ROMANTIKA HIDUP

ROMANTIKA HIDUP
112. Penggeledahan.


__ADS_3

...~•Happy Reading•~...


Bram tetap berdiri tegap dengan tangan di pingang dan tempat pistolnya berada. Begitu juga dengan petugas yang ikut bersama dengannya. Mereka jadi waspada, karena situasi yang tidak menguntungkan mereka berdua yang berada di tempat kekuasaan bagian lain.


"Mengapa kau terkejut melihatku?" Tanya Bram setelah melihat Jaret telah selesai loading, lalu duduk di tepi tempat tidur sambil mengucak mata dan merapikan rambutnya. Dia melihat ketiga petugas yang ada dalam sel nya bergantian.


"Aku kira anda hantu." Jawab Jaret dengan kesal, karena merasa tidurnya terganggu dengan kehadiran Bram. Dia belum mengerti apa sebenarnya yang sedang terjadi. Mengapa Bram ada dalam sel nya dan petugas jaga hanya diam berdiri, tanpa mengatakan sesuatu kepadanya.


"Hanya hantu yang bisa melihat hantu. Jadi duduk di situ, dan jangan bergerak." Bram berkata dengan wajah serius dan tegas, lalu mengambil kantong dari saku celananya.


"Erfan... Pakai ini dan pegang ini, lalu geledah tempat ini." Bram berkata kepada petugas yang bersamanya sambil menyerahkan kantong bersegel dan sarung tangan kepadanya. Erfan segera lakukan seperti diperintahkan pimpinannya, Bram. Ketika Jaret bergerak, hendak mencegah Erfan mau menggeledah tempat tidurnya, Bram mencengkram bahunya dengan kuat dan menekannya agar tetap duduk.


Erfan bergerak cepat, mengambil semua yang tidak seharusnya ada di sel, lalu mengisi semuanya ke dalam kantong bersegel. "Kau tetap berdiri di situ, atau timah panas ini akan bersarang di tulang keringmu." Bram berkata tegas kepada petugas jaga yang hendak keluar dari ruang sel Jaret. Sedangkan tangan kirinya tetap menekan bahu Jaret, agar tidak bergerak.


Setelah semua yang tidak diijinkan berada di ruang tahanan dimasukan ke dalam kantong bersegel, Bram mengambil kantong tersebut dari tangan Erfan lalu pegang dengan hati-hati. "Geledah tubuhnya...!" Bram berkata sambil mengangkat tubuh Jaret berdiri untuk digeledah oleh Erfan.


Ketika Erfan hendak mengambil ponsel yang ada di saku celana, Jaret berontak dan tidak menginjinkan ponselnya diambil. Sehingga Bram harus menendang tungkainya agar dia bisa diam dan memberikan semua yang ada disimpan dalam saku celananya.


"Kalian mengijinkan barang-barang ini ada di dalam kamarnya? Kalian membiarkan tahanan menggunakan ponsel dengan bebas di dalam sel? Kalian tunggu saja giliran." Bram berkata dengan tegas ke arah petugas jaga yang wajahnya mulai memucat. Bram tidak menyadari, Jaret telah gemetar ketakutan di sampingnya sambil meringis kesakitan.

__ADS_1


Bram melihat ke arah Erfan, lalu menyerahkan kantong bersegel kepadanya untuk dipegang. Bram memakai sarung tangan lalu mengambil ponsel Jaret dari dalam kantong bersegel tersebut. "Segera buka kuncinya...!" Perintah Bram serius dan tegas kepada Jaret sambil menyodorkan ponselnya. Jaret membuka kuncinya dengan tangan bergetar.


"Bukan dengan sidik jari. Buka dengan pola atau password. Dan tunjukan itu kepada kami." Bram berkata lagi dengan tegas, karena Jaret mau mengaktifkan ponselnya dengan sidik jarinya.


"Saya memang membuka ponsel ini hanya dengan sidik jari." Jaret masih berusaha untuk menghambat dengan berkata demikian. Dia masih berharap pimpinan yang berjaga di bagian sel tahanan segera datang.


"Kau kira bisa mengelabuiku? Buka pakai sidik jarimu." Bram berkata cepat, agar tidak membuang waktu. Jaret melakukan sesuai dengan perintah Bram.


Setelah ponsel Jaret terbuka, Bram segera mengganti cara buka ponselnya dengan pasword baru, berupa angka untuk mempermudah Bram mengakses dan memeriksa ponsel Jaret.


Melihat Bram telah mengganti password ponselnya, Jaret terduduk lemas di tepi tempat tidur. Dia hanya mengusap tungkainya dengan tangan, tanpa bisa melakukan sesuatu. Keringat dingin mulai membasahi keningnya.


"Sekarang belajar menahan diri, setelah sekian lama kau dibiarkan berpesta di tempat ini." Bram berkata sambil menunjukan semua barangnya yang digeledah. Diantaranya ada sabu dan alat isapnya. Bram sangat marah kepada petugas jaga yang membiarkan barang haram itu diloloskan kepada tahanan.


Melihat sikap berdirinya yang tidak stabil, Bram menyadari mereka sudah mencoba barang haram itu juga. "Negara ini akan hancur dengan sendirinya, jika aparatnya seperti kalian. Jika masih mau hidup untuk membelah negara ini, rendam otak kalian dengan sabun cuci atau abu gosok. Agar anak-anak kalian bisa hidup dengan baik. Ini akibatnya jika otak sudah dicuci oleh barang haram." Bram meluapkan amarahnya sambil mengangkat kantong bersegel dimana ada sabu dan alat isap di dalamnya. Bram segera meninggalkan tempat tahanan dengan cepat, agar tidak terjadi keributan, jika pimpinan mereka datang.


Walaupun pangkat mereka sama, Bram tidak mau membuang waktu untuk adu argumentasi tentang segala prosedur. Dia ingin menyelidiki ponsel Jaret dan mencatat semua yang ditemukan sebagai barang bukti baru.


~°°°~ ~°°°~ ~°°°~

__ADS_1


Di sisi yang lain ; Kaliana bersama anggota team sopape sedang adakan pertemuan untuk membicarakan perkembangan baru yang ditemukan karena permintaan Bram. Semua serius membicarakan berbagai kemungkinan yang terjadi, karena ada ponsel di lokasi yang tidak seharusnya.


Kaliana dan team belum tahu siapa yang berada di tahanan itu, tapi dengan adanya ponsel di sel tahanan, pertanda buruk bagi institusi kepolisian. Mereka membahas dan menganalisa sampai larut malam. Kaliana meminta Putra untuk tetap memantau lokasi kedua 'nomor batok' yang mereka temukan.


Kaliana tetap bekerja sampai larut malam, karena Marons telah kirim pesan bahwa dia tidak bisa pulang ke rumah. Masalah yang terjadi di perusahaannya belum beres. Dia harus mendampingi Ayahnya untuk menyelesaikan semuanya, agar tidak bolak balik.


"Mba' Anna... Nomor 'batok A' bergerak. Sepertinya dia akan pindah lokasi." Teriak Putra, lalu memindahkan pemantuannya ke layar monitor yang ada di ruangan, agar semua anggota team sopape bisa melihat dan memantau bersamanya.


"Malam-malam begini dia mau kemana?" Tanya Novie heran, karena melihat pergerakannya yang cepat.


"Memang tahanan diijinkan keluar malam-malam?" Yicoe bertanya sambil memandang Pak Yosa dengan heran. Pak Yosa tidak bisa menjawab, hanya menggelengkan kepalanya. Beliau tidak mengerti dengan situasi yang terjadi. Kalau bicara aturan normal, tidak boleh. Tetapi sekarang, apa saja bisa terjadi, termasuk di tempat yang harus menerapkan aturan hukum secara benar.


"Putra... Tolong perlihatkan lokasi nomor ponsel Pak Bram. Aku curiga, beliau sudah langsung eksekusi." Kaliana berpikir cepat, mengingat pembicaraan sebelumnya dengan Bram.


Putra segera melakukan permintaan Kaliana. Ketika melihat posisi 'nomor batok A' sama lokasi dengan ponsel Bram, semua anggota team sopape langsung bertepuk tangan dan saling menyentuh tangan dengan senang.


"Bram sudah dapatkan orangnya dan juga ponselnya. Kita tunggu berita selanjutnya dari Bram untuk mengetahui pemiliknya. Semoga tidak terjadi sesuatu dengannya, karena Bram pasti melewati prosedur. Dia tidak mungkin dapat ijin geledah dari pimpinannya. Atau bahkan mungkin tidak minta ijin." Pak Yosa berkata, sambil melihat jam dinding.


"Yang penting sudah dapat barangnya. Pasti mereka tidak akan berkutik, karena Bram sudah pegang kartu AS." Kaliana berkata dengan yakin, karena dia dan Bram pernah lakukan itu saat masih bertugas.

__ADS_1


...~°°°~...


...~●○¤○●~...


__ADS_2