ROMANTIKA HIDUP

ROMANTIKA HIDUP
146. Bersiap.


__ADS_3

...~•Happy Reading•~...


Sontak Papa Jaret melihat istrinya dengan serius. Mama Jaret hanya diam, tanpa merespon apa yang dikatakan pengacara Elly dan menghindari tatapan suaminya. Melihat reaksi istrinya, Papa Jaret kembali melihat pengacara Elly dengan serius.


"Baik... Besok setelah persidangan, Pak Elly tolong menemui saya di sini. Ada yang mau saya bicarakan menyangkut proses perceraian Jaret." Papa Jaret berkata serius dan sekaligus memberi sinyal untuk pengacara Andi, bahwa yang diminta datang hanya pengacara Elly.


Setelah pengacara Elly dan pengacara Andi pamit meninggalkan mereka, Papa Jaret mengajak istrinya ke ruang keluarga untuk berbicara serius dengan istrinya.


"Kau besok ke persidangan dampingi pengacara Elly dan ingat baik-baik yang dikatakannya. Sekarang sedang banyak masalah dengan kita, jadi pikirkan sebelum lakukan atau ucapkan sesuatu."


"Masalahnya bukan saja karena Jaret, tapi juga kita. Jadi jangan tambah masalah dengan sikap atau ucapanmu yang memancing emosi orang." Papa Jaret berkata tegas sambil memandang istrinya dengan serius.


^^^Mama Jaret hanya diam mendengar, karena pikirannya sedang penuh dengan berbagai macam hal, terutama tentang rencana sidang perceraian Jaret yang akan dilakukan esok hari.^^^


"Tidak usah kau pikirkan tentang proses perceraian Jaret dan pembagian harta gono-gini yang akan dilakukan. Sekarang ini yang harus kau pikirkan harta yang ada pada kita saat ini." Papa Jaret meneruskan lagi nasehatnya kepada Mama Jaret, agar istrinya bisa mengerti dan bisa siap hadapi situasi.


"Sekarang kita berharap, semoga anak itu tidak lakukan sesuatu yang merugikan kita. Apa lagi sekarang aku sedang disidik." Papa Jaret berkata sambil memegang dan mencengkram rambutnya dengan kuat untuk mengurangi rasa peningnya.


Mengingat apa yang dialami sepanjang hari, Papa Jaret menarik nafas panjang dan memijit pelipisnya dengan kuat. Kepala dan hatinya sudah penuh dan detak jantung tidak beraturan sepanjang hari, membuatnya pusing dan pening.


"Apa maksudmu? Kau juga disidik karena perbuatan Jaret?" Tanya Mama Jaret heran, tapi rasa khawatir mulai menjalar di hatinya.


"Bukan saja karena kasus Jaret, tapi imbas dari semua foto flexing yang diposting akun anonim itu. Aku diperiksa pimpinan dan beberapa rekan bergantian, hampir 8 jam." Papa Jaret berkata dengan serius, sambil menggelengkan kepalanya untuk mengurangi rasa peningnya.


^^^Mama Jaret terkejut mendengar apa yang dikatakan suaminya. Sesuatu yang pernah terlintas di benaknya mulai mengganggu dan mengkhwatirkannya. Sehingga melihat suaminya dengan tegang dan was-was.^^^

__ADS_1


"Aku sedang memikirkan apa yang bisa dipindahkan dari rumah ini. Karena bisa kapan saja, pihak penyidik akan datang menyidik rumah ini. Jadi lebih baik kau pikirkan itu dan bersiap-siap." Papa Jaret berkata lagi tanpa melihat wajah terkejut dan khawatir istrinya.


"Aku tidak perlu menjelaskan dengan rinci apa yang akan terjadi dengan kita, jika aku sudah disidik oleh pihak di luar departemen." Papa Jaret berkata serius sambil terus mencengkram rambutnya.


~°°°~ ~°°°~ ~°°°~


Di sisi yang lain ; Kaliana dan semua anggota team sopape juga Marons dan Danny sudah selesai makan malam, tapi mereka masih duduk di meja makan untuk berbincang-bincang setelah Kaliana, Yicoe dan Novie merapikan meja makan.


"Arro, aku sudah bicara dengan Pak Yosa untuk latihan menembakmu. Nanti waktunya dibicarakan saja dengan Pak Yosa dan pergi lihat senjata yang cocok dan nyaman denganmu." Kaliana teringat dengan permintaan Marons untuk memiliki senjata api dan juga mau latihan menembak.


Dia langsung membicarakan itu, karena Marons akan berangkat pagi-pagi ke kantor. Mungkin mereka tidak akan sarapan bersama dan tidak sempat membicarakannya.


Danny sontak melihat ke arah Marons, saat mendengar yang dikatakan Kaliana. "Kau mau latihan menembak? Bukannya kau pernah latihan di Amerika bersama Om?" Tanya Danny serius, karena tahu Marons dan Ayahnya pernah latihan.


"Untuk pemanasan saja. Jari-jari mulai kaku, apa lagi sudah lama tidak pergi berburu." Marons berkata serius.


"Mau beli senjata juga?" Tanya Marons, karena mengingat Danny pernah tidak mau, saat mereka membicarakan itu.


"Tidak. Hanya latihan menembak saja, agar bisa tenang dan konsentrasi saat lakukan pembelaan di ruang sidang." Danny menjelaskan dengan tenang dan serius.


"Kalau begitu, tanyakan Yogi. Mungkin dia juga mau ikut latihan, agar Pak Yosa bisa sekalian daftarnya." Marons mengingat temannya, dokter Yogi.


"Ngga usah. Yogi lebih suka bedah tubuh manusia, dari pada pergi menembak. Ingat waktu kita pergi berburu dengannya? Kita sering tidak dapat buruan, karena Yogi asal menembak supaya burung atau hewan pada kabur. Dari pada kau menghukumnya dengan membawa senapanmu." Semua orang yang ada di meja jadi tersenyum dengar cerita Danny.bBegitu juga dengan Marons.


"Baiklah... Jika dia protes karena tau kita pergi latihan menembak tanpa mengajaknya, kau yang urusin dia." Marons berkata sambil menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


"Pak Yosa, besok kita bicarakan rencana ini, ya. Aku harus atur schedule ulang di kantor." Marons berkata sambil melihat ke arah Pak Yosa dengan serius.


"Siiiiaaap..." Pak Yosa berkata cepat dan sigap.


"Baik... Sekarang kita bicarakan rencana yang akan dilakukan besok, sebelum Pak Danny siapkan semua yang berhubungan dengan persidangan gugatan cerai Bu Chasina." Kaliana mulai membicarakan apa yang akan dilakukan oleh team sopape dan juga Danny.


"Besok aku dan Pak Yosa akan menemani Pak Danny ke kantor pengadilan negeri. Sedangkan Novie dan Yicoe temani Putra untuk persiapan pembahasan latihan yang disiapkan Putra." Kaliana berkata serius, sambil melihat satu persatu yang sedang memperhatikannya.


"Setelah ini, Pak Danny lakukan persiapan, sedangkan kita semua kumpul di ruang ganti Pak Marons." Kaliana berkata sambil melihat ke arah Marons untuk minta persetujuannya.


Walaupun tidak mengerti maksud Kaliana, Marons menganguk, mengiyakan. Kemudian mereka semua berdiri ke tempat yang dimaksudkan Kaliana. Marons mendekati Kaliana dan bertanya padanya. "Ada apa di ruang gantiku?" Tanya Marons, pelan.


"Sorry. Maksudku, ruang ganti Rallita. Kita akan mengukur pakaian yang sudah kami pesan sebagai seragam team. Kau minta dibuatkan juga, kan?" Tanya Kaliana pelan, mengingatkan Marons.


"Ooh, itu. Iyaa... Kumpul di situ saja." Marons menyetujui pelan yang direncanakan Kaliana.


Setelah semua berkumpul di ruang ganti Rallita, Yicoe dan Novie mengeluarkan semua pakaian yang akan menjadi seragam mereka lalu membagikan untuk semua, termasuk Marons.


"Sekarang ada dua, rompi kita?" Tanya Pak Yosa, setelah menerima paket yang diserahkan oleh Yicoe.


"Iya, Pak Yosa. Rompi kerja untuk hari-hari, warnanya masih seperti yang lama. Hanya ada tambahan di beberapa bagian. Sedangkan yang hitam, itu untuk saat lakukan penyamaran. Boleh dicoba yang hitam, karena itu seragam lengkap. Yang rompi tidak usah diukur." Kaliana menjelaskan apa yang didesainnya bersama Putra untuk 'bunglon' (itu yang dikatakan Putra untuk seragam baru mereka).


"Wuuuuiiii.... Pak Marons seperti anggota Densus." Putra melihat Marons dengan tercengang. Seragam yang didesainnya bersama Kaliana sangat cocok dengan team sopape dan Marons.


"Tidak usah memakai tutup kepalamu, nanti mata Putra tidak beranjak darimu." Kaliana berkata cepat, saat Marons sedang menimbang-nimbang tutup kepala di tangannya.

__ADS_1


...~°°°~...


...~●○¤○●~...


__ADS_2