ROMANTIKA HIDUP

ROMANTIKA HIDUP
55. Bantuan 2.


__ADS_3

...~•Happy Reading•~...


Kaliana merasa lega dengan situasi yang sedang dihadapi Danny. Dia berdoa dan berharap, Danny bisa menggunakan peluang yang ada dengan bijak. Karena mereka belum kenal siapa Sisilia dan suaminya.


"Putra, rekam semua percakapan mereka untuk dikaji dan kita akan membahasnya nanti." Ucap Kaliana pelan sambil terus mendengar percakapan Danny dan suami Sisilia. Putra memperlihatkan kepada Kaliana, siapa hakim Alvian dan jejak kariernya. Begitu juga dengan istrinya yang bernama Sisilia.


"Ooh, ini istri keduanya. Istri pertama sudah meninggal tiga tahun lalu dan mereka belum lama menikah." Ucap Kaliana pelan, setelah melihat dan membaca semua yang ditunjukan Putra tentang hakim Alvian dan keluarganya.


Kaliana mengelus pelan lengan Putra. Hatinya sangat senang, karena Putra mengerti apa yang harus dilakukan tanpa perlu dibilang. Kaliana memberikan kode OK kepada Putra lalu meninggalkan Putra sendiri bekerja. Kaliana menyusul Yicoe dan Novie untuk membahas perlengkapan ruang kerja dan kamar tidur yang akan di beli.


~°°°~ ~°°°~ ~°°°~


Di sisi lain ; Danny dan Pak Yosa berada di ruang kerja hakim Alvian bersama istrinya. Setelah mereka dipersilahkan duduk, Pak Alvian pesan minuman untuk tamunya, lalu berbicara dengan Danny.


"Silahkan Pak Danny. Apa yang bisa saya bantu?" Pak Alvian mempersilahkan Danny berbicara setelah mereka semua duduk di sofa yang ada dalam ruang kerjanya.


"Baik, Pak... Terima kasih. Mungkin Pak Alvian sudah tau tentang kasus pembunuhan Ibu Rallita Gandire yang melibatkan Ibu Chasina Queensha sebagai terdakwa?" Tanya Danny membuka percakapan, agar mengetahui harus menjelaskan bagian mana saja. Dia ingin menjelaskan sedikit kasus yang membuat Chasina ditahan, sebelum menyampaikan maksud kedatangannya ke kantor Pak Alvian.

__ADS_1


"Iyaa... Saya tau kasus tersebut. Kami sedang menunggu kasusnya dilimpahkan dari Kejaksaan. Saya cukup mengikuti kasus ini, karena sempat viral dan menarik perhatian publik. Pak Danny pengacara korban atau terdakwa?" Tanya Pak Alvian hati-hati, karena beliau tidak boleh bertemu pihak tertentu jika kasusnya mulai digelar.


"Iya, Pak. Saya pengacara terdakwa, tapi saya ke sini tidak berhubungan dengan kasus pembunuhan tersebut. Saya mau mendaftarkan gugatan cerai terdakwa terhadap suaminya. Dalam hal ini pun, saya ditunjuk sebagai pengacaranya. Jadi saya mewakili beliau untuk menangani gugatannya." Danny menjelaskan maksudnya dan statusnya sebagai pengacara Chasina.


"Oooh... Kalau itu saya bisa bantu untuk mengatur jadwal sidangnya. Kalau kasus pembunuhan, saya mohon maaf, tidak bisa membantu. Jika beliau bersalah, hukumannya sesuau dengan pasal yang dikenakan kepadanya." Pak Alvian menunjunkan sikapnya dengan berbicara hati-hati.


"Iya, Pak... Kami mengerti... Kami ke sini hanya untuk mendaftarkan gugatan cerainya." Danny berkata serius dan tegas. Dia khawatir percakapan mereka dipantau oleh pihak-pihak tertentu, sehingga membuat masalah bagi Pak Alvian.


"Baik... Mengingat mereka sedang di tahanan, kita harus mengikuti aturan yang berlaku, jika ada negosiasi atau mediasi." Pak Alvian merasa lega, Danny tidak meminta tolong untuk sesuatu yang tidak bisa dilakukannya. Seperti keringan hukuman atau lainnya, sehingga harus berbicara dengan rekan hakim lainnya. Beliau belum tahu, siapa yang akan memimpin persidangan kasus pembunuhan tersebut.


"Tidak ada negosiasi atau mediasi, Pak. Bu Chasina hanya meminta haknya sesuai perjanjian mereka sebelum menikah di depan notaris." Danny menunjukan surat-surat yang berhubungan dengan gugatan tersebut dan juga perjanjian pra nikah mereka.


"Ada, Pak. Semua bukti terlampir dan Bu Chasina ditahan, karena dituduh membunuh selingkuhan suaminya." Danny menjelaskan lagi, agar Pak Alvian bisa memahami persoalan yang sebenarnya.


"Kalau begitu, saya akan minta ini didaftarkan dan segera disidangkan. Nanti saya hubungi Pak Danny untuk memberitahukan waktunya. Kami perlu meminta PPATK (Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan) untuk memeriksa harta kekayaan yang digugat. Agar saat putusan nanti, pihak penggugat bisa mendapatkan haknya dengan adil sesuai perjanjian pra nikah mereka." Ucap Pak Alvian serius dan tenang.


Sisilia dan Pak Yosa hanya mendengar dalam diam. Terutama Sisilia yang mengikuti kasus terbunuhnya Rallita. Dia jadi sedikit mengerti, setelah mendengar apa yang dikatakan Danny. Sungguh malang nasib Chasina yang memiliki suami bukan saja terlibat narkoba, tetapi juga tukang selingkuh. Membayangkan itu, dia mengusap lengannya, karena merinding. Pak Alvian melihat apa yang dilakukan Sisilia jadi berpikir, suasana persidangan kasus yang melibatkan Chasina pasti akan ramai.

__ADS_1


"Baik, Pak... Kami tunggu pemberitahuannya. Semoga sudah dilaksanakan sebelum jadwal sidang kasus pembunuhan digelar, agar kami bisa konsentrasi untuk sidang tersebut." Ucap Danny pelan dan tersirat harapan, Pak Alvian bisa mengusahakannya sidang gugatan cerai Chasina lebih awal. Pak Alvian mengangguk pelan, karena mengerti maksud Danny.


"Setelah ada pemberitahuan dari pihak PPATK, kami akan mengirim surat pemberitahuan kepada kedua pihak. Apakah alamatnya sudah ada di sini?" Tanya Pak Alvian, sambil menunjuk lembaran surat gugatan Danny. Mengingat kedua pihak sedang ada di tahanan. Pihak pengadilan akan mengirim surat kepada kedua pihak atau wakilnya untuk hadir dalam persidangan.


"Sudah, Pak... Kalau Ibu Chasina ke kantor saya, sebagai wakilnya. Sedangkan Pak Jaret ke alamat rumah orang tuanya." Danny menjelaskan, sambil menunjuk lembaran dimana tercantum alamat kantornya dan alamat rumah orang tua Jaret yang diberikan Putra kepadanya.


"Baik... Akan lebih mudah diputuskan, karena mungkin hanya pengacara yang datang. Apalagi mereka belum memiliki anak." Pak Alvian beepikir, tidak akan ada masalah jika hanya pembagian harta gono-gini. Perjanjian pra nikah akan mengikat mereka. Apalagi jika pihak tergugat tidak memiliki harta untuk dibagi.


"Iya, Pak. Client kami sedang bermasalah dengan hukum, jadi menyerahkan kepada kami untuk menuntut sesuai dengan perjanjian pra nikah. Kemungkinan tidak akan bertele-tele, itu harapan kami." Danny bersikap seakan tidak tahu bahwa Jaret memiliki harta melimpah. Dia juga memberikan sinyal kepada Pak Alvian, bahwa mereka akan menuntut pembagian harta sesuai perjanjian pra nikah.


"Baik... Karena saya ada keperluan keluarga, saya akan minta tolong rekan saya menghubungi pihak PPATK. Jadi saat kembali nanti, sudah bisa ditindak lanjuti surat gugatan ini." Ucapan Pak Alvian sebagai isyarat kepada Danny, bahwa mereka tidak bisa berlama-lama.


"Baik, Pak. Terima kasih. Kami mohon pamit." Ucap Danny, sambil mengulurkan tangan untuk menyalami Pak Alvian. Begitu juga dengan Pak Yosa, yang ikut menyalami Pak Alvian.


"Sil... Pamit ya... Eeh, maaf, Pak. Saya panggil dengan nama saja." Ucap Danny sambil menunjuk Sisilia dengan jempolnya. Dia jadi tidak enak hati karena keceplosan memanggil nama kecil Sisilia.


"Tidak mengapa, Pak Danny. Dek Sisil sudah cerita, saat kami mendata nama untuk undangan pernikahan. Tapi teman-temannya tidak bisa menghubungi para seniornya, Pak Danny salah satunya." Pak Alvian berkata dengan tenang dan ramah. Beliau mengingat apa yang dibicarakan Sisilia saat mau mengundang teman dan para seniornya saat kuliah, selain teman kantor di hari pernikahan mereka.

__ADS_1


...~°°°~...


...~●○¤○●~...


__ADS_2