ROMANTIKA HIDUP

ROMANTIKA HIDUP
93. Warna Sari 19.


__ADS_3

...~•Happy Reading•~...


Keesokan harinya, Kaliana beserta Novie dan Yicoe bangun kesiangan. Semua itu dikarenakan mereka masih berbicara sampai larut malam tentang apa yang dikatakan Marons dengan menunjuk tempat penyimpanan tas Rallita. Mereka khawatir tas Rallita juga bisa berharga fantastis, dan mereka tidak mungkin menggunakan itu.


Kaliana yang sudah selesai mandi, segera meninggalkan Yicoe dan Novie yang sedang bergantian mandi. Dia berjalan keluar ke ruang makan untuk melihat Marons, yang mungkin saja sudah sarapan untuk berangkat kerja.


Ketika melihat ruang makan masih bersih dan rapih, Kaliana segera menuju dapur untuk mencari Bibi. "Pagi Bi, sedang buat sarapan apa?" Tanya Kaliana saat melihat Bibi sedang menumis sesuatu di wajan, yang membuat dapur menjadi harum dengan bau masakan enak.


"Selamat pagi, Nona. Bibi hanya buat nasi goreng untuk sarapan. Ini orak-arik daging untuk melengkapinya." Bibi berkata sambil menunjuk apa yang sedang dimasaknya di wajan.


"Kalau begitu, saya bantu siapkan minuman saja. Mungkin Pak Marons mau sarapan lebih awal." Kaliana berkata lalu segera ke kitchen set untuk mengambil perangkat minuman yang diperlukan.


"Oooh... Tuan muda sudah sarapan, Nona. Bibi sudah buat roti dan isi daging untuk sarapan tuan muda, karena tuan tidak bisa menunggu nasi goreng matang." Jawab Bibi cepat, sebelum Kaliana mengambil cangkir Marons.


"Oooh... Jadi Pak Marons sudah berangkat kerja?" Kaliana terkejut mendengar keterangan Bibi. Dia tahu, Marons bilang hari ini mau masuk kerja, tapi tidak menyangka akan berangkat sangat pagi. Kaliana melihat jam di ponselnya, belum lagi setengah tujuh.


"Iya, Nona. Tuan muda sudah berangkat kerja, karena mau bertemu dengan tuan besar. Jadi minta sarapan lebih dulu." Bibi melanjutkan keterangan sambil menyelesaikan masakannya. Kaliana sedikit kecewa dan menyesal tidak bangun lebih pagi, agar bisa sarapan dengan Marons. Dia mengangkat nasi goreng yang sudah disiapkan Bibi untuk ditata di meja makan.


Yicoe dan Novie yang sudah selesai mandi, segera membantu Kaliana dan Bibi. "Nona, kalau ada yang tidak bisa sarapan nasi goreng, masih ada roti. Kasih tau saja, nanti Bibi siapkan." Bibi berkata lagi, setelah melihat semua peralatan makan sudah ditata oleh Yicoe dan Novie.

__ADS_1


"Iya, Bi. Makasih... Mungkin kami semua makan nasi goreng, karena akan banyak lakukan kegiatan hari ini. Jadi butuh asupan makanan yang ekstra." Kaliana berkata sambil tersenyum dan membuat isyarat 'OK' kepada Bibi.


"Oooh, iya, Nona. Tadi tuan muda titip kunci. Tuan bilang, Nona sudah tau akan diberikan kunci." Bibi berkata cepat, lalu mengambil kunci yang diletakan di atas kulkas kepada Kaliana yang hendak meninggalkan dapur.


"Oooh, iya, Bi. Makasih." Kaliana berkata sambil mengambil kunci yang diberikan Bibi. Dia mengerti maksud Marons dengan kunci tersebut, seperti yang dikatakannya tadi malam.


Setelah semua makanan tertata di meja, Danny keluar kamar juga di susul oleh Pak Yosa dan Putra yang telah dipanggil oleh Novie untuk sarapan. "Nanti setelah sarapan, kita duduk di sini saja untuk bicarakan kegiatan kita hari ini." Kaliana berkata setelah semua telah duduk di meja makan.


"Kita tidak tunggu Pak Marons dulu untuk sarapan bersama?" Putra bertanya cepat, saat melihat kursi Marons masih kosong.


"Pak Marons sudah sarapan dan sudah berangkat kerja. Kita semua kesiangan, dan juga tadi malam lupa tanya, beliau mau berangkat jam berapa." Kaliana berkata pelan, lalu mengisyaratkan lekas makan kepada Putra, sebelum dia mengucapkan sesuatu. Kaliana tahu, Putra akan ledekin dia yang bangun kesiangan.


"Sebagaimana yang kita sepakati tadi malam, hari ini Pak Danny dan Pak Yosa akan mengunjungi Ibu Chasina di tahanan. Yicoe dan Novie keluar mengambil pesanan team dan juga sekalian membeli keperluan kami. Aku dan Putra bekerja di rumah untuk lihat perkembangan yang terjadi dengan postingan Putra." Kaliana berkata pelan, tapi serius. Agar semua yang ada bisa mengerti tugas masing-masing.


"Kalau begitu, kalian berdua pakai motorku saja, agar bisa mudah bawa pesanan kita." Pak Yosa mengusulkan, karena tahu Novie dan Yicoe akan pergi ke titipan kilat untuk mengambil pesanan rompi baru yang dipesan Yicoe.


"Boleh, Pak Yosa. Terima kasih." Novie berkata dengan senang, karena akan menggunakan motor Pak Yosa untuk keluar. Agar mereka tidak perlu gonta-ganti kendaraan, jika hendak ganti tempat tujuan. Pak Yosa segera mengambil kunci motor, lalu berikan kepada Novie.


"Nanti setelah semua pulang, baru kita bahas bukti kasus Bu Chasina untuk persiapan sidang. Jadi jangan lama-lama di luar, ya. Tetapi jika belum selesai saat waktu makan siang, kalian makan siang di luar saja. Tidak usah buru-buru pulang ke rumah." Kaliana mengingatkan, karena suasana jalanan tidak bisa diprediksi.

__ADS_1


Yicoe dan Novie segera berganti pakaian sesuai dengan kondisi yang akan naik motor. "Coe, kita ke Mall dulu untuk cari keperluan, baru ke tempat titipan kilat." Novie berkata sambil memakai Jacketnya. Sedangkan Danny dan Pak Yosa sudah berangkat terlebih dulu. Yicoe setuju, lalu mengangkat jarinya mengisyaratkan 'OK' ke arah Novie, lalu memakai jacketnya.


Beberapa waktu kemudian, mereka tiba di Mall terdekat yang sudah dibuka. Mereka menuju ke tempat keperluan yang akan dibeli, sebagaimana yang diminta Kaliana. Mereka butuh pakain untuk tinggal di rumah dan juga pakaian dalam, karena Marons tidak mengijinkan mereka untuk kembali ke kantor lama dan juga rumah Kaliana. Jadi mereka harus membeli keperluan mereka untuk sementara waktu.


Yicoe dan Novie berpencar, mencari kebutuhan agar bisa menghemat waktu. Saat Yicoe hendak ke tempat bagian T-shirt, Yicoe melihat seorang pemuda sedang asyik berbicara di telpon tanpa menyadari sekitarnya. Yicoe melihat gelagat tidak baik dari seorang wanita yang terus mendekati pria tersebut.


Dengan cepat, dompet pria tersebut sudah berpindah kepada wanita yang sengaja mendekatinya dan seakan terdorong ke arah pria tersebut. Sehingga dia tidak menyadari, dompetnya sudah berpindah tenpat. Yicoe melangkah cepat dan dalam kecepatan tinggi, dia memegang jari wanita tersebut dan menjepitnya, sehingga tidak bisa bergerak atau beranjak.


"Cepat kembalikan dompet pria ini, atau saya patahkan jari tanganmu." Bentak Yicoe dengan suara rendah, agar tidak membuat keributan.


"Dompet apa? Jangan sembarang menuduh...! Wanita tersebut balik membentak, karena terkejut ada yang melihat tindakannya. Pria yang sedang telpon, langsung mengakhiri pembicaraannya lalu memeriksa dompetnya.


"Astaghfirullah...! Dompetku memang hilang." Pria yang mengenakan kacamata itu sontak perhatikan kedua wanita di sampingnya dengan wajah terkejut.


"Kau mau keluarkan, atau saya yang akan mengambilnya?" Yicoe berkata serius dan garang. Pria berkacamata yang mendengar itu, langsung tertegun melihat kearah Yicoe.


'Wanita ini terbilang mungil, tapi wanita yang satunya tidak bisa melepaskan tangan dari pegangannya. Bahkan meringis, sambil berusaha melepaskan tangannya dengan tangan yang lainnya.' Pria tersebut membatin, tanpa bisa melakukan sesuatu. Dia melihat sekitar untuk mencari security.


...~°°°~...

__ADS_1


...~●○¤○●~...


__ADS_2