ROMANTIKA HIDUP

ROMANTIKA HIDUP
155. Bersiap 2.


__ADS_3

...~•Happy Reading•~...


Setelah Kaliana menyampaikan informasi dan memberikan semua bukti pendukungnya, Pak Yosa membagikan kotak makanan yang sudah disiapkan Kaliana untuk makan malam mereka berempat.


^^^Dalam perjalanan untuk menemui Bram, Kaliana meminta Pak Yosa mampir di restoran yang memiliki drive thru untuk membeli makan malam mereka. Agar bisa menghemat waktu, karena banyak yang akan dibicarakan. Sehingga pembicaraan mereka mungkin melewati waktu makan malam.^^^


"Mba', saya bisa minta nomor telponnya? Mungkin saat penyelidikan, ada yang mau saya tanyakan." Penyidik Arif berkata pelan, setelah mereka telah selesai makan malam. Dia berharap bisa berkomunikasi selanjutnya dengan Kaliana.


"Maaf, Mas Arif... Sementara ini kita belum bisa berkomunikasi lewat telpon. Jika sudah selesaikan kasus yang sedang kami tangani, baru kita bisa berkomunikasi dengan leluasa." Kaliana berkata sambil mengatupkan kedua tangannya di dada, meminta maaf.


^^^Kaliana belum bisa menerima telepon secara bebas, karena mereka masih dalam pengawasan sejak penangkapan Chasina, Jaret dan Pak Ewan. Terutama setelah mereka menangani kasus Chasina.^^^


^^^Sehingga sejak mereka pindah kantor ke rumah Marons, semua yang menghubungi team sopape dalam pengawasan dan disensor oleh Putra.^^^


"Jika Mas Arif butuh sesuatu berkenaan dengan penyelidikan orang tua Jaret, hubungi saja Bram. Aman..! Kami akan bantu sebisa kami." Kaliana berkata dengan tenang. Baginya, semua yang disampaikannya, Bram sudah mengerti dan pasti akan membatu Arif, jika perlu.


^^^Penyidik Arif mengangguk mengerti lalu segera pamit meninggalkan mereka bertiga, untuk menemui anggota team penyidiknya. Dia sudah tidak sabar segera menindak lanjuti informasi yang disampaikan Kaliana. Dia juga ingin segera menyelidiki kekayaan orang tua Jaret, agar bisa menemukan bukti konkritnya.^^^


"Sekarang tinggal kita bertiga, jadi mari kita bahas rumput liarmu." Kaliana berkata sambil tersenyum, tapi tidak mau melihat wajah Bram, saat mendengar dia katakan Siska sebagai rumut liar Bram.


"Sejak kapan guguk liar berubah jadi rumput liar?" Tanya Bram sambil melihat Kaliana yang sedang mengeluarkan lembaran kertas dari bundelan dan diterangi oleh Pak Yosa.


"Sejak guguk liar bisa melamar kuda." Kaliana berkata asal sambil terus mengeluarkan lembaran demi lembaran dari bundelan di pangkuannya.


^^^Ucapan asal Kaliana membuat Pak Yosa dan Bram jadi tertawa. Bram jadi teringat dengan apa yang dia ceritakan tentang lamaran Siska padanya.^^^

__ADS_1


"Jangan membuatku tertawa untuk sesuatu yang memalukan." Bram berkata sambil membuka kedua tangannya lebar, sambil tersenyum.


"Aku hanya mengurangi sedikit ketegangan, agar asap tidak mengepul di ubun-ubunku." Kaliana berkata pelan lalu merapikan lembaran kertas yang sudah dikeluarkan.


^^^Kaliana berkata demikian, karena mereka baru selesai membicarakan orang tua Jaret dengan serius. Mereka memikirkan berbagai kemungkinan sumber kekayaan orang tua Jaret dengan Arif.^^^


"Sekarang, mari kita bahas bagian dan tanggung jawab utama kita. Bagian yang tadi, biarlah Tuhan menolong Mas Arif menemukan kebenaran yang sesungguhnya. Kami sudah lakukan semampu kami untuk menolongnya." Kaliana berkata serius, karena dia menyadari keterbatasan teamnya sebagai manusia.


"Sekarang mari kita fokus untuk menangani rumput liar yang sudah menjadi tanggung jawab moral kita." Kaliana berkata sambil melihat Bram dengan serius.


^^^Bagi team sopape, Siska tidak termasuk dalam tugas pekerjaan mereka sehari-hari. Dia hanyalah sangkutan yang terkait dengan kasus Jaret dan panggilan hati nurani untuk menanganinya.^^^


"Ada apa dengan dia? Apa dia sudah mulai jinak?" Tanya Bram penasaran dengan apa yang akan dibicarakan tentang Siska.


"Tergantung dalam hal apa maksudmu tentang keliarannya. Apa dia tidak pernah menyenggolmu setelah kau lakukan penggeledahan di ruang tahanan Jaret dan menyita ponselnya?" Kaliana mulai membahas dengan bertanya tentang sejauh mana Bram mengetahui atau menyelidiki Siska.


"Aku menjaga, agar dia tidak curiga, lalu berhati-hati dengan tindakannya. Aku membiarkan dia seperti layangan, biarkan terbang sesuka dia dan angin. Karena aku yakin, benang yang kalian buat cukup kuat mengendalikan dia." Bram berkata serius, karena mengakui kecakapan Kaliana dan anggota teamnya.


"Makasih..." Kaliana menganggap itu pujian tulus dari Bram untuk team sopape.


"Sama-sama... Aku tau, mereka terus mengawasiku baik di kantor atau pun di rumah. Jadi dia pasti tau, aku tidak sedang menyelidikinya. Apa lagi aku tidak pernah menghubungi nomor yang ada di ponsel Jaret."


"Aku membiarkan mereka menyadap ruanganku dan menyibukan diri dengan menyelidiki kasus narkoba aktor yang baru ditahan itu." Bram menjelaskan banyak hal yang dia kerjakan menyangkut penyelidikan berbagai kasus, tanpa menyenggol kasus Jaret atau pun Siska.


"Baik... Mungkin karena itu, dia aktifkan kembali nomor Jamu.gD nya. Mungkin dia telah yakin, kau tidak menyelidikinya." Kaliana berkata, lalu keluar dari mobil untuk pindah tempat duduk di kursi belakang, agar mudah berbicara dengan Bram.

__ADS_1


"Tadi sebelum kami berangkat ke sini, dia mengaktifkan nomor Jamu.gD lalu menghubungi orang yang sebelumnya dia pernah kirim pesan itu. Kau masih ingat, kan?" Kaliana mulai membahas setelah duduk di samping Bram. Bram mengangguk, mengiyakan.


"Apa pesannya bisa memberikan petunjuk baru?" Bram jadi penasaran.


"Dia tidak kirim pesan, tapi telpon. Waktu yang sangat tepat, setelah kami sudah memiliki telpon satelit, jadi kami bisa mendengar percakapan mereka." Kaliana berkata dengan hati senang.


"Sebelum aku sampaikan isi pembicaraannya, apa kau dan anggota sudah berlatih?" Tanya Kaliana untuk mengetahui kesiapan Bram dan anggota teamnya.


"Hanya ada aku dan Raka, tapi kami berlatih secara terpisah. Sedangkan di bagian yang baru, aku tidak bisa mengajak anggotaku, agar tidak timbul banyak pertanyaan. Mengapa aku tiba-tiba latihan fisik, padahal yang ditangani hanya kasus seleb yang doyan on itu." Bram berkata lagi dengan serius dan minta maaf kepada Pak Yosa dan Kaliana, karena persiapannya tidak maksimal.


"Tidak mengapa, ada kami berempat yang bisa bantu di lapangan." Kaliana menyemangati Bram agar tetap semangat.


^^^Kalau sudah beradu di lapangan, hanya mereka berempat yang bisa bantu, karena Putra akan bantu dari luar lapangan.^^^


"Ini isi percakapan guguk liar dengan serigala buas...." Kaliana menjelaskan julukan baru untuk kasus Siska dan menyampaikan isi percakapan Siska dengan orang yang dihubunginya.


^^^Bram sangat terkejut mendengar semua yang dikatakan Kaliana dan Pak Yosa. Walaupun dia sudah menduganya, tapi yang disampaikan Kaliana dan Pak Yosa tetap mengejutkan, karena di luar pemikirannya.^^^


"Jadi dua hari lagi, kau usahakan tidak lakukan banyak aktivitas di kantor. Kau bicara dengan Raka dan tunggu informasi dari kami. Agar kau bisa tau posisi dan lokasi guguk liar dan serigala buas untuk kita giring masuk ke tempat yang kita inginkan." Kaliana menyampaikan rencananya dengan serius.


"Apakah serigala buas ikut juga?" Tanya Bram dan mulai berpikir untuk bersiap-siap.


"Kalau yang itu, aku tidak yakin. Tapi aku berharap dia ikut, agar bisa sekalian." Kaliana berkata serius dan tidak bisa menyembunyikan rasa geramnya.


...~°°°~...

__ADS_1


...~●○¤○●~...


__ADS_2