
Tak ingin lagi kehilangan jejak Azzura, Close langsung beranjak dari tempat duduknya lalu mengejar ex istrinya itu.
"Zu!! Azzura!!! Tunggu!!!" Ia mempercepat langkahnya menuruni anak tangga menyusul gadis itu.
Sedangkan Azzura tampak berlari kecil meninggalkan cafe tanpa memperdulikan panggilan dari Close.
Yang ada di pikirannya saat ini adalah menghindari ex suaminya itu. Ia pun cepat-cepat masuk ke salah satu toko buku lalu bersembunyi.
Saat ingin menghubungi bu Nadirah, Azzura baru sadar jika ia lupa mengambil tasnya di meja kasir.
"Astaghfirullahaladzim ..." ia menghela nafasnya dengan kasar sambil sesekali mengintip keluar.
Sedangkan Close yang kini berada di luar cafe menoleh ke kiri dan ke kanan mencari keberadaan Azzura.
"Cepat banget hilangnya." Close tampak sangat kecewa karena tak menemukan Azzura. "Apa dia bekerja di cafe ini?"
Karena tak menemukan jejak Azzura akhirnya Close kembali ke ruangan VIP.
"Fatur ... cari tahu di mana gadis itu tinggal," perintah Close sesaat setelah mendaratkan bokongnya di sofa.
"Baik, Tuan."
Sedangkan Johan tampak bingung sekaligus penasaran menatap rekan bisnisnya itu.
"Do you know her?" Johan membuka suara.
"Hmm ... she is my ex-wife," jawab Close dengan wajah datar lalu menyesap rokoknya.
"What?!!" Johan sangat terkejut mendengarnya.
Hening sejenak, sebelum akhirnya Close menceritakan semuanya pada Johan tentang kejadian yang sebenarnya.
Bak setali tiga uang, Johan langsung tertunduk mendengar cerita Close. Keduanya tidak ada bedanya.
Sama-sama brengsek dan menyia-nyiakan wanitanya. Hanya saja ia tak sampai melakukan KDRT. Sebrengsek-brengseknya dirinya, ia juga tak membenarkan KDRT. Kini yang ada hanya penyesalan.
Seketika dadanya langsung sesak. Mengingat sosok Nina yang ia tinggalkan dalam keadaan berbadan dua. Bahkan saat ingin kembali dan meminta maaf, ia sudah terlambat karena istrinya itu sudah meninggal dunia.
.
.
.
Jauh dari kota M saat ini, tampak Yoga bersama kedua orang tuanya, kakak dan sahabatnya Radit dan Nanda sedang berada di bandara.
__ADS_1
Setelah menimbang-nimbang, akhirnya ia memutuskan menyusul Daffa ke kota A dan akan bertugas di rumah sakit sang sepupu.
Semuanya ia lakukan untuk melupakan kenangan Azzura bersamanya di kota J itu.
"Yoga ... jika ada waktu main-main lah kemari." Radit memeluknya dengan perasaan sedih.
Yoga menatap Nanda dan Dita lalu mengulas senyum. "Nanda, jaga dirimu dan kandunganmu. Jika Azzura ada bersama kita, tentu saja kita semua tetap bersama. Tapi ... sudah tiga tahun berlalu, sahabatmu itu sama sekali nggak ada kabar. Aku merasa meninggalkan kota ini adalah keputusan yang tepat bagiku."
Nanda hanya mengangguk. Namun tetap saja ia turut merasa sedih. Setelah kehilangan Azzura kini ia harus kehilangan sahabat suaminya itu.
"Sayang ... sering-seringlah memberi kabar pada bunda dan ayah," lirih bunda Fahira lalu memeluk putra bungsunya itu sambil menangis.
"Iya Bunda." Yoga mengurai pelukannya lalu memeluk Farhan kemudian sang ayah dengan erat.
"Ayah ... aku pamit. Maaf ... aku nggak bisa melanjutkan jabatan sebagai Dirut di rumah sakit Ayah," sesalnya. "Aku sudah berusaha melupakan Azzura, tapi tetap saja aku nggak bisa. Mungkin dengan meninggalkan kota ini semua kenangan dan bayangannya perlahan akan terkikis dari benak dan sanubari ku."
Pak Prasetya semakin mengeratkan pelukannya lalu mengangguk dengan perasaan sedih.
"Jaga dirimu baik-baik, Nak. Sampaikan salam ayah pada Daffa. Ayah yakin seiring dengan berjalannya waktu kamu pasti bisa melupakan Azzura." Pak Prasetya menepuk pundaknya. Walaupun sedih harus berpisah dengan putranya, namun ia harus menghargai keputusannya.
Setelah berpamitan, Yoga mulai mendorong kopernya meninggalkan orang-orang yang begitu dekat dan sangat ia sayangi itu.
"Kak Daffa ... kenapa kita senasib? Mencintai wanita yang nggak pernah bisa kita raih dan kita gapai. Kak Daffa benar, dia ibarat fatamorgana," gumam Yoga sambil terus melangkah menuju pesawat yang akan membawanya ke kota A.
.
.
.
"Sepertinya mereka sudah meninggalkan cafe," desisnya. Ia pun berjalan menghampiri pintu lalu membukanya.
"Mbak!!" panggil Noni. "Mau ambil tasnya ya?"
Azzura mengangguk lalu menghampiri Noni. Ia pun meraih tasnya dari gadis itu lalu berpamitan dan mengambil langkah seribu. Ia takut kalau-kalau Close masih berada di cafe itu.
Ia menghampiri halte bus lalu memesan taksi online. Sambil menunggu, Azzura tampak termenung. Baru semalam ingatannya kembali terbayang tentang kekerasan fisik itu, kini ia malah langsung bertemu dengan sang pelaku.
Saat sedang larut dengan pikirannya, tiba-tiba seseorang duduk tepat disampingnya. Seketika ia langsung menoleh.
Betapa kagetnya dirinya ketika tahu orang itu adalah Close. Dengan secepat kilat, Azzura langsung berdiri dan akan melangkah.
Namun tertahan karena tangannya dipegang erat oleh mantan suaminya itu. Dengan perasaan geram ia langsung menghempas tangan pria blasteran itu.
Azzura kembali berbalik lalu menatapnya dengan tatapan jijik.
__ADS_1
"Jangan pernah menyentuhku dengan tangan kotormu itu," marah Zu dengan tatapan nyalang.
"Zu ..."
"Pergilah, menjauhlah dariku," pinta Zu lalu kembali mengarahkan pandangannya ke arah depan. "Jika kamu ingin meminta maaf padaku, sejak dulu aku sudah memaafkanmu," sambung Zu.
"Apa kita bisa bicara secara baik-baik?"
"Aku rasa sudah tidak ada yang perlu kita bicarakan. Surat cerai itu sudah membuktikan jika aku sudah benar-benar tidak ingin memiliki hubungan apapun denganmu. Hatiku sudah terlanjur membatu untukmu," tegas Zu.
"Sekarang kamu bebas, terserah kamu ingin melakukan apapun tanpa menyakiti batin, psikis dan fisikku," pungkas Zu tanpa menatapnya sedikitpun.
Tak lama berselang taksi pesanannya pun tiba.
"Dengan Mbak Azzura?" tanya bang supir.
Azzura hanya mengangguk lalu menghampiri mobil. Namun dengan cepat Close kembali memegang tangannya dengan erat.
"Lepas ... atau aku akan teriak jika kamu ingin melecehkan ku," ancam Zu tak main-main.
"Zu! Please ... beri aku waktu sebentar saja untuk berbicara denganmu," mohon Close.
Azzura menggelengkan kepalanya dan kembali menghempas tangan mantan suaminya itu lalu membuka pintu mobil.
"Bang tolong antar aku ke Jalan xxx kompleks Garuda," pinta Zu.
Bang supir mengangguk lalu kembali melajukan kendaraannya menuju alamat yang Azzura sebutkan tadi.
Sedangkan Close hanya bisa menatap nanar kendaraan itu yang mulai menjauh meninggalkan halte.
Ia tertunduk lemas dengan perasaan hampa kemudian kembali duduk di bangku halte dengan mata berkaca-kaca.
Penolakan, tatapan nyalang sekaligus jijik padanya serta ucapan dingin dari Azzura seketika membuatnya menelan kekecewaan.
"Azzura? Apa sebegitu bencinya dirimu padaku? Apa sudah nggak ada harapan dan kesempatan lagi untukku? Aku sudah berubah Zu," ucapnya dengan kepala tertunduk.
Tak lama berselang, Fatur menghampirinya lalu menegur.
"Tuan, apa Anda baik-baik saja?"
Close menggelengkan kepalanya.
"Fatur ... aku ingin kamu cari tahu di mana gadis itu tinggal. Apa dia pemilik cafe atau hanya karyawan saja," desis Close. "Aku ingin informasinya secepat mungkin," desak Close.
...----------------...
__ADS_1
Jangan lupa masukkan sebagai favorit ya π Bantu like dan vote setidaknya readers terkasih telah membantu ikut mempromosikan karya author. Terima kasih ... πβΊοΈπ