
Azzura terus larut dalam kesedihannya, menumpahkan semua air matanya lalu menatap nanar pusara ibu dan ayahnya yang masih basah.
Setelah kurang lebih tiga puluh menit berada di pusara, akhirnya Azzura meninggalkan tempat itu.
Dengan langkah gontai ia berjalan dengan tatapan kosong dan hampa hingga lagi-lagi ia menubruk seseorang.
Langkahnya terhenti sejenak lalu perlahan mendongak.
"Paman," lirihnya.
"Zu ... " sahut pak Prasetya seraya menatap lekat mata indah gadis berhijab itu.
Lagi dan lagi air mata Azzura kembali menetes.
"Zu ..." lirih pak Prasetya lalu membawa gadis itu masuk ke dalam pelukannya kemudian mengelus punggungnya dengan sayang. "Sabar ya ... ingatlah kamu nggak sendiri," bisik pak Prasetya.
Dalam dekapan pak Prasetya ia hanya mengangguk lalu melonggarkan pelukannya. Sambil mendongak ia bertanya, "Apa Paman ingin ziarah makam ibu?"
"Ya," jawab pak Prasetya seraya menyeka air mata Azzura yang masih menetes di pipinya. "Sebaiknya kamu tunggu paman di mobil saja. Biar paman yang mengantarmu pulang," kata pak Prasetya lalu mengulas senyum.
Azzura hanya mengangguk lalu melanjutkan langkahnya menuju mobil pak Prasetya. Sesaat setelah mendudukkan dirinya di kursi mobil, ia pun menyandarkan punggungnya lalu memejamkan matanya karena merasakan pusing.
Sedangkan pak Prasetya yang kini sudah berada di pusara kedua sahabatnya, menatap nanar makam yang masih basah itu.
"Fadil ... Isma, kenapa kalian pergi begitu cepat?" lirihnya. "Kasian Azzura sendirian," lirihnya lagi sembari memegang batu nisan sahabatnya itu.
Setelah beberapa menit berada di pusara itu, ia pun ikut menyusul Azzura setelah mendoakan kedua sahabatnya itu.
Dengan langkah gontai, dengan perasaan sedih dan dengan perasaan hampa ia terus melangkah menuju ke arah mobilnya diparkir.
Sesaat setelah duduk di kursi kemudi, ia menatap Azzura yang sedang tertidur dengan mata yang masih terlihat sembab.
Entah mengapa sejak dari dulu ketika menatap gadis itu, ia merasakan ada sesuatu yang sulit ia artikan dengan perasaannya. Padahal ia sudah memiliki istri. Bahkan putra bungsunya Yoga, yang ingin ia jodohkan dengan Azzura seumuran dengan gadis itu.
"Pras, jangan gila kamu. Kamu harus tahu diri, Azzura itu seperti anakmu. Bahkan seumuran Yoga," gumamnya masih sambil menatap Azzura. "Dasar pria tua nggak tahu diri," ejeknya pada dirinya sendiri.
Setelah itu, ia mulai melajukan mobilnya menuju rumah Azzura. Ketika dalam perjalanan, sesekali ia melirik Azzura hingga keduanya benar-benar tiba di rumah gadis itu.
"Zu ... Azzura ..." panggil pak Prasetya sembari menepuk lengannya.
Azzura perlahan membuka matanya dan bersandar sejenak sembari memijat keningnya.
"Ada apa? Apa kepalamu sakit?" tanya pak Prasetya.
"Iya, Paman," jawabnya. "Apa Paman akan langsung ke rumah sakit?" ia balik bertanya.
__ADS_1
Pak Prasetya hanya mengangguk sambil mengedipkan kedua matanya.
"Ya sudah, aku masuk dulu. Paman hati-hati ya," kata Azzura.
Lagi-lagi pak Prasetya hanya mengedipkan matanya seraya mengangguk. Baru saja ia akan membuka pintu mobil, pak Prasetya membuka suara.
"Zu ..."
Azzura langsung menoleh. "Iya, Paman," sahutnya.
"Jika kamu membutuhkan sesuatu, jangan-jangan sungkan ngomong sama paman," kata pak Prasetya.
"Hmm." Sembari mengangguk lalu mengulas senyum.
"Masuklah, jangan lupa minum obat. Habis itu istirahatlah sejenak. Paman tahu kamu pasti lelah," pesan pak Prasetya.
Azzura hanya mengangguk lalu membuka pintu mobil. Setelah itu, ia melambaikan tangannya dengan senyum menunggu mobil itu meninggalkannya.
Begitu mobil pak Prasetya sudah menjauh, barulah ia masuk ke dalam rumah.
"Sepi banget," lirih Zu setelah berada di dalan rumahnya. Ia pun langsung menuju dapur.
"Syukurlah dia mau makan sarapan yang aku siapkan," gumam Zu.
Ia membawa segelas air lalu menuju anak tangga. Setibanya di kamar ia membuka laci nakas lalu mengambil obat pereda nyeri kepala lalu meminumnya.
"Momy?" sebutnya karena tiba-tiba saja ia teringat akan sosok mertuanya itu. Ia pun merubah posisinya menjadi duduk.
"Sebaiknya aku ke rumah momy saja. Aku khawatir padanya," lirihnya.
*
*
*
Prasetya Hospital ...
Aida terlihat sedang berada di kamar rawat bu Isma yang kini sudah terlihat rapi dan bersih. Sekelumit ingatannya masih terkenang sosok wanita paruh baya yang sudah ia tangani selama enam bulan terakhir.
Sosoknya yang ramah, tegar dan kuat dalam berjuang melawan penyakit yang dideritanya. Aida terisak menatap nanar bed pasien itu seraya mengelusnya.
Masih segar dalam ingatannya sosoknya yang selalu menasehatinya layaknya anak sendiri. Dalam larutnya ia dalam kesedihannya, tiba-tiba pintu dibuka seseorang.
Ia menoleh sekilas, ternyata Farhan yang membuka pintu.
__ADS_1
"Ai ..." lirihnya seraya menghampiri gadis itu lalu memeluknya. "Bukan kamu saja yang merasa kehilangan ibu, aku juga," bisiknya dengan suara bergetar.
Tak mampu berkata-kata, Aida hanya bisa mengangguk dan menangis dalam dekapan Farhan.
"Aku khawatir dengan Azzura. Kamu tahu kan, suaminya itu kejam," desisnya. "Aku takut Azzura semakin diperlakukan semena-mena oleh suaminya, Han," sambung Aida.
"Nggak akan ... aku yakin Azzura bukan gadis yang lemah. Kita lihat saja nanti," balas Farhan lalu melonggarkan pelukannya.
Aida kembali mengangguk lalu menyeka air matanya. Dalam batinnya ia berjanji akan melindungi Azzura jika sampai Close berani berbuat macam-macam lagi pada gadis yang sudah ia anggap seperti adiknya sendiri itu.
Setelah beberapa menit berada di kamar rawat itu, Farhan dan Aida akhirnya meninggalkan kamar rawat itu.
Sedangkan di rumah sakit yang berbeda, tampak Yoga dan sang ayah berada di satu ruangan yang sama.
Yoga terlihat sedang memberikan amplop hasil visum dan keluhan Azzura selama ini.
Lagi-lagi raut wajah pak Prasetya menyiratkan kemarahan setelah melihat hasil visum gadis itu.
"Yoga, apa selama kalian berteman, Azzura nggak pernah mengeluh atau menceritakan KDRT yang sering suaminya lakukan padanya?" tanya pak Prasetya.
"Nggak, Yah. Yang tahu hanya bunda dan sahabatnya Nanda. Sampai psikisnya terganggu akibat trauma dan seringnya ia diperlakukan kasar oleh Close," jawab Yoga.
Pak Prasetya mengepalkan kedua tangannya dengan rahang mengetat geram bercampur emosi.
"Sejak awal pernikahan mereka, aku sudah curiga ada yang nggak beres dengan hubungan mereka. Apalagi belakangan aku sering memergoki Azzura sering meringis. Namun tetap saja ia selalu menyangkal jika aku bertanya," jelas Yoga.
Pak Prasetya hanya mengangguk namun tetap saja perasaan marah masih saja menyelimuti dirinya.
Ia menghela nafasnya lalu beranjak dari kursi kerja menghampiri kaca pembatas ruangan, menatap ke arah depan lalu memejamkan matanya.
"Pantasan saja ... setiap kali aku merindukan gadis itu, perasaanku langsung tiba-tiba nggak enak dan merasakan gelisah. Astaghfirullah ... apa yang aku pikirkan."
Pak Prasetya hanya bisa membatin. Ada sesuatu yang mengusik hati dan pikirannya. Namun tetap saja ia tak bisa membohongi hatinya jika ia memang merasakan sesuatu yang beda dengan perasaannya.
Sejak dulu hingga sekarang, namun sekaligus merasa bersalah pada istri dan putra bungsunya Yoga.
Lamunannya membuyar ketika Yoga menepuk bahu sang ayah. Entah mengapa Yoga merasakan jika ayahnya memiliki perasaan pada Azzura.
Kedua pria tampan berbeda usia itu kini saling menatap. Sedetik kemudian pak Prasetya balas menepuk pundak sang putra lalu mengulas senyum.
"Ayah ke ruangan bunda dulu. Ayah berharap kamu dan Azzura bisa semakin dekat dan menjalin hubungan yang lebih serius," kata pak Prasetya lalu berlalu meninggalkan ruangan itu.
"Perasaan ini salah ... makanya aku menghindarinya dengan memilih tugas di kapal Armada hanya karena menghindari gadis itu."
Pak Prasetya kembali membatin sekaligus merasa berdosa pada istri dan putranya.
__ADS_1
...****************...