy Kheil, momy Lio dan Gisel berada di ruang tamu, momy Lio hanya bisa menangis karena merasa kasian pada putra sulungnya itu.


"Daddy, apa sebaiknya kita membawa kakak ke psikolog atau psikiater saja?" usul Gisel. "Jika kakak seperti itu terus, dia bisa depresi berat karena terjebak dengan kesalahannya."


"Dari kemarin, daddy sudah memikirkannya. Besok daddy akan membawanya menemui psikolog di salah satu rumah sakit kota J," sahut daddy. Ia melirik istrinya yang sedang menangis. "Mom, tenanglah, nggak akan terjadi apa-apa. Jika pun Close harus dirawat di rumah sakit jiwa, daddy rasa itu malah lebih baik."


Momy Lio hanya bisa menangis dan merasa tak tega. Entah dia juga harus bagaimana. Semua terjadi karena ulah Close sendiri. Terlambat memperbaiki dan terlambat menyesali perbuatan serta kesalahannya.


Dari arah kamar Close berada, sejak tadi suara histerisnya terus terdengar, bahkan beberapa kali terdengar benda pecah karena amukannya.


Namun tak lama berselang, suara histeris dan benda pecah mulai mereda dan akhirnya berhenti.


Mungkin karena sudah lelah tantrum, akhirnya Close duduk bersandar di sisi ranjang sambil menarik rambutnya. Terus seperti itu hingga akhirnya ia tertidur dengan posisi terduduk.


.

__ADS_1


.


.


Lio Cafe and Resto ...


Yoga dan Radit, Farhan dan Aida juga Nanda tampak sedang mengobrol.


"Nanda, apa sudah ada kabar dari Azzura?" tanya Yoga.


Nanda hanya bisa mendesah kasar. Sejak terakhir sahabatnya itu berada di apartemen Yoga hingga detik ini, sahabatnya itu seperti ditelan bumi.


"Entahlah Yoga, aku pun bingung. Tidak biasanya Azzura seperti ini," sahut Nanda dengan wajah sendu. "Ponselnya sudah nggak pernah aktif lagi."


Yoga hanya mengangguk namun jauh dalam sudut hatinya merasa sedih dan kehilangan akan sosok gadis itu. Sama halnya Nanda, ia juga sudah sering menghubungi nomor gadis itu tapi ponselnya sudah tidak pernah aktif.


"Sayang banget ... rasanya tanpa Azzura suasana seperti ini terasa berbeda," timpal Aida. "Nanda, tadinya aku ingin titip kartu undangan ini untuk Zura," sambung Aida sembari memberikan kartu undangan pernikahannya pada Nanda.


Nanda meraih kartu undangan itu lalu membaca nama mempelai lalu menatap Aida dan Farhan bergantian.


"Jadi Kakak dan Kak Farhan akan menikah lusa?" tanyanya dan dijawab dengan anggukan kepala oleh Aida dan Farhan. "Selamat ya, Kak," ucap Nanda lalu tersenyum.


Bukan hanya Aida yang merasa kehilangan sosok gadis berhijab itu, melainkan, Nanda, Farhan, Yoga, bunda dan pak Prasetya.


"Entah kapan kita akan bertemu lagi dengan Azzura," ucap lirih Yoga sambil tertunduk dengan mata berkaca-kaca.


Ya Allah ... pertemukanlah aku dengan Azzura. Meski itu tidak mungkin. Tapi aku sangat berharap suatu hari nanti kami bisa bertemu.


Yoga membatin pilu mengenang dan membayangkan wajah gadis itu. Cintanya yang belum berbalas seolah membuat harapannya terkikis.


Namun ia masih berharap dan masih menunggu jawaban dari gadis yang sudah mencuri hatinya itu sejak pertama kali melihatnya. Bahkan saat itu, Azzura akan menjadi istri Close.


Cinta dan perasaan sulit tertebak. Namun itulah cinta pada pandangan pertama. Sulit dihindari dan sulit untuk dilupakan.


Satu tepukan di punggungnya kembali menyadarkan Yoga. Seketika ia mendongak dan tak terasa air matanya ikut menetes.


"Yoga, apa kamu baik-baik saja?" tanya Radit sambil mengelus punggungnya.


Ia mengangguk pelan seraya menyeka air matanya dengan perasaan sedih.


Mereka yang menatapnya mengerti akan perasaan sang psikolog. Terlebih selama ini ia dan Azzura cukup dekat.

__ADS_1


"Maaf ... aku duluan ya," pamit Yoga. "Radit, kamu pulang bareng Kak Farhan dan Kak Aida saja ya."


"Ok, nggak masalah," kata Radit.


"Yoga, hati-hati di jalan," pesan Farhan karena sedikit merasa cemas melihat sang adik.


Yoga hanya mengangguk lalu mempercepat langkahnya menuju pintu keluar cafe. Tujuannya saat ini adalah ke makam orang tua Azzura.


.


.


.


Setibanya di makam, Yoga melangkah kecil menghampiri pusara bu Isma dan pak Fadil. Langkahnya terhenti sejenak saat mendapati ayah dan bundanya berada di pusara itu.


"Ayah, bunda?" ucapnya lirih lalu kembali melanjutkan langkahnya.


Ia kembali menyapa ayah dan bundanya dengan suara tercekat. "Ayah, Bunda."


"Yoga," sahut keduanya yang kini sudah berdiri.


Yoga langsung memeluk ayahnya lalu menangis.


"Ayah ... aku harus bagaimana? Sudah dua minggu, Azzura sama sekali nggak ada kabar. Bahkan ponselnya sudah nggak pernah aktif," bisiknya sambil menangis.


Mendengar bisikan sang putra yang terdengar lirih, bunda Fahira ikut merasa sedih lalu mengelus punggungnya.


"Bersabarlah, Nak. Kita pasti akan menemukan Azzura," bisik ayah sambil menepuk punggungnya. "Mungkin saat ini yang Azzura butuhkan adalah ketenangan."


Yoga hanya mengangguk lalu mengurai pelukannya. Setelah itu, ia meminta ayah dan bundanya meninggalkannya sendiri.


Sepeninggal ayah dan bunda Fahira, Yoga berjongkok lalu menatap nanar pusara itu sambil mengelus batu nisan itu.


Ia mencurahkan semua isi hatinya pada benda tak bernyawa itu. Sesekali ia menyeka air matanya ketika berbicara walau pusara itu tak bisa mendengar dan tak bisa menjawab.


Hingga ia merasa perasaannya sudah mulai tenang, barulah ia mengirimkan doa dan akhirnya meninggalkan pusara itu.


...****************...


Jangan lupa masukkan sebagai favorit ya πŸ™ Bantu like dan vote setidaknya readers terkasih telah membantu ikut mempromosikan karya author. Terima kasih ... πŸ™β˜ΊοΈπŸ˜˜

__ADS_1


__ADS_2