
...~β’Happy Readingβ’~...
Putra memberikan kode kepada Marons, bahwa sudah bisa bicara dengan Kaliana. Yicoe dan Novie segera turun menemui Bibi untuk mempersiapkan makan siang. Marons juga turun ke ruang keluarga untuk berbicara dengan Kaliana.
π±"Niii... Gimana?" Tanya Marons setelah duduk di sofa, ruang keluarga.
π±"Arroo... Aku makan siang di sini, ya... Kasihan Pak Yosa dan Pak Danny, mereka akan kelaparan di jalan kalau kami pulang sekarang." Kaliana berkata pelan setelah keluar dari ruang kerja Chasina, meninggalkan Bryan, Pak Yosa dan Danny untuk berbicara dengan Marons.
π±"Kau memikirkan mereka lapar, tapi tidak pikirkan kami akan kelaparan menunggu kalian pulang sekarang? Tidak pikirkan juga, kau akan pingsan di jalanan karena menahan lapar?" Tanya Marons serius, agar Kaliana bisa makan siang dengan tenang bersama Bryan, Pak Yosa dan Danny. Marons juga tidak mau dirinya dan ketiga anggota team sopape terlambat makan, karena harus menunggu Kaliana pulang.
π±"Iyaa, sih... Padahal aku pingin makan siang di rumah bersamamu. Aku tidak menyangka, tadi jalanan padat merayap saat ke sini. Jadinya kami agak telat sampai kantor Bu Chasi." Kaliana menjelaskan dengan suara pelan, agar Marons tidak kesal, karena suasana jalanan yang tidak bisa diprediksinya.
π±"Jangan nekad... Makan siang saja di situ... Akan ada banyak makan siang untuk kita." Ucap Marons lagi dengan serius, untuk meyakinkan Kaliana. Dia tidak apa-apa makan siang bersama anggota team sopape yang lain.
π±"Tapi kau kan baru kembali dan mumpung ada di rumah, jadi aku pingin makan siang di situ..." Ucap Kaliana lagi, berusaha meyakinkan Marons bahwa dia memang ingin makan siang di rumah bersamanya. Bukan sengaja menghindari, dengan membelokan rencana semula.
π±"Kalau cuma itu..., besok, besok, kau bisa menyusulku ke kantor untuk makan siang bersama. Atau weekend nanti, kita masih bisa makan siang di rumah. Selesaikan yang di situ, supaya pulang nanti, tidak menyesal. Mengapa tidak sekalian lakukan ini atau itu." Marons berkata lagi dengan serius, agar Kaliana tidak terbebani dengan keputusannya pergi menemui Bryan.
__ADS_1
π±"Oooh iya, Niii... Kalau kau pulang sekarang, aku akan memakanmu. Jadi lebih baik kau makan di situ...!" Marons menambahkan, agar bisa mengalihkan rasa tidak enak Kaliana terhadapnya.
π±"Astoogeee... Sejak kapan aku berubah jadi lauk, eeh sayur, eeh ...?!" Kaliana menanggapi ucapan Marons, lalu tersenyum mendengar ucapannya.
π±"Bisa, bisanya dalam situasi seperti tadi, mengatakan tentang 'aset'... Kau membuat mereka bertiga melihatku dengan wajah kebingungan, karena aku tiba-tiba tertawa. Mungkin mereka tidak mendengar ucapanmu, atau tidak mengerti artinya. Semoga tadi mereka tidak berpikir, aku mulai miring." Ucap Marons sambil tersenyum, mengingat tatapan Putra, Yicoe dan Novie ke arahnya. Marons juga berusaha mengalihkan topik pembicaraan mereka.
π±"Oooh, itu... Tadi karena terkejut dan marah, jadi keceplosan kata aset. Mamanya tiba-tiba mau mencakar wajahku. Sangking terkejut dan emosi, keluar begitu saja kata itu." Kaliana menjelaskan dengan wajah memerah, karena hal itu dibahas oleh Marons.
π±"Kau mau lihat pipiku dicakar Mamanya Jaret? Kau mau salam tempel dengan pipi kerikil?" Jawab Kaliana menutupi rasa malunya, mengingat ucapannya kepada Mama Jaret.
π±"Oooh, itu... Yaaa, jangan... Kau bisa amankan orang lain, masa tidak bisa amankan 'aset negara kita'..." Marons berkata cepat, lalu tertawa mendengar ucapannya. Membuat Kaliana jadi ikut tertawa mendengar Marons mengatakan pipinya sebagai aset negara.
π±"Begini, Arro... Kalau Pak Bram belum memberikan sinyal hijau dengan menghubungiku, berarti beliau masih dalam kondisi yang tidak aman. Jadi aku pikirkan untuk lakukan ini sambil menunggu kabar darinya...." Kaliana menjeleskan kepada Marons, rencananya yang tiba-tiba berubah menemui Bryan.
Marons mendengar sambil berpikir ke arah mana rencana Kaliana dan keuntungannya bagi pihak mereka. Dia juga pikirkan dampaknya terhadap kondisi keluarga Jaret. Dia makin mengagumi cara berpikir dan rencana cadangan Kaliana dalam mengamankan kasus yang sedang ditanganinya.
π±"Good...! Aku setuju denganmu... Setelah ini, kau kirim vidoenya untuk Putra agar segera diupload. Nanti setelah makan, segera buat wawancara Pak Yosa dengan Danny lalu kirim lagi. Nanti aku temani Putra edit untuk ambil yang diperlukan." Marons ikut mendukung strategi Kaliana merespon perkembangan situasi yang tidak terduga.
__ADS_1
π±"Kita akan sempurnakan usaha Hakim dengan bantuan netizen. Agar netizen bisa menekan pihak PPATK memeriksa kekayaan Jaret." Marons sangat setuju dengan ide Kaliana yang mau menggunakan kekuatan publik sebagai pengawas. Sehingga pihak-pihak yang mau main mata, bisa berhati-hati dan menahan diri.
π±"Ok, Arro... Jadi sambil jalan pulang kami mampir ke kantor Pak Danny untuk lakukan wawancara, lalu kirim ke Putra." Kaliana jadi bersemangat dan sangat senang. Marons menyetujui rencananya dan dapat dukungan juga darinya.
π±"Tidak usah ke kantor Danny... Lakukan saja wawancara dengan Danny di situ, hanya pindah tempat. Danny pasti bisa bantu tentukan tempat yang sesuai untuknya. Agar kau bisa lebih cepat kirim videonya ke Putra sebelum kalian tinggalkan tempat itu." Marons kembali memberikan ide, agar rombongan Kaliana tidak mampir lagi ke kantor Danny. Marons berkata demikian, karena ada yang harus mereka diskusikan di rumah.
π±"Nanti selesai makan siang, dan sambil tunggu kalian tiba di sini, aku akan bicara dengan Putra untuk mengamankan beberapa hal yang berhubungan dengan orang tua Jaret." Marons berkata serius lagi, setelah lebih jauh memikirkan dampak dari rencana Kaliana.
π±"Iyaa, Arro. Thanks... Aku memang rencama mau lakukan itu, setelah makan siang di sini. Arro tolong bilang Putra, lihat lagi harta Jaret. Apakah ada perubahan pemilikan. Jangan sampai ada yang sudah mereka pindahkan." Ucap Kaliana cepat, setelah mendengar apa yang dikatakan Marons.
π±"Baik... Nanti setelah ini, aku bicara dengan mereka bertiga. Oooh iya, Niiii.... Apakah Putra bisa mengecek, Safe Deposite Box (SDB)?" Tanya Marons, mengingat kekayaan Jaret. Dia berpikir demikian, karena kebanyakan orang berduit memiliki SDB, sebagaimana dirinya.
π±"Aku tidak pikirkan itu... Arro tolong bicarakan dengan Putra untuk mengeceknya. Kalau ada SDB, agar Putra tambahkan itu dalam daftar kekayaan Jaret." Ucap Kaliana serius, lalu berpikir ke arah Hakim. Semoga mereka bisa bergerak cepat bersama Hakim, sehingga kekayaan Jaret masih bisa dideteksi dan diamankan.
π±"Kau makan dulu, agar bisa berpikir dengan baik.. Jika ada yang direncanakan untuk lakukan di luar, lakukan sekalian. Tapi pulangnya jangan terlalu malam." Ucap Marons serius, karena khawatir Kaliana bisa membelok, jika ada yang terpikirkan menyangkut rencananya. Dia sudah paham cara kerja Kaliana dan apa yang akan dilakukan lagi, setelah berpikir tentang situasi yang berkembang.
Kaliana merasa lega, Marons bisa mengerti rencananya dan mendukung tindakannya. Mereka mengakhiri pembicaraan, lalu Kaliana kembali masuk ke ruang kerja Chasi dimana Bryan, Pak Yosa dan Danny yang sedang menunggunya untuk makan siang. Sekretaris Chasina sudah membawa pesanan makan siang mereka dan sedang menatanya di meja sofa, ruang kerja Chasina
__ADS_1
...~°°°~...
...~ββΒ€ββ~...