ROMANTIKA HIDUP

ROMANTIKA HIDUP
66. Bertaktik 2.


__ADS_3

...~•Happy Reading•~...


Pengacara Jaret tidak curiga dengan apa yang dilakukan oleh Danny. Dipikirnya, Danny hanya memastikan kebenaran nomor yang diberikannya. Itu semua karena sikap Danny saat melakukannya sangat santai dan tenang.


"Iyaa, benar... Itu nomor kami. Selanjutnya, kami tunggu kabar baiknya. Nanti kita akan bertemu secara pribadi." Pengacara Jaret berkata lagi dengan hati lega. Beliau berpikir, Danny sudah terjerat umpannya. Mama Jaret akan senang mendengar apa yang dilakukan Danny.


Danny mengangguk, lalu memberikan kartu namanya kepada pengacara Jaret sebelum diminta, agar pengacara Jaret tidak curiga padanya. Danny berikan kartu namanya yang sering digunakan untuk client umum tanpa ragu. Kemudian mereka saling berpamitan.


Team sopape dan Marons yang sedang mendengar percakapan Danny, secara bersamaan mengatakan. "Good...!" Putra langsung melakukan sentuhan kepalan tangan dengan Yicoe dan Novie, karena Danny berhasil dapatkan yang mereka harapkan tanpa banyak trik.


Apa yang dilakukan Danny membuat Putra lebih mudah menyelidiki dan memantau percakapan orang yang berhubungan dengan Jaret atau keluarganya. Danny hanya bisa tersenyum tipis mendengar ucapan Marons. Dia makin senang, karena apa yang dilakukannya didukung oleh team sopepe dan juga Marons.


Mama Jaret yang sedang memperhatikan pengacara pribadi keluarganya dengan Danny merasa lega, saat melihat ada senyum di wajah kedua pengacara tersebut. Tanpa disadarinya, senyuman di wajah kedua pengacara tersebut, memiliki arti yang berbeda. Karena alasan yang berbeda, membuat mereka tersenyum.


Tidak lama kemudian, nomor urut perkara mereka dipanggil. Danny mendekati Kaliana dan mengajaknya untuk masuk ke ruangan. Begitu juga dengan Pak Yosa yang sudah mematikan kamera dan melepaskan rompinya. Situasi tidak memungkinkan untuk Pak Yosa memakai rompi ke dalam ruang pertemuan. Keluarga Jaret akan curiga melihatnya pakai rompi yang sama dengan Kaliana, walau warnanya berbeda.


Semua sudah didiskusikan oleh Kaliana dan Pak Yosa, agar mereka tidak menyolok. Kaliana tetap mengenakan rompinya, karena semua perlengkapan ada dalam kantong rompi yang dikenakannya. Dia tidak membawa tas tangan selayaknya wanita.

__ADS_1


Setelah menanda tangani daftar hadir, mereka masuk ke ruangan diantar oleh petugas. Begitu juga dengan pihak Jaret. Danny merasa senang dan tenang, ketika melihat hakim Alvian, suami Sisilia yang memimpin pertemuan untuk membicarakan gugatan cerai Chasina sebelum masuk ke persidangan.


Hakim Alvian bersikap seolah tidak mengenal Danny. "Pembela penggugat dan saksi sudah ada?" Tanya Hakim Alvian, setelah mereka semua telah duduk dalam ruangan. Kaliana duduk tidak jauh dari Mama Jaret, karena sama-sama wanita.


"Sudah, Pak Hakim..." Danny berkata sambil menunjuk dirinya, Pak Yosa dan Kaliana. Hakim Alvian mengangguk, walau hatinya bertanya-tanya, siapa wanita yang ditunjuk oleh Danny. Beliau telah melihat surat gugatan, saksi dari pihak Chasina dua-duanya laki-laki.


Hakim Alvian menahan rasa ingin tahunya dengan berpikir, mungkin wakil dari yang tidak bisa hadir. 'Sementara mau mendata dulu, nantinya juga akan diketahui.' Pikirnya lagi. Kemudian beralih kepada pihak yang digugat, lalu pengacara memperkenalkan diri dan juga Mama Jaret, mereka hanya berdua. Petugas yang mengantar mereka tetap dalam ruangan untuk mencatat semuanya.


Hakim Alvian membuka bundelan surat gugatan cerai Chasina yang diberikan Danny, lalu menjelaskan kepada pihak tergugat. "Berdasarkan surat gugatan cerai yang diajukan oleh penggugat tadi, apakah ada keberatan dari pihak tergugat?" Tanya Hakim, karena mungkin saja pihak tergugat tidak mau bercerai atau tidak setuju dengan syarat yang diajukan. Itu sering terjadi dalam kasus gugatan perceraian.


"Ada, Pak. Kami dari pihak tergugat tidak mau bercerai... Jadi mohon dipertimbangkan dan dibatalkan perkara ini." Ucap pengacara Jaret cepat, mempergunakan kesempatan yang diberikan Hakim.


"Client kami tidak mau menceraikan penggungat, karena masih mencintainya. Beliau ingin diberikan kesempatan untuk memperbaiki kesalahan yang sudah dilakukannya." Pengacara Jaret berbicara dengan serius untuk meyakinkan Hakim dan juga pihak Chasina, terutama wanita yang bersama Danny.


~°°Pengacara Jaret belum tahu siapa wanita tersebut, tapi saat melihat dia berbicara serius dengan pengacara Chasina di ruang tunggu, mereka jadi penasaran. Apalagi Mama Jaret bertanya kepadanya, tentang wanita tersebut. Mereka berharap, pengacara Chasina bisa membuat Chasina menyetujui pembatalan gugatan cerai seperti yang mereka inginkan. Sehingga mereka memberikan alasan itu, bukan karena pembagian harta gono-gini.°°~


Melihat Danny hanya diam, tidak terkejut dengan permintaan pihak Jaret, Hakim Alvian bertanya-tanya dalam hati. Apa sebenanya yang sedang terjadi. "Bagaimana dengan pihak pengugat. Apakah mau negosiasi atau mediasi dulu sebelum masuk dalam persidangan?" Tanya Hakim Alvian, sambil melihat Danny dengan serius.

__ADS_1


"Pak Hakim, permintaan dari tergugat ini harus saya bicarakan dulu dengan client saya. Itu membutuhkan waktu, karena saya harus berbicara secara langsung dengan beliau. Semua itu ada prosesnya, karena beliau ada di tahanan." Danny menjelaskan, agar pengacara Jaret tidak terlalu kecewa atau dimarahi oleh Mama Jaret, karena tidak bisa meyakinkannya.


"Anda adalah pengacaranya, pasti bisa mengerti hal ini dan bisa menjelaskannya kepada client anda. Anak kami masih mencintainya, jadi berikan kesempatan kepada mereka untuk memperbaiki kesalahan masing-masing." Ucap Mama Jaret tiba-tiba, dengan suara pelan dan dibuat-buat sebagaimana orang tua yang tidak mengharapkan anaknya bercerai. Hal itu membuat alis Hakim bertaut dan Kaliana meradang.


"Saat ini, saya tidak berpendapat lain sebelum berbicara dengan client saya. Tapi ada baiknya kita dengar pendapat Ibu Anna sebagai asisten dari saksi Pak Bryan yaitu kakak penggugat." Danny berkata sambil menunjuk Kaliana dengan jempolnya. Mendengar itu, Hakim memperhatikan Kaliana dengan serius lalu mempersilahkan Kaliana berbicara.


"Terima kasih Pak Hakim dan Pak pengacara. Sebagaimana yang dikatakan tadi, saya mewakili saksi dari pihak penggugat, Pak Bryan, kakak penggugat. Hari ini beliau tidak bisa hadir, karena kondisi kesehatan kedua orangtuanya kurang baik. Jadi saya akan menyampaikan apa yang diinginkan oleh beliau, sekaligus juga merupakan keinginan Ibu Chasina, sebagai penggugat." Kaliana berkata dengan serius dan tegas, tanpa melihat Mama Jaret yang sedang memandangnya dengan wajah yang tidak bisa ditebak maknanya.


"Tidak ada perubahan dari tuntutan yang diajukan oleh Ibu Chasina. Apa pun alasan dari pihak tergugat, tidak bisa merubah apalagi membatalkan tuntutan tersebut." Kaliana melanjutkan dengan serius.


"Sebagaimana Ibu Chasina sudah katakan lewat pengacaranya, tidak ada negosiasi dan mediasi, tetap seperti itu. Jadi Pak Hakim mohon diteruskan dan selesaikan sesuai gugatannya." Ucap Kaliana tetap tenang dan serius, sambil mengatupkan kedua tangannya di depan dada kepada hakim Alvian.


"Baik... Ini belum ada titik temunya, karena satu pihak mau bercerai, pihak yang lain tidak mau bercerai. Masing-masing pihak dengan alasannya untuk mengakhiri dan mempertahankan perkawinan mereka. Saya sarankan, agar kedua belah pihak berbicara dulu untuk menemukan titik temunya." Hakim Alvian mencoba sebagai penengah.


"Begini, Pak Hakim... Penggugat sudah tidak mau bertemu dengan yang digugatnya. Bercerai adalah titik, tidak ada koma. Jangan membuang waktu untuk melayani alasan romansa palsu, karena kita sudah tau akhirnya." Kaliana berkata serius tanpa memperdulikan Mama Jaret yang jadi emosi mendengar ucapannya.


...~°°°~...

__ADS_1


...~●○¤○●~...


__ADS_2