ROMANTIKA HIDUP

ROMANTIKA HIDUP
103. Strategi 11.


__ADS_3

...~•Happy Reading•~...


Kaliana memutar badan Putra agar kembali menghadap layar monitor dan menepuk pelan pundaknya. "Kita mau tambahin lagi, biar lebih jelas untuk yang pulang nanti." Kaliana berkata cepat, lalu tersenyum melihat Putra menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Siaaap, Mba'. Mau kepo lanjut ke mana?" Putra berkata sambil meletakan tangannya di atas alis seperti orang militer sedang melapor lalu tersenyum senang melihat Kaliana mau mengacak rambutnya.


"Kau sudah save nopen orang tua Pak Jaret bukan?" Tanya Kaliana kembali ke mode serius, lalu menunjuk layar monitor agar Putra kembali fokus pada apa yang akan dikerjakan.


"Sudah, Mba'... Semua yang dihubungi Mama dan Papa Pak Jaret juga sudah aku save. Siapa saja yang dihubungi, termasuk saudara-saudara mereka juga aku save." Jawab Putra, sambil menunggu permintaan dari Kaliana selanjutnya. Dia belum mengerti arah dan tujuan Kaliana menanyakan semua nomor telpon yang pernah dihubungi oleh orang tua Jaret


"Kalau begitu, coba kau perlihatkan posisi orang tua Pak Jaret selama 24 jam terakhir. Aku mau lihat keberadaan mereka setelah proses gugatan cerai Bu Chasina bergulir. Mereka minta bantuan kepada siapa saja atau berada dimana saja selama kurun waktu itu. Kita batasi di situ saja dulu." Kaliana berkata cepat, setelah memikirkan tentang kepo-mengkepo dan manfaatnya bagi penanganan kasus team sopape dan Danny.


Putra mengangguk mengiyakan, setelah mengerti yang dimaksudkan Kaliana. "Apa perlu juga dengan percakapan atau chat mereka, Mba'?" Putra bertanya sambil mengerjakan permintaan Kaliana.


"Untuk sekarang ini, belum perlu. Nanti jika terjadi sesuatu dan perlu barang bukti, baru kau siapkan. Sekarang aku hanya mau lihat posisi dan orang yang dihubungi oleh orang tua Pak Jaret." Kaliana berkata dengan tenang dan serius melihat apa yang dikerjakan Putra.


"Tolong perlihatkan pemilik nopen yang dihubungi oleh Papa Jaret terlebih dulu, baru Mama Pak Jaret." Kaliana terus melihat layar monitor dan memberikan instruksi kepada Putra. Mama Jaret tidak banyak melakukan panggilan atau berkirim pesan, jadi Kaliana lebih tertarik kepada Papa Jaret yang lebih banyak beraktivitas dengan ponselnya.


Semua permintaan Kaliana dikerjakan dengan cepat oleh Putra, karena sudah terbiasa dengan cara kerja Kaliana dan anggota team sopape lainnya yang cepat dan sistematis.

__ADS_1


"Ternyata, banyak aparat hukum yang dihubungi oleh Papa Pak Jaret. Mungkin itu berhubungan dengan kasus nar*koba Pak Jaret yang akan disidangkan." Kaliana berkata pelan, setelah Putra menunjukan siapa nama pemilik nomor telpon yang dihubungi oleh Papa Jaret.


"Mungkin, Mba'. Tapi kalau lihat keberadaan mereka di berbagai gerai, mungkin orang tua Pak Jaret berusaha mengamankan tabungan Pak Jaret." Putra berkata sambil menunjuk tempat-tempat di mana ponsel Papa dan Mama Jaret berada. Apalagi melihat Papa dan Mama Jaret berada di berbagai gerai ATM dan bank.


"Itu juga yang sedang aku pikirkan. Putra, tolong perlihatkan, di bank mana Papa Jaret menyimpan safe deposit box nya." Kaliana berkata cepat, sebelum Putra beralih. Putra segera memperlihatkan apa yang telah dilihat bersama Marons sebelumnya kepada Kaliana.


"Oooh, Papa Pak Jaret hanya berada di bank itu. Jadi mungkin beliau hanya ada safe deposite box di bank itu." Kaliana menarik kesimpulan, setelah melihat keberadaan Papa Jaret di bank tersebut.


"Iyaa, Mba'. Mungkin dengan semua tabungan Pak Jaret yang dibekukan, Papanya khawatir dengan simpanannya. Jadi ke bank itu untuk memeriksa safe defosit box nya. ." Putra menanggapi jalan pemikiran Kaliana.


"Looh... Sebentar, Putra. Aku kira sudah pulang ke rumah dan tidak keluar lagi." Kaliana berkata cepat, saat melihat posisi Papa Jaret berpindah, dari sebelumnya. Padahal saat melihat posisinya sudah bersama istrinya dan Putra menunjukan alamat mereka berada, Kaliana tahu mereka sudah di rumah.


"Putra, tolong perlihatkan siapa pemilik alamat yang dituju oleh Papa Pak Jaret." Kaliana makin penasaran dengan kegiatan Papa Jaret di malam hari, bahkan cendrung hampir dini hari.


"Siaap, Mba'." Putra memperlihatkan rumah dan alamat yang di tuju oleh Papa Jaret kepada Kaliana. Dia juga memperlihatkan pemilik rumah tersebut. Putra bekerja cepat, karena sudah mengerti maksud dan rencana Kaliana.


"Waaaah... Itu rumah di komplek elite yang super duper mahal. Dan ternyata itu rumah milik Pak Jaret. Aku hanya tau sebelumnya, ada aset rumah milik Pak Jaret, tapi tidak tau kalau berada di lingkungan seperti ini." Putra berkata cepat saat melihat lingkungan tempat rumah Jaret.


^^^~°°Sebelumnya, Putra pernah melihat apa saja aset milik Jaret, dan rumah adalah salah satunya. Tetapi dia tidak menyangkah rumahnya berada di lingkungan elite. Hal itu membuatnya tercengang. Begitu juga dengan Kaliana, saat mendengar penjelasan Putra.°°~^^^

__ADS_1


"Untuk apa Papa Pak Jaret malam-malam ke situ? Apa beliau menyembunyikan sesuatu di sana?" Tanya Kaliana beruntun, sambil terus berpikir. Kaliana kembali mendekati Putra untuk memperhatikan yang ditunjukan Putra, karena penasaran dan rasa ingin tahu yang besar.


"Apa beliau menyimpan isi safe deposit box di sini, Mba'? Secara rumah ini mungkin belum diketahui publik." Putra menanggapi pertanyaan Kaliana. Dia mengaitkan dengan kegiatan Papa Jaret di bank untuk ambil safe deposit box nya.


"Bisa seperti itu. Mungkin ada tempat penyimpanan rahasia di sana. Berarti ada orang tinggal di rumah itu, karena Pak Jaret tidak tinggal di situ." Kaliana menanggapi yang Putra pikirkan dan mengaitkan ke berbagai arah.


"Tolong tandai rumah itu, Putra. Ambil gambar rumah dan lokasinya. Mungkin kita akan perlukan pada waktu yang tepat." Kaliana berkata demikian karena pasti akan berkaitan dengan pembagian harta gono-gini.


"Jangan lupa cari tau harga rumahnya, Putra." Kaliana berkata lagi setelah berpikir sejenak tentang temuan Putra, mungkin ada yang terlewatkan oleh mereka.


"Ini sudah, Mba'. Sekalian dengan harga apartemen milik Pak Jaret. Jadi kalau mau tau rincian pembagian harta gono-gini, ini hitungan kasarnya." Putra berkata sambil memperlihatkan yang dikerjakan kepada Kaliana. Dia sudah bisa menghitung, setelah mengetahui pembagian harta gono-gini 50 % akan diterima oleh Chasina.


"Tolong perlihatkan perlihatkan lagi semua isi tabungan Pak Jaret." Kaliana mau melihat dan memperkirakan semua yang akan diterima oleh Chasina. Agar dia bisa memperkirakan kerelaan hati orang tua Jaret memberi hartanya kepada Chasina. Karena semua harta itu adalah milik orang tuan Jaret.


"Waaaah... Rumah dan apartemen saja sudah lebih dari jumlah isi tabungan Pak Jaret. Apa lagi ditambah dengan yang lain." Putra berkata setelah membandingkan isi tabungan dengan harga rumah dan tiga apartemen mewah milik Jaret.


"Ini belum termasuk jenis usaha atas nama Pak Jaret, yaa... Tolong perlihatkan dan ambil semua usahanya. Mungkin kita akan butuhkan itu untuk meniup sedikit setelah foto flexing orang tua Pak Jaret jadi viral." Melihat semua yang diperlihatkan Putra, Kaliana mulai menyusun rencana di kepalanya untuk mendesak pihak terkait. Agar bisa bergerak cepat dan mengambil kepurusan dalam hal pembagian harta gono-gini Jaret dan Chasina.


...~°°°~...

__ADS_1


...~●○¤○●~...


__ADS_2