
...~•Happy Reading•~...
Marons mengangangkat tangannya lalu menghapus air mata Kaliana dengan pinggiran jarinya. Dia sangat terkejut melihat wajah Kaliana yang sangat sedih. Pikirannya seakan berhenti, tidak bisa berpikir.
"Niii... Ada apa. Kalau aku salah, marahlah. Jangan seperti ini. Jangan membuatku bingung." Marons berkata sambil memegang kepala Kaliana dan mengelus pingiran matanya dengan jempolnya untuk menenangkan Kaliana.
"Ucapanku tadi, serius. Aku akan mengantarmu untuk menemui orang tuamu. Bukan untuk melamar, tapi untuk perkenalkan diri. Agar orang tuamu tau, aku serius berhubungan denganmu." Marons berkata pelan dan serius, sambil melihat mata Kaliana yang makin sedih.
Marons menarik nafas panjang melihat air mata Kaliana yang tidak berhenti mengalir. "Tunggu semua ini selesai, baru orang tuaku yang akan datang melamarmu." Marons mencoba menebak, apa yang membuat Kaliana begitu sedih. Mungkin ucapannya yang mau mengantar Kaliana dan butuh kepastian darinya.
^^^Marons berkata demikian, bukan hanya untuk menenangkan Kaliana, tapi juga untuk mengetahui apa yang sedang dirasakan Kaliana.^^^
^^^Kaliana bukan menjawab Marons, tapi malah mengangkat kepalanya lalu memutar tubuhnya dan memeluk Marons. Membuat Marons tertegun, tapi balas memeluk Kaliana sambil berpikir akan sikap Kaliana.^^^
"Orang tuaku sudah ngga adaa..." Kaliana berkata pelan dan dengan suara bergetar di atas bahu Marons.
"Apa maksudmu...?" Marons sangat terkejut mendengar ucapan Kaliana lalu mengangkat kepala Kaliana dari bahunya untuk melihat wajah Kaliana dengan sungguh-sungguh.
"Apa maksudmu... Katakan padaku, agar aku mengerti. Orang tuamu sudah ngga ada, maksudmu sudah meninggal?" Marons bertanya dengan wajah yang sangat serius, sambil memegang wajah Kaliana yang basah air mata dengan kedua tangannya.
Kaliana hanya mengangguk tanpa suara, dan air matanya terus mengalir. Sikap dan ucapan Marons makin menyentuh hatinya yang sedang sedih.
__ADS_1
"Astagaaa... Anniiii... Aku menarik ucapanku tadi untuk mengantarmu." Marons sontak memeluk Kaliana dengan erat. Marons menarik nafas dalam, mengingat ucapannya untuk mengantar Kaliana menemui orang tuanya. 'Pantas dia sangat sedih.' Marons berkata sendiri dalam hati dan terus berpikir tentang apa yang baru dikatakan Kaliana. Suatu keadaan yang tidak pernah diduganya.
"Maafin aku, karena tidak bertanya banyak tentang orang tuamu. Kita bertemu dalam situasi seperti ini, jadi tidak terpikirkan." Marons berkata sambil terus memeluk Kaliana dan mengusap punggung Kaliana, pelan dan sayang untuk menenangkannya.
"Hampir setiap hari hanya bergelut dengan berbagai persoalan, berbagai kasus, menyelesaikan persoslan, menyelesaikan kasus, sampai tidak pikirkan lagi orang di sekitar kita." Marons menyadari keberadaan dan kesibukan mereka, sehingga emosinya turun naik dan campur aduk.
"Waktu khusus untuk kita berdua saja, mungkin bisa dihitung dengan jari. Bagaimana mau bicara tentang orang tua kita." Marons berkata pelan, setelah memikirkan kondisi mereka berdua yang sudah menjalin hubungan sebagai sepasang kekasih, tapi memiliki waktu bersama yang sangat minim.
"Mau bicara tentang kita saja, seperti orang sedang berlari. Berhenti sebentar untuk istirahat dan menarik nafas, lalu berlari lagi. Berbicara sebentar, lalu sibuk lagi dengan segala macam pekerjaan dan persoalan." Marons terus berbicara, karena menyadari keadaan hubungan mereka yang tidak seperti orang pacaran pada umumnya.
"Kau sedang kesal padaku?" Kaliana tiba-tiba menarik tubuhnya dari pelukan Marons, lalu bertanya dengan wajah yang masih basah oleh air mata. Kaliana bisa merasakan emosi Marons yang sedang dipeluknya.
"Kesal padamu...? Sedang kesal dengan hubungan kita." Marons berkata lalu memegang wajah Kaliana dan menghapus air mata Kaliana dengan tangannya, tapi hatinya sedikit lega melihat reaksi Kaliana.
"Mati rasa, tapi masih bisa kesal." Kaliana berkata pelan setelah memukul lengan Marons, lalu menjauh darinya.
"Kesal itu bagian dari mati rasa. Kesal karena tidak bisa berpikir, apa yang membuatmu sedih. Aku tarik ucapanku tadi..." Marons berkata dengan wajah serius, mengingat ucapannya untuk mengantar Kaliana menemui orang tuanya. Padahal orang tuanya sudah meninggal, memikirkan itu, Marons jadi merinding.
"Sekarang, ceritakan tentang orang tuamu. Aku tidak bertanya tentang orang tuamu saat menginap di rumahmu, karena aku berpikir orang tuamu tinggal di daerah lain setelah Papamu pensiun dari kepolisian." Marons menyampaikan apa yang dipikirnya, setelah melihat Kaliana sudah lebih tenang.
"Apa Papamu, sakit? Eeh... Maksudmu Mamamu juga sudah ngga ada?" Marons jadi terkejut sendiri dengan pemikirannya. Dia baru tersadar, saat bertanya tentang Papa Kaliana. Yang dimaksudkan Kaliana dengan orang tuanya sudah tidak ada. Berarti Papa dan Mamanya sudah meninggal.
__ADS_1
"Iyaa... Orang tuaku meninggal dalam kecelakaan pesawat..." Kaliana menceritakan kejadiannya kepada Marons dengan perasaan turun naik, tidak menentu. Saat memikirkan kedua orang tuanya, hatinya seakan diaduk dengan berbagai peristiwa yang menyedihkan.
^^^Kaliana mengingat saat dia masih dinas dan mendengar berita tentang pesawat yang ditumpangi orang tuanya mengalami kecelakaan. Tidak tiba di tempat tujuan, dan tidak tahu keberadaan pesawat, karena tiba-tiba hilang kontak.^^^
^^^Mama Papanya mau hadiri acara pernikahan keluarga Mamanya yang tinggal di Sulawesi Utara. Dia tidak ikut, karena sedang mengikuti pendidikan kenaikan pangkat di kepolisian. Sehingga Papanya tidak bisa minta ijin dari pimpinannya agar dia bisa ikut dengan mereka.^^^
^^^Jika dia ikut juga hari itu, maka mereka sekeluarga akan meninggal dalam kecelakaan tersebut. Membuat Kaliana mengelus dadanya, agar bisa lebih tenang dan bersyukur untuk hidupnya.^^^
"Aku tau tentang kecelakaan pesawat itu, karena diekspos oleh berbagai media masa. Baik media cetak atau televisi. Tapi tidak ada penumpang yang ..... Ooh, kemarilah..." Marons tidak jadi meneruskan ucapannya, ketika mengingat pemberitaan saat itu. Tidak ada penumpang yang selamat, dan bangkai pesawat tidak ditemukan juga jenasah semua penumpangnya.
Marons memeluk Kaliana dengan erat. "Aku turut berduka... Jika kau mengingat dan mau membicarakan mereka, bicaralah padaku. Kau tidak sendiri. Selain ada anggota team yang sangat menyayangimu, sekarang ada aku. Kapan saja, bahu ini ada untukmu bersandar." Marons berkata sambil mengelus kepala Kaliana yang sedang bersandar di bahunya.
"Bukankah, kecelekaan pesawat itu di bulan ini?" Marons baru teringat, karena saat mendengar kecelakaan itu dia ada di Singapure untuk lanjutkan study. Orang tuanya melarang dia tidak lakukan penerbangan untuk sementara waktu.
"Iyaa, hari ini... Makanya aku libur hari ini untuk memberikan waktu mengenang orang tuaku. Setiap tahun aku hanya bisa lakukan ini untuk mengenang mereka." Kaliana berkata setelah menarik tubuhnya dari pelukan Marons. Dia menyadari waktu telah lewat dini hari dan mungkin hampir Subuh.
"Kalau begitu, habiskan minummu. Kita istirahat sebentar, nanti pagi kita bicarakan lagi. Aku akan atur dengan asisten dan sekretarisku, agar aku bisa menemanimu." Marons berpikir cepat, mendengar penuturan Kaliana yang libur untuk mengenang hari duka citanya. Hari kehilangan yang menyakitkan dan mendukakan hatinya.
"Berikan salam tempel, agar kita bisa tidur dengan tenang." Marons berkata setelah menghabiskan minuman, lalu berdiri. Hal yang sama dilakukan oleh Kaliana. Dia mengangguk lalu menempelkan pipinya ke pipi Marons, yang sudah memeluk dan mengusap pungungnya dengan sayang.
"Istirahatkan hati dan pikiranmu, supaya bisa tidur. Aku ada di sini." Marons berkata pelan di telinga Kaliana lalu mencium pinggiran pipinya, lama.
__ADS_1
...~°°°~...
...~●○¤○●~...