ROMANTIKA HIDUP

ROMANTIKA HIDUP
156. Bersiap 3


__ADS_3

...~•Happy Reading•~...


Bram langsung melihat Kaliana dengan serius. Dia pun berharap serigala buas juga ikut, agar mereka tidak kerja dua kali untuk menciduk Siska dan orang-orang yang ada di sekitarnya.


Mengingat banyak orang berkaitan dengan sepak terjang Siska, Bram menyadari resikonya sangat besar untuk Kaliana dan team. Hal itu tiba-tiba mengganggunya, sangat.


^^^Bram baru tersadar, Kaliana dan team tidak mendapatkan apapun dari apa yang akan mereka lalukan. Jika dilihat nilai komersialnya, Kaliana dan team tidak memperoleh apa pun. Bahkan mungkin mereka bisa terluka, jika berhadapan dengan Siska dan anggotanya.^^^


"Anna, aku ingin sekali meringkus guguk liar atau pun yang buas-buas itu. Kalau bisa, sekarang saja. Ngga usah tunggu sampai lusa. Tapi kau juga harus berpikir dan lihat kondisi realnya bagimu." Bram berkata sambil melihat Kaliana dengan serius, membuat Kaliana melihatnya, sambil berpikir keras maksud ucapan Bram.


"Kalian tidak akan dapatkan apa pun dari situasi ini. Bahkan kalian mungkin bisa terluka. Apakah semua ini pantas untuk diperjuangkan oleh kalian? Sedangkan aku tidak bisa membantu dari sisi finansialnya." Bram meneruskan yang dipikirkan dengan suara pelan, tapi serius.


"Kita akan butuh banyak dana untuk meringkus dia. Dalam situasi ini, aku tidak bisa menggunakan dana operasional kantor. Apa yang kita lakukan ini, di luar dari tugas kantor, jadi kau pasti mengerti." Bram berkata pelan dan terus berpikir tentang apa yang terlintas di pikirannya setelah mendengar tentang Siska.


"Bram... Kami semua menyadari itu. Kami tau, tidak akan dapat tambahan penghasilan dari apa yang akan kami kerjakan ini. Tapi kami semua ikhlas melakukannya. Dengan lakukan ini, ada keseimbangan dalam pekerjaan kami." Kaliana berkata pelan dan serius. Dia dan anggota team yang lain telah membicarakan apa yang baru diucapkan Bram.


"Kami semua percaya, jika pekerjaan ini untuk kebaikan banyak orang, upah kami akan tersedia di tempat yang lain. Bukankah Yang Mengatur Rejeki setiap orang tidak tidur?" Kaliana berkata dengan keyakinan, bahwa mereka akan diberkati di pekerjaan yang lain untuk kelanjutan pekerjaan dan hidup mereka.


"Itulah keseimbangan dalam hidup dan pekerjaan. Kami berusaha menjaga keseimbangan itu, agar tidak jadi orang yang serakah." Kaliana berkata lagi sambil melihat Bram yang sedang menatapnya dengan serius.


"Untuk dana pendukung rencana kita, aku masih bisa tangani. Jadi kau tidak usah pikirkan itu. Lakukan persiapan untuk lusa dan katakan semua straregi yang mau kau lakukan untuk hadapi guguk liar dan yang berkaitan dengan itu."


"Agar rencana dan strategi yang akan kita pakai untuk hadapi dia bisa singkron dan saling mendukung." Kaliana berkata serius dan berusaha menyemangati Bram, agar bisa fokus pada rencana dan strategi yang akan disusun.

__ADS_1


"Bram, jika Anna sudah katakan seperti itu, mari kita lakukan bersama. Aku yang sudah tua ini, ingin dan semangat mau lakukan itu, karena berharap hidupku sampai usia segini ada manfaatnya." Pak Yosa berkata pelan untuk menyemangati Bram.


^^^Pak Yosa berpikir, Bram mungkin tidak tahu tentang uang asuransi orang tua Kaliana, sehingga tidak mau menyusahkan dia dengan harus mengeluarkan dana lagi. Sedangkan Kaliana sudah bantu banyak hal untuk menangani kasusnya.^^^


"Iyaa, Pak Yosa, trima kasih. Selama ini, aku terima dengan senang hati berkolab dengan Anna, karena ada timbal baliknya dengan kasus yang dia tangani. Dia bisa dapatkan informasi dari dalam untuk lengkapi bukti yang dia dan teamnya peroleh." Bram berkata sambil melihat Pak Yosa dengan serius.


"Tapi untuk sekarang ini, terutama untuk tangani Siska, apa yang dia dan teamnya akan dapatkan?" Tanya Bram, berharap Pak Yosa bisa mengerti pemikirannya.


"Ada, Bram. Menyelamatkan beberapa orang di generasi ini. Terlalu idealis? Mungkin...! Tapi semua yang kami lakukan ini bukan untuk dipuji. Hanya merasa sayang generasi ini. Kami berharap ada beberapa orang terbebas dari barang haram itu." Kaliana menjawab keraguan Bram, tanpa menunggu jawaban dari Pak Yosa


"Aku berharap ada banyak putra atau putri di negeri ini seperti Putra kami. Menolong banyak orang dengan kemampuannya dalam kondisi baik dan sehat."


"Alangka bahagianya bisa bekerja dengan generasi muda seperti Putra. Menggunakan kemampuannya untuk kebaikan orang lain." Kaliana terus berkata sambil mengingat Putra di rumah.


"Betapa baik dan maju bangsa kita, kelak. Idealis...? Bermimpi...? Tidak...! Ini sebuah harapan. Kami semua berharap bisa terwujud suatu hari nanti." Kaliana berkata sambil melihat ke luar jendela kaca mobil, karena hatinya sedang terharu memikirkan generasinya yang akan rusak.


"Aku mengerti. Aku tidak meragukan kemampuan kalian semua. Itu hanya terlintas di pikiranku, agar aku tidak egois dalam mewujudkan rencanaku. Mari kita lakukan bersama dengan yang ada pada kita dan semampu kita." Bram berkata sambil menepuk pundak Kaliana dan Pak Yosa.


"Ok... Hati-hati di jalan. Sampai besok." Kaliana berkata pelan lalu menepuk tangan Bram yang sedang menepuk pundaknya.


"Siiiiaaap... Kalian juga. Hati-hati di jalan." Bram berkata sambil memakai tutup kepalanya lalu mengambil helm dan keluar dari mobil dengan cepat.


"Mari kita pulang, Pak Yosa. Ada lagi yang harus kita lakukan sebelum tidur. Aku sudah menduga, Bram akan memikirkan keselamatan kita dari pada menangkap rumput liar itu." Kaliana berkata pelan, sambil berusaha mengendalikan perasaannya yang masih terharu.

__ADS_1


"Makasih, Pak Yosa sudah meyakinkan dia." Kaliana berkata lagi setelah pindah duduk di depan bersama Pak Yosa.


Saat tiba di tumah, anggota team belum istirahat. Mereka masih berada di ruang kerja menunggu Pak Yosa dan Kaliana pulang.


"Pak Marons sudah pulang?" Tanya Kaliana saat melihat Marons tidak ada di ruang kerja.


"Sudah, Mba'... Beliau ada di ruang kerjanya." Jawab Yicoe, seperti yang dikatakan Marons kepada mereka setelah makan malam. (Jika dicari Anna saat pulang, aku ada di ruang kerja).


Kaliana segera turun dan berjalan cepat ke arah ruang kerja Marons lalu mengetuk pintunya. Ada hal yang hendak dia bicarakan dengan Marons sehubungan rencananya, setelah berbicara dengan Bram.


"Lagi sibuk...?" Tanya Kaliana saat Marons membuka pintu kerjanya dan melihatnya.


"Lumayan... Ada pekerjaan yang tidak selesai di kantor. Ayoo, masuk." Marons berkata sambil membuka pintu kerjanya, agar Kaliana bisa masuk ke ruang kerjanya.


"Kalian baru pulang?" Tanya Marons sambil menutup pintu kerja di belakannya.


Kaliana tidak menjawab pertanyaan Marons, tapi berbalik lalu memeluk Marons yang berjalan di belakangnya. Sontak Marons balas memeluknya. "Ada apa... Hhhmmm...?" Marons bertanya, sambil mengusap belakang Kaliana.


"Aku sedang casan tenagaku." Kaliana berkata sambil terus memeluk Marons. Tapi dia jadi tersenyum mendengar ucapannya.


Setelah berbicara dengan Arif dan Bram, semua tenaganya seakan terkuras habis. Berbicara sambil berpikir untuk mengatur rencana dan menyusun strategi, sangat menguras energinya.


...~°°°~...

__ADS_1


...~●○¤○●~...


__ADS_2