
...~•Happy Reading•~...
Setelah berbicara dengan Bryan, Kaliana dan team tetap duduk di meja makan untuk membahas apa yang baru saja dibicarakan oleh Kaliana dan Bryan. Kasus Chasina yang siap jadi, akan mentah lagi atau makin melebar ke mana-mana jika keluarganya salah menanggapi setiap tawaran pertolongan yang ditawarkan kepada mereka. Hal itu menjadi pemikiran dan pertimbangan team sopape.
"Aku sudah curiga ini akan terjadi, saat konferensi pers dan media memberitakan tentang Ibu Chasina. Pasti ada banyak orang yang tergiur menawarkan jasa kepada mereka." Pak Yosa berkata setelah mendengar penuturan Bryan.
"Sangat bersyukur malam itu Mbak Anna sudah menawarkan Pak Danny untuk menjadi pengacaranya. Sekarang ini, bukan saja jaksa atau hakim nakal yang berlomba, tetapi juga pengacara. Selain itu para calo juga juga berlomba menjajahkan jualannya." Ucap Yicoe, mengingat apa yang dilakukan Kaliana pada malam gelar perkara. Dia juga mengingat dan setiap kasus yang berhubungan dengan orang berduit.
"Betul. Mereka benar-benar makanan empuk untuk mereka yang cinta uang. Mereka akan menjadi sumur uang bagi lingkaran pengambil keputusan yang suka menimbah uang haram." Novie menimpali, mengingat sering terjadi jika orang berduit yang berkasus di pengadilan.
"Nanti aku dan Pak Yosa akan ke tempat mereka jika diperlukan. Sekarang kita lihat dan teliti ke arah mana kasus ini akan bergulir. Kita harus bekerja keras dan cepat, agar kasus ini segera disidangkan. Supaya tidak memberikan kesempatan kepada orang-orang yang demikian, berselencar di atas penderitaan orang lain." Kaliana berkata serius sambil berpikir apa yang akan dilakukan untuk mempercepat kasus Chasina disidangkan.
"Sekarang ini, Pak Yosa, Yicoe dan Novie bersama Bibi lihat ruangan di lantai atas untuk tempat kerja kita sementara. Coe dan Vie saling bantu lihat dan catat apa yang kita perlukan, nanti setelahnya kita akan pesan sesuai dengan kebutuhan." Pak Yosa, Yicoe dan Novie mengangguk mengerti.
"Aku dan Putra tetap di sini, karena aku akan hubungi Pak Bram. Putra harus amankan pembicaraan kami, karena mungkin agak lama." Ucap Kaliana serius, karena mereka dikejar waktu untuk jadwal sidang kasus. Kaliana mengambil ponselnya, lalu mencari nama Bram sambil menunggu kode dari Putra.
📱"Sayangku, cintaku... Kupingku..." Ucap Bram saat merespon panggilan Kaliana, sebagai kode bahwa pembicaraan mereka tidak aman, sedang dipantau oleh orang lain.
📱"Negriku, bangsaku... Senyap..." Balas Kaliana juga memberikan kode, bahwa pembicaraan mereka aman. Pihak Kaliana sudah mengamankan pembicaraan mereka.
__ADS_1
📱"Baik... Sekarang sangat tidak aman melakukan pembicaraan seperti ini. Mereka sedang memantauku, agar bisa melacakmu." Bram menjelaskan, setelah mengerti kode Kaliana.
📱"Aku tau, makanya aku amankan dulu baru bicara denganmu. Bagaimana dengan orang yang pasang itu? Apakah kau bisa dapatkan sesuatu darinya?" Tanya Kaliana tentang petugas yang memasang GPRS di mobilnya.
📱"Dia hanya menjalankan tugas yang diperintah atasannya. Tapi dia juga sama tidak bersih, jadi tidak banyak yang kami dapatkan darimya. Ada permainan di dalam untuk melindungi nyamuk. Kau sudah tau nyamuknya." Bram berkata serius, tidak mau menyebut nama Jaret.
📱"Iya, aku sudah menduganya saat mengetahui dia petugas dan berkantor denganmu. Pasti hanya seputaran itu." Kaliana berkata juga dengan serius, karena sudah menduga pihak mana yang sedang ketar-ketir, ingin menyelamatkan diri.
📱"Ada baiknya juga kejadian itu, sehingga kita sama-sama waspada. Ada nyamuk juga di dalam kelambu." Ucap Kaliana lagi, mengingat peristiwa itu membuat mereka semua harus kerja lebih hati-hati dan waspada.
📱"Iyaa... Nyamuknya sedang mencari isi semprotan yang kau bawa. Jadi kalau mau serahkan, di luar kelambu saja." Bram berkata serius. Jika sudah dalam situasi seperti itu, mereka akan memggunakan bahasa sandi yang mereka suka pakai untuk menyamarkan maksud pembicaraan.
📱"Aku tau, ada bamyak nyamuk dalam kelambu. Baik yang sudah ada di dalam, atau yang dibiarkan masuk. Makanya sekarang aku telpon, agar kau hati-hati dalam kelambu. Yang kau diusulkan itu, aku 'OK'." Kaliana memberikan kode, bahwa akan menyerahkan bukti keterlibatan Jaret sebagai pengedar di luar kantor polisi.
Mereka tetap berhati-hati dalam berkomunikasi, karena bisa saja di tempat Bram berada, tidak aman. Dia bukan saja dipantau saluran telponnya, tapi juga ruangan dimana dia bekerja. Sangat berbeda dengan kondisi Kaliana yang hanya diamankan saluran komunikasinya.
📱"Ok... Aku siap, sedia seperti biasa." Ucap Bram serius dan memberikan isyarat.
📱"Aku mau minta tolong, agar nyamuk dimajukan terlebih dulu. Isi semprotan kau tentukan tempat dan waktunya." Ucap Kaliana lagi, karena dia berharap Bram bisa bantu memajukan persidangan kasus Jaret. Agar tidak banyak manuver yang mengganggu dan menghambat penyelidikan kasus Chasina.
__ADS_1
Begitu juga dengan permintaan Marons, agar kasusnya dengan Punguk ditunda sampai dia tentukan tanggal kembalinya ke Jakarta. Banyak hal yang harus diatur oleh Kaliana, mengingat ketiga kasus tersebut berhubungan dengan team sopape dan kinerjanya. Sehingga dia harus mengaturnya dengan baik, agar tidak terjadi kekacauan dan semuanya berantakan.
📱"Bisa, biasa... Seperti biasa di tempat biasa, dengan rasa biasa." Ucap Bram cepat, mengerti maksud Kaliana. Sehingga dia memberikan waktu besok mereka akan bertemu di restoran tempat mereka makan siang dengan kalimat yang sudah dimengerti oleh Kaliana.
📱"Baik... Ooh iya, tolong amankan semua bukti kasus selokan, ya. Terutama hasil forensiknya, karena itu menyangkut balakmu juga. Jadi jangan sampai ada yang tercecer." Kaliana mengingatkan semua yang menyangkut kasus kematian istri Marons, agar Danny bisa beradu dengan jaksa penuntut secara adil dan sesuai bukti yang diserahkan.
Kaliana perlu mengingatkan Bram, agar semua bukti yang ada di tangan penyidik tidak diselewengkan atau diacak oleh pihak-pihak yang menginginkan hukuman berat bagi Chasina.
Kaliana dari pihak Chasina menyiapkan bukti untuk bisa menyangga semua bukti yang ada di penyidik, dan itu sudah diketahui oleh Kaliana. Sehingga keputusan hakim bisa adil dan tidak mengarah seluruhnya ke arah Chasina sebagai pihak yang bersalah.
📱"Aku sudah amankan semuanya, saat mengetahui siapa dia. Sekarang banyak pihak yang berlomba untuk membaurkan atau menambahkan bukti baru. Jadi yang pertama sudah aku amankan di tempat yang aman." Bram mengerti maksud Kaliana. Setelah penangkapan dan mengetahui istri Jaret pelakunya, Bram segera mengamankan semua bukti tentang kematian Rallita.
📱"Baik... Kalau begitu, aku akan siapkan sangkutannya. Tolong beri spasi untuk anggota teamku, jika mereka mau kunjungi Bu Chasina. Sementara ini, aku menghindar dari kelambu." Ucap Kaliana, karena yang akan kunjungi Chasina Pak Yosa, Yicoe dan Novie, jika perlu.
📱"Baik... Info waktunya, nanti aku atur." Ucap Bram, lalu mengakhiri pembicaraan mereka setelah saling memberikan salam.
Kaliana duduk terhenyak di depan Putra, membayangkan situasi di kantor Bram. Semua pihak sedang memantaunya dan juga mencari dirinya untuk menyelamatkan Jaret. Jabatan ayahnya sebagai pejabat pemerintah, membuat banyak pihak ingin menutupi bahkan mau menutup kasusnya.
...~***~...
__ADS_1
...~●○¤○●~...