ROMANTIKA HIDUP

ROMANTIKA HIDUP
81. Pascok (Pas dan Cocok) 2.


__ADS_3

...~•Happy Reading•~...


Tanpa disadari Kaliana, Marons sedang memperhatikannya. Marons melihat Kaliana masih khawatir tentang Bram, karena terus berpikir untuk menolongnya. Hal itu terlihat jelas di wajah dan juga ucapannya saat berbicara dengan Pak Yosa. Tanpa menunggu lama, Marons mengingatkannya.


"Dari pembicaraan tadi, kalian sudah berusaha maksimal untuk menolongnya. Selanjutnya, biarkan beliau lakukan yang kalian rencanakan dan lihat hasilnya. Tidak guna memikirkan langkah berikutnya, jika belum lakukan langkah yang dibicarakan tadi." Marons berkata serius, sambil melihat Kaliana. Kaliana terkejut mendengar teguran Marons.


Begitu juga anggota team sopape yang sedang serius memikirkan apa yang dikatakan Kaliana. Demikian juga dengan Danny yang sedang fokus mendengar apa yang dibicarakan Kaliana dengan anggota teamnya. Dia tidak menyangka, Marons bisa menegur Kaliana tanpa berpikir Kaliana akan tersinggung dan membuang peluang bagus untuk mendekatinya.


Kaliana sontak melihat ke arah Marons dengan berbagai macam peringatan dalam kepalanya dan juga berbagai rasa di hatinya. Tatapan Marons mengisyaratkan dia tidak nyaman dengan apa yang dilakukan Kaliana. Hal itu memanggil kesadarannya untuk memperhatikan keseriusan Marons.


Kaliana sudah terbiasa dengan cara dan ritme kerja beruntun mengikuti alur yang mengalir di kepalanya. Jika sedang bekerja banyak hal yang dipikirkan dan direncanakan, sehingga kadang dia lupa akan keadaan di sekitarnya. Tadi karena khawatir akan kondisi Bram, dia lupa pada kondisinya sendiri. Yang mana sudah ada Marons di sisinya dan ada dalam ruangan bersamanya. Dia melihat Marons sudah berdiri hendak keluar ruangan, tetapi masih melihatnya dengan serius menanti reaksinya.


Wajah Kaliana langsung berubah, karena menyadari kesalahannya. Dia menatap Marons dengan mata meredup, tanda meminta maaf. "Lakukanlah...!" Marons berkata tanpa mengalihkan pandangannya dari mata Kaliana. Kaliana sontak berdiri lalu berjalan cepat mengitari meja meeting, lalu tanpa berkata apa pun, langsung memeluk Marons sebelum dia meninggalkan ruangan.


Kaliana berusaha menempelkan pipinya ke pipi Marons, agar bisa berbicara dengan Marons tanpa didengar oleh yang lain. Supaya hanya mereka berdua yang tahu, apa yang dikatakannya atau yang Marons katakan. Kaliana berkata dengan pelan seakan berbisik. "Maafin, aku..." Marons yang mendapat respon demikian dari Kaliana, menundukan wajahnya karena merasakan usaha Kaliana menempelkan pipinya. Dia tidak menduga, Kaliana akan melakukan itu di depan anggota teamnya dan juga Danny.

__ADS_1


"Pantas kau menyebut ini asetmu. Jadi sekarang salah satu fungsi salam tempel, meredam emosi?" Marons berkata pelan di telinga Kaliana, karena apa yang dilakukan Kaliana mampu menghentikan langkahnya. Semua orang dalam ruangan terkejut dengan reaksi Kaliana kepada Marons. Terutama Danny, hanya bisa melihat dengan wajah tercengang sambil berpikir tentang hubungan Kaliana. Hatinya mulai bertanya, sudah sejauh mana kedekatan Marons dan Kaliana.


"Sekarang aku jadi tau, ada fungsi lain dari aset negara. Selain pingin disayang, hal ini bisa menurunkan tensi yang mulai menanjak." Ucap Kaliana pelan, berusaha bercanda. Walau hatinya cemas, dia berharap dengan tindakannya bisa menurunkan emosi Marons.


"Ini juga suatu cara, mau minta maaf, karena sudah bablass... Arrooo, maafin, ya..." Ucap Kaliana lagi, pergunakan kesempatan Marons sedang terdiam. Dia berharap Marons bisa memahami dan tidak marah lagi padanya.


"Aku tidak melarang, kalau kau mau menolongnya. Atau pun orang lain yang akan kau jumpai. Hanya berikan ruang untuk apa yang sudah direncanakan agar bisa direalisasi. Supaya kau dan team bisa evaluasi yang sudah dilakukan atau bila perlu dikoreksi lagi." Marons berkata pelan dan mulai melunak, karena apa yang dilakukan Kaliana mampu meredam emosinya.


"Iyaa, Arroo... Aku sedang belajar ngerem, agar tidak bablass... Tadi aku tidak bisa kendalikan sel-sel kecil di otakku untuk berhenti. Kalau ada yang berlaku jahat, aku belum bisa kendalikan adrenalinku untuk terus meluncur." Ucap Kaliana serius dan mencoba jelasakan dengan pelan, tanpa melepaskan pelukannya.


"Aku sudah katakan, tau batas kekuatan tubuhmu. Termasuk sel-sel kecil di kepalamu juga butuh istirahat, agar bisa melihat sesuatu dengan baik dan jelas. Apa artinya bersusah payah merencanakan sesuatu, jika hasilnya tidak dilihat? Lihat hasilnya, agar langkah berikutnya mungkin perlu diperbaiki, atau mungkin sudah 'pascok'. Kalau sudah demikian, untuk apa lagi tambah langkah berikutnya." Ucap Marons serius, karena dia sudah beberapa kali melihat cara kerja Kaliana.


"Kalau aku tidak memberikanmu ruang, apa kau masih bisa salam tempel seperti ini?" Marons berkata pelan, tapi serius. Kemudian menekan pipinya ke arah Kaliana.


"Waaaah... Arrooo... Ini benar-benar asetku. Eeehh... Aset negara kita. Jika tiba-tiba terjadi perang dingin atau panas di antara kita, cukup lakukan ini." Kaliana makin bernafas lega merasakan respon Marons padanya. Dengan cara Marons melakukannya, Kaliana tahu Marons telah memaafkannya.

__ADS_1


"Apa maksudmu? Kau suka kita berperang?" Tanya Marons tidak mengerti maksud Kaliana dengan mengatakan perang dingin atau panas.


"Bukan Arro... Aku cuma mau bilang, jika terjadi salam paham diantara kita, ada solusi bagus untuk menyelesaikannya, yaitu ini, salam tempel. Jadi bukan pingin disayang disayang saja, lakukan ini. Tapi saat berselisih paham, ini solusi yang sangat ampuh." Ucap Kaliana dengan hati senang dan mulai tersenyum.


"Jika ada yang beranggapan, salam tempel kita bukan aset atau tidak seru.. Eeh apa, ya.., mungkin mereka keliru. Salam tempel kita multi fungsi. Dengan begini, selain bisa meredam emosi, orang lain ngga tau, aku sedang dimarahin." Ucap Kaliana pelan, lalu melingkarkan tangannya ke punggung Marons. Dia jadi tersenyum dalam hati, saat merasakan Marons telah membalas pelukannya.


"Iyaaaa... Aset negara berfungsi dengan baik, kalau mau bicara. Jika sudah begini tidak perlu berbicara dengan suara yang keras, walau pun sedang marah. Tapi itu 'pascok' kalau kita sedang berdua saja. Kalau dalam situasi begini, kita bisa membuat telinga semua yang ada dalam ruangan ini panjang. Mereka jadi pasang telinga untuk mendengar yang kita bicarakan, terutama Putra." Ucap Marons yang melihat semua orang dalam ruangan sedang melihat mereka, sambil tercengang.


Kaliana jadi tersadar mendengar ucapan Marons. Mereka masih ada dalam ruang kerja bersama yang lain. "Kenapa baru ingatkan sekarang?" Kaliana berkata sambil memukul pelan punggung Marons, membuat Marons tersenyum.


"Selain heran dengan tindakanmu yang berani lakukan salam tempel di depan teammu, aku nikmati suasana yang tidak sering terjadi ini. Sekalian bisa tau, detak jantungmu saat suasana hatiku tidak baik." Ucap Marons yang sudah lebih santai lalu melepaskan pelukannya.


Kaliana kembali memukul pelan punggung Marons, lalu segera melepaskan pelukannya dan berbalik. "Coe, Vie, mari kita turun lihat yang mau dimakan dan bantu Bibi." Ucap Kaliana dengan wajah memerah, tanpa melihat yang lain sedang tersenyum melihatnya yang salah tingkah.


Kaliana berjalan cepat keluar ruang kerja lalu menuruni tangga, karena tidak mau dengar ledekan anggota teamnya. Namun tanpa diketahuinya, Yicoe dan Novie sedang berjalan di belakangnya sambil bersenggolan dengan mimik wajah yang lucu. Mereka lebih tenang dan juga senang, Kaliana melakukan hal itu untuk menghentikan emosi Marons kepadanya.

__ADS_1


...~°°°~...


...~●○¤○●~...


__ADS_2